分享

Bab 4

作者: Leachaa1
last update publish date: 2026-04-17 22:40:50

Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial.

Celina menghabiskan tiga hari berikutnya terkunci di perpustakaan. Ia tidak hanya membaca buku sejarah, tetapi juga mempelajari peta perdagangan, hukum properti, dan sistem perpajakan kerajaan. Ia menemukan bahwa wilayah Valois sangat kaya akan sumber daya mineral, namun sistem distribusinya sangat kuno dan penuh dengan lintah darat yang berkedok pedagang grosir.

"Nyonya, ada tamu yang ingin menemui Anda," Mary masuk dengan wajah yang sedikit merona merah.

Celina tidak mengangkat wajah dari tumpukan dokumen. "Siapa? Jika itu penjahit atau penjual perhiasan, suruh mereka pergi."

"Bukan, Nyonya. Beliau adalah Baron Kael Vancewood. Beliau datang untuk mengantarkan dokumen resmi dari asosiasi perdagangan keluarga Sapphire."

Mendengar nama "Sapphire", Celina akhirnya mengangkat kepalanya. Keluarga Sapphire adalah pemain kunci dalam ekonomi kerajaan, menguasai hampir enam puluh persen distribusi barang mewah. Pertemuan dengan mereka adalah peluang emas yang tidak boleh dilewatkan.

"Bawa dia ke ruang tamu kecil. Dan Mary, siapkan teh Earl Grey dengan sedikit perasan lemon. Jangan lupa biskuit almond yang kubuat tadi pagi."

Di ruang tamu, seorang pria duduk dengan santai di sofa beludru. Kael Vancewood adalah kebalikan dari Lucien. Jika Lucien adalah badai musim dingin yang gelap, Kael adalah matahari musim semi yang hangat. Rambutnya cokelat keemasan, dan matanya berwarna madu yang tampak selalu tersenyum.

Saat Celina masuk, Kael berdiri dan melakukan penghormatan yang sangat elegan, bahkan mencium punggung tangan Celina dengan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan mawar tercantik di Valois," ucap Kael dengan suara bariton yang lembut. "Saya mendengar Anda sedang melakukan 'pembersihan' besar-besaran di kediaman ini. Berita itu sampai ke telinga saya di ibu kota."

Celina menarik tangannya dengan halus dan duduk di hadapan Kael. "Berita buruk memang selalu punya sayap, Baron Vancewood. Tapi saya lebih suka menyebutnya 're-organisasi aset'."

Kael terkekeh, matanya berkilat kagum. "Istilah yang sangat menarik bagi seorang bangsawan wanita. Biasanya mereka hanya menggunakan istilah 'belanja'. Jadi, Nyonya, apa yang membuat Anda begitu tertarik pada dokumen distribusi mineral yang saya bawa?"

Celina menyesap tehnya dengan tenang. "Saya ingin memutus kontrak dengan perantara lama dan bekerja sama langsung dengan keluarga Sapphire. Saya menawarkan hak eksklusif untuk distribusi kristal dari tambang utara Valois, asalkan Anda bersedia membiayai infrastruktur jalan menuju pelabuhan."

Kael tertegun. Tawaran itu sangat berani dan teknis. "Anda tahu bahwa itu investasi yang besar, Nyonya? Apa yang meyakinkan saya bahwa investasi ini akan menguntungkan?"

"Karena dalam enam bulan, saya akan memperkenalkan teknologi pemurnian baru yang akan membuat kristal Valois dua kali lebih jernih dari kristal mana pun di benua ini," jawab Celina dengan penuh keyakinan. Pengetahuannya sebagai CEO dari masa depan memberinya keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun.

Kael mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Celina. "Anda benar-benar menarik, Vivianne. Mengapa Lucien menyembunyikan wanita secerdas Anda di balik tembok kastil ini?"

Tepat pada saat itu, pintu ruang tamu terbuka dengan kasar.

Lucien Ashford De Valois berdiri di sana, auranya begitu gelap hingga seolah-olah suhu ruangan turun seketika. Matanya langsung tertuju pada posisi Kael yang terlalu dekat dengan istrinya.

"Baron Vancewood," suara Lucien terdengar seperti geraman rendah. "Aku tidak ingat memberikan izin bagi tamu asing untuk masuk ke sayap pribadi istriku."

Kael berdiri dengan tenang, sama sekali tidak terintimidasi. "Ah, Grand Duke. Saya hanya sedang mendiskusikan masa depan ekonomi Valois dengan istri Anda yang luar biasa. Kami baru saja mencapai kesepahaman yang sangat... intim."

Mata Lucien menyipit. Kata 'intim' seolah membakar telinganya. Ia melangkah masuk dan berdiri di samping Celina, meletakkan tangannya di sandaran kursi Celina, sebuah gerakan posesif yang bahkan tidak ia sadari.

"Urusan bisnis Valois adalah urusanku. Celina, masuk ke kamarmu," perintah Lucien tanpa menatap istrinya.

Celina justru menyilangkan kakinya dan tetap duduk. "Sayangnya tidak, Lucien. Aku sudah memiliki stempel resmi yang kau setujui kemarin. Bisnis ini adalah proyekku. Kau bisa kembali ke barakmu atau ke pertemuan dewanmu."

Lucien menunduk, menatap Celina dengan kilatan amarah dan kebingungan. "Kau berani membantahku di depan orang asing?"

"Kael bukan orang asing, dia adalah mitra bisnis potensial," sahut Celina santai. Ia kemudian menatap Kael dengan senyum manis—senyum yang tidak pernah ia berikan pada Lucien. "Terima kasih atas kunjungannya, Baron. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini besok di kantor Anda. Saya butuh suasana yang lebih... kondusif."

Kael membungkuk dalam, memberikan senyum kemenangan pada Lucien. "Dengan senang hati, Nyonya. Saya akan menantikan kehadiran Anda."

Setelah Kael keluar, ruangan itu terasa seperti akan meledak. Lucien mencengkeram lengan kursi Celina hingga kayunya berderit.

"Apa yang kau lakukan, Celina? Kau merayu pria lain untuk membalas dendam padaku?" tanya Lucien dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.

Celina berdiri, memaksa Lucien untuk mundur selangkah. "Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Lucien. Tidak semua yang kulakukan berputar di sekitarmu. Aku butuh mitra bisnis, dan Kael Vancewood adalah yang terbaik. Jika kau merasa cemburu, itu masalahmu, bukan masalahku."

"Cemburu?" Lucien tertawa sinis, meski hatinya terasa seperti ditusuk jarum. "Aku tidak mungkin cemburu pada wanita sepertimu."

"Bagus kalau begitu. Jadi kau tidak akan keberatan jika besok aku pergi ke kediaman Vancewood untuk makan siang, kan?"

Celina melangkah melewati Lucien, namun pria itu dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Tarikannya kuat namun tidak menyakiti.

"Kau tidak akan pergi ke mana-mana," desis Lucien. "Kau tetap istriku, dan aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan nama Valois dengan bermain api dengan pria seperti Vancewood."

Celina menatap tangan Lucien yang memegang lengannya, lalu menatap mata biru pria itu. "Kau tahu, Lucien? Kau mulai terdengar seperti suami yang sangat peduli. Hati-hati, nanti kau malah benar-benar jatuh cinta padaku."

Celina menyentakkan tangannya hingga terlepas dan berjalan keluar dengan langkah anggun, meninggalkan Lucien yang terpaku. Tangan Lucien mengepal, dadanya sesak oleh perasaan yang asing. Ia benci cara Kael menatap Celina, ia benci cara Celina tersenyum pada pria itu, dan yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa ia baru saja menyadari betapa cantiknya istrinya saat sedang bersikap angkuh.

Di luar ruangan, Cedric yang memperhatikan dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala. "Sepertinya, Yang Mulia sedang terbakar api yang ia nyalakan sendiri," gumamnya pelan.

***

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 98

    Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 97

    Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   BAB 96

    Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 95

    Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 94

    Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 93

    Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status