ログインLaluna Valois melangkah masuk dengan langkah cepat, melemparkan tas punggungnya ke atas sofa ruang keluarga dengan wajah tertekuk kesal."Ibu! Ayah! Kalian harus mendengar apa yang dilakukan oleh putra mahkota yang paling pintar dan menyebalkan itu di akademi hari ini!" seru Luna lantang, melipat kedua tangannya di dada dengan napas memburu.Ratu Celina, yang tengah duduk di sofa empuk sambil merajut selimut kecil untuk calon adiknya, menghentikan gerakannya. Ia menatap putrinya dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa lagi dengan kakakmu, Luna? Bukankah kalian baru saja pulang dari akademi yang sama?" tanya Celina lembut.Sebelum Luna sempat menjawab, Kayla Lightmore berjalan masuk lewat pintu utama dengan kepala tertunduk lesu. Gadis cilik berambut dikuncir kuda itu melepas sepatunya pelan-pelan, lalu berjalan merayap ke sudut ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas, berusaha menyembunyikan mata birunya yang
Kring...Suara bel perak besar di menara utama Akademi Kerajaan Valois berderit nyaring, menandakan jam istirahat siang telah dimulai. Para murid berhamburan keluar dari ruang kelas menuju koridor lantai dua yang ramai. Namun, suasana riuh itu sama sekali tidak dirasakan oleh dua orang remaja yang berdiri di dekat jendela besar koridor.Ashlan Valois menyandarkan bahunya pada dinding batu marmer dengan postur kaku dan wajah sedingin es. Di hadapannya, Kayla Lightmore berdiri dengan mata berkaca-kaca, mencengkeram erat ujung rok seragamnya."Kakak Ashlan... kenapa seminggu ini Kakak selalu menghindariku? Setiap aku menghampiri meja perpustakaan, Kakak pasti langsung pergi. Kenapa?" tanya Kayla lirih, suaranya bergetar menahan tangis.Ashlan membuang muka, menatap ke arah halaman luar tanpa menatap mata gadis itu. Suara bariton remajanya terdengar datar dan dingin, menusuk hati. "Jangan memanggilku seperti itu lagi, Kayla. Kita sudah besar. Perilaku menempel terus seperti anak kecil sud
"Cepat masuk, Keenan! Jangan berdiri di depan pintu seperti patung penjaga istana!" seru Luna tajam, melotot ke arah teman masa kecilnya itu yang masih sibuk mengagumi mainan kayu berbentuk pedang di etalase luar.Keenan Lightmore menghentikan langkahnya, buru-buru menyusul Luna sambil cengengesan. "Iya, iya, aku masuk! Astaga, Luna, sabar sedikit kenapa? Hari ini kan hari libur akademi, kita tidak perlu terburu-buru seperti mau dihukum lari keliling lapangan oleh Jenderal Cedric," bela Keenan santai, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.Di belakang mereka berdua, Ashlan Valois berjalan dengan langkah tegap, tenang, dan wajah dingin tanpa emosi. Di tangan kanannya, ia membawa kantong belanjaan kecil berisi bahan-bahan kerajinan yang baru saja mereka beli dari toko sebelah. Dan tentu saja, tepat di sampingnya, Kayla Lightmore berjalan menempel erat layaknya bayangan, menggenggam ujung lengan baju kemeja hitam Ashlan tanpa celah."Kakak Ashlan, lihat ini!" seru Kayla antusi
Di dalam ruang makan utama istana, aroma harum roti mentega panggang, telur mata sapi, dan teh hitam mawar mengepul di atas meja panjang berlapis kain putih bersih."Luna, ambilkan mangkuk selai stroberi di dekat tanganmu itu, jangan malah melamun menatap halaman luar," tegur Raja Lucien ringan sambil memotong sosis panggang di piringnya.Laluna Valois, yang mengenakan gaun pagi berenda biru muda, langsung tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru meraih mangkuk selai dan menyerahkannya kepada ayahnya sambil cengengesan. "Hehe, maaf, Ayah! Aku masih tidak percaya kalau sebentar lagi aku akan punya adik bayi! Rasanya seperti mimpi!" seru Luna antusias, matanya berbinar-binar penuh semangat.Ratu Celina, yang duduk di kursi utama dengan balutan gaun sutra hijau longgar yang nyaman, tersenyum lembut sambil menuangkan teh ke cangkir suaminya. "Ini bukan mimpi, Luna sayang. Sebentar lagi rumah ini pasti akan jauh lebih ramai dan bising dari biasanya," balas Celina penuh kasih.Di seberang mej
Di atas karpet wol tebal berwarna krem, Laluna Valois—yang kini berusia sebelas tahun—tengah merapikan tumpukan buku catatan akademinya di atas meja rendah. Sementara itu, Raja Lucien duduk bersandar di sofa beludru hijau, melonggarkan kerah kemejanya setelah seharian penuh memimpin rapat dewan menteri."Ujian sejarah militer minggu depan benar-benar membuatku pusing, Ayah," keluh Luna manja, menjatuhkan kepalanya ke atas pangkuan ibunya yang sedang duduk di sofa sebelah. Ia mengerucutkan bibirnya lucu. "Kenapa kita harus menghafal nama-nama benteng tua dari seratus tahun lalu yang sekarang bahkan sudah menjadi reruntuhan?"Ratu Celina tersenyum lembut. Tangannya yang ramping dengan penuh kasih sayang mengusai rambut ikal panjang putrinya. "Sejarah adalah fondasi sebuah kerajaan, Luna sayang. Dengan mengetahui masa lalu, kau akan belajar bagaimana kakek buyutmu mempertahankan kedamaian negeri ini," balas Celina dengan suara merdunya yang menenangkan.Lucien terkekeh pelan, meletakkan
Meja makan kayu mahoni yang panjang tampak tertata rapi dengan piring-piring porselen putih dan lilin aromaterapi di tengahnya."Keenan, cuci tanganmu sekali lagi! Jangan hanya mencelupkan ujung jarimu ke dalam mangkuk!" tegur Grand Duchess Marry dengan nada tegas namun penuh kelembutan, menatap putranya yang berusia sebelas tahun dengan sebelah alis terangkat.Keenan, yang baru saja duduk di kursinya dengan seragam rumah yang sedikit berantakan, menarik kembali tangannya sambil cengengesan. "Hehe, ampun, Ibu! Tanganku sudah bersih kok, tadi aku memakai sabun wangi milik Ayah!" bela Keenan cepat, lalu melirik sepupunya yang duduk di sebelah kanannya. "Bukan begitu, Luna?"Laluna Valois, yang mengenakan gaun rumah berwarna hijau zamrud, memutar bola matanya malas. "Jangan bawa-bawa aku, Keenan. Sudah tahu ibumu paling benci melihat tangan kotor di meja makan, kau malah sengaja mencobanya," cibir Luna tajam, mengambil serbet kain dan meletakkannya di atas pangkuannya.Di seberang meja,
Di bawah sana, mereka menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tabung-tabung penyimpanan berisi embrio dan benih tanaman yang jauh lebih banyak daripada yang dibawa Elias. Namun, di tengah ruangan, terdapat sebuah meja proyeksi yang menampilkan peta galaksi.Satu titik merah berkedip di peta i
Udara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruk
Aroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans y
Keheningan di koridor sayap barat kediaman Valois terasa mencekam setelah kepergian Lucien. Di dalam kamar, Celina Camilla yang kini harus terbiasa dipanggil Vivianne tidak membuang waktu untuk meratapi nasib. Baginya, menangisi takdir adalah pemborosan energi yang tidak masuk dalam neraca keuntunga







