MasukGea sudah mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia tidak tahu pria asing yang tidur dengan dirinya semalam. Gea duduk di kursi kampusnya, berusaha terlihat tenang di antara mahasiswa lain. Tapi pikirannya terus berputar. Ia menatap kosong halaman catatan yang belum disentuh sama sekali.
“Hei, kamu malah melamun,” suara familiar membuyarkan lamunannya. Gea menoleh cepat. “Astaga, Raya, kamu bikin kaget aja!” Raya mengangkat alis, menatap sahabatnya dengan senyum menggoda. “Kamu masih mikirin pacar kamu yang selingkuh itu, ya?” “Ingat yah Raya, mantan pacar. Aku sudah putus dengan dia!” dengus Gea dengan nada yang sedikit marah. Raya ikut menanggapi karena kemarin dia melihat sendiri bagaimana orang itu selingkuh. “Sorry lupa. Laki-laki bajingan itu memang pantas kamu tinggalkan.” "Iya betul." "Oh iya, semalam kamu langsung pulang? Aku tidak bisa mengantar kamu," ujar Raya. Pertanyaan itu membuat napas Gea tertahan sesaat. Seketika, kenangan samar itu datang, kilatan lampu kamar hotel, aroma parfum pria yang samar, kulitnya yang panas, dan… tatapan pria itu. Dalam. Tajam. Seolah menelanjangi pikirannya. Gea bahkan kembali mengingat sentuhan demi sentuhan dalam sekujur tubuhnya yang tidak bisa dia jelaskan. Kenikmatan sesaat ketika tubuhnya di sentuh oleh pria asing itu. "Yealah malah melamun lagi, apa terjadi sesuatu dengan kamu?" ujar Raya menyadarkan kembali lamunan dari Geo. "Eh tidak," jawab Gea dengan cepat. Dia tidak mau memberitahu Raya tentang kejadian tersebut. Sampai ada seseorang masuk ke dalam ruangan, dia adalah mahasiswa yang paling heboh di kampus ini. Selalu memberikan banyak sekali informasi. "Ada berita bagus hari ini," ujar Sonia "Kenapa sih Sonia?" tanya Raya menoleh kearah Sonia. Sonia menepuk dada, bangga. “Bukan gossip sembarangan. Dosen baru. Dari Inggris. Masih muda. Dua puluh tujuh tahun. Dan super tampan.” Suaranya dibuat dramatis. “Yang bikin lebih heboh,dia single!” Seisi kelas langsung ribut, kursi berderak, bisik-bisik memenuhi ruangan. Raya spontan menoleh ke Gea dengan mata berbinar. “Gea! Ini momen kamu. Move on dari Marvel yang kayak sampah itu. Kita wajib lihat dosennya sekarang juga!” Gea hanya mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. Dia belum bisa membayangkan seperti apa dosen yang dimaksud Sonia. Tapi mendengar kata tampan, ya, setidaknya itu lebih baik daripada memikirkan mantannya yang berselingkuh dengan wanita di depannya sendiri. “Serius Sonia? Beneran kayak yang kamu bilang?” tanya Gea. “Tentu saja. Kamu pikir aku bohong?” Sonia menyibakkan rambutnya penuh percaya diri. Tak lama kemudian, mahasiswa lain mulai memasuki kelas. Suasana berubah hening ketika seseorang berbisik: “Pak Stefano datang.” “Eh, itu dia!” “Gila. ganteng banget.” Suara-suara kagum beruntun memenuhi ruangan. Raya langsung menarik lengan Gea. “Gea! Liat tuh! Tuh!” Gea menoleh kearah orang tersebut. Seluruh tubuhnya sontak membeku ketika melihat orang yang berjalan menuju kearah kelasnya. Deg Pria itu dengan kemeja putih rapi, lengan sedikit tergulung, rambut cokelat gelap yang nampak manis tapi maskulin, wajah asing yang sangat dikenalnya. Pria yang semalam memeluknya. Yang tubuhnya berada di atasnya dengan hajat. Suara erangannya mengisi ruangan hotel pada malam itu. Seketika Gea teringat dengan kebodohannya yang sudah memberikan uang pada laki-laki tersebut. “Dia..” suara Gea tercekat di tenggorokannya. “Gak mungkin…” Bayangan malam itu terputar di kepalanya seperti film dengan volume maksimal. Setiap sentuhan, setiap desah, setiap tatapan, semuanya muncul tanpa diundang. Raya menatap Gea bingung. “Kok kamu kayak liat hantu? Dia cakep banget kan? Ya ampun, kamu pasti bakal—” “Raya!” suara Gea lirih. “Diam!” "Kenapa?" tanya Raya kebingungan. Coba saja kalau Nadia satu jurusan dengan mereka berdua, pasti dia tahu apa yang dipikirkan Gea sekarang. "Tidak, lupakan saja," jawab Gea yang sebenarnya ingin menceritakan kejadian semalam. Tetapi dia tidak jadi memberitahu Raya. Takut wanita itu akan heboh nanti. Sementara itu Stefano berdiri di depan kelas, memandang para mahasiswa dengan tatapan profesional, kecuali satu detik singkat ketika matanya melirik ke arah Gea. Tatapan itu menghantam Gea tepat di dada. Dia mengenal wanita itu. Sangat mengenal. Stefano mengangkat alis sedikit nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat Gea makin panik. Lalu dia kembali bicara seolah tidak terjadi apa-apa. “Selamat pagi semuanya. Saya Stefano Wiliam, dosen pengganti Bu Sesil. Saya akan mengajar mata kuliah Rangkaian Listrik semester ini.” Sonia langsung angkat tangan sambil berkedip genit. “Pak, setelah kelas boleh minta nomor WA? Biar gampang tanya-tanya.” Suasana kelas tertawa. Stefano menatap Sonia dengan wajah datar, tegas, berwibawa. “Maaf, itu bukan ranah profesional.” Raya nyaris memekik. “Astaga! Dia dingin tapi, keren banget! Gea, kamu dengar?” Gea hanya bisa mengangguk kikuk. “Iya… keren…” Gea kembali menggelengkan kepalanya lagi. "Astaga, jangan sampe ingat kejadian itu lagi!" batinnya. Stefano kembali melirik Gea. Lebih lama kali ini. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat jantung Gea berdebar kacau. Raya mendengus penasaran. “Kok kamu beda banget sih? Kamu gak heboh kaya tadi. Jangan bilang kamu udah kenal Pak Stefano?” “Enggak!” jawab Gea cepat sekali. Terlalu cepat. Raya langsung menyipitkan mata. “Hmm… curiga.” Gea buru-buru menatap papan tulis. “Aku baru lihat dia sekarang, sumpah.” “Yakin?” goda Raya. “Kalau mau ngegebet duluan bilang aja.” Gea menggeleng cepat. “Gak. Kamu aja. Aku baru putus dari Marvel.” “Ya ampun kamu ini gak seru!” Raya manyun lalu kembali memandang ke depan. “Tapi sumpah. Pak Stefano itu tipe idaman banget.” Sementara itu Stefano mulai menjelaskan materi. Suaranya tenang, bariton, dan entah kenapa, sangat familiar di telinga Gea. Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu mengingatkan Gea pada gumaman rendahnya semalam. Sentuhannya. Bibirnya. Dan yang membuat Gea makin resah, Stefano tampak seperti sengaja meliriknya lagi dan lagi. Seolah mengingatkan Gea pada kejadian panas satu malam mereka di hotel itu. “Nah, begitu kira-kira tentang hukum rangkaian listrik,” jelas Stefano menutup penjelasan materinya. Gea hanya berpura-pura fokus, padahal pikirannya berantakan. Dia masih tidak percaya, orang yang tidur dengannya ternyata adalah dosen barunya. “Ge, aku rasa Pak Stefano dari tadi ngeliatin kamu terus,” bisik Raya pelan. Gea menoleh perlahan ke arah depan. Dan benar saja, tatapan mereka kembali bertemu. Deg. Jantung Gea berdebar lebih kencang. Ada rasa takut dalam hatinya sekarang, takut kalau Stefano tiba-tiba membuka mulut tentang apa yang terjadi di hotel. “Oke, ada yang mau ditanyakan?” tanya Stefano pada seluruh kelas. Tidak ada yang bersuara. Ruangan menjadi hening. Stafano menganggap kalau semua mahasiswa yang ada di tempat ini sudah paham dengan apa yang dia jelaskan. “Kalau begitu, saya anggap semua sudah mengerti,” ucapnya sambil menutup buku. Namun tiba-tiba ia mengangkat wajah dan menunjuk tepat ke arah Gea. “Dan kamu, tolong antarkan buku ini ke ruangan saya.” Gea sontak melotot. Apa dia tidak salah dengar? Kenapa juga harus menunjuk kearahnya, membuat orang yang ada di ruangan ini malah semakin curiga dengan dirinya. Belum lagi dengan tatapan iri dari mahasiswi lain yang bisa Gea lihat. “B-Biar saya saja, Pak,” kata Sonia cepat-cepat. Stefano langsung menggeleng. Nada suaranya berubah tegas. “Tidak. Saya ingin wanita itu yang mengantar.” Semua kepala menoleh ke arah Gea. Sonia bahkan menatapnya penuh sinis, jelas-jelas tidak suka. Sementara Raya menyikut pelan Gea dengan tatapan menggoda. “Cepet sana! Siapa tahu kamu bisa lihat ruangan pribadinya yang keren itu.” “Malas banget,” gumam Gea. “Tapi banyak yang pengen dipanggil. Kamu beruntung, sumpah.” Raya mendorongnya pelan. Dengan berat hati Gea mengambil buku itu. Dia menghela napas panjang. Mau tidak mau, dia memang harus bicara empat mata dengan pria itu. “Aku pergi dulu,” katanya. “Semangat, Gea. Semoga kamu nggak pingsan di sana,” goda Raya. Gea hanya melotot kesal sebelum berjalan ke arah ruangan Stefano. Langkahnya terasa semakin berat, seiring firasat buruk yang makin kuat. “Kenapa sih aku merasa bakal ada sesuatu yang nggak enak terjadi,” gumamnya sambil mengetuk pintu ruangan itu.Stefano terbangun dari tidur lelapnya dalam pelukan hangat Gea. Mereka telah melakukan malam yang begitu sangat menyenangkan. "Kamu sudah bangun?" tanya Gea yang setengah sadar sambil mengucek matanya. "Kamu kalau masih ngantuk lebih baik tidur saja."Stefano mengatakan itu sambil mengambil ponselnya dan dia langsung memeriksa ponselnya. Dia melihat nomor yang memang tertera di sana. Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, dia membaca dengan seksama, kemudian dia langsung membulatkan matanya. "Pesta pertunangan..."Gea yang mendengar itu pun langsung penasaran dengan suaminya. "Hah? Pesta pertunangan siapa?" Stefano kemudian menoleh kearah istrinya kembali. "Iya, ayah mengatakan kalau dia akan mengadakan pesta di rumah untuk merayakan pertunangan antara Andin dan Fadlan, sekaligus memperkenalkan kamu sebagai menantunya."Gea menutup mulutnya tidak percaya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Fadlan akan berpikir seperti itu. "Serius? Ayahmu bilang begitu?""Iya, kalau kamu
Semuanya sudah mendapatkan ganjaran terbaiknya. Raya datang ke penjara untuk bertemu dengan Nadia. Dia hanya ingin melihat kondisi wanita itu saja. "Hai, Nadia."Nadia yang sudah memakai baju orange dengan rambut yang sudah diikat acak, dia menoleh kearah Raya yang datang ke penjara. "Ngapain kamu ke sini? Kamu pasti menertawakan aku bukan?" ketus Nadia. Raya menggelengkan kepalanya, dia datang ke sini memang mempunyai tujuan untuk menjenguk Nadia sekaligus melihat kondisi wanita itu. "Aku datang ke sini ingin menjenguk kamu. Melihat kondisi kamu sekarang.""Gak usah sok pura-pura peduli!""Kamu kenapa sih Nad, sampai berubah seperti ini?" tanya Raya dengan baik-baik. Nadia menatap dengan nyalang. "Dunia tidak ada yang baik, semuanya jahat. Ayahku meninggalkan ibuku dan aku harus hidup dengan ibuku yang penuh dengan tekanan dan ambisi. Semua harus sesuai dengan keinginan dia. Kalau tidak, maka aku yang akan dibuang."Raya hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia. Seberapa sa
Gea tidak tahu harus melakukan apa, sekarang dia sudah yakin atas dirinya sendiri. Stefano mengobati luka dari tubuh Gea. "Sakit?" tanya Stefano dengan pandangan yang memang sedikit khawatir. "Pelan-pelan," ujar Gea. "Ini juga pelan-pelan, kamu jangan manja," ledek Stefano. "Menyebalkan, kenapa datangnya telat, aku berharap kamu cepat datang. Kalau tidak tadi Marvel sudah melakukan hal buruk padaku," jelas Gea menceritakan semuanya. Stefano malah tertawa dengan bahagia. "Aku sudah datang tepat waktu. Kamu tidak lihat aku sampai berkelahi dengan dia.""Iya sih, telat sedikit saja bisa berabe.""Yang penting aku sudah menyelamatkan kamu."Stefano mengatakan itu dengan tenang. Setelah itu dia menatap kembali kearah Gea. Ada pandangan yang tidak bisa dia jelaskan. Bahkan dia tidak yakin atas dirinya sendiri. "Aku baru mengetahui satu fakta, kalau Marvel anak wanita jahat itu.""Aku pun baru mengetahui inu, jadi dari awal memang semuanya rencana mereka. Bahkan aku masih tidak percaya
Gea panik ketika melihat Marvel yang kini sudah membuka baju atasnya, pria itu malah sudah hampir bertelanjang dada dan itu membuat dia panik. "Marvel, kamu jangan kurang ajar!"Gea khawatir kalau sampai laki-laki itu malah melakukan sesuatu diluar kendali dirinya. Dia tidak mau kalau sampai hal ini terjadi dengan dirinya. "Sialan."Rasanya tidak mungkin kalau harus jadi begini. Lalu dia memikirkan semuanya dengan matang. Dia tidak boleh kalah hanya dengan hal ini. "Kita akan bersenang-senang sayang."Marvel mengatakan itu dan dia hendak akan menyentuh Gea, tetapi ketika dia hendak akan mencium pipi Gea, tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras, membuat Marvel terkejut. "Suara apa itu?" tanya Marvel bingung. Gea seketika langsung berteriak meminta tolong, dia tidak peduli ada yang mendengar atau tidak sekarang. Apalagi Marvel hendak akan melakukan sesuatu yang membuat dia sakit. "Tolong!"Dia berteriak, berharap akan ada orang yang memanggil namanya. Dia sudah berusaha sekuat
Marvel akhirnya datang menghampiri ibu dan saudaranya. Dia datang ke sini karena ingin melihat kondisi dari Gea. Tentu saja untuk memastikan keadaan wanita itu. "Aku sudah menyuruh orang untuk mengambil barang-barang milik kalian," kata Marvel. "Apa semuanya sudah aman? Kamu bilang kalau di sana ada Fadlan dan Stefano?" tanya Ratih. "Tenang saja Mah, aku sudah memastikan semuanya akan aman kali ini," ujar Marvel. "Awas saja kalau kita gagal hanya karena kamu, Marvel. Anak yang tidak berguna," sindir Nadia. "Diam kamu," dengus Marvel. Nadia hanya mencebikan bibirnya saja, dia jadi engan untuk melihat Marvel sekarang. "Sudah, kalian jangan ribut," lerai Ratih pada kedua anaknya. "Aku mau melihat keadaan Gea," kata Marvel yang ingin melihat keadaan Gea. "Awas jangan melakukan hal aneh," kata Nadia sebagai peringatan. "Memangnya kenapa kalau aku buat hal yang aneh, tidak akan terjadi sesuatu juga. Lagian Stefano pasti juga lama menemukan keberadaan kita," jawab Marvel dengan ten
Stefano dan Fadlan datang ke sebuah tempat yang memang diyakini kalau ini adalah tempat persembunyian Ratih dan Nadia. Stefano melihat rumah yang nampak kecil dan tidak yakin kalau dua orang itu mau tinggal di tempat kecil seperti ini. "Kamu yakin Fadlan, kalau ini adalah tempat tinggal mereka?" tanya Stefano nampak ragu. "Anak buahku yang bilang sendiri kalau ini adalah tempatnya, tidak usah diragukan lagi kalau tentang ini," kata Fadlan. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, memeriksa sekitaran sana, tetapi sayang sekali, mereka tidak menemukan orang dan hanya barang-barangnya saja. "Barang-barangnya masih ada di sini, mereka tetapi tidak ada," ujar Stefano setelah memastikan sendiri. "Sepertinya mereka berdua memang sekarang sedang ada di tempat lain. Apa mungkin di tempat penculikan Nadia," kata Fadlan. "Maksud kamu, mereka mempunyai tempat terpisah begitu?" "Ada kemungkinan sih iya. Untuk saat ini timku sedang melacak keberadaan Gea, tetapi memang kebetu
Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa
Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G
Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan







