Share

Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi
Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Wenny. Baru-baru ini, perusahaan menugaskanku untuk melakukan perjalanan dinas, jadi aku memutuskan untuk membuat SIM.

Kebetulan teman suamiku, Peter adalah seorang instruktur mengemudi dan dia tak memungut biaya dariku.

Pada hari latihan, suamiku menyarankan agar aku berpakaian menarik.

Bagaimanapun, istri adalah wajah suaminya di luar.

Aku pun berpikir sejenak, lalu mengenakan rok pendek ketat yang dibelikan suamiku, yang membentuk jelas bokongku yang besar dan bulat. Sementara bagian dada yang penuh bergoyang setiap kali aku melangkah, seperti riak air.

Mata suamiku langsung terpaku, dia memujiku tanpa henti.

“Bagus! Kamu cantik sekali pakai ini! Temanku pasti iri setengah mati!”

Aku mendengus kesal sambil berkata, “Kamu nggak takut istrimu dilirik pria lain?”

Setelah mengenakan stoking, aku pun berangkat ke lembaga kursus mengemudi.

Sesampainya di depan mobil Peter, aku membungkuk dan mengetuk kaca jendela.

“Pak Peter, aku datang untuk belajar mengemudi.”

Peter menurunkan kaca jendela dan tatapan matanya langsung tertuju padaku.

Aku menunduk dan baru menyadari bahwa saat membungkuk tadi, pakaianku terbuka dan memperlihatkan bagian putih yang cukup luas.

Aku buru-buru menutupinya dengan tangan.

“Kau Wenny, ya? Ayo, cepat naik. Suamimu itu teman baikku, aku pasti akan mengajarmu dengan sungguh-sungguh. Aku jamin sekali tes akan langsung lulus.”

Setelah duduk di kursi penumpang depan, dia menepuk pahaku.

“Perhatikan baik-baik. Kaki kiri injak di sini, kaki kanan dilepas, mobil akan mulai jalan. Saat mobil mulai bergetar, itu namanya setengah kopling.”

“Kamu coba sekarang.”

Saat aku menginjak kopling, karena tak bisa mengatur tenaga dengan baik, mesin mobil malah mati.

Aku mencoba beberapa kali, tapi mesin tetap saja mati.

Peter terlihat tidak sabar. Dia langsung meletakkan satu tangannya di pahaku.

Entah hanya perasaanku atau bukan, telapak tangannya yang lebar seolah sengaja menggesek pahaku yang dibalut stoking. Seketika, tubuhku langsung menegang.

“Aku akan mengajarmu cara mengatur tekanannya. Begitu tanganku memberi isyarat, kamu lepaskan rem.”

Kontak sedekat itu membuatku semakin gugup.

Dengan suara ragu, aku berkata, “Pak, sepertinya kurang pantas begini? Suamiku itu teman baikmu, tapi kamu malah menyentuh pahaku begini….”

Dia malah tertawa lepas, “Takut apa? Justru karena kamu istri temanku, aku ingin benar-benar mengajarimu. Aku bukan sengaja bermacam-macam. Murid lain bahkan belum tentu dapat penjelasan sedetail ini.”

Aku pun merasa lebih tenang dan kembali menginjak kopling di bawah arahannya.

Mobil mulai bergetar perlahan. Tiba-tiba telapak tangannya menekan lebih kuat, mencengkeram pahaku.

“Jangan gerakan kaki dulu. Di titik ini, lalu pelan-pelan lepaskan rem.”

Seumur hidupku, ini pertama kalinya pahaku disentuh pria lain selain suamiku. Bahkan melalui stoking pun, aku bisa merasakan hangat telapak tangannya, memunculkan getaran aneh di dalam hati.

Karena gugup, aku melepas rem terlalu cepat dan mobil langsung melesat maju.

Peter tiba-tiba menginjak rem di kursi penumpang depan dengan kuat, membuat seluruh tubuhku terdorong ke depan karena dorongan yang kuat.

Tangannya tepat menyentuh bagian bawah rokku! Seketika, seluruh tubuhku seperti tersengat listrik, terasa geli.

Ini benar-benar memalukan!

Peter pun segera menarik tangannya dan menatapku.

“Kaki harus dilepas pelan-pelan. Jangan gugup, coba lagi.”

Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan akhirnya mobil bisa berjalan.

Berikutnya adalah latihan parkir mundur.

Ini benar-benar menyulitkanku. Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi tetap tidak bisa masuk.

Kalau tidak melindas garis, posisinya miring. Tidak ada satu pun yang berhasil.

Peter melihatnya sambil menggelengkan kepala, “Dengan kemampuan seperti ini, sepertinya sepuluh tahun pun belum tentu bisa.”

Mendengar itu, aku jadi panik.

“Lalu bagaimana? Aku sudah mulai sering dinas keluar kota bulan depan, nggak bisa menyetir jelas nggak mungkin.”

Peter mengusap dagunya, lalu menatapku dengan sorot mata yang menggoda.”

“Ada caranya. Kamu duduk di pangkuanku, aku mengajarkanmu langsung. Dijamin cepat bisa.”

Aku terkejut. Duduk di pangkuannya rasanya terlalu intim. Kalau sampai suamiku tahu, dia pasti akan berpikiran aneh-aneh.

“Sepertinya… kurang pantas. Duduk di pangkuanmu, nggak terasa terlalu dekat? Sepertinya suamiku nggak akan setuju.

Melihat reaksiku, Peter langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon suamiku.

“Halo, John. Istrimu sudah belajar tiga jam, tapi masih belum bisa juga. Aku mau menyuruhnya duduk di pangkuanku supaya aku bisa mengajarinya langsung. Kamu setuju, nggak?”

Tak disangka, suamiku langsung menyetujuinya tanpa ragu.

“Aku percaya caramu. Selama dia bisa menyetir, duduk di pangkuan itu bukan masalah.”

Usai bicara, Peter langsung menutup teleponnya.

Terasa seperti ada api yang menyala di hatiku. Kok suamiku bisa sebegitu santainya? Istrinya duduk di pangkuan pria lain, dia pun tidak peduli?

Kalau begitu, aku juga tak perlu begitu menjaga diri.

Dengan perasaan ingin membalas suamiku, aku pun duduk di pangkuan Peter.

Aku sengaja menggeser pinggul ke belakang, hingga bisa merasakan sesuatu yang keras menekanku.

Seketika, wajahku langsung memerah. Peter benar-benar luar biasa, rasanya sangat keras.

Tidak seperti suamiku yang lemas, sudah lama tidak memberiku kebahagiaan sebagai seorang wanita.

Kedua tanganku memegang setir dan Peter langsung memegang tanganku untuk mengajari cara memutar setir.

Dia menyalakan mobil dan sengaja menahannya di setengah kopling, sehingga mobil bergetar dengan hebat.

Seiring dengan getaran mobil, benda itu terus-menerus menekan tubuhku dengan kuat.

Sensasinya sungguh memicu adrenalin. Wajahku memerah sampai ke telinga, seluruh tubuhku terasa panas, seolah-olah ada semut yang merayap di dalam.

Aku tidak tahan lagi dan mengeluarkan rintihan pelan yang tertahan.

“Uh… hm….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 6

    Saat aku larut dalam pikiran yang menyakitkan, terdengar suara pintu terbuka.Suamiku pulang kerja. Dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, menggantung tas dan mengganti sendal. Melihat aku sudah pulang lebih awal, dia pun bertanya, “Kok kamu pulang lebih cepat hari ini?”Aku tak berani mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun, hal ini terlalu memalukan untuk diungkapkan.“Oh, hari ini ada acara makan bersama di kantor, jadi aku pulang lebih awal.”Suamiku tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam.Tak lama kemudian, Peter menghubungiku dan mengajakku bertemu.Aku pamit sebentar pada suamiku, lalu keluar.Begitu bertemu, Peter langsung bicara terus terang.“Aku sudah telusuri, video itu direkam dari kursi belakang. Dari sudut dan pencahayaannya, jelas bukan kamera mobil. Kamera mobil nggak mungkin bisa merekam adegan itu.”“Sepertinya ada kamera tersembunyi yang dipasang di dalam mobil dan orang yang paling mungkin melakukannya adalah sua

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 5

    Peter menyuruhku latihan berturut-turut sampai tiga kali, sampai dia benar-benar yakin aku sudah bisa menyelesaikan semua tahapan sendiri.Barulah dia menghela napas lega, sudut bibirnya terangkat dan tersenyum puas.Lalu dia menarikku ke dalam pelukannya, tangannya bergerak menyusuri tubuhku. Panas dari telapak tangannya menembus kulitku, membuat seluruh tubuhku terasa bergejolak.“Kamu nggak takut lagi kalau suamimu tahu?” tanya Peter sambil meremas bagian dadaku.Begitu menyebut suamiku, amarahku langsung memuncak. Bukan hanya karena dia tak peduli pada perasaanku, tapi benda miliknya pun tidak ada apa-apanya dibanding dengan Peter. Menikah dengannya benar-benar seperti menikah dengan anjing, bahkan anjing mungkin lebih keras darinya.Mendengar itu, Peter langsung tertawa terbahak-bahak.“Dia benar-benar seperti ulat, ya? Lucu sekali. Lain kali kalau makan bersamanya, aku harus menanyakannya langsung.”Aku langsung menutup mulutnya, wajahku memerah, “Jangan pernah bilang itu pada su

