Home / Fantasi / Legenda Sang Immortal / Bab. 1. Melawan Takdir

Share

Legenda Sang Immortal
Legenda Sang Immortal
Author: Master KidOO

Bab. 1. Melawan Takdir

Author: Master KidOO
last update Huling Na-update: 2023-08-04 04:11:25

Suasana mencekam dan hawa kematian yang sangat mencekik telah menenggelamkan langit. 

Fang Han benar-benar terfokus seluruhnya pada kesengsaraan surgawi yang akan datang. Kilatan petir dengan berbagai warna terlihat indah di langit, itu saling menggulung dan menerkam seperti ular besar.

Saraf dan seluruh tubuh Fang Han terasa menegang. Hingga urat-urat lengan dan leher terlihat menonjol. Hawa murni di dalam tubuh dikonsentrasikan dengan panik gila. Si Pemuda bahkan membuat lapisan tebal dari hawa murni yang membentuk besi hitam mengelilingi tubuh.

Pada saat itu, dia sudah merasa siap untuk menghadapi kesengsaraan surgawi.

“Kesini, datanglah!”

Fang Han membuka mata dan melihat ke arah langit yang gelap. Tidak dapat menahan diri untuk berkata-kata di dalam hati. “Apakah kekuatan yang Anda kumpulkan belum cukup?!”

Ekspresi wajah Fang Han terlihat pahit. Menertawakan keberuntungannya yang jelek. Itu benar-benar kesengsaraan surgawi yang tidak diharapkan.

Iya, bagaimana mungkin ia tidak menjadi kesal? Pada saat itu, area dalam jarak satu lie juga dengan cepat telah dikerumuni oleh berbagai kalangan pembudidaya.

Wajah Fang Han semakin cemberut, dia tidak punya waktu untuk memikirkan orang-orang yang berkerumun dalam jarak satu lie.

Langit yang hitam melonjak dengan dahsyat dalam kegelapan yang tidak berujung. Hawa kematian yang ia bawa terasa sangat dingin. 

Chii!! ….

Jedddaaarrr!! ….

Ledakan guntur mematikan menyambar. Cahaya perak membelah langit dan bumi terlihat dengan mata kepala. Menerangi seluruh cakrawala yang tertutup awan gelap.

Busur perak terbentuk, seperti ribuan prajurit yang siap berperang. Itu telah memporak-porandakan seluruh hutan dan pegunungan.

Itu sangat kejam dan tanpa ampun. Seolah-olah benda apa saja yang dilintasi oleh cahaya perak tersebut akan hancur dan meninggalkan butiran debu hitam kecil.

“Ha ha ha! …” Tawa keras terdengar memekakkan telinga. Kesombongan terdengar jelas dari tawa itu. Fang Han dengan pakaiannya yang compang camping, kembali menantang petir. “Tidak cukup. Anda sangat lemah. Lagi! ….”

Fang Han seolah-olah tidak takut dengan hawa kematian yang dibawa oleh petir kesengsaraan surgawi.

Di sisi lain, dalam jarak satu lie. Praktisi yang baru saja datang karena melihat anomali ini tercengang. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala. “Surga! Dia telah gila, ini pertama kalinya aku melihat orang yang berani menantang petir kesengsaraan surgawi seperti itu.”

Di sana Fang Han berdiri dengan gagah, petir pertama telah dilalui dengan baik. Dia seperti naga yang menantang langit, rambut si Pemuda awut-awutan. Dia benar-benar tidak gentar sama sekali.

Kesengsaraan surgawi belum usai. Langit masih sangat gelap, bahkan ini lebih gelap dari sebelumnya.

Bergetar!! ….

Jeddaarr!! …. 

Garis perak lainnya kembali melesat dan membelah langit. Petir kesengsaraan surgawi kedua turun.

Fang Han berdiri dengan tangan terkepal erat meninju ke arah langit. Melawan garis perak petir ganas yang mengalir seperti banjir memecah bendungan.

Tidak ada seorangpun yang berpikir bahwa si Pemuda akan berhasil melewati petir kesengsaraan surgawi yang ganas. Bisa melawan tekanan itu saja sudah dapat dikatakan beruntung. 

