Se connecterBab 2
Attaya miring ke kanan, lalu miring ke kiri, kemudian terlentang, lalu miring ke kanan lagi, dimana Axel sedang tidur nyenyak, dengan wajah tanpa dosanya. Hatinya semakin teriris melihat sosok Satria versi mungil di depannya ini. Bagaimana mungkin dia sanggup berpisah dengan bocah yang selalu bersamanya ini? Membayangkan saja rasanya sudah membuat dadanya sesak luar biasa. "Dengar Attaya, masa depan Axel akan lebih terjamin kalau bersamaku. Aku bisa mencukupi semua kebutuhannya, karena aku punya penghasilan. Sedang kamu? Kamu nggak kerja, kalau pun kerja nanti Exel juga kamu titipkan ke orang lain. Bukannya lebih baik dia bersamaku, dari pada orang lain?" Kalimat yang dilontarkan Satri kembali terngiang di kepala Attaya. Ya, dia memang harus kerja untuk menafkahi dirinya sendiri dan anaknya. Tidak mungkin Attaya bergantung pada kedua orang tuanya, dan kalau dia bekerja tidak mungkin dia bawa anaknya itu berarti ucapan Satria benar. Attaya pusing memikirkan itu semua. Dan yang lebih membuat kepala Attaya sakit luar biasa, adalah keputusan Satria yang tiba-tiba menceraikannya. Tiga tahun kebersamaan mereka semaunya baik-baik saja, tidak ada yang aneh, tidak ada yang janggal. Satria juga bukan tipe pria yang suka tebar pesona pada banyak wanita. Pria itu cenderung menutup diri pada perempuan, bahkan Attaya nyaris tak percaya saat pria itu menyatakan cinta, dan memintanya untuk dinikahi. Satria selalu pulang tepat waktu, jarang lembur, jarang keluar kota juga. Kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan pria yang punya selingkuhan di belakang istrinya. Di rumah sikapnya hangat, tak pernah meninggikan suara. Pria itu juga tak segan membantu pekerjaan rumah. Satria itu tipe suami dan bapak siaga, kalau Attaya atau Exel sakit, Satria selalu ada dan telaten merawat mereka. Seingat Attaya, sepanjang tiga tahun pernikahan dia dan Satria tidak pernah terlibat pertengkaran hebat. Paling hanya cekcok-cekcok kecil, karena hal sepele dan tak lama mereka pun damai. Lalu apa yang membuat Satria tidak bahagia? Tak pernah ada chat aneh di ponselnya, satria juga tak pernah sembunyi-sembunyi saat mengangkat telfon. Kalau bukan karena ada perempuan lain, kenapa Satria menceraikannya? Satria tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, Ibu, adik, dan Attaya sendiri. Lalu siapa sosok yang sanggup memporak-porandakan keluarga harmonisnya? Mas Bram, Bramantyo Suherman atasan Satria dia di kantor sekaligus sahabatnya. Hanya pria itu yang sering rantang runtung dengan Satria. Atau jangan.... Jangan.... Mas Bram dan Satria.... Attaya menggeleng keras, menghalau pikiran liarnya. Nggak mungkin! Kalau Satria belok tidak mungkin hadir Exel di antara mereka. Atau karena permintaan mertuanya? Rasanya tidak mungkin. Di luar sana, mungkin banyak cerita mertua dan menantu berseteru, tapi tidak dengan Attaya. Martuanya sangat baik dan perhatian, sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Adik iparnya juga begitu. Attaya ingat betul saat mereka pertama kali bertemu. "Beneran kamu pacarnya Satria?" Tanya wanita paruh baya itu seraya menggenggam erat kedua tangannya, netra tuanya menatap Attaya dalam-dalam. Attaya mengangguk dan tersenyum canggung, "I...iya, Bu." "Ini bukan sandiwara, kan? Bukan cuma akting?" Tanya wanita itu masih tak percaya. "Beneran, Bu. Buat apa saya akting? Saya dan mas Satria saling jatuh cinta, kamu sudah pacaran dua bulan ini. Dan Mas Satria membawa saya kesini agar kenal lebih dekat dengan ibu dan keluarganya, karena kami berencana menikah setelah ibu memberi restu." "Alhamdulillah.... " Attaya kaget sekali ketika Ani memeluknya erat, sambil meneteskan air mata. "Terimakasih, Terima kasih sudah menerima Satria sebagai calon suami kamu." Ujar Bu Ani seraya melepas pelukan, dia mengusap sudut matanya. "Kalian kenal di mana?" Bu Ani kembali bertanya, memecah kecanggungan. "Kami satu kantor, Bu. Tapi beda divisi, saya keuangan Mas Satria marketing," Jawab Attaya apa adanya. "Berarti kalian sudah kenal lama, sudah tahu sifat masing-masing." Attaya mengangguk ragu. Meski sudah tiga tahun sekantor dengan Satria, dia hanya sekedar tahu nama, tidak mengenal secara pribadi. Baru beberapa bulan terakhir ini dia kenal Satria, sejak pria tampan itu PDKT padanya. "Syukurlah kalau begitu. Ibu senang mendengarnya, semoga rumah tangga kalian kelak awet sampai kakek nenek." Bukan hanya ibunya, adik Satria juga terlihat begitu antusias menyambut Attaya sebagai calon kakak ipar. Attaya yang awalnya takut mendapat respon tidak menyenangkan dari calon mertua dan adik ipar, akhirnya merasa lega. Sikap hangat mereka tidak hanya diawal saja, setelah dia menikah dengan Satria, mereka tetap baik dan perhatian. Saat Attaya melahirkan, mertuanya bahkan menginap dua bulan di rumahnya. Ibu mertuanya yang mengurus attaya dan bayinya. Adik iparnya pun tak ketinggalan. Attaya benar-benar diperlakukan bak ratu, mau apa selalu ada. "Kamu mau makan apa hari ini?" Tanya Bu Ani suatu hari. "Apa saja, Bu. Saya nggak ada pantangan, kata dokter boleh makan saja asal nggak ada riwayat alergi." "Bagaimana kalau gule ikan. Kamu nggak pa-pa, kan, makan amis-amis? Tadi tukang sayur bawa ikan seger-seger, ibu jadi ngiler. Nanti satria ibu gorengkan ayam saja, anak itu mana mau makan ikan." "Nggak pa-pa, Bu. Saya juga sudah lama nggak makan ikan, selama ini nggak pernah masak ikan karena Mas Satria nggak suka." "Ya sudah kalau begitu ibu masak ikan dulu, Yangti masak dulu ya cah ngganteng." Bu Ani menowel pipi Axel sebelum menuju dapur. Ah, mengingat masa-masa itu membuat dada Attaya makin sesak. Dulu dia merasa menjadi perempuan paling beruntung di seluruh dunia. Punya suami yang baik dan bertanggung jawab, mertua yang memperlakukannya seperti anak sendiri, dan ipar yang ringan tangan saat dimintai bantuan. Tapi bila mengingat semua sudah berlalu, membuat Attaya tak mampu membendung air matanya. Dan yang masih menjadi misteri, apa yang membuat Satria menceraikannya? Kalau bukan wanita dan keluarga? Next... Jangan lupa review Bintang 5 di cover depan. Terimakasih....Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







