Mag-log in
“Aku mencintaimu, Alfred.”
Sejak dulu Melody hanya memandang satu pria, sahabatnya yang bernama Alfred. Namun, cintanya yang sejak lama dia rasakan harus bertepuk sebelah tangan karena Alfred mencintai wanita lain. Ungkapan cinta Melody pun hanya dianggap sebuah candaan semata. “Berhentilah bercanda, tidak lucu sama sekali, Melo.” Alfred tampak santai berbaring di tepi pantai ketika mereka sedang berlibur, menikmati indahnya sore dan bermain air. Melody yang berbaring bersama Alfred pun kini duduk. “Kamu kenapa selalu menganggap hal yang aku ucapkan sebagai candaan semata?” kesalnya. “Kita sudah lama mengenal, kita sahabat sejak masih kecil dan berhentilah bercanda. Aku tidak ingin persahabatan kita rusak hanya karena cinta,” kata Alfred dengan entengnya, dan lagi rasanya tidak mungkin Melody mencintainya. Terkadang mereka lebih banyak bercanda jika dibandingkan dengan serius, terlebih Alfred yang memiliki tingkah konyol dan suka bercanda. “Memang salah jika aku mencintai kamu?” kata Melody masih saja kera kepala. Alfred berembus pelan, “aku sudah memiliki Nesya, dan kita ini sudah nyaman sebagai sahabat. Aku tidak ingin kita saling menjauh hanya karena perasaan itu.” “Kamu adalah sahabat berhargaku, Melo,” ucap Alfred membuat Melody dilanda kesedihan namun selalu dia simpan. Melihat Melody diam membuat Alfred bangun, tiba-tiba dia menggendong Melody dan membuat wanita itu berteriak. “Alfred, turunin,” teriak Melody. Bukan Alfred namanya jika tidak menjahili Melody, Alfred berlari dan melempar Melody ke pantai. Pria itu tertawa dengan puas melihat Melody basah kuyup, tentu Melody tidak tinggal diam begitu saja. Melody pura-pura tenggelam, dan tidak bergerak. Tentu Alfred panik dan menghampiri Melody. Tapi begitu sampai, Melody langsung menarik tubuh Alfred sehingga ikut terjatuh dalam air bersamanya. Melody tertawa, begitu pun dengan Alfred. Mereka saling berlari, mengejar satu sama lainnya. Sungguh menyenangkan sekali persahabatan mereka, sampai membuat mata hati Alfred tertutup akan cinta tulus yang Melody berikan. Terjebak friendzone, atau lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Itu yang dirasakan oleh Melody pada sahabatnya, Alfred. Sejak kecil bersama dan membuat bunga-bunga cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, bahkan di semua tempat sekolah Melody selalu bersama dengan Alfred. "Alfred," teriak Melody dengan begitu ceria, melambaikan tangan ketika bertemu Alfred. Melody masih tetap gadis ceria dan periang sejak kecil, apalagi kalau di depan Alfred dia langsung menjelma menjadi wanita bucin dan tak berhenti menatap lelaki itu. Melody memeluk Alfred ketika lelaki itu baru sampai di Rumah, beberapa hari terakhir ini Alfred memang berlibur bersama Bertha di pulau Jeju. Melody sangat ingin ikut, tapi harus terhalang karena juga ada liburan keluarga. "Kamu tambah hitam aja," ejek Alfred memberantakkan rambut Melody. "Habis dari pantai dan berjemur, wajar kalau hitam. Biar kayak bule-bule, gitu," jawab Melody berjalan masuk sambil memeluk pinggang Alfred, sedangkan lelaki itu merangkul pundak Nada. "Pakai bikini, dong," ujar Alfred menggoda. "Aissshh, boro-boro pakai bikini. Pakai kaos dan celana pendek aja, kamu tentu hafal bagaimana over-nya ayahku," keluh Melody bercerita. Alfred tertawa bukan main, pasalnya dia sangat mengenal Ivander seperti apa. Jangan tanya lagi bagaimana overprotektife Ivander pada Melody selama ini, bahkan dengan Alfred sekalipun Ivander tidak memberi celah. Beruntung karena mereka sejak kecil bersama, jadi Melody bisa menjadikan Alfred alasan untuk bisa pergi hangout. "Nikmatilah deritamu," tawa Alfred mengejek Melody. Melody mengerucutkan bibirnya. "Sialan!" Alfred dan Melody selalu menjaga persahabatan mereka dengan sebaik mungkin, banyak orang yang mengira kalau mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi semua terbantahkan karena Alfred sudah memiliki kekasih, sedangkan Melody memilih untuk menjomblo sampai sekarang. Banyak yang mengatakan kalau tidak ada namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan, bisa dipastikan salah satu di antara mereka memendam rasa. Hal itulah yang dialami oleh Melody, dan Alfred tidak tahu hal itu. "Mana oleh-olehku?" tanya Melody dengan santai berbaring di ranjang besar Alfred. "Ada di koper, bongkar aja," jawab Alfred mulai melucuti pakaian dan tersisa hanyalah boxer pendek bergambar Spiderman. Melody menelan saliva beberapa kali, padahal ini bukan pertama kalinya dia melihat tubuh Alfred. Tapi tetap saja rasanya begitu wow, dan membuat Melody terpesona. "Kamu nggak malu telanjang di depanku? Mana boxer Spiderman pula, nggak sekalian spongebob yang kamu pakai," ujar Melody dengan santai melihat Alfred, padahal dalam hatinya bergemuruh. "Bahagia kamu lihatnya kalau aku pakai spongebob. Kamu, kan, suka warna kuning," balas Alfred, "lagian kenapa malu sama kamu, udah pernah lihat aku telanjang juga," kata Alfred dengan santai. "Sialan," jawab Melody melempar bantal pada Alfred, membuat lelaki itu tertawa. Kamar Alfred tidak berubah sejak dulu, hanya satu hal saja yang berubah. Tak ada lagi foto kebersamaan dirinya dan Alfred, mungkin itu untuk menjaga perasaan sang kekasih. Pasalnya kekasih Alfred tidak begitu menyukai Melody, atau lebih tepatnya cemburu. Tapi Melody tidak mempedulikan hal itu, dia tetap akan bersama Alfred dan bersikap biasa tanpa mengurangi kedekatannya meski lelaki itu sudah memiliki kekasih. *** Melody tumbuh menjadi gadis cantik seperti Nada, tinggi dengan rambut cokelat panjang. Memiliki tubuh ideal adalah impian banyak pria, dan Melody merupakan incaran banyak lelaki di luar sana. Di usianya yang menginjak 29 tahun ini, Melody sudah memiliki banyak usaha di bidang kuliner mewarisi bisnis Ivander dulu, dan tidak ingin berurusan dengan bisnis keluarga Mahaprana. Melody sudah menyerahkan hak penuh atas bisnis keluarga pada Brandon, sang adik lebih pantas sebagai penerus perusahaan. Apalagi sikap Brandon yang memang terkesan dingin dan berkarisma, sangat patut untuk menjadi seorang pemimpin. Berbeda dengan Alfred, lelaki itu akan menjadi penerus bisnis keluarga Mahendra. Seluruh aset perusahaan sudah dipegang penuh oleh Alfred, tentu jiwa bisnis Alby mengalir kental dalam darah Alfred. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Alfred ketika makan siang di salah satu restoran milik Melody. "Ke mana?" jawab Melody yang sibuk memeriksa laporan bulanan. "Ada, deh. Ikut aku sekarang, ya," bujuk Alfred membuat Melody menghembuskan napasnya. "Yang jelas tujuannya, aku nggak mau muter-muter nggak jelas seperti waktu. Gila aja, demi kekasihmu yang menyebalkan itu," gerutu Melody jika mengingat hal itu. Alfred menggaruk kepalanya. "Jangan begitu, dia akan jadi calon istriku. Baik-baik, ya, sama dia," kata Alfred seketika membuat gerakan tangan Melody terhenti. Melody langsung mengangkat wajahnya, menatap Alfred untuk memperjelas ucapan lelaki itu. "Calon istri?" tanya Melody menatap Alfred dengan sendu. "Iya, aku akan melamar Nesya akhir pekan ini. Makanya aku ingin mengajakmu pergi untuk memilih cincin, kalian para wanita pasti memiliki selera yang tidak jauh berbeda," jelas Alfred menjelaskan tujuannya mengajak Melody, "kita pergi sekarang, ya," bujuk Alfred yang sudah memasang wajah memelas pada Melody. "Kamu serius dengan keputusanmu? Ini bukan perkara yang gampang, ini menikah, Al," ucap Melody berusaha menggoyahkan keputusan Alfred. "Aku udah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, lagi pula aku dan Nesya udah terlalu lama pacaran. Udah waktunya kita masuk ke jenjang yang lebih serius," jawab Alfred sudah matang-matang memikirkan hal ini. Alfred dan Nesya memang sudah berpacaran sejak kuliah, dan Melody juga sangat tahu bagaimana hubungan keduanya seperti apa. Pernah sekali Melody mengungkapkan perasaannya, tapi Alfred malah tertawa dan menganggap hal tersebut adalah lelucon belaka. Pasalnya Alfred dan Melody memang begitu dekat, terkadang sulit membedakan antara perasaan sayang sebagai seorang sahabat atau sebagai pasangan yang saling