Se connecter
Bab 1
Attaya tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi dia tahan, usai selesai membaca kertas yang baru saja suaminya sodorkan. "I--ini maksudnya apa, Mas?" Ucap Attaya terbata. Dia benar-benar syok, dan tidak pernah menyangka sama sekali, pernikahannya akan berakhir secepat ini. "Kamu sudah baca, kan?" Suara Satria terdengar datar, seolah hal ini masalah sepele baginya. Attaya mengangguk dengan mata berlinang. "Iya, tapi kenapa? Aku salah apa?" Selama hampir tiga tahun bersama Satria, kehidupan pernikahan mereka baik-baik saja. Mereka hampir tak pernah ribut, bisa dibilang Satria ini suami yang sempurna, dia baik, bertanggungjawab, tampan dan mapan. Sosok suami idaman semua wanita. Dan sekarang tiba-tiba Satria menyodorkan akta cerai, tanpa bicara apapun padanya sebelumnya. Ini jelas pukulan berat baginya. Selain karena dia begitu mencintai pria yang kini berdiri tegak di depannya, dia juga memikirkan bagaimana nasib Exel kedepannya. Buah hati mereka yang kini genap berusia 2 tahun, sikecil masih butuh sosok ayah. Butuh orang tua utuh untuk membersamai tumbuh kembangnya. Satria menarik nafas panjang, sebelum menjawab. "Kamu tidak salah, tapi aku yang salah? Selama pernikahan kita, aku tidak bahagia, aku tersiksa. Aku minta maaf karena sudah tidak sanggup bersama kamu lagi. Maaf, kalau aku tidak mengajakmu membahas masalah ini sebelumnya, aku hanya mau semua selesai cepat. Semua diurus pengacara, kita terima beres. Aku tahu ini berat, tapi ini yang terbaik buat kita. Aku harap kita bisa menemukan kebahagiaan masing-masing setelah ini." Attaya tertawa getir. "Terbaik buat kamu, bukan buatku! Sejak kapan, Mas? Sejak kapan kamu merencanakan ini? Siapa perempuan itu?" Dalam benak Attaya, Satria selingkuh di belakangnya. Entah sejak kapan, dan siapa sosok perempuan yang telah merebut Satria dari sisinya. Attaya benar-benar tidak tahu. "Tidak ada perempuan lain. Sudah ku jelaskan tadi, aku tidak bahagia, aku tersiksa dengan pernikahan kita." "Nggak bahagia? Tersiksa? Katakan, Mas! Bagian mana sikapku yang membuatmu tersiksa? Aku memang bukan wanita sempurna, tapi nggak ini caranya menyelesaikan masalah. Kalau memang pada akhirnya kita harus berpisah, setidaknya kita cari jalan keluar dulu. Bukan langsung cerai, bahkan aku tidak tahu kalau kamu mengajukan gugatan padaku." Suara Attaya naik satu oktaf, emosinya meledak. Dia keluarkan semua isi kepalanya. "Attaya, please.... Jangan banyak drama. Perceraian sudah diputuskan, diantara kita sudah tidak ikatan apa-apa. Jadi, terima dan jalani saja. Aku akan memberimu uang indah dan mut'ah. Kamu boleh tinggal di rumah ini sampai masa iddah kamu selesai. Dan mengenai Exel, dia akan ikut aku. Hidupnya akan lebih terjamin kalau bersamaku, tentu saja kamu boleh menemui dia kapan saja, karena kamu ibunya. Meski tak hak asuh jatuh padaku." Meski Satria mengucapkannya dengan hati-hati, namun di telinga Attaya itu bagai sambaran petir di siang hari. Setelah mendapat kejutan akta cerai, kini Attaya dikejutkan lagi dengan hak asuh yang jatuh pada pria yang menjadi mantan suaminya itu. Cerita apa ini? Kenapa nasibnya buruk sekali? Sungguh Attaya berharap ini hanya prank, tidak benar-benar terjadi. "Nggak, nggak bisa! Exel masih dibawah umur, dia masih butuh ibunya. Hak asuhnya harusnya jatuh padaku," Sangkal Attaya tak terima. "Attaya, dengar aku baik-baik." Satria memegang kedua bahu mantan istrinya, kini keduanya saling bertatapan. "Sekali lagi aku minta maaf, karena sudah tidak jujur padamu. Aku menikahimu karena desakan orang tuaku yang menginginkan aku segera menikah, sedangkan aku tidak punya gadis pujaan waktu itu. Saat kita bertemu, aku merasa kamu adalah wanita yang tepat, kamu menantu ideal untuk mereka. Jadi, aku menikahimu bukan karena cinta, melainkan karena keharusan untuk berumah tangga dan mendapat keturunan. Aku sudah lelah bersandiwara, pura-pura bahagia. Mari akhiri semua baik-baik, agar kedepannya tidak ada lagi masalah." Attaya menggeleng tegas mendengar penjelasan Satria. Jadi, pernikahan yang menurutnya sempurna ini ternyata hanya sandiwara bagi Satria? Selama tiga tahun terakhir ini dia ditipu mentah-mentah, oleh pria berwajah mirip oppa-oppa Korea ini? "Apa maksudmu, Mas? Jadi, selama ini kamu menipuku? Kamu menikahiku hanya demi menyenangkan orang tuamu, dengan memberi mereka cucu?" Attaya tersenyum getir. "Kamu kejar-kejar aku, kamu buat aku jatuh cinta dan percaya kamu punya perasaan yang sama, ternyata semua ini hanya sandiwara? Hebat kamu kamu, Mas! Hebat! Akting kamu bagus sekali, kamu pantas dapat oscar, Mas! Karena aktingmu bisa menipu semua orang! Dan hebatnya lagi, kamu bisa bersandiwara selama tiga tahun. "Nggak! Kamu boleh menceraikanku, tapi kamu nggak boleh bawa Exel. Dia anakku, aku hamil dan melahirkan dia. Aku yang merawatnya selama ini, bahkan aku rela resign demi fokus mengurus Exel. Apapun yang terjadi, aku mempertahankan Exel! Aku nggak peduli kalau harus menderita demi bisa bersama Exel!" Ucap Attaya berapi-api. Sakit rasanya sembilan bulan mengandung bertaruh nyawa saat melahirkan, susah payah merawat hingga anaknya tumbuh sehat, tiba-tiba hendak dipisahkan demi memenuhi ego laki-laki yang bergelar mantan suaminya ini. Tidak semudah itu Bulguso! Walau sampai titik darah penghabisan dia akan melawan. "Ta, dengar dulu. Aku tahu kamu sayang Exel melebihi dirimu sendiri, tapi kamu nggak boleh egois. Bersamaku dia tidak kekurangan apapun. Coba kamu pikir, dengan apa kamu memenuhi kebutuhan kalian, kalau kamu tidak punya penghasilan? Ok, kamu bisa kerja. Lalu Exel siapa yang jaga? Daripada kamu titipkan orang lain, mending dia bersamaku." Attaya merangsek, ditunjuknya dada Satria dengan ujung jarinya. Tak ada lagi tatapan sendu, yang ada kebencian yang menggebu. "Kalau ngomong itu pake otak, Mas. Kalau Exel ikut kamu, mau kamu bawa kemana-mana gitu?" Hilang sudah sopan santun yang selama ini Attaya junjung tinggi di depan suami. "Aku nggak rela kamu rawat dia bersama pelakor itu! Aku nggak akan membiarkan meracuni pikirannya, untuk membenciku! Kalau kamu mau mengambil gak asuh Exel. Langkahi dulu mayatku!" Usai berkata Attaya berlari ke kamarnya, meninggalkan Satria yang mengeram kesal ditempatnya berdiri. Next...Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







