Compartir

Bab 3

Autor: Leachaa1
last update Fecha de publicación: 2026-04-17 22:24:47

Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruktur militer.

Di tengah lapangan, Lucien Ashford De Valois berdiri tanpa mengenakan jubah kebesarannya. Ia hanya memakai kemeja linen putih yang tipis, yang kini basah oleh keringat, menempel ketat pada otot-otot punggung dan lengannya yang kokoh. Pedang latihan di tangannya bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, memukul mundur dua ksatria elit sekaligus.

"Lemah! Apa kalian hanya makan bubur pagi ini?" gertak Lucien sambil mengayunkan pedangnya, menjatuhkan senjata lawannya hingga terpental ke tanah.

Cedric Lightmore, yang berdiri di pinggir lapangan sambil memegang handuk, hanya bisa menghela napas. Tuannya sedang dalam suasana hati yang sangat buruk sejak percakapan aneh dengan Grand Duchess kemarin.

Namun, perhatian semua orang tiba-tiba teralih. Di ujung jalan setapak menuju lapangan, seorang wanita muncul.

Itu adalah Celina. Namun, dia tidak mengenakan gaun pesta yang rimbun dengan renda dan korset yang menyesakkan napas seperti biasanya. Ia mengenakan pakaian berkuda yang pas di badan—celana panjang kulit yang ketat, sepatu bot tinggi, dan kemeja putih dengan rompi hitam. Rambut pirang platinumnya diikat tinggi dengan gaya ponytail yang praktis.

Langkah kakinya mantap, dagunya terangkat. Ia tidak terlihat seperti wanita yang baru saja mencoba bunuh diri dua hari lalu.

"Nyonya Grand Duchess?" gumam Cedric, suaranya cukup keras untuk membuat Lucien berhenti mengayunkan pedang.

Lucien berbalik, napasnya memburu. Ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya yang kemudian berubah menjadi sinis.

"Apa lagi sekarang, Celina?" tanya Lucien dengan nada bosan. "Jika kau datang untuk membawakan bekal buatan tanganmu yang rasanya mengerikan itu, lebih baik kau pulang. Aku tidak punya waktu untuk sandiwara domestik."

Para ksatria di sekitar lapangan mulai berbisik-bisik. Mereka sudah terbiasa melihat Celina datang ke lapangan hanya untuk menangis atau mencoba memeluk Lucien di depan umum, yang selalu berakhir dengan pengusiran kasar.

Celina tidak berhenti. Ia terus berjalan hingga jaraknya hanya tinggal tiga langkah dari Lucien. Aroma parfum mawar yang biasanya menyengat kini digantikan oleh aroma citrus yang segar dan tajam.

"Kau terlalu percaya diri, Lucien," ucap Celina datar. "Aku ke sini bukan untuk memberimu makan. Aku ke sini karena suara berisik dari lapangan ini mengganggu waktu meditasi pagiku."

Lucien tertawa pendek, tawa yang tidak mencapai matanya. "Meditasi? Sejak kapan kau peduli pada ketenangan? Kau adalah wanita paling berisik yang pernah kukenal."

Celina mengabaikan hinaan itu. Matanya justru tertuju pada pedang kayu yang tergeletak di dekat kaki Lucien. "Gerakanmu tadi... terlalu banyak menggunakan kekuatan bahu. Kau terbuka di sisi kiri setiap kali melakukan serangan vertikal. Jika lawanmu bukan anak buahmu yang takut padamu, kau sudah kehilangan lengan kirimu sejak tadi."

Keheningan seketika menyelimuti lapangan. Para ksatria menahan napas. Berani-beraninya seorang wanita yang tidak pernah memegang senjata mengajari "Iblis Medan Perang" cara bertarung?

Wajah Lucien mengeras. Ia melangkah maju, mengintimidasi Celina dengan tinggi badannya. "Kau bicara seolah kau tahu cara memegang pedang, Vivianne. Apa kau sedang mencoba taktik baru untuk menarik perhatianku? Berlagak sebagai ahli strategi?"

"Aku hanya bicara fakta," sahut Celina tenang. Ia membungkuk, mengambil pedang kayu yang tergeletak di tanah. Beratnya lumayan, tapi keseimbangannya cukup baik. Ia melakukan beberapa gerakan pemanasan pergelangan tangan yang terlihat sangat profesional.

"Kembalikan itu," perintah Lucien dingin.

"Bagaimana jika kita bertaruh?" tantang Celina. Ia menatap Lucien dengan mata hijau zamrud yang berkilat menantang. "Satu serangan. Jika aku bisa menyentuh dadamu dengan ujung pedang ini, kau harus memberikan satu hal padaku."

"Dan jika kau kalah? Yang mana itu sudah pasti terjadi," sahut Lucien sinis.

"Aku akan berhenti mengganggumu selama satu bulan penuh. Tidak ada kunjungan, tidak ada surat, tidak ada rengekan. Aku akan menganggapmu tidak ada."

Lucien terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan. Sebulan tanpa gangguan Celina adalah surga baginya. "Baik. Tapi jangan menangis jika kau jatuh ke lumpur."

Lucien mengambil posisi kuda-kuda, meski ia terlihat sangat santai. Baginya, ini hanya seperti bermain dengan anak kecil. Sementara itu, Celina mengambil posisi yang sangat berbeda. Kakinya terbuka lebar, pusat gravitasinya rendah, dan pedangnya tidak diarahkan ke depan, melainkan sedikit ke samping—gaya yang asing bagi orang-orang di zaman itu.

"Mulai," ucap Cedric dengan suara gemetar.

Lucien maju dengan satu langkah besar, bermaksud menjatuhkan pedang Celina dengan satu hantaman kuat. Namun, saat pedang mereka bersentuhan, Celina tidak menahan serangan itu. Ia justru memutar pergelangan tangannya, membiarkan pedang Lucien meluncur turun mengikuti aliran kekuatannya sendiri—sebuah teknik parry yang sempurna.

Sebelum Lucien sempat menarik kembali senjatanya, Celina berputar dengan lincah. Gerakannya secepat kilat, memanfaatkan momentum tubuhnya yang kecil.

TAP.

Ujung pedang kayu Celina berhenti tepat di tengah dada Lucien, tepat di atas jantungnya.

Lucien membeku. Ujung pedang itu menekan kemeja putihnya yang basah. Di hadapannya, Celina berdiri dengan napas yang stabil, senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan.

"Kau terbuka, Yang Mulia," bisik Celina.

Para ksatria yang menonton ternganga. Beberapa dari mereka mengucek mata, tidak percaya bahwa Grand Duchess yang "lemah lembut dan gila" baru saja melakukan serangan balik yang hanya bisa dilakukan oleh ksatria tingkat tinggi.

Lucien menatap pedang di dadanya, lalu menatap wajah Celina. Ada sesuatu yang meledak di dalam hatinya—bukan hanya kemarahan, tapi juga rasa penasaran yang luar biasa. Tatapan wanita ini... sangat tajam. Tidak ada ketakutan, tidak ada obsesi. Hanya ada keyakinan.

"Bagaimana kau melakukan itu?" tanya Lucien, suaranya rendah dan berbahaya.

Celina menarik kembali pedangnya dan melemparkannya ke tanah. "Rahasia perusahaan. Sekarang, sesuai janji, aku ingin bayaranku."

"Apa yang kau inginkan? Perhiasan? Gaun baru?"

Celina menggeleng. "Aku ingin akses penuh ke perpustakaan pribadi keluarga Valois dan stempel resmi untuk melakukan transaksi bisnis atas nama Grand Duchess tanpa perlu tanda tanganmu."

Lucien menyipitkan mata. Permintaan itu sangat tidak biasa. "Untuk apa? Kau ingin menguras kas keluarga?"

"Aku ingin memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh kepala pelayanmu yang korup," jawab Celina sambil berbalik. "Dan tenang saja, Lucien. Aku bukan lagi wanita yang akan mengejarmu sampai ke barak militer. Mulai sekarang, aku punya urusan yang lebih penting daripada mengemis cinta pada pria yang tidak punya hati."

Celina berjalan pergi meninggalkan lapangan, membiarkan Lucien berdiri terpaku di tengah lapangan yang mulai hangat oleh sinar matahari.

"Yang Mulia..." Cedric mendekat dengan ragu. "Apa yang baru saja terjadi?"

Lucien tidak menjawab. Ia menyentuh dadanya, tempat ujung pedang Celina baru saja menyentuhnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Dia..." Lucien bergumam pelan, hampir tidak terdengar. "Dia benar-benar berbeda."

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Lucien tidak langsung pergi ke kantornya. Ia berdiri di sana, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kastil, merasa bahwa permainan baru saja dimulai—dan kali ini, ia bukan pemegang kendalinya.

***

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 98

    Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 97

    Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   BAB 96

    Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 95

    Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 94

    Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 93

    Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status