LOGINSetelah enam bulan berikutnya, suara tangis bayi terdengar melengking dari ruang bersalin pagi itu. Wanita yang berdiri di pintu terlihat meraupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Bibir merahnya mengucap syukur atas kelancaran proses bersalin istri bosnya. Ia adalah Ivana. Kemudian berbalik badan meninggalkan ruang bersalin, menuju kamar VIP yang tadi sempat diurusnya di muka dan kini sudah siap ditempati. Satu tas bayi besar dia tarik dari atas sofa di depan pintu dan dan dibawanya masuk ke dalam kamar. Ivana pun dengan cekatan menatanya ke dalam lemari. Menjelang tengah hari. Kamar ibu dan anak itu sudah diisi sesuai nama pemilik sewa yang dicantumkan. Adalah keluarga kecil Tuan Ryker Idris yang telah mendapat seorang putra tampan dari istrinya yang cantik. Telah melahirkan secara normal seorang bayi sehat pagi tadi dan sekarang sedang tergolek di atas ranjang. Kedua-duanya, sang ibu dan si bayi tertidur pulas. “Sebaiknya tidak usah kemari. Jangan membuat suasana jadi tidak ko
Sabella baru berjemur dari balkon saat Ryker baru menutup panggilan di ponsel. Lelaki itu habis mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor kerjanya.“Dari siapa, Mas?” tanya Sabella sambil meletakkan handuk kecil di cap stok. Ryker terlihat menghela napas. “Dari Sam. Ia sudah sampai satu jam lalu di Bangkok.” Sabella ikut lega. Merasa iba dengan Bulan. Harus memulai dari awal segalanya. Semoga ia bisa menerima kenyataan pahit itu andai suatu saat menemukan kasus ayahnya. Sabella ikut duduk di tepi ranjang. Matanya masih tertahan pada punggung Ryker yang sedang meraih celana dan kemeja dari gantungan. “Mas … Jasmin sudah sampai di Surabaya?” tanyanya pelan. Nadanya dibuat sebiasa mungkin, padahal dadanya sedikit berdebar menatap raga suaminya. Ryker berbalik setengah badan. Kemeja belum ia kenakan, memperlihatkan dada bidang yang membuat Sabella refleks menahan napas. Lelaki itu menatapnya sekilas, lalu mengangguk ringan. “Sudah,” jawabnya singkat. Sabella buru-buru mengalihkan
Lelaki tampan berprofesi mentereng itu sedang menyandar dengan meletak tangannya di atas dahi. Matanya terpejam rapat tetapi ponselnya masih menyala terang. “Sam!” seru Ryker saat masuk ke dalam ruangan. Lelaki yang adalah Samuel seketika menurunkan tangan dan membuka matanya. Tatapan datarnya langsung menajam saat melihat Sabella. Ia segera menegakkan punggungnya. “Kenapa kau mengajaknya? Sudah kubilang datanglah sendiri.” Samuel terlihat suntuk. Ia sempat berpesan agar Ryker datang sendiri tanpa Sabella. Dasar pengantin baru, sudah hamil pulak!“Dia istriku. Selain kerja, tentu saja kubawa. Lagipula, agar kau tak sekalipun mengharap jandanya.” Ryker menjawab datar dan duduk di depan Samuel. “Duduklah, Bel,” ucapnya menoleh Sabella. Samuel mengetatkan rahang giginya. Sabella telah duduk manis di sebelah suaminya. Ia tampak ikut menyimak dan tidak bermain ponsel. Ingin hati mengumpat tetapi lelaki beruntung yang datang bersama Sabella itu adalah harapannya saat ini. Baiklah, tida
Dua Minggu kemudian di suatu sore. Mama Ulfanah barusan pergi saat Ryker masuk ke dalam kamar. Suami dari Nyonya Sabella itu baru saja pulang kerja “Mas!” seru Sabella terkejut. Ia baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Ryker tengah melepaskan baju kerja. “Terkejut? Sengaja gak ngasih pesan ke kamu, aku pulang cepat hari ini, Bel. Capek.” Ryker menatap perempuan yang di matanya terlihat makin cantik dengan kehamilan mudanya. Sabella telah menghampiri dan membantu melepaskan bajunya. “Mau aku pijat?” tawar Sabella dengan ekspresi khawatir. Ia membawa kemeja dan baju pelapis milik suaminya ke dalam keranjang kotor. “Kamu dikasih vitamin apa lagi sama Mama?” tanya Ryker dengan tatapan seksama. “Gak tau, gak nanya lagi. Aku minum saja, biar senang.” Sabella pun tersenyum. Ryker tersenyum kecil dan mengelus lembut rambut Sabella. Merasa begitu sayang pada istrinya! Ia sempat bertemu mamanya di lorong kamar dengan membawa segelas kosong yang katanya bekas minuman bervitamin unt
Angin berhembus kencang pagi itu. Mendung tebal dengan hawa dingin menusuk yang pertanda turun hujan tidak lama lagi. Bangunan megah itu masih seperti biasanya. Lengang dengan beberapa pekerja yang sesekali berkelebat. Saat ini adalah tiga bulan setelah Ryker dan Sabella menikah. Mereka telah kembali ke rumah keluarga dan sang istri ikut tinggal di kamar suaminya. Mereka tengah sarapan bersama pagi ini. Pak Azis terlihat segar dengan ekspresi yang cerah. Ia beru mendengar pengakuan dari putranya bahwa anak menantu telah tidak datang bulan selama dua kali periode berturut-turut. Jika bulan ini pun tidak datang, maka akan masuk tiga kali periode. “Nanti sore pergi saja ke dokter kandungan. Jika Samuel, sepertinya tidak valid.” Pak Azis berbicara pada Ryker dan Sabella. “Dia pun bisa saja, Pa. Hanya bukan pakemnya.” Ryker menyahut ucapan papanya. Ia tidak lupa bagaimana kemampuan Samuel yang hebat. “Ya sudah, Ryk. Kali ini harus pergi periksa. Biar gak bikin penasaran, sudah tiga b
Kali ini, dua insan peneguk nikmat dunia sedang makan pagi bersama di balkon. Wajah perempuan cantik itu sedikit muram meski matanya berbinar. “Makan di sini kan sudah sama dengan menghirup udara luar, kan?” tanya Ryker dengan tenang. Meski terlihat senyum tipis di bibir seksinya. “Tapi kalo dilihat orang, gimana?” Sabella terlihat resah. “Di sini serba privasi. Coba di bagian mana yang kemungkinan orang bisa melihat ke arah sini?” tanya Ryker. Suapan terakhir nya sudah berakhir beberapa menit lalu. Sabella pun tersenyum. “Tiba-tiba ada pesawat terbang, gimana?” ucapnya. Ryker seketika tersenyum lebar. “Mana ada pesawat terbang serendah kamar hotel lantai sebelas?” tanyanya masih dengan senyum mengembang. Sabella pun diam. Meski masih merasa kikuk, ia pasrah dengan dressnya yang pendek. Lagi-lagi adalah Ryker yang mencabut dari tumpukan untuknya. Meski kali ini sebatas lutut tetapi bagian lengan hanya bertali. Membuatnya terlihat begitu cantik. Ryker bilang, ia harus me
Pak Benny masuk ke kamar dengan napas memburu. Matanya langsung menemukan Ben yang masih berusaha bangkit dari lantai. Anak lelakinya itu sambil meringis sakit dan memegangi burungnya yang cidera sebab tendangan Sabella begitu kuat. Wajah Pak Benny memerah, sorot matanya menyala penuh amarah. “A
Pintu kamar yang sudah terkunci, terdengar seperti tengah dicoba dibuka dari luar. Napas Sabella benar-benar jadi tertahan sendirinya. Suara itu terdengar lagi, pelan namun jelas. Seseorang mencoba membuka handle pintu. Jantung Sabella berdegup kencang. Ia tidak berani bergerak, hanya menatap pi
Ivana akhirnya berdiri setelah suasana terasa kondusif kembali. “Kami ingin pamit,” ucapnya sopan, menggenggam tangan anak yang juga ikut berdiri. Ia menoleh sekilas pada Sabella, memberi tatapan yang sulit diartikan. Setelah mereka pergi, Ben langsung beranjak. “Aku juga harus keluar. Banyak
Sabella memilih diam. Bibirnya terkatup rapat, pandangannya menghindar dari Ben yang masih menghadang di anak tangga. Ia berharap lelaki itu berhenti bertanya, memberi ruang untuknya berjalan. Namun, Ben justru semakin mendesak. “Siapa, Bel?” tanyanya pelan tetapi menekan. Bahkan tangannya terulu







