Se connecterBab 3
Attaya menyeret kaki dengan malas, Kepala terasa berdenyut nyeri. Rasanya enggan bangkit dari kasur, dia baru bisa tidur habis subuh tadi, tapi suara bel yang berbunyi berulang-ulang memaksanya membuka pintu. "Attaya, kamu sakit? Wajahmu pucat sekali. Satria mana? Sudah berangkat kerja? Kok mobilnya tidak ada di garasi? " Baru saja membuka pintu sang mertua sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Wajah itu terlihat cemas,melihat keadaan menantunya yang berantakan. Tak biasanya Attaya terlihat seperti ini, meski hari gelap. Setahunya Attaya selalu terlihat cantik, meski di rumah saja. Buru-buru dia meletakkan bawaannya, lalu menyentuh dahi Attaya. "Nggak panas. Kamu masuk angin? Ayo masuk! Ibu kerokin." Diluar dugaan Ani, sang menantu menghambur ke pelukan dan menangis sejadi-jadinya. Membuat perempuan paruh baya itu bingung sendiri. "Kenapa?" Tanyanya lembut, tangannya mengelus pelan punggung sang menantu. Bukan jawaban, melainkan tangis yang terdengar makin menyayat. Sebagai seorang ibu, Ani merasa ada yang tidak beres dengan menantunya. Entahlah, sejak beberapa hari ini ibunya satria ini gelisah tak jelas. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan anak dan menantunya, karena itulah dia datang pagi-pagi. Dia ingin memastikan keluarga anaknya baik-baik saja. "Diminum dulu airnya, biar kamu sedikit tenang." Bu Ani menyodorkan segelas air dingin yang diambilnya dari kulkas. Mereka sekarang duduk di berhadapan di meja makan yang terletak di dapur rumah Attaya. Hati Bu Ani semakin semakin bingung, melihat Attaya menangis tak henti-henti sejak tadi. Entah apa yang terjadi, anak dan menantunya tengah bertengkar hebat, kah? Atau Exel sedang sakit, hingga membuat Attaya panik dan sedih? Sejak tidak dia belum melihat cucunya itu. Berbagai praduga hinggap di kepalanya. "Merasa lebih baik?" Tanyanya setelah melihat Attaya menandaskan minumannya. Melihat Attaya mengangguk pelan, dia melanjutkan ucapannya. "Sekarang kamu bisa cerita sama Ibu. Ada apa sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Ibu akan berusaha membantu semampunya," Lanjutnya, dengan suara lembut. Lalu meluncurlah cerita dari bibir Attaya, tentang pertengkarannya dengan Satria semalam. Semua dia ceritakan tanpa ada yang ditutupi. Dia butuh teman berbagi cerita, mengurangi sedikit bebannya yang terasa mau meledakkan kepalanya. Bu Ani menghela nafas panjang, dia pikir Satria tulus mencintai Attaya. Tapi rupanya.... Ah, Ani benar-benar tidak menyangka Satria bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa meminta pertimbangan orang tua. Bahkan istrinya sendiri tidak dimintai pendapat. "Jadi kalian sudah resmi bercerai, dan Satria sudah meninggalkan rumah ini sejak tadi malam?" Tanya Ani masih saja tidak percaya. Attaya mengangguk, kemudian berkata "Apa Ibu tahu sesuatu? Mungkin Mas Satria pernah cerita sama, Ibu?" Bu Ani menggeleng, "Satria tidak pernah cerita apa-apa sama Ibu. Dia bahkan belum ke rumah, sejak kunjungan terakhir kalian. Ibu pikir dia lagi banyak pekerjaan, sampai tidak sempat berkunjung. Malah Ibu kira Exel sakit, makanya ibu datang ke sini. Eh.... Ternyata kabar buruk yang Ibu dapat. Ibu benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata Satria sudah menceraikan kamu." "Sampai sekarang saya benar-benar tidak habis pikir, Bu. Kenapa tiba-tiba? Kenapa langsung cerai? Alasannya apa, pun saya tidak tahu. Semuanya terasa tidak masuk akal saya. kemarin kami bahkan masih ngobrol dan bercanda seperti biasa. Saya benar-benar syok, saat semalam dia memberikan surat cerai. Saya.... Saya...." Attaya kembali tergugu mengingat kembali biduk rumah tangganya yang sudah kandas ini. Perempuan paruh baya itu menepuk pelan tangan Attaya yang berada dalam genggamannya. "Sudah, jangan nangis lagi. Biarkan Satria pergi, mungkin jodoh kalian hanya sampai di sini. Sekarang saatnya kamu mencari kebahagiaan, meski tanpa Satria. Sedih boleh, terpuruk pun wajar. Tapi jangan lama-lama, ada Exel yang butuh kamu. Ingat, kamu masih punya Ibu, jangan segan-segan minta bantuan. Meski kamu bukan lagi istri Satria, kamu tetap menantu Ibu. Andai nanti Satria lepas tanggung jawab, atau tidak mau menafkahi kalian, Ibu jamin kalian tidak akan kekurangan, karena Ibu yang akan mencukupi semua kebutuhan kalian," Ujarnya dengan netra berkaca-kaca. Dua wanita beda generasi itu saling tatap dalam keheningan. "Apa Mas Satria punya mantan, Bu? Setelah Mas Satria sukses, mungkin si mantan ingin balik lagi. Atau... Mungkin ada per---" Bu Ani mengeratkan genggaman tangannya, sambil menggeleng. "Kalau perempuan lain yang kamu maksud Ibu rasa tidak ada, Satria itu...." Bu Ani menjeda ucapannya, seperti tersadar kalau dia hampir keceplosan. "Attaya, dengar! Meski Satria adalah anak Ibu, Ibu akan selalu berada di pihakmu. Bahkan soal hal asuh anak, Ibu akan paksa Satria agar menyerahkannya padamu. Ibu mau Exel tumbuh normal selayaknya...." Dahi Attaya mengernyit mendengar kalimat terakhir mertuanya. "Normal? Maksud Ibu apa?" Tanyanya bingung. "Ya.... Normal seperti anak di usianya, tumbuh sehat, bahagia. Dan ibu yakin Exel akan mendapatkan itu semua jika bersamamu. Kamu tahu sendiri laki-laki itu kurang telaten kalau ngurus anak," Sanggah Bu Ani sedikit gugup. Entah mengapa prasangka yang pernah dikubur Attaya, kini tiba-tiba kembali muncul di kepala. Next.... Jangan lupa review bintang 5 di cover depan. Thank you....Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







