LOGIN
Westalis tidak pernah ramah pada mereka yang berkantong tipis. Pagi itu, kota metropolitan tersebut masih dibalut kabut putih yang menggantung malas di antara pepohonan maple yang mulai memerah.
Udara sisa musim panas terasa menggigit, menusuk hingga ke tulang bagi siapa pun yang berani berdiri diam terlalu lama. Namun, di dalam dapur megah mansion keluarga Fortman, hawa dingin itu kalah oleh panasnya kompor dan aroma bawang bombay yang ditumis. Seorang pria berdiri memunggungi pintu. Postur tubuhnya tegap, kemeja putihnya yang mahal tersembunyi di balik apron biru muda yang tampak kontras. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan gambar tato di antara otot-otot lengan yang keras dan kulit kecokelatan yang tampak terawat, bukan karena gym, melainkan karena tempaan hidup yang tak terlihat. Tangannya yang kokoh bergerak sangat cekatan. Dengan pisau dapur yang berkilat tajam, ia memotong sayuran dengan presisi seorang ahli bedah. "DAVE! Di mana sepatuku?!" Lengkingan suara itu memecah keheningan pagi. "Hei, Kecoa Busuk! Kau tuli, ya?!" "Dave! Mana saladnya?! Lamban sekali kau seperti siput!" Suara-suara itu beradu, saling bersahutan dari arah ruang makan seperti paduan suara cacian. Pria itu, Dave, hanya memejamkan mata sejenak. Manik biru terangnya—yang sebiru samudra terdalam—menatap tumpukan keju di hadapannya. Ada dorongan liar di benaknya untuk menyumpal mulut-mulut berisik itu dengan parutan keju tersebut. Namun, ia menarik napas panjang. Sabar adalah senjatanya saat ini. Baru saja ia meletakkan sebutir ceri sebagai sentuhan akhir pada saladnya, sebuah benda melayang di udara. BUGH! Sebuah sepatu kain menghantam punggung kokohnya. Dave berbalik perlahan. Di ambang pintu dapur, berdiri seorang wanita paruh baya dengan riasan wajah sempurna yang tampak terlalu berlebihan untuk jam tujuh pagi. Theresia Fortman. Wanita itu menatap Dave seolah-olah pria itu adalah noda lumpur di lantai marmernya yang mengkilap. "Apa lihat-lihat? Telingamu sudah mati, hah?!" Theresia berkacak pinggang. "Jam berapa sekarang? Para menantuku yang hebat akan segera berangkat ke kantor, dan kau masih berdiri di sini seperti tiang tower? Dasar sampah!" Dave menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan rahangnya yang mengeras. "Maaf, Nyonya. Saya kurang enak badan, jadi terlambat bangun hari ini." "Kurang sehat?" Theresia tertawa sinis, langkah kakinya mendekat, mengeluarkan aroma parfum mahal yang menyesakkan. "Mungkin aku harus menelepon Rumah Sakit Jiwa untuk membawamu pergi. Kehadiranmu saja sudah membuat kepalaku pusing. Kau tahu? Tadi malam aku berdoa agar kau dikirim ke medan perang di Libanon, supaya peluru musuh bisa segera melubangi kepala bodohmu itu." Dave hanya meremas pinggiran apronnya hingga buku-buku jarinya memutih. Hinaan itu sudah menjadi makanan hariannya. Bagi Theresia, kotoran anjing peliharaan mereka jauh lebih berharga daripada menantu bungsu yang dianggapnya parasit ini. "Kenapa diam?! Cepat bawa sarapan itu ke meja! Menantu-menantuku yang sukses tidak punya waktu untuk menunggu sampah sepertimu!" bentak Theresia sebelum berbalik pergi. "Ah, aku lupa... kau bahkan tidak punya ijazah, bukan? Mimpi buruk macam apa yang membuat orang rendahan sepertimu masuk ke keluarga ini?" Setelah suara langkah sepatu hak tinggi itu menjauh, Dave melepaskan apronnya dengan gerakan kasar. Ia membantingnya ke lantai, menginjaknya seolah kain itu adalah wajah semua orang di rumah ini yang telah menghinanya. