INICIAR SESIÓNMalam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah dokumen yang di masa depan adalah hal biasa, namun di zaman ini, adalah sebuah deklarasi perang terhadap tradisi.
Surat Permohonan Perpisahan. Celina Camilla tidak pernah percaya pada hubungan yang dipaksakan. Di dunianya yang dulu, kontrak bisnis yang merugikan harus segera diputus. Dan baginya, pernikahan dengan Lucien adalah kontrak paling buruk dalam sejarah hidupnya. Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu itu tidak sabar. Berat dan berwibawa. Celina tidak perlu bertanya siapa pelakunya. "Masuk," ucap Celina tenang. Lucien melangkah masuk dengan sisa-sisa amarah dari restoran tadi siang. Ia telah melepas jubah militernya, menyisakan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan gurat lehernya yang tegang. "Apa yang kau lakukan dengan lampu yang redup seperti ini? Merencanakan pelarian dengan Baron Sapphire itu?" sindir Lucien, suaranya serak. Celina tidak terpancing. Ia justru menggeser kertas di atas meja ke arah suaminya. "Kebetulan kau datang. Aku baru saja akan mengirimkan ini lewat Mary besok pagi. Bacalah." Lucien mengernyit. Ia melangkah maju dan mengambil kertas itu. Awalnya, ia membaca dengan skeptis, namun seiring matanya menelusuri baris demi baris, rahangnya mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. "Apa... apa maksudnya ini?" Lucien meremas pinggiran kertas itu. "Perceraian?" "Secara teknis, itu adalah permohonan pembatalan pernikahan secara kekeluargaan sebelum aku membawanya ke kuil agung," jawab Celina sambil menyandarkan punggungnya. "Kau tidak menyukaiku, dan aku tidak punya waktu untuk mengurus kebencianmu. Aku sudah mengatur pembagian harta. Aku hanya akan mengambil mahar dari keluarga Cavendish dan sepuluh persen dari keuntungan bisnis kristal yang aku rintis. Kau bisa menyimpan sisanya." Lucien tertawa, tapi itu adalah suara tawa yang paling mengerikan yang pernah Celina dengar. "Kau pikir pernikahan ini adalah transaksi pasar? Kau pikir kau bisa masuk ke hidupku, membuat kekacauan, membuatku hampir gila karena tingkah lakumu, lalu pergi begitu saja saat kau merasa bosan?" "Bukankah ini yang kau inginkan?" Celina berdiri, menatap langsung ke mata biru yang kini berkilat seperti api. "Tiga tahun, Lucien. Tiga tahun kau memperlakukanku seperti sampah. Kau mengabaikanku, menghinaku di depan umum, dan bahkan tidak melirik saat aku hampir mati. Sekarang, aku memberimu kebebasan yang selalu kau impikan. Kau harusnya berterima kasih." Lucien melangkah maju, mempersempit jarak hingga Celina terdesak ke pinggiran meja. Aura intimidasi sang Grand Duke meledak sepenuhnya. "Kebebasan?" desis Lucien. Ia mengangkat tangan, bukan untuk memukul, melainkan untuk mencengkeram permukaan meja di kedua sisi tubuh Celina, mengurungnya. "Dulu aku memang menginginkanmu pergi. Tapi wanita yang ingin kuusir adalah wanita yang menangis dan memohon cintaku. Bukan wanita yang menatapku dengan mata sedingin es dan bernegosiasi soal harta!" "Apa bedanya? Aku tetap Celina!" "Kau bukan dia!" teriak Lucien, suaranya menggelegar di ruangan itu. "Celina yang kukenal tidak tahu cara memegang pedang. Dia tidak tahu cara berbisnis. Dan dia... dia tidak akan pernah menatap pria lain selain aku. Siapa kau sebenarnya?" Celina terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut, melainkan karena tantangan adrenalin. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman provokatif yang membuat Lucien semakin kehilangan kendali. "Siapa aku tidak penting. Yang penting adalah wanita yang berdiri di depanmu ini tidak mencintaimu, Lucien. Jadi, tanda tangani surat itu." Lucien menatap surat itu, lalu menatap Celina. Dengan gerakan kasar, ia mengambil surat tersebut dan menyulutnya pada api lilin di atas meja. "Lucien! Apa yang kau lakukan?!" Lucien membiarkan api melahap kertas itu hingga menjadi abu di lantai marmer. "Aku tidak akan pernah menandatanganinya. Kau ingin cerai? Dalam mimpimu pun tidak akan terjadi." "Kau gila! Kau membenciku!" "Ya, aku membencimu!" Lucien merenggut pinggang Celina, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan rapat. "Aku benci bagaimana kau mengubah suasana di rumah ini. Aku benci bagaimana kau membuat ksatria-ksatriaku mengagumimu. Dan aku benci setengah mati saat kau tersenyum pada Kael Vancewood seolah dia adalah pahlawanmu!" Lucien menundukkan wajahnya, napasnya yang panas menerpa kulit wajah Celina. "Kau adalah Grand Duchess Valois. Milikku. Jika aku harus mengurungmu di menara tertinggi agar kau tidak bisa melihat matahari lagi, aku akan melakukannya. Tapi kau tidak akan pernah pergi dariku." Celina terengah, ia bisa merasakan kemarahan sekaligus... sesuatu yang lain dari tubuh Lucien. Sesuatu yang menyerupai rasa takut kehilangan. "Kau tidak bisa memilikiku hanya dengan paksaan, Lucien." "Akan kubuktikan kau salah," bisik Lucien. "Mulai besok, pengawal pribadiku akan menjagamu dua puluh empat jam. Kau dilarang keluar dari gerbang kastil tanpa seizinku. Dan soal bisnismu... aku sendiri yang akan menjadi mitramu. Kau tidak butuh Baron rendahan itu." Lucien melepaskan cengkeramannya, berbalik, dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti tanpa menoleh. "Jangan pernah berpikir untuk menulis surat itu lagi, Celina. Karena setiap kali kau menulisnya, aku akan menghancurkan apa pun yang kau cintai agar kau tetap menatapku. Bahkan jika itu artinya aku harus menjadi iblis di matamu." BRAAAKKK! Pintu terbanting menutup. Celina berdiri mematung di tengah ruangan yang kini berantakan dengan abu kertas. Ia menyentuh pinggangnya yang masih terasa panas akibat sentuhan Lucien. "Dia benar-benar gila," gumam Celina. Namun, anehnya, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Tapi setidaknya, sekarang dia tidak lagi mengabaikanku. Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Lucien." Di balik pintu, Lucien menyandarkan kepalanya pada dinding lorong. Tangannya gemetar. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak lagi memegang kendali atas hatinya sendiri. Ia takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penguasa perang itu merasa takut hanya karena selembar kertas.Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i
Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl
Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".
Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i
Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se
Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah







