LOGINSaat aku larut dalam pikiran yang menyakitkan, terdengar suara pintu terbuka.Suamiku pulang kerja. Dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, menggantung tas dan mengganti sendal. Melihat aku sudah pulang lebih awal, dia pun bertanya, “Kok kamu pulang lebih cepat hari ini?”Aku tak berani mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun, hal ini terlalu memalukan untuk diungkapkan.“Oh, hari ini ada acara makan bersama di kantor, jadi aku pulang lebih awal.”Suamiku tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam.Tak lama kemudian, Peter menghubungiku dan mengajakku bertemu.Aku pamit sebentar pada suamiku, lalu keluar.Begitu bertemu, Peter langsung bicara terus terang.“Aku sudah telusuri, video itu direkam dari kursi belakang. Dari sudut dan pencahayaannya, jelas bukan kamera mobil. Kamera mobil nggak mungkin bisa merekam adegan itu.”“Sepertinya ada kamera tersembunyi yang dipasang di dalam mobil dan orang yang paling mungkin melakukannya adalah sua
Peter menyuruhku latihan berturut-turut sampai tiga kali, sampai dia benar-benar yakin aku sudah bisa menyelesaikan semua tahapan sendiri.Barulah dia menghela napas lega, sudut bibirnya terangkat dan tersenyum puas.Lalu dia menarikku ke dalam pelukannya, tangannya bergerak menyusuri tubuhku. Panas dari telapak tangannya menembus kulitku, membuat seluruh tubuhku terasa bergejolak.“Kamu nggak takut lagi kalau suamimu tahu?” tanya Peter sambil meremas bagian dadaku.Begitu menyebut suamiku, amarahku langsung memuncak. Bukan hanya karena dia tak peduli pada perasaanku, tapi benda miliknya pun tidak ada apa-apanya dibanding dengan Peter. Menikah dengannya benar-benar seperti menikah dengan anjing, bahkan anjing mungkin lebih keras darinya.Mendengar itu, Peter langsung tertawa terbahak-bahak.“Dia benar-benar seperti ulat, ya? Lucu sekali. Lain kali kalau makan bersamanya, aku harus menanyakannya langsung.”Aku langsung menutup mulutnya, wajahku memerah, “Jangan pernah bilang itu pada su
Dibandingkan dengan Peter, benar-benar beda total.Aku berkata dengan sinis, “Sudah selesai? Aku harus lanjut latihan besok, mau tidur lebih awal.”Dia berguling turun dari tubuhku sambil terengah-engah, melirikku sekilas dengan nada tidak puas, “Kok kamu dingin sekali hari ini?”Aku tak menjawab dan langsung membalikkan badan untuk tidur.Keesokan harinya, aku sengaja mengenakan rok yang sangat pendek.Mengingat sosok kekar Peter, aku memilih memakai thong yang lebih longgar.Tak perlu dilepas, cukup digeser sedikit ke samping, maka bagian pribadiku akan langsung terekspos, sangat praktis untuk beraksi.Aku berdiri di depan cermin, merapikan lipatan rokku dengan teliti sambil merasakan detak jantung yang semakin kuat. Terbayang di benakku tangan-tangan kuat Peter yang memegang setir.Astaga, aku sendiri heran melihat perubahanku. Kemarin aku masih seorang istri yang penurut, tapi hari ini malah menjadi begitu agresif. Perubahan manusia memang bisa terjadi begitu cepat.Setibanya di t
Tiba-tiba, Peter menurunkanku, membuatku terduduk keras tepat di atasnya.Terdengar suara yang jelas, langsung masuk tanpa melesat.Seketika, sekujur tubuhku merasakan sensasi kenikmatan yang meledak-ledak.Semua rasa tertekan, sakit dan tidak nyaman yang kurasakan tadi langsung sirna saat itu juga.Seberapa menderita aku sebelumnya, sebanyak itu juga kebahagiaan yang kurasakan saat ini.Tubuhku tidak pernah segila ini sebelumnya.Aku duduk di atas Peter, berguncang dengan hebat.Peter benar-benar sangat kuat, jauh lebih hebat dibandingkan suamiku yang tak berguna itu.Ternyata menjadi seorang wanita bisa sebahagia ini, rasanya dua puluh tahun hidupku selama ini sia-sia.Peter terengah-engah, berkali-kali melontarkan pujian,“Kamu ketat sekali, aku belum pernah merasakan wanita seketat dirimu.”Sebenarnya bukan karena aku terlalu ketat, tapi karena suamiku terlalu payah, kecil seperti ulat.Meski sudah menikah, aku masih merasa seperti gadis remaja yang belum pernah dibuka, seluruh tub
“Pak Peter, bisakah kita jalankan mobilnya sekarang?”Namun, satu tangan Peter malah menyelinap masuk ke balik kerah bajuku, lalu meremas bagian lembut di dadaku dengan kuat.“Suamimu tahu kalau kamu sesensitif ini? Dia benar-benar beruntung bisa menikahi istri secantik dirimu.”Perlakuan itu membuat tubuhku melemas seketika. Aku ingin marah, tapi entah kenapa malah tak bisa.“Pak Peter, kamu berani sekali. Kamu nggak takut kalau suamiku tahu?”Aku mencoba menepis tangannya dan merapikan pakaianku.Namun, Peter malah semakin berani. Dia mengeluarkan benda miliknya dan menempelkannya tepat di bawahku.Napasku tertahan, jantungku berdebar keras. Benda panas itu menempel erat di bagian tubuhku yang paling sensitif. Aku mengenakan rok mini dan di baliknya hanya ada lapisan celana dalam yang sangat tipis!Sentakan itu terasa seolah menembus hingga ke titik terdalam sensitifku.“Aku dan John sudah berteman begitu lama. Menurutmu, dia bakal lebih percaya padaku atau padamu?”Sambil menyering
Namaku Wenny. Baru-baru ini, perusahaan menugaskanku untuk melakukan perjalanan dinas, jadi aku memutuskan untuk membuat SIM.Kebetulan teman suamiku, Peter adalah seorang instruktur mengemudi dan dia tak memungut biaya dariku. Pada hari latihan, suamiku menyarankan agar aku berpakaian menarik.Bagaimanapun, istri adalah wajah suaminya di luar.Aku pun berpikir sejenak, lalu mengenakan rok pendek ketat yang dibelikan suamiku, yang membentuk jelas bokongku yang besar dan bulat. Sementara bagian dada yang penuh bergoyang setiap kali aku melangkah, seperti riak air.Mata suamiku langsung terpaku, dia memujiku tanpa henti.“Bagus! Kamu cantik sekali pakai ini! Temanku pasti iri setengah mati!”Aku mendengus kesal sambil berkata, “Kamu nggak takut istrimu dilirik pria lain?”Setelah mengenakan stoking, aku pun berangkat ke lembaga kursus mengemudi.Sesampainya di depan mobil Peter, aku membungkuk dan mengetuk kaca jendela.“Pak Peter, aku datang untuk belajar mengemudi.”Peter menurunkan k