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Dave? Apa yang kau lakukan?" Suara lembut itu seperti siraman air dingin di tengah kobaran api. Dave tersentak. Ia menoleh dan mendapati Celina berdiri di sana. Rambut hitamnya tergerai indah, menatapnya dengan raut cemas. "Aku... aku hanya sedang meregangkan otot," dalih Dave cepat, memungut apron kucalnya dengan wajah memerah karena malu. Celina tersenyum tipis, meski ada gurat keletihan di matanya. "Berolahraga di dapur? Kau unik sekali. Sini, biar kubantu membawa saladnya. Mommy bisa mengamuk jika kita tidak segera ke meja makan." Hanya karena wanita ini. Hanya karena Celina Victoria Fortman—istrinya yang sah—Dave sudi bertahan di neraka ini. Mereka menikah dua tahun lalu atas perintah mendiang ayah Celina, James Fortman. Sebuah pernikahan yang dianggap seluruh kota sebagai lelucon terbesar abad ini. Sang Dewi Westalis menikahi pria dari antah berantah. Di meja makan, suasana terasa mencekam bagi Dave. "Hei, Alien dari Pluto! Cepat bawa saladnya ke sini!" teriak Edward Donovan, menantu tertua. Seorang Presdir pertambangan yang merasa dunia berputar di bawah kakinya. Dave bergerak seperti pelayan, menuangkan salad ke piring Edward tanpa suara. "Bodoh! Mana jus ku?!" timpal Jolie, istri Edward yang wajahnya tampak kaku karena terlalu banyak operasi plastik. Celina yang duduk di ujung meja, meletakkan garpunya dengan denting keras. "Aku berangkat sekarang. Ada meeting penting." Ia beranjak pergi tanpa menghabiskan makanannya, raut wajahnya tampak masam melihat suaminya diperlakukan seperti budak. Dave tertegun. Ia tahu Celina belum makan apa pun. Dengan cekatan, ia lari ke dapur, memasukkan beberapa potong roti dan buah ke dalam kotak bekal. Ia ingin menyusul istrinya. "Mau cari perhatian, hah?" cibir Arthur Desmond, menantu kedua yang merupakan CEO teknologi kesayangan Theresia. "Dasar norak." "Celina sedang diet untuk peluncuran produknya. Dia tidak akan menyentuh makanan murah buatanmu," sahut Jesica, istri Arthur, sambil tertawa mengejek. Theresia menimpali sambil mengunyah apel dengan anggun. "Harusnya kau tahu diri, Dave. Ratusan eksekutif muda di Westalis sedang mengantre menunggu Celina menceraikan mu. Kau hanya debu di bawah kakinya." Satu per satu mereka bangkit, meninggalkan meja makan dengan tawa meremehkan, membiarkan Dave sendirian di antara piring-piring kotor. Dave terdiam. Ia menatap kotak bekal di tangannya, lalu tersenyum getir. Jika saja James masih hidup, mungkin ia tak perlu sedalam ini bersembunyi di balik topeng kepatuhan. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ia mencuci tangannya dengan cepat, memastikan tidak ada orang di sekitar, lalu mengangkat telepon itu. "Hm?" suara Dave berubah total. Tidak ada lagi nada ragu atau penundaan. Suaranya berat, dingin, dan penuh otoritas. ["Bos, orang-orang kita ditangkap di dermaga oleh faksi lawan. Logistik milikmu dijarah."] Dave terdiam sejenak. Matanya yang tadi tampak kuyu, kini tajam seperti elang yang siap menyambar mangsa. "Hubungi Luca. Katakan padanya jangan biarkan satu pun dari mereka melihat matahari besok. Tangkap para pencuri itu dan kunci mereka di markas bawah