로그인Suara lonceng angin perak berderit merdu, menyatu dengan gemercik air mancur batu marmer putih di teras utama Istana Valois. Sinar matahari sore memantul hangat di atas meja panjang berukir kayu mahoni yang dipenuhi piring-piring porselen berisi pai apel segar, kue mangkuk stroberi, dan teko teh porselen berukir emas."Awas, Keenan! Jangan mengambil kue mangkuk itu dengan tangan kotor! Cuci tanganmu dulu di baskom air mawar!" seru Marry Lightmore tegas, menatap putranya yang berusia lima tahun dengan sebelah alis terangkat.Keenan Lightmore menghentikan tangannya yang hampir menyentuh kue mangkuk berhias krim merah muda, lalu cengengesan sambil menarik kembali tangannya. "Hehe, maaf, Ibu! Aku terlalu bersemangat karena baunya sangat harum!" balas Keenan cepat, lalu bergeser lari kecil menuju baskom air yang disiapkan di sudut teras.Laluna Valois—yang mengenakan gaun putih berenda biru—tertawa renyah melihat tingkah sepupunya. Ia mengambil garpu kecil, lalu menoleh ke arah ibunya. "Ib
."Ingat aturan mainnya! Siapa yang tertangkap pertama kali oleh penjaga labirin, dia yang kalah dan harus mengakui kalau dirinya payah!" seru Keenan Lightmore—yang kini berusia lima tahun—sambil mengacungkan pedang mainan kayunya tinggi-tinggi ke udara.Laluna Valois, yang mengenakan gaun terusan putih berenda biru muda, berkacak pinggang menatap sepupunya dengan tatapan menantang. "Mana mungkin aku tertangkap, Keenan! Aku tahu setiap jalur di labirin ini!" balas Luna riang, lalu menarik tangan Kayla Lightmore yang berdiri di sampingnya. "Ayo, Kayla, kita sembunyi di dekat air mancur tengah!"Kayla, yang berusia empat tahun dengan rambut dikuncir dua, mengangguk antusias sambil tersenyum lebar. "Ayo! Kita sembunyikan mahkota kertas milikku supaya tidak direbut Kakak Ashlan!" serunya cadel, lalu berlari kencang mengikuti Luna memasuki lorong labirin yang dipenuhi duri-duri mawar tanpa bunga tajam.Di dekat gerbang masuk, Ashlan Valois—yang berusia enam tahun dengan setelan jas mini hi
Suara lonceng angin perak berderit merdu di teras kediaman keluarga Lightmore. Sinar matahari pagi musim panas memantul di atas permukaan lantai batu pualam yang bersih, menyinari halaman belakang tempat sarapan keluarga besar baru saja disiapkan di atas meja kayu mahoni yang panjang."Keenan, jangan berlari sambil memegang garpu! Nanti kau tersandung!" seru Marry memperingatkan putranya yang berlari kecil mengenakan seragam latihan militer miniatur.Keenan Lightmore, yang kini berusia lima tahun, menghentikan langkahnya sambil cengengesan. "Hehe, maaf, Ibu! Aku hanya ingin menunjukkan pedang kayunya pada Paman Raja!" balas Keenan riang, lalu melompat duduk di kursi sebelah adiknya.Di seberang meja, Kayla Lightmore—yang berusia empat tahun dengan rambut dikuncir dua—mengayun-ayunkan kakinya kegirangan sambil menatap piring roti mentega di depannya. "Ibu, hari ini kita ke istana besar lagi, kan? Kayla mau main dengan Kakak Ashlan!" seru Kayla antusias.Cedric Lightmore yang duduk di u
Di atas podium utama, Lucien berdiri tegak dengan jubah kebesaran keluarga kerajaan Valois berbulu ermine di pundaknya. Di sebelahnya, Celina mengenakan gaun panjang sutra putih berbordir benang emas murni dengan mahkota berlian berkilau anggun melingkar di kepala indahnya. Upacara penobatan resmi telah mengubah status mereka menjadi Raja dan Ratu Valois. "Dengan restu para leluhur dan persetujuan seluruh dewan kehormatan, ketaatan kami persembahkan kepada Yang Mulia Raja Lucien dan Ratu Celina!" seru suara ketua dewan istana menggema ke seluruh sudut ruangan. Gemuruh tepuk tangan riuh pecah seketika dari para panglima, bangsawan, dan pelayan istana yang berbaris rapi di bawah aula. Di barisan depan para bangsawan kehormatan, Cedric berdiri dengan balutan seragam militer panglima tertinggi berhiaskan lencana emas berkilau. Di sampingnya, Marry tampak anggun mengenakan gaun formal berwarna safir tua, dengan rambut cokelatnya yang disanggul rapi berhias permata kecil. Sejak hari pen
"Keenan, jangan berlari di dekat kolam! Kakimu bisa terpeleset!" seru Marry memperingatkan putranya sambil meletakkan nampan piring berisi buah segar di atas meja kayu bundar. Keenan, yang kini berusia lima tahun, menghentikan langkahnya seketika. Bocah laki-laki itu cengengesan sambil memegang pedang kayu mainannya. "Hehe, maaf, Ibu! Aku hanya mau mengejar kupu-kupu besar itu!" jawab Keenan cepat, lalu melompat riang ke arah semak-semak mawar putih. Laluna, yang duduk manis di kursi taman mengenakan gaun kuning muda, tertawa renyah melihat tingkah sepupunya. "Kupu-kupunya tidak akan tertangkap kalau kau berteriak kencang begitu, Keenan!" ledek Luna dengan suara riang, menyuapkan sepotong kue stroberi ke mulut kecilnya. Di seberang meja, Ashlan duduk dengan postur tegap sempurna. Bocah enam tahun berambut hitam itu meneguk susu hangatnya dalam diam, memasang ekspresi datar dan cuek seolah keributan di sekitarnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. *Tap... tap... tap...* Suar
Kring... churr...Suara lonceng angin perak di dekat jendela ruang makan utama paviliun Valois berderit pelan menyambut malam. Di dalam ruangan yang diterangi cahaya temaram lampu gantung kristal, meja makan panjang tampak penuh dengan berbagai hidangan lezat yang mengepulkan uap hangat.Celina duduk di kursi utama, meletakkan serbet kain di pangkuannya sambil tersenyum menatap anak-anak yang mulai mengambil tempat duduk masing-masing."Cuci tangan kalian dulu, jangan langsung memegang roti," nasihat Celina lembut kepada Keenan dan Luna yang duduk berdampingan."Sudah, Bibi Celina! Kami sudah mencuci tangan di kolam tadi!" jawab Keenan cepat, langsung menarik piring sup daging di hadapannya."Keenan, cuci tangan di wastafel dapur, bukan di kolam ikan hias Ayah," tegur Cedric tegas dari kursi sebelah, melirik putranya dengan tatapan tajam seorang panglima perang.Keenan nyengir lebar, menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hehe, air kolamnya kan bersih, Ayah..." bela Ke
Di bawah sana, mereka menemukan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan tabung-tabung penyimpanan berisi embrio dan benih tanaman yang jauh lebih banyak daripada yang dibawa Elias. Namun, di tengah ruangan, terdapat sebuah meja proyeksi yang menampilkan peta galaksi.Satu titik merah berkedip di peta i
Tiga hari kemudian, sebuah unit kecil namun sangat elit berangkat dari Ibu Kota. Tidak ada konvoi besar, tidak ada panji-panji yang berkibar. Celina dan Lucien memimpin kelompok yang terdiri dari dua puluh ksatria sayap perak dan lima teknisi kristal terbaik. Mereka tidak menuju perbatasan utama yan
Aroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans y
Keheningan di koridor sayap barat kediaman Valois terasa mencekam setelah kepergian Lucien. Di dalam kamar, Celina Camilla yang kini harus terbiasa dipanggil Vivianne tidak membuang waktu untuk meratapi nasib. Baginya, menangisi takdir adalah pemborosan energi yang tidak masuk dalam neraca keuntunga







