LOGINBerdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya.
Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi ke sana untuk berbicara kepada beberapa penjaga. Saat pria itu menyadari seseorang membuntuti, ia langsung memerintah penjaga tersebut untuk pergi dari sana. Valerie berjalan cepat dengan higheels tingginya. Tidak ia pedulikan rasa ngilu akibat luka yang masih basah di bawah stoking yang dia kenakan. Ia terus melangkah untuk mencapai Demiral. Lengannya dengan cepat terulur, menarik suit pria itu hingga membuatnya berbalik padanya dan satu bogem mentah Valerie layangkan tepat pada sisi bibir seksi pria tampan itu, membuat memar pecah yang langsung mengeluarkan bercak darah segar. "Shit!" Demiral menggeram tertahan. Ia pegang ujung bibirnya yang telah pecah robek pun berdarah, mendorong pipinya dari dalam menggunakan lidah. Beberapa penjaga yang melihatnya hendak mendekat namun Demiral dengan cepat mencegah. Tidak perlu campur tangan orang lain untuk mengurus amarah wanita. Jika ia ingin, wanita ini akan hancur di tangannya sendiri hari dan detik ini juga. "Itu untukmu, balasan karena kau telah mencampakkan diriku!" tutur Valerie marah, tatapannya menyalang pada pria itu. "Berani sekali kau membuang diriku yang sangat berharga seperti ini begitu saja." Lucas yang baru sampai berdiri tepat beberapa meter di belakang Valerie. Amat sangat terkejut melihat tuannya yang sudah babak belur. Ia tidak berani mendekat karena Demiral menahannya. "Tidak ada yang mencampakkanmu, Ms. Yoxavos." Valerie berdecih, memutar matanya malas. "Kau meletakanku begitu saja di depan gerbang kediamanku. Apa itu namanya jika bukan kau campakan?" "Aku mengantarmu pulang," balas Demiral dengan tenang. Ekspresinya kembali seperti semula, dingin dengan tatapannya yang tajam. "Oh ya? Ekstrem sekali jasa hantarmu, Mr. Hugo," tandas Valerie. Menyugar rambutnya yang terurai ke belakang, ia tatap kolam renang di depan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Sedetik kemudian ia tatap kembali Demiral di hadapannya. Tatapan licik wanita cantik itu, menarik lengan Demiral dengan kuat hendak membawa pria itu ke arah kolam renang. Namun apa daya wanita lebih lemah dari pria, belum sempat Valerie melangkah, Demiral lebih cepat bergerak melingkarkan lengannya pada pinggul sintal Valerie, membawa tubuh wanita itu ke dalam gendongan bahunya dan membuat posisi tubuh Valerie terbalik. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" pekiknya lantang. "Kidnap you." Mata Valerie membulat, mengerjap kemudian. Tangannya semakin gencar memukul punggung Demiral minta diturunkan. Namun, pria itu tetap tegak melangkah dengan ekspresinya yang dingin pun datar, membawa tubuh Valerie enteng masuk ke dalam Villa melalui pintu belakang. Pintu tertutup rapat. Lucas membawa dua penjaga untuk berjaga-jaga di sana alih-alih ada orang yang tersesat dan salah masuk. Pastikan tidak ada satupun orang yang menganggu sang empu. Di dalam lorong yang remang-remang sangat minim pencahayaan. Demiral terus membawa tubuh Valerie dengan gontai langkah pria itu yang menggema pada setiap sudut ruangan. Valerie mengangkat wajahnya melihat sekitar, tidak ia temukan apapun kecuali lorong yang gelap serta beberapa pintu ruangan pada sisi kanan dan kiri. Tidak di sangka jika Villa besar dan mewah memiliki sisi gelap dan menyeramkan seperti tempat ini. Hawa dingin yang menusuk kulit membuat seluruh tubuh bergetar ngeri. "Tempat apa ini? Ke mana kau akan membawaku? Apa yang ingin kau lakukan, Demiral!" "Merobekmu," balas Demiral disertai seringai tajam. “AH TIDAK! SIALAN! LEPASKAN AKU!” Semakin resah, berkeringat, juga teriakannya semakin lantang menggema. Lagi-lagi berontak meminta di turunkan, namun Demiral tetap tak bergeming hingga langkah pria itu terhenti pada salah satu pintu yang berada di paling ujung lorong, membuka pintu yang terkunci lalu masuk ke dalam. Sebuah ruangan besar dan minim pencahayaan. Disertai lemari kaca yang berjejer pada setiap sisi dinding, berisikan Glock lengkap dengan berbagai jenis, holster-holster yang tersusun rapih, serta banyaknya senapan. Ruangan tersebut juga memiliki ranjang besar yang di atas dindingnya terdapat sebuah lambang serigala dengan mata merah yang menyala. Tubuh Valerie dihempaskan ke atas ranjang hingga wanita itu mengaduh kesakitan. Lantas dengan mata yang terbelalak menatap Demiral di depan ranjang ia hendak kabur, namun sigap Demiral menahan kedua lengannya lalu ia ikat kencang menggunakan tali yang telah tersedia di sana. "Lepas, Kerapat gila!" "Lepaskan aku!" Air mata telah mengenang pada sirens eye itu, yang sedikit lagi akan jatuh jika ia tidak menahannya sebab kini Demiral berhasil mengikat dua lengan serta kaki kananya dengan tali yang masing-masing terikat kuat pada sisi ranjang. Valerie tidak bisa melarikan diri lagi, bahkan jika ia berteriak sekuat tenaga tidak akan ada yang bisa mendengar terikannya dari dalam ruangan gelap itu. Saat ini dia hanya bisa berharap, berharap jika Demiral memiliki kewarasan untuk melepaskannya. Bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat serta nafasnya yang memburu, ia menatap Demiral yang mulai membuka suit miliknya. Ia menelan ludahnya susah payah, pria itu mulai membuka beberapa kancing atas pada kemejanya. Sementara Demiral menatapnya datar. Menarik kaki Valerie dengan membuat wanita itu semakin membelalak tajam. Kasar ia buka higheels wanita cantik itu yang kemudian dilemparnya ke sembarang arah. Ia robek stoking yang Valerie kenakan pada bagian bawah kakinya yang kontan membuat wanita itu menjerit lalu menendang lengannya. "TIDAK! JANGAN BERANI-BERANI KAU MENYENTUHKU KEPARAT!" "Shut up." Kembali Demiral menarik kaki kirinya pun kali ini lebih kuat, ia cengkram pergelangan kaki Valerie sampai wanita itu tidak bisa mengelak. "Jangan-" Kalimatnya tersentak saat perlahan pria itu meletakan handuk basah pada kakinya yang terluka. Valerie kontan terdiam, tidak bisa berkata-kata, tidak bisa mengelak lagi. Ia terus terdiam sampai pria itu mengoleskan obat. "Lukamu masih basah, tapi kau sudah mengenakan higheels tinggi." "A-apa maksudmu?" tanya Valerie bingung terbata-bata karena jantung serta nafasnya masih memburu. Sembari mengusap lembut luka pada kaki wanita itu ia mengangkat pandangannya pada Valerie intens. "Apa?" "Ma—maksudku tadi kau bilang akan merobekku?" Pria ini menyeringai. "Your stockings, Ms. Yoxavos. See?" Dia mengangkat kaki Valerie yang terluka, bagian stoking yang terkoyak karena Demiral tarik tadi. "Hah?" Tubuh Valerie mendadak lemas, jantungnya mencelos ke dalam. Tidak ada yang bisa ia katakan lagi, mulutnya seakan terkunci oleh jawaban dari pria itu. Dia masih syok dengan kelakuan Demiral tadi yang ternyata pria itu hanya mempermainkannya. "Apa yang kau pikirkan, huh? Kau ingin kurobek di bagian lain?" Valerie menelan salivanya susah payah. Sementara Demiral mulai membuka setiap tali yang ia ikatkan tadi. Setelah itu, ia mencondongkan badannya mendekat sampai wajahnya tepat berada di sisi telinga wanita itu. "Ingin mencobanya?" "Bedebah gila!" Menyiku hingga membuat pria itu tersingkir jauh darinya. Cepat-cepat ia beranjak turun dari ranjang, pergi menggapai pintu serta keluar dari dalam ruangan gelap mematikan itu. Tidak peduli kakinya yang terluka terbalut perban, tidak peduli stokingnya robek, atau bahkan higheels yang tertinggal di dalam. Terpenting sekarang ia bisa pergi melarikan diri dari pria sialan itu. Lucas berjaga di luar saat pintu terbuka lalu dengan tergesa-gesa Valerie berlari keluar, tanpa alas kaki pun tanpa menoleh ke belakang. Tidak lama setelahnya