Se connecterBab 4
"Hah! Aku gak salah dengar? Istri Satria Damarjati nanya loker? Masih kurang nafkah dari suaminya, Bu?" Wanita yang bersahabat dengan Attaya sejak SMA itu, terpekik tak percaya mendengar penuturan Ibu anak satu yang tengah duduk di depannya dengan wajah sendu. Yang dia tahu, Attaya sudah bahagia menjadi istri Satria. Tak perlu capek-capek kerja, karena semua kebutuhan dan keinginannya sudah dipenuhi oleh suami yang punya jabatan cukup mentereng di kantornya. Setahu Selin, Satria begitu meratukan istrinya. "Kami sudah cerai, Sel," Lirih Attaya, nyaris tak terdengar. Dia benar-benar malu mengatakan ini pada Selin. Bagaimana tidak malu, dulu dia pernah begitu jumawa di depan sahabatnya itu. "Iri kan, kamu.... Makanya nikah, biar ada yang nafkahin. Tapi ingat jangan asal comot laki-laki, salah-salah kamu dapat spek mokondo. Nyari suami yang kayak Mas Satria. Tampan iya, mapan iya, sayang istri iya, setianya nggak usah ditanya lagi. Wes paket komplit pokoknya!" Dulu dia begitu membanggakan suaminya, rasanya tak punya muka sekarang datang dengan kisah kandas rumah tangganya. "Tunggu-tunggu! Aku ambil obat tetes telinga dulu, kayaknya kupingku bermasalah ini. Auw...! Sakit, Ta!" Selin mengadu kesakitan, ketika pinggangnya dihadiahi cubitan. "Aku serius, Sel. Please.... Aku butuh pekerjaan, tolong carikan info loker di kantormu. Sekarang aku janda, selain untuk memenuhi kebutuhan aku juga butuh kesibukan biar nggak terpuruk sendirian." Selin menghela nafas panjang. "Jadi, kamu beneran sudah cerai dari Mas Satria? Kok aku nggak percaya, sih. Kenapa? Perasaan rumah tangga kalian baik-baik saja, terakhir aku ke rumahmu Mas Satria masih bersikap seperti biasa. Ini kamu yang error atau Mas Satria punya selingkuhan seperti laki-laki sukses kebanyakan?" Tebak Selin asal. "Aku nggak tahu, Sel. Jangankan kamu, aku sendiri nggak percaya kalau rumah tangga ku berakhir dengan perceraian. Nggak ada hujan nggak angin tiba-tiba dia menyodorkan surat cerai. Alasannya sudah tidak ada kecocokan, padahal... Sudahlah, nggak usah dibahas. Sesek dadaku ngomongin orang itu terus. Aku ke sini nyari info loker, bukan buat bahas bapaknya Exel" Sergah Attaya, berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin larut dalam kesedihan. Bahkan nyebut nama Satria saja sudah malas. "Sorry, Ta. Aku benar-benar gak nyangka, Mas Satria setega itu sama kamu. Ternyata yang dari luar terlihat romantis, belum tentu... " "Please.... Nggak usah bahas orang itu! Ini aku kapan move-on nya, kalau tiap ketemu orang dia lagi, dia lagi yang dibahas." Ujar Attaya dengan bibir mengerucut, namun Selin hanya meringis kecil. "Sorry, sorry. Aku masih nggak percaya saja kalau kalian sudah cerai, padahal kalian goals couple. Bikin iri banyak orang. Ya sudah lah! Back to topik. Di kantor memang ada lowongan, tapi OB. Masa iya akuntan kayak kamu jadi pesuruh, ya nggak level. Malu dong sama mantan, kalau setelah cerai kamu malah down grade." Cetus Selin ceplas-ceplos. "Ya jangan kalau OB, yang lain lah. Resepsionis juga nggak papa, daripada nganggur," Ujar Attaya nyaris putus asa. Ternyata mencari pekerjaan susulit itu. Sudah dua bulan sejak dia resmi menyandang status janda, sejak itu pula dia sibuk nyari kerja, mengirim lamaran ke sana ke mari, tapi belum juga dapat panggilan. Secara materi dia memang tidak kekurangan, karena Satria masih mentransfer uang nafkah untuk dirinya dan Exel. Tapi dia butuh kesibukan, butuh penghasilan sendiri, tidak mungkin terus-terusan bergantung pada Satria. Bagaimana kalau kemudian laki-laki itu menikah, pasti istri barunya keberatan kalau Satria masih menafkahi mantan. "Hm.... Ah iya! Kakak sepupuku lagi nyari admin buat kafenya. Coba kamu lamar ke sana aja, siapa tahu lolos iya, kan?" Cetus Selin teringat dengan sepupunya yang baru saja membuka kafe. "Tapi ya itu, gajinya nggak seberapa, masih gedean gaji kamu waktu masih ngantor dulu," Imbuh Selin. "Ih... Nggak papa, yang penting kerja. Antar aku ketemu sama sepupu kamu itu dong, Sel," Rengek Attaya, seraya bergelayut manja di lengan Selin. "Ogah! Aku kerja, Bu. Bisa dapat SP3 kalau nekat ijin lagi. Aku udah keseringan bolos, gegara nungguin mama di rumah sakit kemarin. Lagian kamu kayak nggak pernah lamar kerja aja, pake minta diantar segala. Yang punya kafe lho kamu kenal. Mas Andri anaknya budhe Rasmi, yang dulu pernah naksir kamu tapi kamu tolak mentah-mentah itu. Datang aja, siapa tahu selain diterima jadi karyawan, diterima juga jadi istri. Auw.....! Sakit, Ta. Duh, ni orang demen banget KDRT! Jangan-jangan kamu dicerain Satri gegara kamu pukulin dia sampai babak belur." Selin meringis kesakitan, sambil tertawa lepas. "Kamu, sih. Orang lagi serius nyari kerja malah diledekin. Memang Mas Andri sudah tidak kerja di kantor lama? Kok malah buka kafe?" Sungut Attaya dengan bibir mengerucut. "Masih, kan nanti cuma datang ngontrol bukan yang jagain. Udah buruan ke sana besok, sebelum posisi yang kamu incer itu diisi orang." "Kok aku jadi merasa gak enak ya, Sel. Secara aku dulu pernah nolak dia, kalau dia dendam gimana? Boro-boro diterima, dimaki-maki iya. Namanya juga orang masih sakit hati." Selin terkekeh geli mendengar ucapan sahabatnya. "Mas Andri orangnya ngggak begitu, dia itu pemaaf. Meski nggak bisa move on dari kamu. Sampai kepala tiga masih jomblo terus, nungguin janda kamu kali, ya!" "Selin!" "Apaan sih, Ta.... Kaku amat jadi orang, becanda syai, becanda! Biar otak kita fresh, biar nggak stress. Lagian kalau kalian jodoh siapa yang bisa nglarang? Udah, datang sono! Pakai baju seksoy terus sosor si jomblo akut itu. Kamu kan janda, udah pengalaman, dong...." Selin buru-buru mengangkat kedua tangannya untuk menutupi kepala, ketika melihat Attaya mengangkat vas bunga dari atas meja. Ya, meski mulut Selin sering ceplas-ceplos, ngomong tanpa saringan. Setidaknya bertemu dengan gadis tomboy ini sedikit menghibur hatinya yang masih terluka. Next.... Jangan lupa beri ulasan bintang 5 di cover depan. Matur tengkyu....Bab 12 "What! Jadi selama ini kamu ditipu mentah-mentah sama boty itu?" Jelas Selin terkejut mendengar penuturan Attaya, tentang mantan suaminya. Yang ternyata seorang LaGiBeTe dan kini tengah mengajukan gugatan hak asuh dan harta gono gini. "Dan anehnya kamu sama sekali nggak nyadar, atau nggak curiga sama sekali, kalau si bang$@t itu belok." "Dimataku semua terlihat wajar, Sel. Nggak ada yang aneh. Dia.... Ya... kayak laki-laki pada umumnya." "Emang bisa berdiri, secara dia itu gak suka sama perempuan." Pipi Attaya memerah mendengar penuturan sahabatnya. Dia yang pernah menikah aja malu membicarakan masalah intim seperti ini, Selin yang masih perawan bisa-bisanya ngomong begituan tanpa saringan. "Kan, sudah aku bilang. Di mataku dia terlihat normal." "Ck! Pinter banget aktingnya. Gayanya sok macho, aku pikir dia jantan beneran, ternyata cuma laki jadi-jadian. Tapi kamu aman, kan? Nggak ada kena penyakit aneh-aneh? Secara dia suka main belakang, mana punya selingkuhan lagi. Apa
Bab 11Attaya memijat keningnya yang terasa nyeri akibat ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir dengan kelakuan mantan suaminya itu. Makin ke sini makin ke sana. Makin tak jelas juntrungannya. Satria gampang sekali tersinggung, mirip emak-emak PMS. Perkara diingatkan agar berpenampilan wajar di depan putra semata wayang mereka, berbuntut panggilan sidang dari pengadilan. Pria yang sekarang berpenampilan kemayu itu menggugat hak asuh dan pembagian harta gono-gini.Wanita single parent itu tahu Satria marah, tetapi sama sekali tidak menyangka mantan suaminya akan benar-benar membuktikan ucapannya. Padahal, beberapa saat setelah kejadian ribut dengan Satria waktu itu, dia sudah mengadu kepada mertuanya."Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti Ibu akan menasihati Satria. Lagipula, dia itu hanya menggertak kamu. Kalau sampai dia berani macam-macam, Ibu yang menghadapi dia." Begitu kata Bu Ani saat itu. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satria tetap mengajukan gugatan. Apa omongan Bu An
Bab 10Attaya tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Satria, ketika menjemput Exel pagi itu. Celana ketat menonjolkan area sensitifnya, dipadu croptop yang memamerkan pusatnya. Satria sudah seperti.... Dia jadi malu sendiri melihat penampakan ayah dari anaknya itu. Sepertinya Attaya harus bicara dengan Satria, agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Dia akan memohon pada mantan suaminya agar berpenampilan selayaknya laki-laki normal di depan Exel. "Pagi, Ta.... Exelnya sudah siap?" Ujar Satria seraya nyelonong masuk ke rumah, tanpa menunggu dipersilahkan. Dia merasa punya hak atas rumah yang dia beli dengan hasil keringatnya itu. "Waalaikumsalam, Mas.... Tolong biasakan salam dulu sebelum masuk rumah, biar dicontoh Exel." Attaya mengekor langkah mantan suaminya yang menuju ruang keluarga. Di sana Exel nampak anteng makan biskuit sambil nonton TV. Balita itu nampak bernyanyi riang mengikuti tokoh kartun idolanya. Sama sekali belum menyadari kehadiran papanya. Di sampingnya
Bab 9Ingin tertawa tapi takut dosa, begitulah kira-kira yang dirasakan Attaya saat ini. Alis dibabat habis hingga tinggal garis kecil menyerupai clurit. Eyeliner, dan bibir glosi warna merah muda. Bukan hanya itu, kulit Satria terlihat lebih mulus dan glowing. Terlihat lebih feminim dan ayu. Sungguh bukan Satria yang dia kenal selama ini. Entah kemana sosok jantan dan macho yang pernah Attaya nikahi tiga tahun lalu? Menyadari ekspresi Attaya yang menahan tawa, Satria segera bangkit dari duduknya. Dia berniat pergi dari rumah ini, namun sebelumnya dia berkata, "Besok aku bawa Exel jalan-jalan, sebelum magrib aku akan pulang. Kamu tidak keberatan, kan?" Attaya mengangguk setuju."Iya, Mas. Tolong jangan dibawa ke apartemenmu, ya? Aku.... Aku...""Iya, aku tahu. Besok kami hanya jalan-jalan berdua, ke tempat wisata dan arena bermain. Aku pulang dulu," Pamitnya buru-buru, kemudian mehampiri sang Ibu dan mencium punggung tangannya. Sementara pada Attaya dia hanya memberi anggukan. "Hh..
Bab 8Kabar tentang orientasi se**ual Satria yang menyimpang sebenarnya sudah lama berhembus kencang, namun Attaya mengabaikan karena terlanjur jatuh cinta. Apalagi setelah menikah, dan terbukti Satria mampu memenuhi nafkah batinnya, bahkan hingga hamil Exel. Namun saat mendengar cerita Selin barusan, menimbulkan kecurigaan dalam dalam hatinya, dan membuatnya ingin membuktikan. Apa iya suaminya sudah lama kelainan, dan sekarang semakin menjadi? Karena itulah dia sekarang minta ijin pulang awal, agar bisa berpapasan dengan Satria di rumah mertuanya nanti."Nggak boleh! Kamu nggak boleh membawa Exel menginap," Terdengar suara Bu Ani begitu jelas di telinga karyawan kafe itu. Selain karena datang lebih awal dari biasanya, Attaya juga tidak bawa motor meticnya kesayangannya yang kebetulan masih di bengkel. Dia naik taksi online, dan tidak berhenti tepat di depan rumah mertuanya. Hingga kehadirannya tidak disadari oleh Bu Ani yang sedang ngobrol dengan putra kesayangannya itu. "Kenapa
Bab 7"Attaya!" Suara cempreng menyapa Attaya yang baru saja memarkir motornya di halaman kafe. Wanita cantik itu pun menoleh ke sumber suara, dan mendapati wanita seusianya itu mendekat. "Re...Reya! Ya Allah.... Kamu makin cantik aja." Keduanya saling berpelukan dan cipika-cipiki. "Kamu apa kabar, Ta? Lama banget nggak ketemu?" "Baik, alhamdulillah selalu sehat. Kamu sendiri apa kabar? Masih kerja di Bina Karya?" Bina Karya adalah perusahaan properti tempat Reya bekerja, dan Attaya juga pernah bekerja di sana sebelum akhirnya resign karena dinikahi Satria. "Masih dong.... Memang mau kerja di mana lagi? Nyari kerja jaman sekarang susah, syai..." Attaya menepuk lengan Reya. "Kamu bisa aja, cewek sekelas kamu sih gampang nyari kerja. Eh, ngobrolnya dilanjut di dalam aja, yok! Di sini panas." Reya membuntuti langkah Attaya, mereka kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Kamu dari mana? Jam kerja gini keluyuran ke kafe," Tanya Attaya kemudian. "Aku ada janji sama







