공유

Bab 7

작가: Anonima
Hanya dengan satu panggilan, Nayla tiba di rumah Nadine dan Ferrick tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat mata kakaknya yang bengkak dan guci yang kosong, Nayla langsung memahami semuanya.

"Kakak Ipar ... nggak, Ferrick ... benar-benar nggak manusiawi!"

Nayla dengan lembut mengelus rambut Nadine dan bertanya sambil menggertakkan gigi, "Kak, kamu masih mau bersamanya? Hatinya sudah nggak lagi bersamamu."

"Nggak mau." Mata Nadine terlihat lelah, seperti kolam yang tenang dan stagnan. "Nayla, kita pergi bersama, ya? Ke tempat yang nggak ada Ferrick."

Mendengar kata-kata kakaknya, hidung Nayla tiba-tiba terasa perih. "Kak ... aku akan ikut bersamamu. Aku nggak peduli dengan masa depan atau sumber daya. Aku cuma mau kamu."

Nayla memeluk tubuh Nadine yang dingin dan berkata sambil menangis, "Di mana pun kamu berada, di situlah rumahku."

Mendengar kata-kata adiknya, hati Nadine yang layu akhirnya sedikit tergerak. "Oke, kita pergi bareng."

"Kak, aku akan segera kembali untuk mengemasi barang-barangku dan memesan tiket pesawat. Aku akan menjemputmu besok pagi!"

Nadine mengantar adiknya pergi. Akan tetapi, entah kenapa, dia yang tidak memiliki riwayat sakit jantung tiba-tiba merasakan sakit yang tajam di jantungnya sebelum tidur. Rasa sakit itu terasa seperti merobek hatinya menjadi dua. Keringat dingin mengalir di punggungnya dan dia duduk di tempat tidur.

Mungkin karena ada ikatan darah, intuisi Nadine mengatakan bahwa sudah terjadi sesuatu pada adiknya.

Memikirkan hal itu, Nadine tak lagi bisa menyembunyikan kepanikannya dan menelepon Nayla berkali-kali. Namun, semua panggilan itu tidak dijawab.

Akhirnya, panggilannya dijawab. Nadine pun menggenggam erat ponselnya, seolah-olah itu adalah penopangnya. Namun, kabar buruk yang disampaikan orang di ujung telepon seketika membuat dunianya berputar dan pikirannya kosong.

"Halo, apa kamu anggota keluarga Nayla? Tolong segera datang ke rumah sakit. Pasien mengalami kecelakaan mobil dan sedang sekarat ...."

Tanpa berpikir panjang, Nadine mengemudi dengan cepat menuju rumah sakit. Namun, dia tetap tidak sempat melihat Nayla untuk yang terakhir kalinya.

"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik."

Nadine merasa seolah-olah semua darah di tubuhnya membeku. Dia tak dapat mengerahkan kekuatan lagi dan berlutut kaku di samping ranjang rumah sakit.

Setelah orang tua mereka meninggal, mereka selalu hidup saling bergantung. Nadine tak percaya adiknya akan meninggal dunia secepat ini.

Melihat jasad yang hancur di bawah kain putih, Nadine merasakan duka yang membuat tubuhnya gemetar tak terkendali. Dia hampir tidak mampu berdiri. "Siapa ... siapa pelakunya?"

"Pengemudi itu diduga mengemudi dalam keadaan mabuk. Saat ini, dia sudah melarikan diri dari tempat kejadian." Petugas polisi berkata dengan menyesal, "Kami masih menyelidiki kecelakaan ini. Mohon terima belasungkawa kami."

Nadine mencoba menghubungi Ferrick untuk menyuruhnya menyelidiki hal ini, tetapi ponselnya dalam keadaan nonaktif tidak peduli berapa kali pun dia menelepon. Apa boleh buat, setelah mengurus jenazah Nayla, Nadine yang matanya merah padam secara pribadi ikut serta dalam penyelidikan.

Namun, baru saja nomor pelat kendaraan pengemudi ditemukan, semua informasinya lenyap dalam seketika, seolah-olah ada seseorang yang sengaja menutupinya.

Setelah tenang, Nadine merasa seperti sudah disiram seember air dingin. Siapa lagi selain Ferrick yang mampu melakukan hal seperti ini?

Nadine pulang tanpa ekspresi dan membanting laporan CCTV di depan pria itu. "Kamu yang melakukannya?"

Mata Nadine sangat merah dan suaranya serak. "Adikku sudah ditabrak dan tewas! Dia satu-satunya keluargaku! Atas dasar apa kamu lindungi pelakunya?"

Pria itu menghela napas pelan dan mendorong selembar kartu hitam di depan Nadine. "Anggap saja uang ini sebagai kompensasi dariku. Yang patuh dikit, jangan selidiki hal ini lagi."

Nadine menatap Ferrick dengan tidak percaya, lalu melempar kartu hitam itu ke wajah Ferrick dengan kuat. "Pergilah ke neraka!"

Ferrick tidak marah, melainkan berkata dengan tenang, "Aku tahu kamu sangat menderita karena kehilangan adikmu. Tapi, pengemudi itu adalah kakaknya Yessy. Dia nggak mau kakaknya masuk penjara. Dia sudah ketakutan sepanjang malam karena hal ini. kalau dia terus menangis seperti itu, aku khawatir kandungannya akan terpengaruh."

Dia sedikit mengerutkan kening. "Kamu juga pernah jadi seorang ibu, kamu seharusnya mengerti, 'kan?"

"Jadi, aku harus biarkan adikku meninggal sia-sia?" Nadine sangat marah hingga hampir tidak bisa bernapas. "Sebagai kakak iparnya, kamu bahkan nggak bisa berikan keadilan padanya?"
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status