LOGINAwan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.
Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu. Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela. Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Demiral. Dia membuangku seperti itu? Sudah gilakah dirinya! Pria itu tidak tahu betapa berharganya Valerie, dan dia malah membuangnya asal seperti itu. Mengumpat kesal dalam hati. Valerie telah beberapa kali menghubungi nomor asisten pria itu agar terhubung dengannya, namun jawaban tidak kunjung Valerie terima. "Apa kau tidur?" Valerie menoleh, mendapati Louis yang berdiri tepat di sampingnya. Pria itu tersenyum ramah, ia baru kembali dari acara pembukaan universitas baru. "Bagaimana lukamu, sudah membaik?" tanyanya lagi. Beranjak duduk, Valerie menunjuk ke arah kakinya. "Sudah lebih baik." "Baguslah." Tangannya bergerak untuk merapikan rambutnya yang kusut karena berbaring tadi. Ia menilik Louis yang duduk di hadapannya sedang menuangkan air ke dalam gelas. Rasanya ia tidak bisa menampakan wajahnya di hadapan pria itu karena malu, malu karena Louis lah yang telah menemukannya di depan gerbang tempo hari. "Nona," sapa seorang pelayan yang baru saja datang. Beliau memberikan sebuah kertas undangan pada Valerie. "Undangan untukmu, Nona." Valerie menerima undangan tersebut, membuka lalu membacanya. Itu sebuah undangan dari Nolan Hugo, mantan kekasihnya, pria sialan itu mengundang Valerie untuk menghadiri acara ulang tahunnya. Ia melipat kertas undangan tersebut dengan perasaan kesal. Tindakannya secara tidak sadar diperhatikan oleh Louis yang masih duduk di sana. Raut wajah Valerie yang mencebik sangat mengekspresikan perasaannya. "Ada apa?" tanya pria itu. Valerie meliriknya, melirik Louis cukup lama. Ia tatap Louis tanpa sadar, menatap setiap inci wajah tampan itu yang bersih tanpa jambang. Dia tampan, kulitnya putih bersih, wajahnya halus dan garis rahangnya terlihat kuat, tubuhnya begitu atletis. Pria ini sempurna. "Aku mendapat undangan dari mantan kekasihku," tutur Valerie jujur. "Maukah kau pergi bersamaku nanti malam untuk menghadirinya, Louis?" "Menjadi pendampingmu? Tentu saja, Nona." Valerie terkekeh samar. "Jangan memanggilku seperti itu, itu aneh." "Baiklah, Signora?" "No. Haha. Itu panggilan untuk ibuku." "Baiklah, Valerie, just Valerie, oke?" "Ehm ya." "Bagaimana dengan luka di kakimu, apa kau akan baik-baik saja?" "Tenang saja, aku terbiasa memakai higheels dengan kaki yang terluka." Ya. Untuk menunjang penampilan sempurna, apa yang tidak dilakukan oleh seorang wanita. ****** Villa Luxury berposisikan di sisi kota Roma. Sebuah Villa besar nan mewah, berdiri kokoh indah bangunannya di tengah hutam rimba yang hanya memiliki satu akses jalan menuju Villa tersebut. Setiap bagian terlapisi oleh kaca, dinding-dinding kaca yang tentu bersinar di antara gelapnya hutan pada malam ataupun siang hari. Mobil mewah bergantian masuk, mengantar sang empu menghadiri pesta mewah yang tengah berlangsung. Sebuah pesta besar yang selalu diadakan meriah setiap tahunnya, ialah pesta ulang tahun cucu pertama keluarga Hugo-Nolan Hugo. Pria berpakaian suit formal itu menggandeng seorang wanita cantik ke sana ke mari guna menyapa para tamu undangan yang terhormat. Sebab pesta tersebut tidak hanya menghadirkan teman-teman atau kenalan pemeran utama, lingkaran bisnis serta orang terpandang lainya turut serta menghadiri pesta. Pada lantai atas, beberapa pria berpakaian serba hitam tampak mengawasi. Cekatan dengan tatapannya yang tajam, tidak membiarkan satu lalat kotor ikut serta ke dalam kemeriahan pesta tersebut. Para pria itu berdiri berjejer di belakang sang empu, yang tak kalah gagah tampilannya kini terbalut formal suit berwarna hitam pekat. "Awasi, jangan ada satu noda pun terlihat di sini." Lucas memerintah. Berdiri di belakang Demiral, dan menggantikannya membuat titah. Lantas para penjaga itu berpencar, masing-masing pergi ke tempat penjagaan. Mata elang itu memicing, terkunci pada sosok wanita cantik yang berjalan masuk ke dalam aula Villa. Memakai long dress berwarna putih ketat yang memperlihatkan lekuk lubuhnya, disertai belahan panjang hingga tengah paha. Ia melangkah, menggandeng seorang pria tampan bertubuh tegap bersamanya. "Valerie Yoxavos," gumam Demiral rendah. Ia segera berbalik, meninggalkan tempat berdirinya selama setengah jam yang lalu, diikuti oleh Lucas di belakang. Selalu meriah dan tidak terelakan. Pesta ulang tahun dari si cucu pertama keluarga Hugo. Sejak keluar dari mobil dan menginjakan kaki di red carpet, dirinya sudah disambut dengan banyaknya flash dari kamera wartawan. "See? He is my ex," tutur Valerie pada Louis, digandengnya pria itu menuju Nolan Hugo. Pria brengsek pertama yang mematahkan hatinya. Valerie dengan ekspresi datarnya, sirens eye miliknya selalu terlihat cantik namun memiliki tatapan yang cukup sinis. Berdiri dirinya kini di samping Nolan yang tengah menyapa para tamu, berdiri menggandeng Louis sangat