공유

Bab 8

작가: Anonima
"Aku akan lapor polisi!"

Nadine mengeluarkan ponselnya untuk menelepon polisi, tetapi Ferrick dengan mudah menghentikannya.

"Nadine, kamu tahu nggak ada yang berani melakukan apa pun yang bertentangan dengan keinginanku di seluruh Kota Johar. Begitu anak Yessy lahir, aku akan segera berikan keadilan padamu, oke?"

Setelah Ferrick selesai berbicara, isak tangis Yessy yang kembali terdengar dari lantai atas.

"Kak Ferrick, aku takut ...."

Pria itu meninggalkan kartu hitam tersebut dan pergi tanpa menoleh.

Hanya tersisa Nadine yang menangis tersedu-sedu.

"Nayla .... Maaf ...."

Nadine merasa sangat tidak berguna. Dia hanya bisa menyaksikan orang-orang yang penting baginya pergi satu per satu, tanpa mampu melakukan apa pun.

Setelah mengurus pemakaman adiknya, Nadine duduk di depan batu nisan Nayla semalaman. Saat fajar menyingsing, dia baru menyeret tubuhnya yang kelelahan pulang.

Menghitung hari, hanya tersisa tiga hari hingga kesepakatan itu berlaku sepenuhnya. Nadine mengunci diri di kamar dan menolak untuk makan atau minum. Dia hanya menatap kosong potret adiknya.

"Kak Nadine, malam ini ulang tahunku. Kamu mau hadir nggak?"

Yessy mencoba membuka pintu, tetapi Nadine langsung membanting gelas kristal ke kusen pintu. Dia pun menjerit ketakutan dan berbalik untuk melemparkan diri ke dalam pelukan pria itu.

"Nadine, Yessy juga bermaksud baik. Dia bukan penyebab kecelakaan itu, kenapa kamu marah sama dia?"

Pria itu membuka pintu dan langsung menarik Nadine untuk berdiri dari samping tempat tidur. "Yang patuh dong, mana bisa pesta Keluarga Jurika diadakan tanpa nyonya rumah?"

Nadine dengan pasrah membiarkan Ferrick mengatur pakaiannya dan perjalanan ini. Dalam hatinya, dua orang terpenting baginya telah tiada. Sekarang, dia seperti mayat hidup dan sama sekali tidak memiliki semangat hidup.

Melihat Nadine yang memasang ekspresi mati rasa dan kosong, Ferrick merasa sedikit tidak tega. Namun, Yessy sedang mengandung anaknya. Ada banyak hal yang juga tidak bisa dikendalikannya. Begitu anaknya lahir, dia pasti akan mencari cara untuk menyingkirkan Yessy.

Dengan begitu, mereka bertiga tiba di pesta Keluarga Jurika. Para senior Keluarga Jurika juga hadir, termasuk orang tua Ferrick.

Ketika melihat wajah lesu Nadine, ibu Ferrick pun mengejeknya secara langsung, "Kamu mau perlihatkan tampang murungmu ke siapa? Kamu sama sekali nggak punya sikap layaknya menantu Keluarga Jurika!"

"Benar. Dengar-dengar, dia baru hamil setelah bertahun-tahun. Tapi pada akhirnya, dia bahkan nggak mampu pertahankan anaknya sendiri ...."

Mendengar ini, ibu Ferrick makin kesal. "Dasar nggak berguna! Memangnya kamu mau Keluarga Jurika nggak punya keturunan? Kalau nggak bisa punya anak, sebaiknya kamu segera lepaskan posisimu sebagai istri Ferrick!"

Biasanya, Nadine pasti sudah tidak tahan mendengar gosip-gosip ini. Sekarang, dia merasa seperti ada lubang menganga di hatinya, yang menyerap semua emosinya seperti lubang hitam. Dia mengabaikan ucapan semua orang.

Namun, Ferrick mengadang di depan wanita itu dan berkata dengan nada tegas, "Ibu, aku nggak akan biarkan kamu ngomong ke Nadine seperti itu. Nadine itu istriku. Baik itu dulu, maupun kelak."

Nadine tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Sementara itu, Yessy yang berdiri di dekatnya menggertakkan giginya dengan kesal.

Memanfaatkan momen singkat ketika Nadine muncul di sudut tangga, Yessy mencondongkan tubuh ke arah Nadine dengan memegang gelas alkohol.

"Kak Nadine, sepertinya Kak Ferrick sangat mencintaimu." Gadis itu berbisik manis di telinga Nadine, tetapi suaranya penuh kebencian, "Dasar jalang! Gimana rasanya melawanku? Kamu pasti merasa sengsara banget karena nggak bisa singkirkan kakakku, 'kan?"

Yessy menutup mulutnya dan terkekeh. "Dengar-dengar, adikmu yang malang nggak berhenti memanggil namamu bahkan di saat-saat terakhirnya."

"Yessy, apa kamu benar-benar mengira aku nggak bisa berbuat apa-apa padamu?"

Nadine mengepalkan tangannya dengan kuat hingga kukunya menancap dalam dagingnya.

"Apa yang bisa kamu lakukan padaku? Aku muda dan cantik, juga seratus kali lebih menarik daripada wanita tua dengan bagian bawah tubuh yang kendur sepertimu!" Yessy menekankan kata-katanya, "Aku akan pastikan kamu nggak bisa hidup sehari pun di rumah ini."

Pada detik berikutnya, langsung terdengar jeritan melengking Yessy. Selanjutnya, yang terlihat hanyalah Yessy yang berguling jatuh menuruni tangga dan wajah pucat pasi Nadine di atas tangga.

"Yessy!" Mata Ferrick melebar karena ngeri. Dia bergegas menghampiri gadis itu, tetapi langsung dikejutkan oleh noda merah di bagian bawah tubuh Yessy.

"Huhuhu ... anakku ...." Yessy menangis pilu sambil berseru, "Perutku sakit sekali Sakit .... Ferrick! Selamatkan anak kita ...."

Sebelum selesai berbicara, Yessy sudah pingsan.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status