공유

Bab 9 

작가: Anonima
Hampir pada saat bersamaan, Nadine ditahan oleh anak buah Ferrick.

Sebelum Nadine sempat menjelaskan, ibu Ferrick melangkah maju dan menamparnya dua kali.

"Kamu benar-benar wanita yang kejam dan jahat! Dasar manusia nggak berperasaan! Kamu sudah kehilangan anakmu sendiri, tapi masih mau celakai anak orang lain!"

Mata ibu Ferrick memerah karena marah. "Kalau terjadi sesuatu pada cucu kesayanganku, aku nggak akan ampuni kamu! Orang sepertimu memang pantas kehilangan anakmu!"

Kata-kata ibu Ferrick menusuk hati Nadine yang sudah terluka seperti anak panah tajam. Dia menoleh ke arah Ferrick, tetapi pria itu hanya memberinya tatapan kekecewaan yang mendalam. Setelah itu, dia menggendong Yessy dan bergegas masuk ke ambulans.

Nadine juga dibawa ke rumah sakit bersama mereka. Dia berdiri dengan perasaan hampa sambil melihat para dokter dan perawat keluar masuk ruang UGD.

Waktu terus berlalu. Akhirnya, dokter berjalan keluar dengan wajah dipenuhi penyesalan dan berkata, "Janinnya tetap nggak dapat diselamatkan. Pasiennya menderita anemia ...."

Sebelum dokter itu selesai bicara, tatapan dingin Ferrick tertuju pada Nadine. "Golongan darahnya cocok. Ambil darahnya."

"Nggak, aku nggak setuju ...."

Bagaimana mungkin Nadine menyelamatkan pembunuh yang telah mencelakai keluarganya. Dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Ferrick, tetapi Ferrick menampar wajahnya tanpa ampun.

"Ini dosa yang harus kamu tebus. Apa hakmu untuk menolak? Ambil darahnya sebanyak yang kalian butuhkan. Jangan khawatirkan hidup atau matinya!"

Setelah menerima perintah tersebut, dokter itu juga tidak berani menunda. Dia segera menusukkan jarum besar ke lengan Nadine dan mengambil darahnya tanpa henti.

"Memangnya itu cukup? Ambil lebih banyak lagi!"

"Pak Ferrick, kondisi pasien sudah stabil. Nggak perlu ...."

"Sudah kubilang ambil lagi darahnya! Nggak boleh terjadi apa pun pada Yessy!"

Dokter itu dikejutkan oleh nada bicara Ferrick dan mengambil 600 cc darah Nadine.

Berhubung tiba-tiba kehilangan begitu banyak darah, penglihatan Nadine menjadi kabur dan bibirnya pucat pasi. Setelah permohonan dokter yang berulang-ulang, Ferrick akhirnya dengan enggan melepaskan Nadine.

"Ingat, ini utangmu pada Yessy."

Seusai melontarkan kata-kata itu, Ferrick berbalik dan masuk ke kamar rawat inap tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, Nadine tidak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Ketika sadar kembali, dia mendapati dirinya terendam dalam air es. Anggota tubuhnya diikat dengan rantai sehingga dia tidak dapat bergerak.

Pria di hadapannya duduk dengan penuh wibawa. Tatapan dinginnya membuat bulu kuduk Nadine berdiri.

"Kamu tahu kenapa aku mengurungmu di ruang bawah tanah?" Ferrick berdiri, lalu menyeret cambuknya sambil perlahan-lahan mendekati Nadine. "Yessy nggak punya dendam sama kamu. Kenapa kamu berulang kali mencoba mencelakai anaknya?"

"Aku nggak begitu ...." Nadine menggertakkan giginya. "Aku nggak celakai anaknya! Jelas-jelas dia sendiri yang ...."

"Kalau bukan kamu yang mendorongnya, apa mungkin dia jatuh sendiri?" Ferrick yang tak mampu menahan amarahnya langsung mencambuk bahu Nadine. Dalam sekejap, darah mengalir dari lukanya itu.

"Kamu masih nggak mau ngaku? Yessy sudah bilang kamu yang mendorongnya, juga bilang mau dia bayar nyawa adikmu!"

Ketika teringat tangisan pilu Yessy, hati pria itu makin sakit.

"Kamu mau ngaku atau nggak?" Ferrick mencambuk Nadine berulang kali dengan cambuk yang dilumuri air garam.

Meskipun punggungnya sudah berlumuran darah, Nadine hanya menggertakkan giginya dan tetap diam. Entah kenapa, kebencian dan keganasan di mata wanita itu justru membuat Ferrick gelisah.

Tepat ketika Ferrick hendak menjatuhkan cambuknya, Yessy perlahan-lahan berjalan keluar dari kegelapan. Ada sebilah pisau di tangannya.

"Anakku sudah tiada." Yessy tersenyum mengerikan dan bertanya, "Nadine, apa kamu sudah puas sekarang?"

Sebelum Nadine sempat bereaksi, Yessy sudah menerjang maju dan menusukkan pisau itu ke paha Nadine. Rasa sakit menyengat menjalar ke seluruh tubuhnya. Jeritannya pun pecah. "Ah!"

Namun, gadis itu masih belum puas. Dia menusuk kaki kanan Nadine lagi. Rasa sakit yang hebat membuat pandangan Nadine menjadi gelap dan dia hampir pingsan. Darah mengalir deras dari kedua kakinya dan bercampur dengan air hingga membentuk kolam dengan warna merah aneh yang menusuk mata.

"Tusukan ini untuk balaskan dendam anakku! Yang ini juga sama!"

Berhubung sudah kehilangan banyak darah, wajah Nadine pun menjadi pucat. Dia menggeleng dengan bibir gemetar dan mencoba menatap Ferrick. Namun, pria itu hanya berdiri dengan tangan di saku dan menatapnya dengan dingin.

"Aku mau balaskan dendam anakku yang sudah tiada! Aku mau balas dendam!"

Yessy sudah kehilangan kendali. Dia menusuk kaki dan punggung Nadine sebanyak empat kali. Setiap kali pisau ditarik keluar, terdengar suara yang sangat menyayat hati.

"Kenapa kamu nggak bisa biarkan aku hidup bahagia ...."

Yessy seperti sudah kehilangan semua kekuatannya. Pisau berlumuran darah di tangannya jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Kemudian, dia menutupi wajahnya dan menangis tak terkendali.

"Kenapa kamu celakai bayiku ...."

Dari awal sampai akhir, Ferrick sama sekali tidak menghentikan Yessy. Dia melangkah maju untuk menghibur Yessy. Suaranya penuh perhatian dan lembut. "Sayang, apa amarahmu sudah reda sekarang? Capek? Sudah, jangan lihat lagi, kotor."

Kemudian, Ferrick menggendong gadis itu dan pergi. Dia sama sekali tidak peduli pada Nadine yang berlumuran darah.

Dengan kesadaran yang kabur, Nadine yang berlumuran darah memperhatikan mereka berangsur-angsur menjauh.

...

Ketika tersadar lagi, sekujur tubuh Nadine sudah dibalut perban. Pria itu duduk di sampingnya dan dengan lembut meniup bubur di sendok untuk mendinginkannya. "Sudah sadar?"

Tubuh Nadine dipenuhi luka berdarah. Dia menatap mata Ferrick dan bertanya dengan tenang, "Dari mana kamu dapatkan darah untukku?"

Ferrick tidak menyangka Nadine akan menanyakan hal ini. Dia agak kewalahan dan menjawab, "Selama mau, aku pasti bisa menemukannya."

Ternyata, menyiapkan donor darah pengganti untuknya hanyalah kedok Ferrick untuk menipunya.

"Nadine, maaf. Aku nggak bisa hentikan Yessy. Ini akibat yang harus kamu tanggung atas kesalahanmu."

Nadine pun tertawa dan berujar, "Dari awal sampai akhir, kesalahanku cuma satu, yaitu jatuh cinta padamu."

Ferrick pun tercekat dan tidak tahu harus berkata apa untuk sesaat.

"Pada akhirnya, semua itu salahmu. Meski marah, Yessy juga nggak serang bagian vitalmu. Minta maaflah padanya. Setelah itu, kita anggap semuanya impas."

Nadine menunduk dan berpikir lama, lalu mengangguk dan berujar, "Oke. Tapi sebelum itu, aku punya satu syarat."

Pria itu mengerutkan kening dalam-dalam. "Apa?"

"Pergi ke sisi timur kota dan belikan aku semangkuk bubur jamur putih."

Mendengar hanya itu saja syarat yang diajukan Nadine, Ferrick terlihat lega. "Oke, aku akan membelikannya untukmu."

Setelah pria itu pergi, Nadine mengabaikan rasa sakit lukanya dan keluar dari rumah sakit sendirian.

Dalam perjalanan, taksi Nadine dan mobil Ferrick berpapasan. Sebelum naik ke pesawat, wanita itu mematahkan kartu SIM menjadi dua dan membuangnya ke tong sampah.

'Ferrick, mulai sekarang, siapa yang kamu cintai bukan lagi urusanku. Selamat tinggal. Lebih tepatnya, selamat tinggal selamanya,' gumam Nadine dalam hati.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status