rapat. "Oh hai, Valerie." Emily lebih dulu menyadari kehadirannya lantas kekasih Nolan itu menyapa dan memeluk ringan Valerie. Setelahnya, dia berbalik, membawa Nolan untuk datang ke hadapan Valerie. "Selamat ulang tahun, Nolan," tandas Valerie tanpa senyuman. Sengaja ia angkat wajahnya, dan menatap Nolan dengan pongah. Rasa sakit hati, benci, marah masih menyatu di dalam jiwanya. "Haha. Terima kasih, Valerie." Nolan tertawa canggung. Mantan kekasihnya ini sikapnya memang sedikit menantang. Di samping, Louis mengulum senyumnya melihat tingkah wanita yang menjadi pasangannya malam ini. Wanita yang terlihat begitu menggemaskan ketika terlihat kesal. Pandangan Nolan langsung tertuju pada Louis tentunya. Pria yang kini menggandeng lengan mantan kekasihnya serapat mungkin. Pria tampan bertubuh atletis, yang dalam pikiranya tidak lebih buruk dari dirinya. Dia tampan. "Hai." Nolan mengulurkan sebelah tangannya. "Nolan Hugo," sapanya pada Louis. "Louis Sicilio." "Hallo Louis, kalian terlihat cocok bersama," puji Nolan, yang tentunya langsung mendapat timbal balik sengit dari mantan kekasihnya. Ingin sekali rasanya Valerie menumbuk wajah tampan pria berambut blonde tersebut. Wajah tampan yang dulu selalu menjadi kebanggaanya, selalu menjadi favoritnya, dan juga paling gemar Valerie cium pipi mulusnya yang tanpa jambang. Tapi malam ini, detik ini juga Valerie sangat ingin menghancurkannya. Harusnya tak pernah kucintai pria keparat seperti dirimu, tak pernah kusayangi brengsek bajingan ini, dan juga tak perlu kuciumi dulu wajah tampannya yang begitu menjijikan kini saat aku melihatnya. CK. Benar-benar! Benar-benar aku menyesalinya dan membencimu NOLAN HUGO! "Are you okay?" Louis menyadarkan, kontan Valerie menoleh memandang pria yang menatapnya sayu redup. Tanpa Valerie sadari, sedari tadi kuku-kuku panjangnya sedang menancap di atas kulit tangan Louis yang terhalang oleh kemeja dan jas. Amarah Valerie tersampaikan, tersampaikan pada Louis dan bukan Nolan. . . . Bersambung ....Sosoknya yang amat gagah melangkah gontai di dalam kegelapan. Derap langkah yang berat menjadi backsound menyeramkan dikala heningnya malam. Disertai suara-suara rantai yang di seret dan pintu besi berkarat yang dibuka menimbulkan bunyi nyaring membuat sesuatu di dalamnya kontan terjaga. Meraung ganas seekor serigala hitam di dalam kandang jerusi besi. Matanya yang tajam meruncing menelisik pada sosok gagah di dalam kegelapan, mengendus mengenali sosok tuannya lantas bersimpuh serigala tersebut pada sang empu. Demiral menerima rantai besi yang disodorkan oleh penjaga bertubuh besar bak algojo. Lalu dikalungkan rantai tersebut pada leher serigala ganas miliknya, membawa hewan buas itu keluar dari dalam kandang. Dia menggiring hewan buas besar berbulu hitam tersebut pada lorong yang gelap, sesekali raungan ganasnya serigala membuat segala bulu tubuh bergidik ngeri. Di belakangnya, dua orang algojo mengetuk setiap pintu kiri dan kanan menggunakan tongkat besi. Sengaja membuat semua pi
Berdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya. Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi
Awan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela.Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Dem
Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana."Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar."Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."Lucas pergi setelah menutup pintu. Men
Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk menikmati sarapan khas di sana, pergi berbelanja, dan juga pergi menonton film.Alih-alih membuat Louis menikmati, Valerie malah lebih menikmatinya sendiri, bahkan dia mengajak Louis pergi ke tempat yang ada di dalam daftar otaknya selama ini. Louis pergi menemaninya, dan bukan sebaliknya. Itu terlihat jelas di mata Valerie jika wanita itu benar-benar antusias ketika berkeliling.Kini keduanya berakhir di sebuah kedai ice cream. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyusuri trotoar jalan sembari memakan Ice cream di tangan.Valerie berpakaian Casual hari ini. Rok mini sepaha dan kaos putih bergambar kucing. Memakai topi pada rambutnya yang sengaja diurai agar orang-orang di sekitar tidak te
Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampingnya. Lantas pria tersebut menatap Valerie heran.Wanita cantik ini menggigit bibir bawahnya, menoleh pada jendela mobil yang mana sudah banyak wartawan di luar sana. Ia tidak bisa keluar."Mereka semua mengejar ku, sial!" gumam Valerie rendah. Lalu wajahnya kembali lagi menilik pria dingin di sebelahnya."Maafkan aku, tapi bisakah kau membawaku keluar dari sini?" pinta Valerie dengan wajah memohon."Jalan." Perintah pria tersebut pada sang supir yang langsung menurutinya, menekan pedal gas dan pergi dari area basement tersebut."Terima kasih," tutur Valerie lega. "Apa kau akan pulang?" tanya Demiral, yang ternyata pria yang berada di dalam mobil tersebut adalah Demiral. Pria itu datang unt







