LOGINKastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika hanya untuk sekadar mengambil buku di perpustakaan.
Celina duduk di meja makan pagi yang panjangnya sepuluh meter. Biasanya, ia makan sendirian karena Lucien selalu berangkat ke barak militer sebelum fajar. Namun pagi ini, sosok pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan pakaian sipil berbahan sutra gelap yang membuatnya tampak lebih santai namun tetap mengintimidasi. "Mengapa kau masih di sini?" tanya Celina sambil mengiris roti panggangnya dengan gerakan mekanis. "Bukankah ada pemberontakan kecil di perbatasan yang harus kau penggal?" Lucien menyesap kopinya, matanya tidak lepas dari sosok Celina. "Urusan perbatasan bisa menunggu. Urusan di dalam rumah jauh lebih mendesak." "Urusan apa? Menghalangi jalanku lagi?" Lucien memberi isyarat pada pelayan. Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk membawa kotak-kotak besar yang dibungkus kain beludru. Satu per satu kotak dibuka di depan Celina. Isinya adalah sutra-sutra terbaik dari Timur, permata merah delima yang ukurannya sebesar mata burung puyuh, dan botol-botol parfum langka. "Apa ini? Kau mencoba menyuapku?" Celina menatap tumpukan harta itu dengan pandangan bosan. "Ini bukan suap," jawab Lucien datar. "Aku mendengar kau ingin membangun pabrik kristal. Kau butuh modal awal. Ambil perhiasan ini, jual atau gadaikan terserah kau. Tapi dengan satu syarat." Celina meletakkan pisaunya, mulai tertarik. "Syarat apa?" "Batalkan pertemuanmu dengan Kael Vancewood secara permanen. Jika kau butuh koneksi distribusi, gunakan jaringan militerku. Aku punya akses ke pelabuhan mana pun tanpa harus membayar pajak pada keluarga Sapphire." Celina tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding ruang makan yang sunyi. "Lucien, kau sungguh tidak mengerti bisnis, ya? Menggunakan jalur militer untuk perdagangan sipil adalah pelanggaran protokol kerajaan. Kau ingin aku berakhir di penjara bawah tanah istana?" Wajah Lucien mengeras. "Aku adalah hukum di wilayah ini. Tidak ada yang berani menyentuhmu." "Dan itulah masalahnya," sahut Celina sambil berdiri. "Aku tidak ingin menjadi bayanganmu, Lucien. Aku ingin menjadi matahari yang berdiri sendiri. Simpan saja permatamu. Aku lebih suka mencari uang dengan keringatku sendiri daripada menjadi 'peliharaan' yang kau beri makan emas." Celina melangkah pergi, namun ia berhenti sejenak di samping Cedric. "Cedric, katakan pada tuanmu, jika dia ingin merayu wanita, cara kuno seperti ini hanya berhasil pada wanita yang tidak punya otak. Dan sayangnya bagi dia, aku punya otak yang cukup besar untuk menghitung berapa banyak kerugian yang dia buat pagi ini karena membolos kerja." Cedric menunduk dalam, mencoba menahan senyum agar tidak terlihat oleh Lucien. Siang harinya, Celina mencoba mencari celah untuk keluar dari kastil. Ia tahu Kael Vancewood pasti sedang menunggunya di titik pertemuan rahasia—sebuah kedai teh kecil di pinggiran kota yang mereka sepakati melalui surat yang diselundupkan oleh Mary. "Cedric," panggil Celina saat mereka berjalan di taman labirin. "Apakah kau tidak lelah mengikutiku? Kau adalah ksatria berbakat. Tidakkah kau merasa terhina hanya menjadi pengasuh wanita?" Cedric menatap lurus ke depan. "Perintah Grand Duke adalah mutlak bagi saya, Nyonya." "Bagaimana jika aku memberimu perintah yang lebih menarik? Bantu aku keluar selama dua jam, dan aku akan memberikanmu formula untuk memperkuat baja pedang yang kupelajari dari buku kuno." Cedric tampak ragu sejenak. Ia tahu betapa terobsesinya para ksatria pada kualitas pedang. Namun, ia menggeleng. "Kesetiaan saya tidak bisa dibeli dengan formula baja, Nyonya." "Hm, kaku sekali," gumam Celina. Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat dari balik tembok taman dan menancap di pohon tepat di samping kepala Celina. Anak panah itu tidak membawa mata pisau tajam, melainkan selembar kain biru kecil—warna keluarga Sapphire. Cedric langsung menghunus pedangnya, melindungi Celina. "Ada penyusup!" "Tunggu, jangan menyerang!" teriak Celina. Ia mengambil kain itu. Di dalamnya tertulis: 'Gerbang belakang pelayan, pukul empat sore. Kereta tanpa lambang akan menunggumu. Kebebasan sudah dekat, Vivianne.' Celina meremas kain itu dalam genggamannya. Kael Vancewood benar-benar nekat. Pria itu menantang maut dengan mendekati wilayah kekuasaan Lucien. Pukul empat sore, Celina berhasil mengecoh Mary dengan berpura-pura tidur siang. Ia mengenakan pakaian pelayan yang sederhana dan menyelinap melalui lorong dapur yang lembap. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut pada Lucien, melainkan karena adrenalin dari sebuah pelarian. Namun, tepat saat ia mencapai gerbang belakang, langkahnya terhenti. Bukan kereta Kael yang menunggunya di sana. Melainkan Lucien, yang duduk di atas kuda hitamnya yang besar, memegang tali kekang kereta tanpa lambang yang dimaksud Kael. Di sampingnya, Kael Vancewood berdiri dengan tangan terikat dan wajah yang sedikit lebam, dijaga oleh dua ksatria Valois. "Mencari ini, Istriku?" tanya Lucien, suaranya sedingin es yang retak. Celina mematung. Rencananya gagal total. "Lucien, lepaskan dia! Ini tidak ada hubungannya dengan Kael!" teriak Celina, melepaskan topeng ketenangannya. Lucien turun dari kudanya, melangkah mendekati Celina dengan aura predator yang lapar. Ia mencengkeram rahang Celina dengan lembut namun memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat penuh amarah dan luka. "Kau mencoba melarikan diri dengannya?" bisik Lucien. "Setelah semua yang kuberikan? Kau lebih memilih Baron yang lemah ini daripada aku?" "Aku tidak melarikan diri dengannya untuk cinta! Aku pergi untuk bekerja!" bela Celina. Lucien mengabaikan penjelasan itu. Ia berpaling pada Kael. "Baron Vancewood, aku bisa saja membunuhmu sekarang karena mencoba menculik Grand Duchess. Tapi itu terlalu mudah. Aku akan menghancurkan seluruh bisnismu, kapal-kapalmu, dan nama keluargamu sampai kau tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan pada istriku." "Kau tidak akan bisa menjauhkan jiwanya darimu, Lucien!" teriak Kael sambil meringis kesakitan. "Dia membencimu!" Lucien menarik Celina masuk ke dalam pelukannya secara paksa, membelakangi Kael. "Biarkan dia membenciku. Selama dia membenciku di dalam kamarku, di bawah pengawasanku, itu sudah cukup bagiku." Lucien menggendong Celina di pundaknya seperti barang jarahan perang, mengabaikan protes dan pukulan tangan mungil Celina di punggungnya. "Mulai hari ini," ucap Lucien pada seluruh pengawalnya. "Grand Duchess tidak diizinkan meninggalkan kamar utamanya. Siapa pun yang membantunya keluar, kepalanya akan digantung di gerbang kastil. Termasuk kau, Mary." Celina yang berada di pundak Lucien hanya bisa menggertakkan gigi. Pria ini benar-benar monster, batinnya. Namun, di tengah amarahnya, ia menyadari satu hal: Lucien sedang gemetar. Pria yang tak takut pada ribuan pasukan musuh itu, sedang gemetar ketakutan hanya karena mengira ia akan pergi.Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i
Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl
Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".
Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i
Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se
Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah







