LOGINVanessa's life took a stand still as walked in on her fiancé making love passionately to the person she called her best friend. Being wealthy , the only thing she ever desired was true love but unknown to her Raymond only wanted her because of her wealth. She stood at the edge of the room watching the scene as tears dropped down her cheek, When Raymond turn to meet her eyes his fear of loosing the wealth if she left him made him drown her to death with the help of her bestfriend. They plotted to take her company from her and run it together. But fortunately for Vanessa, she wakes up from death one month later with a new identity, she woke up in the body of Elizabeth Blackwood, wife of Damien Blackwood. Given a second chance to live, Vanessa assumed Elizabeth's identity and vowed to get revenge on the people who had wronged her. Will she be able to focus on her revenge or be distracted by the handsome Mr Blackwood……..
View More"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
“Vanessa, please,” I begged, gently pulling away from her grasp.As I approached the door, something struck me from behind. I froze. Slowly, I turned to see her shoe on the ground. My head sprang up to look at her, my brows knitting together.“Did you just throw your shoe at me?”She sobbed. “Yes, what do you have to do? Do you want to hit her? Give her more reasons to lock you up?”She breathed shakingly. “It's our wedding night Damien, we should be together, so don't walk out on me”My jaw clenched as I approached her. She immediately took a step back, fear flickering in her eyes. .“What are you doing?” She ran across the room. “Are you angry? I'm sorry” She begged. As I drew closer, she took off her other shoe, throwing it at me, but I caught it. “Stop!” She cried covering her face.“Ouch, Vanessa, did you think I was going to hurt you?” I asked, pulling her hands away from her face. She looked at me, her eyes still wet from tears.“You are not?”My jaw tightened even more, my g
Katherine.The letter read,Congratulations on your wedding, I'm sure getting married into the Davenport family feels like a treat, well enjoy, I was going to come after you before but now that you are going to be a part of the family officially, you are also an enemy to me as they are to me, you will suffer the same pain that I will make them all feel.But…There's an escape for you, Go to the altar today to get married to Damien, but when the priest asks you if you will ask him as your husband, say no, shock the congregation and most importantly, Damien, Shatter his heart into pieces and you shall be free if the pain that I will rain on this family. A pain much worse than death. Love, Katherine Sinclair. My whole body shuddered with fear as I read its contents. How did the note get here? Did Katherine have an inside man at my wedding?The veil covered my head as Mr Davenport led me to the altar. But I was cautious of my surroundings, what if Katherine was here? Would she try anyth
As the nurse led me to Katherine's room in the hospital my fists clenched. I have not seen her in years. She must have changed a lot, but still carrying a grudge from years ago?Sigh. “In here, sir,” The nurse said, reaching for the door. “Stop”She paused, turning to look at me. “Leave, I want to go in alone” I instructed. She nodded, turning to leave. My fists loosened as I reached for the door. I exhaled sharply and pulled it open. “Katherine,” I muttered as My gaze caught her lying on the bed. Her gaze shifted to me, her eyes widening in surprise. “Well, this is a surprise,” She groaned, sitting up on her bed. “I knew you would come running to save your son but I didn't know you would come here so soon”“Katherine,” I said, walking towards her. “What do you think you are doing to my family?Her jaw clenched. “Your family?” She scoffed. “Soon, there will be no one for you to call family, and I will end you!” She snapped. My brow furrowed. I had never seen so much hate in he
My breathing grew ragged as Harry explained everything. “Dad, are you still there?” He asked. “Dad?”“I will be in America as soon as I can; call somebody to get my son out of prison; we are rich, goddammit! Use it!”I yelled, hanging up immediately. “George!” I yelled. My eyes searched frantically.“Yes sir?!” He responded almost immediately. “Prepare my plane, we are going to America” I Instructed. My children are suffering because of my past mistakes. I covered my face in shame. What a bad father I was. I needed to find Katherine and settle things between us before it got out of hand. ~~Vanessa~~I sat in the bathtub filled with water. My eyes closed as I thought about Damien. I wish I could be there with him. My eyes shot open as I heard the bedroom door open. “Who is there?” I asked but no response followed. “Harry?” I called again.Suddenly, the bathroom door pulled open, and Damien stepped in. Damien?!Without asking any questions, I jumped out of the bathroom, rushin












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews