LOGINSabella terlihat tegang dengan mata lebarnya tanpa kedip. Ryker menghela napas perlahan, lalu beralih ke meja makan yang sudah tertata rapi dengan makanan di atasnya. Kamar yang ia sewa adalah Royal Suite Room. Meja makan, mini bar, hingga dapur pun tersedia. Memungkinkan untuknya dan Sabella berkarya apa saja di sana. Jika ingin …. Tampilan bagus dari hidangan hangat dalam baki-baki berpenutup transparan itu terlihat lezat, menggoda, dan menggugah selera. Seketika mampu memecah ruang kamar yang terasa tegang sedari tadi. Ryker menarik dua kursi dan menoleh pada Sabella. “Ayo makan dulu, Bel, ” ucapnya tenang. Meski malam, kemungkinan gadis itu meras lapar juga sepertinya. Sebab dipanggil, Sabella yang masih berdiri kikuk perlahan mendekat. Namun, tidak segan lagi, matanya langsung berbinar melihat susunan menu di atas meja. Ryker mulai membuka sebagian penutupnya. Daging panggang, sup krim, ayam goreng, madu, dan buah segar dalam irisan atau utuh sedang tersaji di meja.
Sabella masih mematung di dekat pintu, matanya tak lepas dari punggung Ryker yang kini hanya berbalut celana santai dan kaos putih tipis. Ia terlihat gagah, kekar, dan keren! Namun, suasana tegang itu membuat kamar terasa jadi sempit, aroma wangi mawar dan desir AC pun tak mampu mengusir rasa gerah di badan Sabella. Ia memutuskan juga bertukar baju. Seperti Ryker yang baru saja mengambil baju ganti dari setumpuk kain di atas sofa. Sabella memberanikan diri bersuara dengan pelan. “Mas… setumpuk baju di sofa itu … apa punyaku juga?” tanya Sabella dengan sopan. Merasa makin canggung pada Ryker. Ryker menolehnya. Lelaki itu sedang mengutip baju bekas pengantin dari ranjang, alisnya terangkat. “Iya. Semua punya kita. Pakai saja yang bagimu nyaman, Bel.” Nada suaranya datar, tidak memaksa. Tetapi tahu, tidak ada baju lain dan hanya di situ. Mestinya Sabella pun mau tanpa harus dipaksa-paksa. “Iya, Mas. Terima kasih, ya.” Sabella mengangguk, lalu beringsut lebih mendekat di sof
Ryker dan Sabella masih menyalami beberapa tamu ketika ada langkah tergesa terdengar. Mereka yang masih di serambi pun menoleh. Edo telah datang, napasnya sedikit tersengal. Wajahnya penuh sesal, matanya mencari-cari keluarga Azis di sepanjang serambi masjid. “Maaf, Om … Tante … saya datang terlambat,” ucapnya setelah menghampiri dan sambil bersalaman. “Ada urusan mendadak yang benar-benar tidak bisa ditinggal lebih cepat,” ucapnya dengan tatapan sungkan. Mama Ulfanah tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, Edo. Yang penting kamu sudah datang. Terima kasih ya.” Pak Azis yang berdiri dengan tatapan datar pun mengangguk pelan. “Tenang, Do. Urusan tidak harus diselesaikan hari ini. Soal warisan … kita lanjutkan nanti saja di Indonesia. Bagaimana?” tanya lelaki yang wajahnya tidak terlalu pucat lagi. Edo terdiam, lalu menghela napas lega. “Baik, Om. Saya ikut keputusan keluarga Anda saja. Lagipula, ternyata urusan saya juga sedikit panjang. Dan … tampaknya, dua ahli waris yang la
Mobil berhenti tepat di gerbang Masjid Camii Tokyo. Karpet khusus pernikahan sudah dibentang rapi, menyambut setiap langkah yang akan mengubah takdir dua insan setelahnya. Di kanan kiri, petugas berdiri sigap dengan senyum dan anggukan hormat. Tak ada yang tergesa. Semua mengalir sesuai alur, teratur, dan mungkin tanpa cela. Sabella menghela napas pelan saat pintu dibuka. Jemari Mama Ulfanah dan Eryka segera menggenggam tangannya yang dingin demi menenangkan. Mereka begitu paham kecemasannya. “Pelan-pelan saja, Nak. Tenang saja, ya, ” bisik Mama Ulfanah sambil terus berjalan. Genggamannya makin erat. Sabella mengangguk. Gaun pengantinnya bergerak anggun, tapi langkahnya tertahan oleh debar. Jantung pun berdetak cepat, seolah waktu melambat hanya untuk acara sakral yang pertama dan terakhir di hidupnya. Begitu masuk ke ruang utama, suasana berubah lebih khidmat. Interior masjid di bagian ruang nikah begitu megah tetapi menenangkan. Cahaya lampu gantung jatuh lembut, memantu
Meski penuh tanya tetapi Sabella segera ingat dengan etika. Ia segera beramah ramah dan meminta Mama Ulfanah untuk masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi, Sabella berpandangan dengan wanita cantik itu. Ia melemparkan senyum lagi meski rasanya cukup canggung. “Kakak ini siapa, Ma?” tanyanya mengalah. Merasa itu lebih baik daripada seolah tidak peduli dan angkuh . Mama Ulfanah tersenyum dan mengangguk. Seolah merasa suka dengan tanyanya. “Ini Erika, Sabella,” kata Mama Ulfanah. “Kakaknya calon suami kamu.” Sabella langsung tertegun. Oh, pantas, ia sempat melihatnya dalam bingkai foto yang terpajang di ruang keluarga Pak Azis. Hanya sekilas dan tidak lagi ia perhatikan, sehingga hanya teringat lamat-lamat. Cantik, serasi sebagai kakaknya Ryker. Sabella menyadari dan melempar senyum. “ “Mbak, salam kenal ya. Maaf, tidak tahu,” ucapnya canggung. “Gak papa, Sabella. Yang penting, aku udah tahu kamu. Calon adik iparku yang baik. Juga … hebat, telah ngebuat adik cowokku rela ngebuang masa
Sabella semakin menunduk. Rasa malu dan segan bercampur jadi satu. Ia menghela napas, lalu berdiri. “Aku… mau tidur lagi, Mas,” ucapnya. Segera berbalik, berusaha kabur dari suasana yang membuatnya salah tingkah.Namun, Ryker dengan cepat menahan pergelangan tangannya. “Habisin dulu rotinya,” katanya tenang, tetapi tegas. Membawa gadis itu duduk lagi. Sabella menolak, ia bertahan, tetap berdiri, dan menggeleng cepat. “Maaf, aku udah kenyang. Nggak bisa habis …,” ucapnya segan. Ryker menatapnya beberapa detik. “Kalau begitu … gosok gigi sebelum tidur.”Nada suaranya terdengar biasa, tetapi tatapannya penuh arti. Sabella langsung memerah wajahnya. Ia paham lelaki itu ingin menggoda. Ada-ada saja, seorang Ryker … dan tentu membuatnya semakin salah tingkah.“Iya, Mas … lepasin dulu tanganku,” ucapnya lirih. Suara Sabella seperti sangkut di mulut. Tetapi sambil berusaha menarik tangannya. Tiba-tiba kelakuan Ben kembali terbayang. Untung Ryker sudah melepaskan cekalannya. Ya, lelaki itu
Sopir telah kembali. Ben memintanya pergi mengambil sesuatu yang dibilang kejutan untuk Sabella. Kantong dengan tampilan elegan sudah diterima di tangannya, berbahan kertas tebal yang kuat dengan pita kecil emas dan terlihat mahal. “Pejam mata bentar, Bel,” ucap Ben dengan nada serius. Dia bersi
Tatapannya seperti meluluhkan. Tetapi sadar lelaki di depannya seorang playboy. Sudah lihai mengguncang perasaan perempuan. Sabella tidak ingin hanyut dan tenggelam sebelum layar terkembang. Mereka belum ada ikatan apa-apa. “Permisi, Mas. Jadi pergi gak?” tegurnya sambil mundur. Berusaha menjaga
Setelah minum obat dari Dokter Samuel yang ke tiga kali, kakinya seperti lahir kembali. Tanpa terasa sakit dan seperti tidak terjadi cacat cela sebelumnya. Kini, Sabella menggunakan kakinya lagi seperti sediakala. Namun, Dokter Samuel meminta untuk meminum obat sekali lagi, yakni yang terakhir m
Suara teguran barusan terdengar bersama kelebat Ryker mendekat. Memandang Sabella sekilas kemudian menepuk punggung Ivan. Hingga gadis berpenampilan tomboy itu berbalik. “Mas, hanya berkenalan. Masak gak boleh? Dia saudaraku juga kan?” tanya Ivan dengan tenang. “Saudara, tapi jauh!” tegas Ryke







