登入Keheningan di koridor sayap barat kediaman Valois terasa mencekam setelah kepergian Lucien. Di dalam kamar, Celina Camilla yang kini harus terbiasa dipanggil Vivianne tidak membuang waktu untuk meratapi nasib. Baginya, menangisi takdir adalah pemborosan energi yang tidak masuk dalam neraca keuntungannya.
"Mary, kau masih di sana?" suara Celina memecah keheningan. Mary, yang sedang merapikan botol-botol obat di meja samping tempat tidur, berjengit. "I-iya, Nyonya. Saya di sini." "Bagus. Berhenti gemetar. Kau membuat lantai itu ikut bergetar," ujar Celina sambil mengelap sudut bibirnya dengan serbet linen. "Bantu aku bangun. Aku ingin melihat ruang kerjaku. Dan panggilkan kepala pelayan, siapa namanya?" "Tuan Butler Jenkins, Nyonya." "Ya, Jenkins. Suruh dia menemuiku di ruang kerja dalam tiga puluh menit. Bawa semua catatan keuangan, daftar inventaris gudang, dan daftar gaji pelayan." Mary tertegun. "Tapi Nyonya... tabib bilang Anda harus istirahat total selama tiga hari setelah... kejadian itu." Celina berdiri, merasakan aliran darahnya mulai normal kembali. Ia berjalan menuju cermin besar, menatap gaun tidurnya yang penuh renda yang menurutnya sangat tidak praktis. "Istirahat adalah kemewahan bagi orang yang tidak punya masalah. Masalahku sekarang adalah aku terjebak di tubuh wanita yang hampir bangkrut secara reputasi dan emosional. Aku tidak punya waktu untuk berbaring." Tiga puluh menit kemudian, Celina duduk di kursi kebesaran di ruang kerja Grand Duchess. Ruangan itu indah, dipenuhi dengan rak buku berlapis emas dan aroma lavender, namun debu tipis di meja menunjukkan bahwa pemilik sebelumnya jarang menggunakan ruangan ini untuk bekerja; lebih sering untuk menulis surat cinta yang tidak pernah dibalas oleh Lucien. Tok, tok. Pintu terbuka, dan seorang pria tua dengan setelan jas hitam yang sangat rapi masuk. Wajahnya datar, menyimpan penghinaan yang tersembunyi dengan sangat baik di balik etiket bangsawan. Inilah Jenkins, pria yang telah melayani keluarga Valois selama tiga generasi dan sangat membenci Celina karena dianggap merusak ketenangan tuannya. "Anda memanggil saya, Nyonya Grand Duchess?" tanya Jenkins tanpa membungkuk terlalu dalam. Di matanya, Celina hanyalah gangguan yang harus ditoleransi. Celina menyandarkan punggungnya, melipat tangan di atas meja. "Duduklah, Jenkins." Jenkins terkejut. "Saya lebih baik berdiri, Nyonya." "Aku tidak memintamu memilih. Aku memerintahkanmu duduk. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan, dan aku tidak suka bicara dengan orang yang kepalanya berada terlalu jauh di atas level mataku." Dengan enggan dan wajah kaku, Jenkins duduk. Ia meletakkan tumpukan buku besar di atas meja dengan suara bum yang sengaja dikeraskan. "Ini adalah catatan yang Anda minta. Meskipun saya ragu Anda akan mengerti isinya, karena biasanya Anda hanya meminta laporan pengeluaran dari butik Madame De Plume." Celina tersenyum tipis. Senyum yang biasanya ia berikan pada kompetitor bisnis sebelum ia menghancurkan saham mereka. Ia membuka buku besar itu, matanya bergerak secepat mesin pemindai. Dalam lima menit pertama, keningnya berkerut. Dalam sepuluh menit, ia mendengus. "Jenkins," panggil Celina tanpa mengalihkan pandangan dari angka-angka itu. "Jelaskan padaku mengapa biaya pemeliharaan kuda di istana ini naik empat puluh persen dalam tiga bulan terakhir, sementara jumlah kuda tetap sama? Dan mengapa anggaran untuk dapur utama membengkak hingga dua kali lipat, tapi aku hanya disuguhi sup hambar minggu lalu sebelum aku... jatuh sakit?" Jenkins terdiam. Matanya berkedip cepat. Ia tidak menyangka wanita yang biasanya hanya tahu cara menghamburkan uang untuk parfum ini bisa membaca laporan akuntansi dengan begitu jeli. "Itu... kenaikan harga gandum di pasar, Nyonya. Dan juga kualitas daging yang—" "Jangan membohongiku dengan alasan inflasi yang tidak masuk akal," potong Celina tajam. Ia menutup buku itu dengan suara keras. "Aku melihat pola di sini. Ada kebocoran dana di bawah hidungmu. Atau mungkin, kau ikut mencicipi 'gandum' itu, Jenkins?" Wajah Jenkins memucat, lalu berubah menjadi merah padam. "Anda menuduh saya mencuri? Saya telah melayani keluarga Valois sejak Grand Duke Lucien masih di buaian!" "Loyalitas pada orang tua tidak menjamin kejujuran pada istrinya," sahut Celina dingin. "Mulai hari ini, semua pengeluaran di atas sepuluh keping emas harus melalui persetujuanku. Dan aku ingin audit ulang untuk semua inventaris gudang. Jika aku menemukan satu keping saja yang hilang tanpa penjelasan, kau tidak hanya akan dipecat, tapi aku akan memastikan kau berakhir di pengadilan kerajaan atas tuduhan penggelapan." Jenkins gemetar karena marah sekaligus takut. Aura yang terpancar dari Celina begitu menekan, seolah ia sedang berhadapan dengan seorang penguasa sejati, bukan wanita gila cinta yang ia kenal. "Sekarang keluar. Dan kirimkan sekretaris pribadi Lucien, siapa namanya? Cedric? Katakan padanya aku ingin melihat jadwal harian Grand Duke." Di sisi lain kastil, di ruang kerja pribadinya, Lucien sedang menatap peta perbatasan ketika Cedric masuk dengan wajah bingung. "Yang Mulia," lapor Cedric. "Apa dia melakukan hal aneh lagi? Menangis di taman? Mencoba masuk ke kamarku?" tanya Lucien tanpa menoleh. "Tidak, Yang Mulia. Dia... sedang menginterogasi Jenkins. Dan menurut laporan yang saya terima, Jenkins keluar dari ruang kerja beliau dengan wajah sepucat mayat." Lucien meletakkan pena bulunya. Ia menoleh ke arah Cedric. "Interogasi? Celina?" "Benar. Dan beliau meminta jadwal harian Anda, Yang Mulia." Lucien terkekeh sinis. "Ah, jadi ini taktiknya. Dia ingin tahu ke mana aku pergi agar dia bisa 'kebetulan' muncul di sana dan mempermalukanku lagi dengan aktingnya yang memuakkan." "Tapi Yang Mulia, ada sesuatu yang lain," Cedric ragu sejenak. "Nyonya memerintahkan audit keuangan seluruh kediaman. Beliau menemukan kejanggalan pada biaya pemeliharaan kuda yang bahkan saya sendiri belum sempat memeriksanya." Alis mata Lucien terangkat. Ini menarik. Celina Vivianne yang ia kenal tidak bisa membedakan antara angka nol dan angka delapan jika itu menyangkut anggaran rumah tangga. Dia hanya tahu cara menghabiskan emas, bukan melacaknya. "Berikan jadwalnya," perintah Lucien tiba-tiba. "Maaf?" "Berikan jadwal harian yang dia minta. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan. Jika dia muncul di tempat aku berada, aku akan punya alasan kuat untuk mengasingkannya ke kediaman musim panas secara permanen." Malam harinya, Celina berdiri di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang di langit Eropa kuno ini. Ia memegang selembar kertas—jadwal Lucien. 06:00: Latihan pedang di lapangan belakang. 08:00: Sarapan formal. 09:00: Pertemuan dewan militer. "Latihan pedang, ya?" Celina bergumam. Ia teringat di kehidupan sebelumnya, ia adalah pemegang sabuk hitam taekwondo untuk perlindungan diri. Meski tubuh Vivianne ini lemah dan rapuh, teknik adalah segalanya. "Nyonya, apakah Anda akan pergi menemui Yang Mulia besok pagi?" tanya Mary sambil menyiapkan air hangat. Celina melirik Mary dari cermin. "Tentu saja. Tapi bukan untuk memohon cintanya." "Lalu untuk apa?" Celina tersenyum penuh rahasia. Senyum yang membuat Mary merinding. "Untuk menunjukkan padanya bahwa 'Mawar Berduri' ini sekarang punya gigi. Dan jika dia tidak hati-hati, aku akan menggigitnya sampai berdarah." Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Celina Vivianne tidur dengan nyenyak tanpa menangis, sementara di kamar sebelah, Lucien Ashford De Valois terjaga, merasa gelisah oleh perubahan atmosfir di rumahnya sendiri yang mulai terasa... tidak terkendali. ***Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i
Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl
Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".
Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i
Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se
Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah







