LOGINHujan besar mengguyur kota Roma. Badai angin ribut yang datang membuat jalanan tidak terlihat dengan jelas sebab tertutup oleh kabut tebal.
Cekatan Valerie membanting stir ke kanan, menginjak pedal gas lalu ia lajukan kecepatan mobilnya mengejar mobil hitam milik Demiral yang mana pria itu berbelok masuk pada jalanan tanpa aspal. Entah ke mana pria itu akan melaju, sementara Valerie tetap enggan untuk berbelok dan meninggalkannya. Ia tetap mengikuti arah pergi pria itu sampai pada akhirnya mereka berada kawasan yang mana air mulai menenggelamkan jalanan. "O Lord!" Wanita ini terhenyak ketika air perlahan mulai menenggelamkan separuh mobilnya. Air semakin tinggi memakan jalanan dan terpaksa wanita itu berhenti di sana. Tidak terlihat lagi mobil Demiral di depan, yang ada hanya kabut-kabut putih menghalangi pandangan. Hujan badai mengguyur Roma dengan angin yang begitu kencang, kabut-kabut menghalangi jalanan serta air banjir yang datang entah dari mana mulai menenggelamkan jalanan serta pemukiman di sekitarnya. Valeri yang mulai panik tergesa-gesa mengambil ponselnya guna menelpon bantuan, namun sialnya di sana tidak ada sinyal. Tangannya gemetar segera menekan nomor panggilan darurat, namun sebelum itu terjadi pintu mobilnya tiba-tiba diketuk dari luar. Valerie menoleh ke arah jendela dan lantas berteriak dengan lantang, "Demiral!" Wajahnya memelas meminta pertolongan. Pada situasi yang begitu genting saat ini Demiral datang, beruntungnya pria itu kembali berbalik arah ketika menyadari jika volume air mulai naik. Langsung pria itu mengingat Valerie yang mengikutinya sejak tadi tidak terlihat di belakang. Pria itu mengayunkan lengannya agar Valerie membuka pintu. Jarak mobilnya dengan mobil Valerie begitu dekat hampir berhimpitan, hanya terhalang oleh kaca spion. "Keluarlah melalui jendela," titahnya. Valerie panik, menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. Di luar masih hujan lebat yang bahkan kini hujan itu telah membasahi dirinya serta mobil bagian dalam karena ia membuka jendela, begitu pula dengan Demiral. Ia melihat jalanan di mana air mulai deras membanjiri sekitar. "Aku tidak bisa," ucapnya terdengar panik. "Cepat keluar, atau kau dan mobilmu akan terseret arus air," cetus Demiral. Namun pria itu mengatakannya dengan tenang pun tatapan datar. Valerie takut, tak pernah ia berada dalam situasi genting seperti ini. Ia juga merasakan jika mobilnya mulai bergerak pelan akibat arus air yang semakin laju menerpa. "Cepat!" desak Demiral karena Valerie hanya melamun merenung. Tidak ada pilihan lain lagi. Valerie buka kaca jendela mobilnya hingga tandas ke bawah. Ia tinggalkan semua barang-barang di mobilnya termasuk tas dan juga ponsel. Kini itu semua tidak penting, yang terpenting ialah menyelamatkan nyawanya. Demiral mengulurkan dua lengannya keluar untuk membantu Valerie keluar melewati jendela. Takut-takut Valeri mengerahkan semua tenaga yang ia punya untuk menyebrang keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam mobil Demiral. Ia memegangi lengan pria itu dengan kuat, begitu pula Demiral yang cekatan menopang tubuh Valerie. Ia angkat tubuh wanita itu masuk ke dalam mobilnya, merangkak melewati dirinya dan duduk di kursi samping kemudi. Telah duduk wanita itu di sana namun tak ia lepaskan genggaman tangannya pada tangan Demiral. "Sudah aman sekarang," ucap pria itu. Ia melajukan mobilnya dengan satu tangan menerobos air banjir dengan arus yang lumayan kuat menggunakan satu tangan, sementara satu tangannya tetap digenggam oleh Valerie yang masih gemetar ketakutan. ****** "Lagi-lagi kau memberinya. Ini sudah yang ke berapa kali?" "Dua kali." "Tidak baik bagi tubuh kurusnya untuk menerima obat penenang." "Dia terlalu panik," balas Demiral santai. Albert Hugo, ayah dari Nolan berada di sana di dalam penthouse Demiral. Ia datang saat Demiral mengatakan jika dirinya tidak bisa pergi untuk mengantar barang yang telah dipesan khusus oleh seorang klien besar. Pria itu meminta bantuan kakaknya. Mereka berdua berdiri pada sisi ranjang yang mana ada Valerie tengah terlelap di atasnya. Wanita itu tertidur setelah ia merasa lelah karena rasa panik yang sempat menyerangnya beberapa menit yang lalu. "Aku akan mengurus pengantaran itu," tutur Albert. Lalu ia tilik Valerie yang tertidur lelap. "Kau harus mengatasinya, dan jangan lagi kau mengantar dia seperti pertama kali," imbuhnya menyindir lantas tersenyum. Sementara Demiral hanya terdiam dingin, menatap datar wajah wanita yang tenang tengah tertidur lelap. Lantas Albert menepuk pundak adik bungsunya. "Sudah saatnya kau menangani seorang wanita. Jadilah pria sejati yang bisa berurusan dengan makhluk paling menjengkelkan di dunia," ledek pria itu lantas gontai ia meninggalkan ruangan. Mahkluk menjengkelkan? Semengjengkelkan apa? Apa mungkin seperti teriakannya di atas ranjang, atau menangis karena mulutnya terpenuhi oleh sesuatu yang panjang pun panas? Ia berbalik dan hendak pergi, namun tiba-tiba sebuah lengan menahan pergelangan tangannya. Valerie telah terbangun, membuka matanya dan menahan kepergian Demiral. Wanita itu lantas terduduk. "Ke mana kau akan pergi?" Pria itu menatapnya, mengangkat sebelah halis pun tidak berkata apapun. Valerie mengatakan kepalanya sangat pusing, dan tubuhnya juga merasa lemah. Ia pikir itu adalah efek karena dirinya terlalu panik tadi, atau terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Meskipun dirinya terlelap, tapi ia bisa merasakan tidak nyaman pada tubuhnya. "Bajuku basah, bisakah kau memberiku satu baju kering?" "Ambil di sana yang kau mau." Demiral menunjuk pada ruang pakaian di dalam kamarnya yang tentunya Valerie sudah tahu karena ia pernah masuk ke sana. "Terima kasih, Dem-" Blam! Pintu tertutup dan pria itu keluar sebelum Valerie menyelesaikan kalimatnya. Ia lantas mendengus kesal merasa Demiral tidak memiliki simpati apapun padanya meskipun ia tengah sakit dan lemah. Berbeda pada saat pria itu menyelamatkannya dari banjir, dia terlihat perhatian dan keren. Gontai pria itu melangkah menuruni anak tangga, menemui beberapa anak buahnya di ruang tengah penthouse miliknya yang telah menunggu sejak tadi termasuk Lucas. "Sir." Lucas menunjukan beberapa barang di atas meja pada bosnya, sebuah tas serta ponsel milik Valerie yang wanita itu tinggalkan sebelum masuk ke dalam mobil Demiral. "Mobilnya tidak bisa diselamatkan," tutur Lucas. "Dan juga-" Pandangan Lucas beralih pada seseorang yang berjalan turun pada tangga, kontan membulat kedua mata pria itu saat melihat Valerie yang turun hanya mengenakan kemeja berwarna hitam milik tuannya. Demiral lantas ikut menoleh. "Kalian, pergilah," titah pria itu. Lantas segera pergi beberapa anak buahnya serta Lucas meninggalkan ruangan. "Aku tidak menemukan pakaian lain selain ini, bolehkah aku memakainya?" tanya Valerie seraya merentangkan kedua tangannya memperlihatkan kemeja yang kebesaran. "Pakai apapun yang kau inginkan," balasnya dingin. "Tapi ini sangat besar, aku juga tidak memiliki pakaian dalam yang baru." Suaranya menghilang pada akhir kalimat. Ia menatap Demiral yang memandang ke arah lain. "Ehm itu, terima kasih untuk tadi. Bagaimana aku harus membalasnya?" "Tidak perlu." Demiral berjalan melewatinya, pergi pada minibar untuk menuangkan segelas wine. "Tidak. Aku harus membalasnya." "Terserah dirimu saja." . . . Bersambung .... Guys jangan lupa tinggalkan jejak untuk terus menyemangati Author yaaaaa. Love kalian semuaaaaa🫶Hujan besar mengguyur kota Roma. Badai angin ribut yang datang membuat jalanan tidak terlihat dengan jelas sebab tertutup oleh kabut tebal. Cekatan Valerie membanting stir ke kanan, menginjak pedal gas lalu ia lajukan kecepatan mobilnya mengejar mobil hitam milik Demiral yang mana pria itu berbelok masuk pada jalanan tanpa aspal. Entah ke mana pria itu akan melaju, sementara Valerie tetap enggan untuk berbelok dan meninggalkannya. Ia tetap mengikuti arah pergi pria itu sampai pada akhirnya mereka berada kawasan yang mana air mulai menenggelamkan jalanan. "O Lord!" Wanita ini terhenyak ketika air perlahan mulai menenggelamkan separuh mobilnya. Air semakin tinggi memakan jalanan dan terpaksa wanita itu berhenti di sana. Tidak terlihat lagi mobil Demiral di depan, yang ada hanya kabut-kabut putih menghalangi pandangan. Hujan badai mengguyur Roma dengan angin yang begitu kencang, kabut-kabut menghalangi jalanan serta air banjir yang datang entah dari mana mulai menenggelamkan jalanan
"Apa Lidya? Sejak kapan aku memiliki pekerjaan dengannya?" Ini sangat-sangat mengecewakan. Valerie yang sudah tidak memiliki hubungan apapun bersama Nolan malah dilibatkan dalam satu project bersama-sama. Terlebih lagi tidak diberitahukan terlebih dahulu dirinya untuk hal ini, karena Valerie baru saja tahu ketika ia melihat Nolan berada pada lokasi yang sama. Lidya mencoba menenangkan aktrisnya. Jadwal ini telah ada sejak beberapa bulan yang lalu dan Valerie tentu telah mengkonfirmasi guna menyetujuinya, dan mungkin Valerie melupakannya karena pekerjan yang begitu padat. Meskipun saat itu keadaanya belum menjadi sengit seperti sekarang antara dua orang itu, namun projects pekerjaan harus tetap berjalan dan tidak bisa dibatalkan. "Hanya beberapa adegan bersamanya, bersabar dan profesional, oke?" terang Lidya pada Valerie yang kontan berdecak kesal. Nolan berjalan masuk ke dalam studio diikuti oleh asisten serta manager pria itu. Pandangannya langsung tertuju pada Valerie yang seda
Sosoknya yang amat gagah melangkah gontai di dalam kegelapan. Derap langkah yang berat menjadi backsound menyeramkan dikala heningnya malam. Disertai suara-suara rantai yang di seret dan pintu besi berkarat yang dibuka menimbulkan bunyi nyaring membuat sesuatu di dalamnya kontan terjaga. Meraung ganas seekor serigala hitam di dalam kandang jerusi besi. Matanya yang tajam meruncing menelisik pada sosok gagah di dalam kegelapan, mengendus mengenali sosok tuannya lantas bersimpuh serigala tersebut pada sang empu. Demiral menerima rantai besi yang disodorkan oleh penjaga bertubuh besar bak algojo. Lalu dikalungkan rantai tersebut pada leher serigala ganas miliknya, membawa hewan buas itu keluar dari dalam kandang. Dia menggiring hewan buas besar berbulu hitam tersebut pada lorong yang gelap, sesekali raungan ganasnya serigala membuat segala bulu tubuh bergidik ngeri. Di belakangnya, dua orang algojo mengetuk setiap pintu kiri dan kanan menggunakan tongkat besi. Sengaja membuat semua pi
Berdiri membelakangi meja yang tersusun kue-kue cantik dan indah di atasnya. Ia berdiri di sisi ruangan, sendiri seraya menimati sesapan redwine dari dalam gelas miliknya. Sementara Louis pergi ke kamar mandi, Valerie sendiri, terdiam dan matanya hanya focus menelisik setiap orang yang berada di aula besar tersebut. Ia tidak suka keramaian, tidak suka orang-orang palsu, dan juga tidak suka omong kosong. Oleh karena itu dirinya menepi. Sesapan pada cairan merah beralkohol miliknya telah tandas. Ia berbalik untuk mengambil gelas lainnya. Detik itu juga gerakan tangannya terhenti tatkala maniknya menangkap sesosok pria yang amat di kenalnya berjalan menuju lorong Villa. Demiral melangkah gontai memasuki lorong hingga hilang sosok pria itu terhalang pilar besar. Valerie masih memiliki dendam serta hutang pernyataan dari pria tersebut, bergegas ia pergi untuk menyusul ke mana pria itu melangkah. Pada sisi Villa, terdapat taman serta kolam renang berukuran cukup besar. Demiral pergi
Awan yang cerah, matahari bersinar begitu hangat, serta angin segar menerpa setiap inci kulit putih mulus yang terbuka dan bercahaya saat pantulan mentari menyorotinya.Wanita cantik itu terbaring di sebuah gazebo di tepi taman kediamannya. Hanya mengenakan celana pendek di atas paha serta kaos crop top tipis yang memperlihatkan pusarnya yang ditindik. Dia mengangkat kakinya yang terdapat bekas luka ke atas, mengingat kembali hal yang terjadi beberapa hari yang lalu.Itu adalah hari Minggu. Saat Valerie membawa Louis untuk mengelilingi kota Roma, berakhir dengan dirinya yang dibawa pergi oleh Demiral ke kediaman pria itu. Kemudian, dia terluka lalu pria itu mengobatinya. Setelahnya, Valerie tidak mengingat apapun selain terakhir ia melihat hujan badai berkabut di luar jendela.Besok paginya, beberapa penjaga menemukan Valerie berbaring di depan gerbang Mega mansion kediamannya, tidak sadarkan diri serta linglung. Entah apa yang terjadi, tapi Valerie yakin jika itu adalah perbuatan Dem
Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak ada percakapan apapun selama beberapa menit di dalam sana.Private lift mengantar langsung pada pintu penthouse Demiral. Di depan, sudah ada Lucas yang menunggu bigbosnya sedari tadi. Pintu penthouse telah terbuka, beberapa orang pria bertubuh tegap berpakaian jas rapih tengah duduk di dalam sana."Bawa dia ke lantai atas," pinta Demiral pada Lucas. Kemudian setelah itu, ia pergi untuk bergabung dengan beberapa pria yang sempat memandang Valerie dengan tatapan heran.Lucas mempersilahkan Valerie masuk. Lalu ia bawa Valerie naik tangga menuju lantai dua, membukakan satu ruangan untuk wanita itu tempati. Sebuah kamar."Mohon tunggu di sini, Ms. Yoxavos."Lucas pergi setelah menutup pintu. Men