tanah. Aku akan turun tangan sendiri nanti malam." ["Baik, Bos!"] Klik. Dave memasukkan kembali ponselnya. Ia kembali memungut piring kotor dan menyalakan keran air. Sambil bersiul pelan, ia mencuci piring-piring itu dengan tenang, seolah perintah untuk melenyapkan nyawa yang baru saja ia berikan hanyalah obrolan cuaca. Mereka memanggilnya Kecoa. Mereka memanggilnya Sampah. Tapi di belahan dunia lain, di bawah langit Italia yang gelap, nama Dave Alen Parker adalah hukum yang tak terbantahkan. Sang Penguasa Eropa itu sedang menikmati perannya sebagai menantu yang tertindas. Entah apa yang sedang dia rencanakan.Udara pagi di New San Alexandria Barat terasa begitu segar, membawa aroma pinus dan embun yang masih menempel di rerumputan hijau. Di sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah lembah, berdiri sebuah bangunan megah yang seolah membeku oleh waktu. Bungalow Parker. Setelah dua puluh tiga tahun ditinggalkan, rumah itu masih tegak berdiri dengan aristokrasi yang tak tergoyahkan.Gerbang besi setinggi tiga meter berderit pelan saat dua penjaga berseragam rapi membukanya. Iring-iringan mobil mewah hitam mengkilap merayap masuk ke pelataran marmer. Di sana, seorang pria tua dengan rambut putih bersih dan setelan pelayan klasik berdiri tegak. Albert, pria berusia 70 tahun yang telah mengabdi pada tiga generasi klan Parker, menatap mobil utama dengan mata berkaca-kaca. Baginya, bungalow ini bukan sekadar bangunan; ini adalah kuil sejarah yang ia jaga dengan seluruh sisa hidupnya.Dave Alen Parker keluar dari mobil, gerakannya tenang dan berwibawa. Luca Cassano menyusul di sampingnya, mat
Malam di Westalis kian larut, menyelimuti Kediaman Fortman dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kamarnya, Celina mondar-mandir seperti singa betina yang terperangkap dalam sangkar emas. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan bayangan panjang yang gelisah di dinding. Pikirannya diracuni oleh kata-kata Bianca di Queen Hotel tadi siang. Tato ular hitam. Detail itu terus berputar di kepalanya, menghujam jantungnya dengan rasa sakit yang tak tertahankan."Kenapa ponselmu mati, Dave?" bisiknya parau, jemarinya memutih saat mencengkeram ponselnya sendiri.Tiba-tiba, layar ponselnya menyala. Bukan nama Dave yang muncul, melainkan Luca. Celina menyambar panggilan itu sebelum nada dering kedua selesai."Di mana suamiku, Luca? Kenapa dia mematikan ponselnya? Apa dia sedang bersama wanita itu?" tanya Celina tanpa basa-basi, suaranya bergetar antara kemarahan dan ketakutan.Di seberang sana, suara Luca terdengar tenang, namun ada nada keletihan yang tersamar. "Mohon maaf, Nona. Tuan Muda
Lampu kristal yang menggantung di plafon Queen Hotel memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun atmosfer di dalam restoran eksklusif itu terasa membeku. Edward menepikan mobilnya tepat waktu, dan Celina melangkah masuk dengan keanggunan seorang pemimpin. Sebagai CEO Micro Company, ia mengesampingkan kegundahan hatinya demi profesionalisme. Pertemuan dengan para klien berjalan lancar; kesepakatan bernilai jutaan dolar ditandatangani di atas hidangan laut segar yang mewah. Namun, di balik pilar marmer yang tak jauh dari sana, sepasang mata hijau zamrud mengintai dengan kebencian yang murni.Bianca Casio, putri mahkota dari klan Casio yang berkuasa di Milan, menyesap champagne-nya dengan senyum sinis. Ia tidak terbang jauh-jauh dari Italia hanya untuk menikmati pemandangan Westalis. Ia datang untuk merebut apa yang ia yakini sebagai miliknya: Dave Alen Parker.Begitu para klien meninggalkan ruang VIP, Bianca bangkit. Gaun sutra merahnya menyapu lantai, menciptakan siluet yang mengancam
Langit San Alexandria sore itu tampak seperti kanvas yang terbakar, semburat oranye dan merah darah menghiasi ufuk barat. Helikopter AgustaWestland milik Dave Alen Parker terbang rendah, membelah angin dengan deru mesin yang ritmis. Dari ketinggian, gedung kantor gubernur lama tampak seperti raksasa beton yang sedang tertidur di tengah hamparan ilalang yang mulai mengering.Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Di sekeliling gedung, puluhan tentara elit VEGA berdiri dalam formasi perimeter yang rapat. Mereka bukan sekadar penjaga; mereka adalah tembok hidup dengan senjata terkokang, mata yang tajam di balik kacamata taktis, dan kesiapan untuk melenyapkan ancaman apa pun yang berani mendekat dalam radius satu kilometer.Dave berdiri di ambang pintu helikopter yang terbuka, membiarkan angin kencang mempermainkan rambut hitamnya. Satu pekan telah berlalu sejak Carlos Stanza tewas di depan pusara orang tuanya. Satu pekan, dan pintu baja itu masih membisu, menolak setiap kombinasi
Ruang tamu utama Kediaman Fortman yang biasanya dianggap sebagai puncak kemewahan di distrik elit Westalis, pagi ini mendadak terasa sempit dan pengap. Lima orang pria paruh baya dengan stelan jas seharga mobil mewah duduk di sofa beludru, mata mereka yang tajam memindai sekeliling dengan tatapan merendahkan. Bagi para investor AMVERA yang terbiasa dengan aula marmer di Milan atau kastel di Swiss, interior rumah ini tampak seperti kotak mainan yang sumpek.Keheningan yang mencekam pecah saat Dave Alen Parker melangkah masuk. Luca Cassano berjalan selangkah di belakangnya dengan tas kerja kulit buaya yang eksklusif. Di belakang mereka, Edward dan Arthur mencoba mengekor, memasang senyum paling ramah yang mereka miliki, berharap mendapat lirikan dari para "Dewa Uang" Eropa tersebut."Selamat pagi, Tuan Muda Alen Parker."Seketika, kelima investor itu bangkit berdiri serempak. Mereka membungkukkan badan dengan hormat yang amat dalam—sebuah pemandangan yang membuat rahang Edward nyaris
Sinar matahari pagi di Westalis menyelinap masuk melalui celah gorden sutra Kediaman Fortman, menyinari debu-debu yang menari di udara yang kini sarat dengan aroma kemewahan. Di dapur yang luas, kesibukan telah mencapai puncaknya sejak fajar menyingsing. Aroma roti tortilla dengan lelehan mentega yang gurih menyeruak, bersaing dengan aroma smoky dari daging steak wagyu yang sedang dipanggang sempurna di atas grill.Theresia keluar dari kamarnya dengan langkah anggun namun terburu-buru. Wajahnya yang terpoles make-up tipis tidak bisa menyembunyikan gurat kecemasan. Semalam, tanpa peringatan, jet pribadi bertanda klan Parker mendarat di Westalis. Dave—atau sekarang lebih dikenal sebagai Tuan Muda Alen Parker—kembali ke rumah ini. Kedatangannya yang mendadak membuat seisi rumah bak tersengat listrik; mereka kikuk, tak siap, dan merasa berdosa.Sambil menggendong Molly, anjing pudel putihnya, Theresia menghampiri Silvester. Matanya menyapu meja saji. "Silvester, bagaimana dengan spagh







