MasukKeesokan harinya, Gea akhirnya kembali datang ke kampus.Setelah semua kejadian yang terjadi beberapa hari terakhir, sebenarnya Gea masih merasa sedikit waswas. Namun, dia tidak ingin terus berada di rumah.Skripsinya harus segera diselesaikan.Selain itu, masih ada beberapa bagian yang harus dia konsultasikan kepada dosen pembimbing.Pagi itu, Gea berjalan memasuki area kampus bersama Raya.Raya baru saja menyelesaikan urusannya sehingga mereka memutuskan untuk datang bersama."Gea, kamu nanti langsung ke ruang dosen?" tanya Raya."Iya. Aku mau menyelesaikan revisi skripsi dulu. Kalau tidak ada yang harus diperbaiki lagi, mungkin aku bisa segera menyelesaikan semuanya."Raya tersenyum."Wah, akhirnya."Gea ikut tersenyum."Aku juga sudah capek mengurus skripsi."Mereka berjalan melewati koridor kampus. Namun, baru beberapa langkah, Raya tiba-tiba berkata dengan wajah ceria."Gea.""Hm?""Aku punya cerita." Raya tiba-tiba mengatakan itu pada Gea. Gea menoleh karena penasaran dengan a
Stefano akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat terakhir Sonia diketahui berada. Mobilnya berhenti cukup keras di depan pagar, membuat beberapa anak buahnya yang mengikuti dari belakang segera turun.Stefano keluar tanpa banyak bicara. Tatapannya langsung tertuju pada rumah di hadapannya."Ini benar tempatnya?" tanyanya dingin."Benar, Pak. Berdasarkan informasi yang kami dapat, Sonia tinggal di sini."Stefano melangkah cepat menuju pintu. Salah satu anak buahnya mengetuk beberapa kali.Tidak ada jawaban."Pak, biar saya periksa."Anak buah Stefano mencoba membuka pintu, tetapi ternyata tidak terkunci. Mereka langsung masuk. Namun, rumah itu sudah kosong.Tidak ada seorang pun di dalam.Stefano berdiri di ruang tengah sambil mengedarkan pandangan. Beberapa barang masih tersisa, tetapi terlihat jelas bahwa penghuninya sudah pergi terburu-buru.Sebuah lemari terbuka. Beberapa pakaian sudah tidak ada. Tas yang biasanya terletak di dekat meja juga menghilang.Rahang St
Pagi hari terasa begitu tenang.Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan, membuat suasana rumah terasa hangat. Gea duduk berhadapan dengan Stefano sambil menikmati sarapan yang sudah disiapkan.Berbeda dengan malam sebelumnya, wajah Gea pagi ini terlihat jauh lebih tenang.Stefano sesekali memperhatikannya sambil menikmati kopinya."Kamu sudah tidak takut?" tanyanya.Gea menggeleng."Sedikit lebih baik. Soalnya kamu ada di sini."Stefano tersenyum tipis."Kalau begitu aku harus sering-sering berada di dekatmu."Gea terkekeh kecil."Jangan sampai pekerjaanmu terbengkalai.""Kalau demi kamu, pekerjaan bisa ditunda."Gea baru saja hendak menjawab ketika ponsel Stefano yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.Bzzzt... bzzzt...Stefano langsung mengambilnya.Sebuah panggilan masuk dari salah seorang anak buahnya.Dia segera mengangkatnya."Ya?""Tuan, kami menemukan sesuatu."Nada suara pria di seberang terdengar serius.Stefano langsung meletakkan cangkirnya."Apa?""Kami ber
Stefano memeluk Gea lebih erat untuk menenangkan wanita itu. Melihat istrinya masih menyimpan rasa takut membuat hatinya terasa tidak tega."Lebih baik kamu istirahat sekarang, sudah malam.""Temani aku," kata Gea dengan sedikit manja.Stefano hanya mengangguk."Iya, aku temani."Mendengar jawaban itu, Gea langsung tersenyum kecil. Tangannya masih menggenggam tangan Stefano, seolah tidak ingin pria itu pergi lagi.Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kamar.Sesampainya di dalam, Gea langsung duduk di atas ranjang. Stefano kemudian mengambil selimut dan merapikannya."Kamu mau tidur sekarang?" tanyanya.Gea mengangguk pelan."Iya. Tapi kamu jangan pergi."Stefano menatapnya beberapa saat."Aku tidak akan pergi."Dia kemudian duduk di sisi ranjang.Gea berbaring perlahan, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Stefano.Stefano tersenyum tipis melihat tingkah istrinya."Kamu benar-benar takut, ya?"Gea mengangguk."Aku tidak tahu kenapa, tapi kejadian tadi terus terbayang di pikiran
Stefano sudah berusaha mencari orang tersebut bersama dengan para anak buahnya. Tetapi mereka tidak menemukan jejak orang itu sama sekali. Hal itu membuat dirinya sedikit geram sekarang. "Kita kehilangan jejaknya.""Cari orang itu sampe ketemu!" paksa Stefano karena dia yakin kalau orang itu mengincar Gea. "Kami sudah berusaha mencarinya.""Kalian periksa CCTV dan semuanya dengan baik, temukan hal yang janggal!" kata Stefano dengan nada yang sedikit tinggi. Dia harus menemukan semuanya dengan baik. Stefano tidak mau kehilangan jajak orang yang sudah berusaha untuk mencelakai Gea sekarang. Sampai ponselnya berdering tanda ada yang menghubunginya, dia melihat kearah layar yang rupanya itu adalah Gea. Stefano menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mau kehilangan jejak orang yang sudah berusaha mencelakai Gea.Namun, belum sempat dia kembali ke dalam gedung, ponselnya tiba-tiba berdering.Raut wajah Stefano berubah ketika melihat nama yang muncul di layar.Gea.Dia segera meng
Acara pertunangan antara Fadlan dan Andin sudah hampir selesai, mereka berdua sudah bersalaman dengan para tamu undangan. Begitu pun dengan para tamu undangan yang sudah mulai berpamitan. Hendra menghampiri anaknya. "Bagaimana dengan orang itu?" "Stefano sudah mencarinya, semoga akan segara ketemu," kata Fadlan. "Iya ayah. Lebih baik sekarang ayah beristirahat saja, kasian sampe kelelahan juga menyambut para tamu tadi," jelas Andin pada ayahnya. "Kamu benar Andin. Yaudah kalau begitu kalian urus semuanya. Aku akan istirahat.""Sepertinya para tamu undangan juga sudah pergi, ayo kita juga pergi juga," goda Fadlan pada Andin. Andin tidak langsung mengiyakan perkataan dari Fadlan, dia masih penasaran dengan pelakunya. "Aku masih penasaran, siapa pelakunya.""Sudah, nanti juga Stefano menemukan orangnya, apalagi dia juga punya banyak bodyguard yang pasti akan mudah menemukan orang itu, paling lambat juga seminggu.""Bagaimana dengan Gea, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Andin ya
Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G
Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan
Gea sudah mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia tidak tahu pria asing yang tidur dengan dirinya semalam. Gea duduk di kursi kampusnya, berusaha terlihat tenang di antara mahasiswa lain. Tapi pikirannya terus berputar. Ia menatap kosong halaman catatan yang belum disentuh sama sekali.“