Demiral muncul, melangkah gontai dengan dua tangan yang ia masukan pada saku celana. "Sir." Para penjaga memberi hormat. Ia pandangi Valerie yang berlari menjauh dari pandangannya. Wanita yang ketakutan sampai bergetar seluruh tubuhnya beberapa menit yang lalu, namun ia tetap angkuh untuk tidak memohon agar dilepaskan. Wanita itu malah terus mengumpat serta memancing pertikaian. Ocehanya membuat sakit kepala semua orang yang mendengar. Seperti itu memang sifatnya. Sifat dari putri tunggal keluarga Yoxavos. Ximena Valerie Yoxavos. Angkuh, pongah, tidak terbatas. . . . Bersambung ....Sosoknya yang amat gagah melangkah gontai di dalam kegelapan. Derap langkah yang berat menjadi backsound menyeramkan dikala heningnya malam. Disertai suara-suara rantai yang di seret dan pintu besi berkarat yang dibuka menimbulkan bunyi nyaring membuat sesuatu di dalamnya kontan terjaga. Meraung ganas seekor serigala hitam di dalam kandang jerusi besi. Matanya yang tajam meruncing menelisik pada sosok gagah di dalam kegelapan, mengendus mengenali sosok tuannya lantas bersimpuh serigala tersebut pada sang empu. Demiral menerima rantai besi yang disodorkan oleh penjaga bertubuh besar bak algojo. Lalu dikalungkan rantai tersebut pada leher serigala ganas miliknya, membawa hewan buas itu keluar dari dalam kandang. Dia menggiring hewan buas besar berbulu hitam tersebut pada lorong yang gelap, sesekali raungan ganasnya serigala membuat segala bulu tubuh bergidik ngeri. Di belakangnya, dua orang algojo mengetuk setiap pintu kiri dan kanan menggunakan tongkat besi. Sengaja membuat semua pi
Berdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya. Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi
Awan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela.Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Dem
Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana."Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar."Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."Lucas pergi setelah menutup pintu. Men
Hari ini pagi-pagi sekali. Valerie mengajak Louis untuk mengelilingi pusat kota Roma. Karena pria tersebut baru menginjakan kakinya di ibukota Italia, Valerie berniat dengan baik hati mengajaknya untuk pergi jalan-jalan dan memperkenalkan kota kelahirannya pada pria tersebut. Dia mengajaknya untuk menikmati sarapan khas di sana, pergi berbelanja, dan juga pergi menonton film.Alih-alih membuat Louis menikmati, Valerie malah lebih menikmatinya sendiri, bahkan dia mengajak Louis pergi ke tempat yang ada di dalam daftar otaknya selama ini. Louis pergi menemaninya, dan bukan sebaliknya. Itu terlihat jelas di mata Valerie jika wanita itu benar-benar antusias ketika berkeliling.Kini keduanya berakhir di sebuah kedai ice cream. Setelah itu, mereka berjalan bersama menyusuri trotoar jalan sembari memakan Ice cream di tangan.Valerie berpakaian Casual hari ini. Rok mini sepaha dan kaos putih bergambar kucing. Memakai topi pada rambutnya yang sengaja diurai agar orang-orang di sekitar tidak te
Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampingnya. Lantas pria tersebut menatap Valerie heran.Wanita cantik ini menggigit bibir bawahnya, menoleh pada jendela mobil yang mana sudah banyak wartawan di luar sana. Ia tidak bisa keluar."Mereka semua mengejar ku, sial!" gumam Valerie rendah. Lalu wajahnya kembali lagi menilik pria dingin di sebelahnya."Maafkan aku, tapi bisakah kau membawaku keluar dari sini?" pinta Valerie dengan wajah memohon."Jalan." Perintah pria tersebut pada sang supir yang langsung menurutinya, menekan pedal gas dan pergi dari area basement tersebut."Terima kasih," tutur Valerie lega. "Apa kau akan pulang?" tanya Demiral, yang ternyata pria yang berada di dalam mobil tersebut adalah Demiral. Pria itu datang unt