menyayangi. Tapi kali ini Melody tidak tahan lagi, dia harus memberitahu perasaannya pada Alfred. Melody tidak rela jika Alfred menikahi Nesya, apalagi harus menjadi penonton keduanya bahagia di atas pelaminan. Melody dan Nesya memiliki hubungan yang buruk, kemungkinan Nesya sadar kalau Melody menyukai Alfred sehingga wanita itu begitu over posesif ketika Alfred bersama dengannya. "Bagaimana kalau kamu membatalkan lamaranmu pada Nesya?" kata Melody menatap Alfred dengan serius, menatap lurus tanpa teralih sedikit pun. "Nggak ada alasan untukku membatalkan lamaranku pada Nesya," jawab Alfred dengan tegas, "lagi pula kenapa kamu nggak menyukai Nesya, dia wanita yang baik," lanjut Alfred balas mempertanyakan hal itu pada Melody. "Jelas aku nggak menyukai dia, dia merebutmu dariku," kata Melody dengan tegas. Alfred malah tersenyum tidak jelas, menghampiri Melody dan memeluknya. "Kamu memang sahabat terbaikku, kamu begitu tidak rela membagiku dengan wanita lain. Sweet banget," cium Alfred pada pipi Melody. "Kalau untuk urusan itu, kamu nggak perlu khawatir. Kamu akan tetap menjadi wanita nomor satu di hatiku, percayalah," bujuk Alfred supaya Melody mengantarnya. Melody merasa nyeri dalam dada, Alfred begitu tidak peka pada perasaannya. "Gimana kalau aku menyukaimu? Bahkan mencintaimu," kata Melody menatap Alfred. "Jangan bercanda, nggak lucu. Ayo kita pergi sekarang," ajak Alfred tertawa dan menarik tangan Melody menuju toko perhiasan. Beginilah tanggapan Alfred jika Melody menyinggung tentang perasaan dalam persahabatan mereka, mungkin dari sisi Alfred tidak ingin persahabatannya dengan Melody rusak hanya karena perasaan semu. *** Melody selalu datang ke acara wedding seorang diri, banyak yang mempertanyakan kenapa tidak datang lagi bersama Alfred dan tentu saja sebagian orang sudah tahu kalau Alfred sudah memiliki kekasih. Alfred datang bersama Nesya, mereka berdua begitu serasi. Banyak yang memuji mereka dan mendorong untuk segera naik pelaminan, hal tersebut membuat hati Melody berdenyut nyeri. Hatinya tercabik-cabik karena Alfred tak pernah menganggap perasaannya, tapi Melody bisa apa untuk saat ini. "Kenapa sahabatku ini selalu datang sendirian?" tanya Alfred menghampiri Melody. "Itu karena pasanganku diambil oleh orang di sebelahmu," sindir Melody menatap Nesya. Nesya tampak tersenyum, tapi dipaksakan. "Alfred adalah pacarku, tentu aku harus datang bersamanya. Harusnya kamu cari lelaki lain yang belum memiliki pasangan, kalau seperti ini kamu seperti obat nyamuk aja di antara kami," balas Nesya tidak ingin kalah. "Sudahlah, kalian para wanita jangan memperebutkanku lagi. Kalian berdua adalah wanita terindah dalam hidupku," kata Alfred ingin mencairkan suasana supaya tidak tegang lagi. Melody dan Nesya langsung menatap Alfred dengan tajam, lelaki itu hanya tersenyum menatap keduanya. Dan tiba-tiba, hujan turun begitu saja. Alfred langsung menggendeng tangan Nesya untuk berteduh, mengabaikan keberadaan Melody. Tampak Melody tidak bergeming sedikit pun, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Melihat Alfred dan Nesya begitu bahagia bersama, seolah sudah tidak ada celah untuk Melody. Dibalik sikap ceria Melody, tetaplah hatinya akan sakit ketika melihat pemandangan ini. Air matanya menetes tak terkendali, biarlah tak ada seorang pun yang tahu kalau dirinya menangis. Melody terdiam ketika hujan tak lagi membasahi badannya, sebuah payung merah di bawa seorang lelaki yang tepat berdiri di depannya. Tampak lelaki tersebut tersenyum, jemarinya terulur mengusap pipi dingin Melody. "Tidak baik wanita cantik menangis di saat hujan," ucap Langit tersenyum menatap lekat Melody untuk pertama kalinya.Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb
Nada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk
Melody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla
Melody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel
Melody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan
Selama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan







