เข้าสู่ระบบKeesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru tua dengan aksen emas, menunjukkan otoritas dan keanggunan yang tajam.
"Mary, pastikan dokumen kontrak ini tidak lecek," perintah Celina sambil memasukkan berkas ke dalam tas kulit kecil. "Tapi Nyonya... Yang Mulia Grand Duke belum keluar dari kamarnya sejak tadi malam. Para pengawal bilang auranya sangat menakutkan," bisik Mary khawatir. Celina mengangkat bahu acuh tak acuh. "Biarkan saja. Dia pria dewasa, dia bisa mengurus emosinya sendiri." Saat Celina melangkah menuju gerbang depan di mana kereta kuda sudah menunggu, ia mendapati jalan keluarnya terhalang. Bukan oleh palang, melainkan oleh sosok tinggi tegap yang bersandar pada kereta kudanya dengan tangan bersedekap. Lucien Ashford De Valois. Dia mengenakan jubah hitam formal, terlihat sangat tampan sekaligus sangat berbahaya. "Mau ke mana?" tanya Lucien singkat. "Aku sudah bilang kemarin. Aku ada janji makan siang dengan Baron Vancewood," jawab Celina sambil mencoba melewati Lucien. Lucien tidak bergeming. "Batalkan. Aku baru saja menerima laporan bahwa ada gangguan keamanan di jalur menuju kediaman Vancewood. Sebagai suamimu, aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya." Celina menyipitkan mata. "Gangguan keamanan? Di tengah kota yang dijaga oleh ksatria elitmu? Jangan membodohiku, Lucien. Kau hanya tidak ingin aku pergi." "Aku tidak peduli kau pergi atau tidak," bohong Lucien dengan wajah datar. "Tapi reputasi Valois akan hancur jika istrinya diculik karena kecerobohannya sendiri. Jika kau bersikeras pergi, aku yang akan mengantarmu." Celina terdiam sejenak. "Kau? Mengantarku ke pertemuan bisnis dengan pria yang kau benci?" "Aku tidak membencinya. Dia terlalu tidak signifikan untuk kubenci," sahut Lucien dingin. "Ayo naik." Perjalanan di dalam kereta kuda terasa sangat menyesakkan. Tidak ada suara selain deru roda yang melindas jalanan berbatu. Lucien menatap ke luar jendela dengan wajah kaku, sementara Celina sibuk memeriksa catatan bisnisnya. "Apa yang kau tulis?" tanya Lucien akhirnya, tidak tahan dengan keheningan itu. "Strategi diversifikasi pasar," jawab Celina tanpa menoleh. "Sesuatu yang seharusnya kau pelajari agar wilayahmu tidak hanya bergantung pada pajak perang." Lucien mendengus. "Kau bicara seolah kau telah memimpin sebuah kerajaan selama puluhan tahun." "Lebih dari itu, Lucien. Aku telah memimpin sesuatu yang jauh lebih kejam dari kerajaanmu: dunia korporat masa depan," gumam Celina sangat pelan, yang hanya terdengar seperti gumaman bagi Lucien. Ketika mereka tiba di restoran mewah tempat pertemuan diadakan, Kael Vancewood sudah menunggu di balkon pribadi yang menghadap ke sungai. Wajah Kael yang awalnya ceria seketika berubah saat melihat Lucien turun dari kereta dan mengulurkan tangan (dengan sangat terpaksa) untuk membantu Celina turun. "Ah, Grand Duke. Saya tidak menyangka Anda punya banyak waktu luang untuk menjadi... sopir istri Anda?" sindir Kael dengan senyum tipis. Lucien membalas dengan tatapan tajam yang bisa membunuh. "Aku hanya memastikan tidak ada tikus kecil yang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku, Baron." Meja makan yang seharusnya hanya untuk dua orang kini menjadi meja untuk tiga orang. Atmosfer di sana begitu berat hingga pelayan yang mengantarkan makanan tangannya gemetar hebat. Celina mulai menjelaskan rencananya pada Kael. "Baron, saya ingin keluarga Sapphire mengelola logistik distribusi kristal melalui jalur laut. Ini akan memotong biaya sebesar lima belas persen dibandingkan jalur darat yang sering diganggu bandit." Kael mengangguk, terkesan. "Ide brilian. Namun, bagaimana dengan jaminan keamanan di pelabuhan?" "Itu tugas suamiku," sahut Celina sambil melirik Lucien. "Angkatan laut Valois menganggur sejak gencatan senjata tahun lalu. Mengapa tidak menggunakannya untuk mengawal kapal dagang? Itu akan memberikan pemasukan bagi militer tanpa harus berperang." Lucien tersedak anggurnya. Ia menatap Celina dengan pandangan tak percaya. "Kau ingin aku menggunakan ksatria kehormatanku untuk menjadi pengawal kapal dagang?" "Itu lebih terhormat daripada membiarkan mereka mabuk-mabukan di bar karena bosan tidak ada perang, bukan?" balas Celina tajam. Kael tertawa terbahak-bahak. "Luar biasa! Vivianne, Anda benar-benar jenius. Bagaimana kalau kita rayakan kesepakatan awal ini dengan dansa?" Kael berdiri dan mengulurkan tangannya pada Celina. Musik biola dari lantai bawah terdengar sayup-sayup, menciptakan suasana romantis. Sebelum Celina bisa merespons, Lucien sudah berdiri lebih dulu. Ia mencengkeram tangan Celina dan menariknya berdiri. "Istriku tidak berdansa dengan pria lain selain aku. Terutama dengan pria yang aroma parfumnya terlalu manis seperti wanita." "Lucien, apa yang kau—" Tanpa menunggu persetujuan, Lucien menarik Celina ke area tengah balkon dan mulai menari. Gerakannya kasar dan penuh emosi. Ia memeluk pinggang Celina dengan sangat erat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, wanita itu akan terbang ke pelukan Kael. "Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri, Lucien," bisik Celina, napasnya terasa di leher Lucien. "Diamlah," desis Lucien. "Kau bilang kau sangat menyukaiku, kan? Kau melakukan segala hal gila agar aku melirikmu. Sekarang aku sedang menatapmu, Celina. Kenapa kau justru menatap pria lain?" Celina menatap mata biru Lucien yang kini tidak lagi dingin, melainkan bergejolak seperti badai. "Itu Celina yang dulu, Lucien. Celina yang sekarang sudah sadar bahwa mengemis cinta pada batu tidak akan menghasilkan apa-apa. Sekarang aku hanya peduli pada emas dan kekuasaan." "Bohong," ucap Lucien pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Celina. "Aku bisa merasakan jantungmu berdetak kencang saat aku memegangmu. Kau masih menginginkanku." Celina tersenyum miring. "Itu bukan detak jantung karena cinta, Lucien. Itu adrenalin karena aku sedang memikirkan berapa banyak keuntungan yang akan kudapatkan setelah kesepakatan ini selesai." Lucien menghentikan dansanya secara tiba-tiba. Ia menatap Celina dengan rasa frustrasi yang memuncak. Di hadapan banyak orang di balkon itu, sang Grand Duke yang dingin itu menarik napas panjang. "Kalau begitu, aku akan membeli semua kesepakatanmu. Berapa pun yang ditawarkan Vancewood, aku akan menggandakannya. Asalkan kau berhenti menemuinya," ucap Lucien dengan suara yang cukup keras hingga Kael mendengarnya. Celina tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan meremehkan. "Kau ingin membeliku? Maaf, Lucien. Aku terlalu mahal untuk kepingan emasmu. Aku ingin kebebasan." Celina melepaskan diri dari dekapan Lucien dan menatap Kael. "Baron, kurasa pertemuan hari ini cukup sampai di sini. Suamiku sepertinya sedang butuh perhatian medis untuk egonya yang terluka." Celina berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan dua pria paling berpengaruh di kerajaan itu dalam keheningan yang memalukan. Lucien hanya bisa berdiri terpaku, mengepalkan tangannya. Rasa cemburu itu bukan lagi sekadar percikan, melainkan api besar yang mulai melahap logikanya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan, ia tidak hanya ingin memiliki tubuh Celina sebagai istrinya, ia ingin memiliki jiwa wanita baru itu sepenuhnya. ***Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i
Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl
Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".
Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i
Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se
Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah