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 4

    Dibandingkan dengan Peter, benar-benar beda total.Aku berkata dengan sinis, “Sudah selesai? Aku harus lanjut latihan besok, mau tidur lebih awal.”Dia berguling turun dari tubuhku sambil terengah-engah, melirikku sekilas dengan nada tidak puas, “Kok kamu dingin sekali hari ini?”Aku tak menjawab dan langsung membalikkan badan untuk tidur.Keesokan harinya, aku sengaja mengenakan rok yang sangat pendek.Mengingat sosok kekar Peter, aku memilih memakai thong yang lebih longgar.Tak perlu dilepas, cukup digeser sedikit ke samping, maka bagian pribadiku akan langsung terekspos, sangat praktis untuk beraksi.Aku berdiri di depan cermin, merapikan lipatan rokku dengan teliti sambil merasakan detak jantung yang semakin kuat. Terbayang di benakku tangan-tangan kuat Peter yang memegang setir.Astaga, aku sendiri heran melihat perubahanku. Kemarin aku masih seorang istri yang penurut, tapi hari ini malah menjadi begitu agresif. Perubahan manusia memang bisa terjadi begitu cepat.Setibanya di t

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 3

    Tiba-tiba, Peter menurunkanku, membuatku terduduk keras tepat di atasnya.Terdengar suara yang jelas, langsung masuk tanpa melesat.Seketika, sekujur tubuhku merasakan sensasi kenikmatan yang meledak-ledak.Semua rasa tertekan, sakit dan tidak nyaman yang kurasakan tadi langsung sirna saat itu juga.Seberapa menderita aku sebelumnya, sebanyak itu juga kebahagiaan yang kurasakan saat ini.Tubuhku tidak pernah segila ini sebelumnya.Aku duduk di atas Peter, berguncang dengan hebat.Peter benar-benar sangat kuat, jauh lebih hebat dibandingkan suamiku yang tak berguna itu.Ternyata menjadi seorang wanita bisa sebahagia ini, rasanya dua puluh tahun hidupku selama ini sia-sia.Peter terengah-engah, berkali-kali melontarkan pujian,“Kamu ketat sekali, aku belum pernah merasakan wanita seketat dirimu.”Sebenarnya bukan karena aku terlalu ketat, tapi karena suamiku terlalu payah, kecil seperti ulat.Meski sudah menikah, aku masih merasa seperti gadis remaja yang belum pernah dibuka, seluruh tub

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 2

    “Pak Peter, bisakah kita jalankan mobilnya sekarang?”Namun, satu tangan Peter malah menyelinap masuk ke balik kerah bajuku, lalu meremas bagian lembut di dadaku dengan kuat.“Suamimu tahu kalau kamu sesensitif ini? Dia benar-benar beruntung bisa menikahi istri secantik dirimu.”Perlakuan itu membuat tubuhku melemas seketika. Aku ingin marah, tapi entah kenapa malah tak bisa.“Pak Peter, kamu berani sekali. Kamu nggak takut kalau suamiku tahu?”Aku mencoba menepis tangannya dan merapikan pakaianku.Namun, Peter malah semakin berani. Dia mengeluarkan benda miliknya dan menempelkannya tepat di bawahku.Napasku tertahan, jantungku berdebar keras. Benda panas itu menempel erat di bagian tubuhku yang paling sensitif. Aku mengenakan rok mini dan di baliknya hanya ada lapisan celana dalam yang sangat tipis!Sentakan itu terasa seolah menembus hingga ke titik terdalam sensitifku.“Aku dan John sudah berteman begitu lama. Menurutmu, dia bakal lebih percaya padaku atau padamu?”Sambil menyering

  • Latihan Terlarang Bersama Instruktur Pengemudi   Bab 1

    Namaku Wenny. Baru-baru ini, perusahaan menugaskanku untuk melakukan perjalanan dinas, jadi aku memutuskan untuk membuat SIM.Kebetulan teman suamiku, Peter adalah seorang instruktur mengemudi dan dia tak memungut biaya dariku. Pada hari latihan, suamiku menyarankan agar aku berpakaian menarik.Bagaimanapun, istri adalah wajah suaminya di luar.Aku pun berpikir sejenak, lalu mengenakan rok pendek ketat yang dibelikan suamiku, yang membentuk jelas bokongku yang besar dan bulat. Sementara bagian dada yang penuh bergoyang setiap kali aku melangkah, seperti riak air.Mata suamiku langsung terpaku, dia memujiku tanpa henti.“Bagus! Kamu cantik sekali pakai ini! Temanku pasti iri setengah mati!”Aku mendengus kesal sambil berkata, “Kamu nggak takut istrimu dilirik pria lain?”Setelah mengenakan stoking, aku pun berangkat ke lembaga kursus mengemudi.Sesampainya di depan mobil Peter, aku membungkuk dan mengetuk kaca jendela.“Pak Peter, aku datang untuk belajar mengemudi.”Peter menurunkan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status