LOGINDi ruang kerja yang beraroma kayu cendana, suasana terasa berat namun tenang. Cahaya matahari pagi menembus tirai jendela yang tebal, menyinari permukaan meja kayu jati yang besar dan mengkilap. Xavier duduk di kursi kerjanya, punggungnya tegak namun bahunya terlihat tegang, menahan rasa kesal yang masih membara di dadanya. Tatapannya tajam tertuju pada Henry yang berdiri di hadapannya. Tangan tua itu terlipat rapi di depan perut, menunggu perintah.“Jelaskan padaku bagaimana dia bisa ada di sini,” ucap Xavier, suaranya rendah namun penuh penekanan, seolah setiap kata membawa beban kekhawatiran yang tak terucap. Wajahnya tak menyembunyikan kekesalan. Ia sudah memastikan tempat ini menjadi tempat paling aman bagi Eleanor, jauh dari siapa pun yang berniat menyakitinya. Namun ternyata bayangan masa lalu tetap menyusup masuk. Ia tahu betul sifat orang-orang seperti Ruby dan keluarganya. Mereka bukan orang yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang akan mengubah sikap seketika begitu melih
Mendengar Eleanor menyebutkan nama pelayan yang mencurigakan itu, Xavier seketika menoleh penuh perhatian pada istrinya. “Kamu mengenalnya?”Pertanyaan sederhana itu membuat mata Stella melebar tak percaya. Jantungnya berdegup kencang, harapan yang selama ini ia simpan mulai berkobar kembali. Dia bertanya padaku! Mungkin dia tertarik padaku! pikirnya. Ia pun menegakkan tubuh, menyimak setiap kata yang terucap dengan penuh harap. Menunggu momen di mana Xavier akan menatapnya dengan pandangan yang sama seperti ia menatap Eleanor.Eleanor mengangguk pelan. “Iya. Dia Stella. Anak Bibi Ruby.”“Bibi yang mengirimmu ke sini?” tanya Xavier lagi, nadanya mulai berubah tegang.“Ya.”“Yang mengambil rumah dan warisan orang tuamu?”Eleanor sedikit tertegun, matanya mengerjap bingung. Ia tidak menyangka Xavier mengetahui hal sedalam itu. “E… ya.”Namun jawaban itu justru membuat hati Stella seketika ciut. Nada suara Xavier bukanlah nada yang ramah atau tertarik. Nada itu penuh penekanan, penuh kem
Setiap hari, berulang-ulang hingga beberapa kali dalam sehari, Stella mencuri-curi pandang ke arah bangunan utama yang megah dan menjulang di kejauhan. Matanya tak lepas dari pintu utama dan halaman depan, berharap setiap saat akan melihat sosok Eleanor dan Xavier melangkah keluar dari mobil mewah, kembali dari perjalanan bulan madu mereka yang seakan tak berujung itu. Namun hari demi hari berlalu, dan kini sudah masuk hari ketiga ia bekerja sebagai pelayan di kediaman besar itu, pasangan pengantin baru yang dinanti-nantikannya belum juga menampakkan batang hidungnya.Stella menghela napas panjang dengan wajah cemberut sambil menyeka keringat di keningnya. “Lama sekali sih mereka bulan madunya? Padahal di sini saja sudah indah luar biasa. Ada taman bunga yang bermekaran warna-warni, lapangan golf yang luas, kolam renang yang jernih, hutan pinus yang sejuk, kebun buah yang lebat, dan pemandangan alam yang menenangkan mata. Kenapa juga harus pergi jauh-jauh ke luar tempat ini hanya untu
Setelah mengenakan seragam pelayan yang terasa begitu asing dan sempit di tubuhnya, Stella diantar oleh Lily menuju dapur yang luas namun terasa panas dan bising. Bau rempah dan aroma masakan yang menggugah selera menyelimuti ruangan itu, namun bagi Stella, semuanya terasa seperti hukuman yang tidak pantas ia terima."Gabunglah dengan mereka dan bekerjalah," ucap Lily singkat dan dingin, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.Dengan perasaan kesal yang membara di dada, Stella melangkah masuk ke tengah ruangan itu. Para pelayan yang sibuk bergerak cepat seakan tak pernah berhenti sesaat, sesekali melirik ke arahnya sekilas lalu kembali pada pekerjaan masing-masing. Stella berdiri mematung di sudut ruangan, tak tahu harus melakukan apa. Ia menatap tumpukan sayuran, panci besar, pisau-pisau tajam, dan meja kerja yang penuh dengan bahan makanan. Semuanya terasa asing baginya. Akhirnya, ia hanya berdiri diam, menatap orang-orang yang bekerja tanpa bergerak sedikit pun.Tak lama, salah
"Kami mempunyai banyak hutang. Itu sebabnya uangnya cepat habis," ucap Ruby dengan nada yang berusaha terdengar jujur, padahal itu hanyalah cerita yang baru saja ia karang di kepalanya.Lily menatap ketiganya satu per satu, matanya tajam namun tenang, seakan mampu melihat kebohongan yang tersembunyi di balik wajah mereka."Ya... bukan apa-apa ya. Aku jadi paham sekarang kenapa dulu kalian begitu mudahnya menyerahkan Nona Eleanor untuk bekerja di sini," ucap Lily pelan namun tegas. "Ternyata kalian memang tidak menyayanginya. Mungkin karena Nona Eleanor hanyalah keponakan, bukan anak sendiri. Tapi... ini putri kandung kalian sendiri. Bagaimana bisa kalian tega mengantarnya ke sini untuk dijadikan pelayan? Sebanyak apa hutang kalian sampai uang yang kalian terima dulu—yang jumlahnya sudah sangat besar—tidak cukup untuk melunasinya? Dan kenapa tidak kalian cari pekerjaan lain atau usaha yang lain daripada menjadikan anak sendiri sebagai pelayan di rumah orang? Kalian berdua ini kan masih
"Benarkah? Benarkah kalau orang tua Anda kecelakaan di tanggal 13 Februari juga?" tanya Eleanor dengan napas tertahan, matanya melebar penuh gejolak rasa ingin tahu dan takut bercampur menjadi satu.Xavier mengangguk perlahan, tatapannya menerawang ke arah lautan gelap seakan melihat kembali masa lalu yang kelam. "Iya. Karena itu aku berpikir... kalau sepasang suami istri yang jasadnya ditemukan di dalam mobil orang tuaku adalah kedua orang tuamu, Eleanor. Apakah kamu masih ingat secara rinci apa saja yang terjadi di hari kematian kedua orang tuamu?"Eleanor menunduk, jari-jemarinya meremas ujung kain selimut yang melingkar di tubuhnya. "Aku hanya ingat... orang tuaku berpamitan padaku, bilang kalau mereka akan pergi menemui sahabat Ayah. Lalu beberapa jam kemudian, ada petugas kepolisian yang mengantarkan jenazah mereka ke rumah. Hanya itu yang aku ingat.""Berarti Papaku dan Ayahmu bersahabat," ucap Xavier dengan pandangan yang jauh, seakan menyusun kepingan teka-teki yang mulai ter







