LOGIN"Apa Lidya? Sejak kapan aku memiliki pekerjaan dengannya?"
Ini sangat-sangat mengecewakan. Valerie yang sudah tidak memiliki hubungan apapun bersama Nolan malah dilibatkan dalam satu project bersama-sama. Terlebih lagi tidak diberitahukan terlebih dahulu dirinya untuk hal ini, karena Valerie baru saja tahu ketika ia melihat Nolan berada pada lokasi yang sama. Lidya mencoba menenangkan aktrisnya. Jadwal ini telah ada sejak beberapa bulan yang lalu dan Valerie tentu telah mengkonfirmasi guna menyetujuinya, dan mungkin Valerie melupakannya karena pekerjan yang begitu padat. Meskipun saat itu keadaanya belum menjadi sengit seperti sekarang antara dua orang itu, namun projects pekerjaan harus tetap berjalan dan tidak bisa dibatalkan. "Hanya beberapa adegan bersamanya, bersabar dan profesional, oke?" terang Lidya pada Valerie yang kontan berdecak kesal. Nolan berjalan masuk ke dalam studio diikuti oleh asisten serta manager pria itu. Pandangannya langsung tertuju pada Valerie yang sedang duduk serta beberapa orang tengah membantunya untuk merias wajah dan menata rambut. Ujung bibir pria itu terangkat melihat sosok mantan kekasihnya, memikirkan jika sebentar lagi mereka akan melakukan beberapa pose mesra di depan kamera. "Kakimu masih sakit?" tanya Lidya ketika melihat kaki Valerie yang masih terbalut perban. "Tidak. Itu sudah lebih baik." "Baiklah, kau bisa mengenakan higheels. Pergilah untuk pemotretanya dan lakukan dengan baik," tutur Lidya pada Valerie yang sudah siap dengan dandanan cantik serta gaun putih indah yang ia kenakan. Valerie pergi ke depan dengan siap senyum cantiknya ia kembangkan, menunggu Nolan mendekat yang kontan pria itu merangkul pinggulnya. "Hai," sapa Nolan, yang tentunya diabaikan oleh Valerie. Keduanya saling menatap intens pun dalam. Nolan menilik ke dalam manik mantan kekasihnya sayup, sementara dibalas tatapan tajam dari sirens eye milik wanita cantik itu. Sementara semua orang di belakang layar telah siap memotret mereka pun sang fotografer yang cekatan memberi arah pose yang harus Nolan dan Valerie ikuti. Dua orang itu mengikuti berpose saling berhadapan dan menatap, lengan Nolan merangkul pinggang sintal Valerie sementara satu tangannya lagi menakup sisi wajah cantik itu. Benar-benar membuat tidak nyaman. Jika saja bukan karena profesionalitas mungkin Valerie menolak habis-habisan untuk pemotretan kali ini. Ia benar-benar muak di hadapkan dengan pria hidung belang satu ini. "Hai Valerie." Nolan berbisik samar. "Bagaimana kabarmu? Apa pria itu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Nolan tiba-tiba, lembut nan rendah nada suaranya terdengar. Pertanyaan itu ada karena Nolan berpikir Louis adalah kekasih baru Valerie setelah ia putus dengannya. Tidak buruk pikirnya, Louis terlihat baik dan tampan. "Tidak usah kau mempertanyakan kabarku," ketus Valerie. Pandangan keduanya terputus saat sang fotografer meminta mereka untuk berganti pose. Kini keduanya saling berpelukan dengan sisi wajah Valerie yang menempel pada dada bidang Nolan. Spontan Valerie menelan salivanya kasar setelah ia dengarkan detak jantung pria itu yang berdetak begitu kencang. Lebih kencang dari degup jantung miliknya. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak menangisiku lagi, bukan?" "Tidak pernah kutangisi dirimu sekalipun." "Bagus. Itu lebih baik." Pose mereka berganti lagi. Kini Nolan yang memeluk Valerie dari belakang, menyimpan wajahnya pada ceruk leher jenjang wanita cantik itu. "Valerie?" "Apa lagi?" "I really miss you." Percayalah, Nolan mengatakannya dengan bersungguh-sungguh kali ini. Ia memang benar-benar merindukan sosok Valerie. Wanita cantik yang selalu manja di hadapannya, tingkahnya yang manis, dan juga cemberut serta amarahnya yang lucu. Dulu, hari-hari Nolan sebelumnya dipenuhi oleh kebersamaannya bersama Valerie. Namun berbeda dengan Valerie, telinganya sakit mendengar ocehan pria itu. Benci amat benci pada pria hidung belang, terlebih lagi Nolan yang jelas-jelas telah mengkhianati perasaanya, menghancurkan impian cinta pertama yang seharusnya indah. Sengaja Valerie menyiku perut Nolan kasar sampai membuat pria itu mengaduh kesakitan. "Diam atau kupatahkan lidahmu!" sangar Valerie marah. Tingkah dua orang itu diperhatikan oleh semua orang yang terlibat di dalam pemotretan tersebut. Mereka ikut meringis saat Valerie dengan sengaja menyiku dan menginjak kaki Nolan menggunakan ujung higheelsnya yang tajam. Semua orang tidak berani bertanya, tidak berani ikut campur ke dalam masalah mantan pasangan itu. Keduanya kembali dengan pose saling berhadapan, kali ini lebih intim dengan Nolan yang memeluk pinggang Valerie mendekat merapatkan tubuh mereka. "Apa hubunganmu dengan Demiral?" Berat suara pria itu kini terdengar saat ia menyebutkan nama paman kandungnya yang ia lihat beberapa hari lalu dipesta menggendong Valerie lalu membawanya pada lorong pribadi villa. "Apa hubungannya denganmu?" sungut Valerie, memutar matanya malas. "Kau menyukainya?" "Menyukainya atau tidak itu bukan urusanmu." "Aku tidak ingin kau dekat dengannya," tuntut Nolan. Intens tatapan pria itu memandang mantan kekasihnya. "Itu urusanku." "Kubilang jangan." "Maka akan kudekati dia," tandas Valerie spontan mendorong dada Nolan menjauh, melepaskan pelukan mereka. Sesi pemotretan mereka telah berakhir, berakhir pula percakapan sengit antara dua orang itu di depan sana dengan Valerie yang pergi terlebih dulu meninggalkan Nolan. Keduanya berpisah, lalu kini melakukan sesi pemotretan bersama yang pasti moment keduanya akan menjadi gosip terbaru yang hangat di media Italia. ***** "Aku akan mengendarai mobilku sendiri," pamitnya pada Lidya yang lalu masuk ke dalam lift menuju basement. Masuk dirinya pada sebuah mobil sport mewah berwarna putih yang terparkir di sana, menyalakan mesin terlebih dahulu sebelum melaju keluar. Saat kakinya hendak menginjak pedal gas, ia melihat Nolan yang baru saja keluar dari lobby lift menggandeng Emily di sisinya. Wajah pria itu tampak datar dan lurus sementara Emily sibuk dengan ponsel ditangannya. Cekatan Valerie membelokan kemudi, melaju mobil itu pelan menghampiri dua orang yang tengah berjalan menuju mobil mereka. Sengaja Valerie menekan hon mobilnya yang langsung berbunyi nyaring dan spontan membuat Emily serta Nolan berjengit kaget menatap ke arahnya. Wanita ini membuka kaca mobil, mengeluarkan sebelah tangannya melakukan gerakan mengibas. "Keluar dari jalurku, bodoh," cecarnya pelan tak ia lontarkan pada dua bodoh di depan mobilnya. Langsung saja Nolan dan Emily menepi, memberi jalan pada mobil sport putih itu yang kontan melaju kencang. "Apa dia sudah gila?" geram Emily menunjuk pada mobil yang telah menjauh itu. Nolan melepaskan gandengannya pada wanita itu, berjalan gontai meninggalkan Emily seraya bergumam, "Dia memang tidak waras." **** Melaju mobilnya keluar dari basement, menunggu jalanan kosong untuk ikut masuk. Saat sedang menunggu ia melihat mobil hitam yang amat ia kenali dengan plat mobil yang sama tengah melaju berlawanan arah dengan arah mobilnya. Cepat-cepat Valerie mengambil tindakan, cekatan ia memutar stir kemudinya yang langsung melaju kencang menyusul mobil hitam tersebut. Diinjak pedal gasnya yang berbunyi sangar, melaju mensejajarkan posisi mobilnya pada mobil hitam itu kemudian ia membuka kaca jendela berbarengan dengan terbukanya kaca jendela pemilik mobil hitam tersebut. "Aku tahu itu kau," teriak Valerie. Menatap bergantian antara jalanan dan Demiral yang tengah mengemudi. Pria itu mengemudi dengan santainya, kaca mata hitam bertengger pada hidung mancungnya membuat ketegasan tambahan pada wajahnya yang keras kentara. "Mobilmu cantik, mau kugores sedikit?" cetus Valerie. Valerie masih memiliki dendam atas perlakuan terakhir pria itu padanya. Menggendong, membawanya ke ruang bawah tanah yang gelap, lalu mempermainkannya. Valerie sampai malu dan tak habis pikir, ia bahkan berhenti berbicara pada siapapun guna menekan rasa tidak percaya diri dirinya. "Mau kurobek?" "Kurobek setiap bagian body mobilmu!" Sialannya, mulai malam itu Valerie menjadi benci dengan kata robek. . . . Bersambung ....Hujan besar mengguyur kota Roma. Badai angin ribut yang datang membuat jalanan tidak terlihat dengan jelas sebab tertutup oleh kabut tebal. Cekatan Valerie membanting stir ke kanan, menginjak pedal gas lalu ia lajukan kecepatan mobilnya mengejar mobil hitam milik Demiral yang mana pria itu berbelok masuk pada jalanan tanpa aspal. Entah ke mana pria itu akan melaju, sementara Valerie tetap enggan untuk berbelok dan meninggalkannya. Ia tetap mengikuti arah pergi pria itu sampai pada akhirnya mereka berada kawasan yang mana air mulai menenggelamkan jalanan. "O Lord!" Wanita ini terhenyak ketika air perlahan mulai menenggelamkan separuh mobilnya. Air semakin tinggi memakan jalanan dan terpaksa wanita itu berhenti di sana. Tidak terlihat lagi mobil Demiral di depan, yang ada hanya kabut-kabut putih menghalangi pandangan. Hujan badai mengguyur Roma dengan angin yang begitu kencang, kabut-kabut menghalangi jalanan serta air banjir yang datang entah dari mana mulai menenggelamkan jalanan
"Apa Lidya? Sejak kapan aku memiliki pekerjaan dengannya?" Ini sangat-sangat mengecewakan. Valerie yang sudah tidak memiliki hubungan apapun bersama Nolan malah dilibatkan dalam satu project bersama-sama. Terlebih lagi tidak diberitahukan terlebih dahulu dirinya untuk hal ini, karena Valerie baru saja tahu ketika ia melihat Nolan berada pada lokasi yang sama. Lidya mencoba menenangkan aktrisnya. Jadwal ini telah ada sejak beberapa bulan yang lalu dan Valerie tentu telah mengkonfirmasi guna menyetujuinya, dan mungkin Valerie melupakannya karena pekerjan yang begitu padat. Meskipun saat itu keadaanya belum menjadi sengit seperti sekarang antara dua orang itu, namun projects pekerjaan harus tetap berjalan dan tidak bisa dibatalkan. "Hanya beberapa adegan bersamanya, bersabar dan profesional, oke?" terang Lidya pada Valerie yang kontan berdecak kesal. Nolan berjalan masuk ke dalam studio diikuti oleh asisten serta manager pria itu. Pandangannya langsung tertuju pada Valerie yang seda
Sosoknya yang amat gagah melangkah gontai di dalam kegelapan. Derap langkah yang berat menjadi backsound menyeramkan dikala heningnya malam. Disertai suara-suara rantai yang di seret dan pintu besi berkarat yang dibuka menimbulkan bunyi nyaring membuat sesuatu di dalamnya kontan terjaga. Meraung ganas seekor serigala hitam di dalam kandang jerusi besi. Matanya yang tajam meruncing menelisik pada sosok gagah di dalam kegelapan, mengendus mengenali sosok tuannya lantas bersimpuh serigala tersebut pada sang empu. Demiral menerima rantai besi yang disodorkan oleh penjaga bertubuh besar bak algojo. Lalu dikalungkan rantai tersebut pada leher serigala ganas miliknya, membawa hewan buas itu keluar dari dalam kandang. Dia menggiring hewan buas besar berbulu hitam tersebut pada lorong yang gelap, sesekali raungan ganasnya serigala membuat segala bulu tubuh bergidik ngeri. Di belakangnya, dua orang algojo mengetuk setiap pintu kiri dan kanan menggunakan tongkat besi. Sengaja membuat semua pi
Berdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya. Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi
Awan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela.Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Dem
Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana."Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar."Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."Lucas pergi setelah menutup pintu. Men