Namun, Fang Han sekarang dengan gila coba menantang dan bertarung melewati petir itu. Ini benar-benar pemandangan yang hanya terjadi sekali dalam ribuan tahun.

Setelah pertarungan sengit, petir kedua telah berhasil dilewati.

Fang Han tertawa putus asa. Tubuhnya yang kokoh bergetar keras seolah-olah tidak dapat berdiri lagi, hanya tekad yang kuat mendorongnya untuk terus keras kepala. “Huh, ini masih lemah! … Lagi!”

Padahal itu baru petir kedua. Ini sama halnya dengan tingkatan pada ranah kultivasi. Ada sembilan tingkatan pada setiap ranah, begitu juga dengan kesengsaraan surgawi. Fang Han harus bisa melewati sembilan tingkat dari sambaran petir.

“Semakin tinggi tingkat petir semakin gila saja, ini sangat menakutkan. Bagaimana untuk yang ketiga dan seterusnya?” Fang Han berkata pada diri sendiri dan menyadari bahwa dia akan melawan tujuh kali sambaran lagi. 

Tatapan mata si Pemuda masih melihat ke awan yang menggulung tebal dengan badai hitam dan kilatan-kilatan petir. Menunggu sambaran ketiga dengan putus asa.

Kultivator lain dengan ranah kultivasi lebih rendah yang menonton terpaksa mengambil jarak semakin jauh. 

Sementara orang-orang kuat di Ranah Formasi Inti Tingkat Sembilan coba bermeditasi. Harapan mereka untuk dapat memperoleh sedikit pemahaman dari kesengsaraan surgawi yang dialami Fang Han.

Langit hitam semakin ganas, memberikan perasaan penindasan pada mental dan kemauan semua orang di tempat itu. Kilatan badai petir bergerak seperti naga di dalam awan hitam yang tebal. Seolah-olah terus mengumpulkan energi.

“Surga!! ... Apakah ini masih bisa disebut dengan kesengsaraan surgawi?!” 

Para pembudidaya lain tentu sudah tidak berani memahami akan anomali ini. Mereka hanya menonton dan menonton, dengan kulit kepala yang terasa mengeras. Itu terlalu penuh dengan hawa kematian.

Fang Han masih berdiri, setelah menerima dua sambaran awal. Ekspresi si Pemuda terlihat semakin pahit. Hawa murni di dalam tubuh bergolak, mengamuk seperti lautan yang dikacaukan oleh badai.

Fang Han kesusahan mengontrol hawa murni di dalam tubuh sendiri. Dia menggigit bibir, dengan perasaan dipenuhi rasa pemberontakan.

“Anda ingin membunuh, Raja ini? Datanglah!” Fang Han meraung—provokasi terhadap kesengsaraan surgawi.

Kelakuan Fang Han itu membuat para kultivator lain di sana semakin menggelengkan kepala. “Dia berusaha untuk menjadi kuat di tengah suasana putus asa.”

“Ya, bakat yang sangat jarang dijumpai. Orang-orang dengan kriteria seperti dirinya sangat jarang ada yang hidup lama.”

“Benar, bukan saja dia dicemburui oleh para pembudidaya, bahkan langit juga akan menolak kehadiran eksistensi seperti dirinya.”

Para pembudidaya yang ada di sana mulai berbicara dengan sesama mereka dan bertanya-tanya dengan menggunakan indra spiritual. “Apakah dia ingin segera mati? Lihatlah bagaimana keadaan langit di kesengsaraan surgawi ini. Bagaimana anak ini akan melewati tujuh sambaran lain?”

“Lupakan saja! Dia memang mencari kematian. Lagipula, anak muda itu sangat menyadari bagaimana ganasnya kesengsaraan surgawi yang dia alami—”

Percakapan mereka terpotong. Masing-masing dari para pembudidaya itu kembali fokus ke area kesengsaraan surgawi. Petir ketiga telah turun dan menghantam Fang Han.

Jeddarr!! ….

Ledakan keras yang mengguncang langit dan bumi terjadi. Rune petir yang turun kali ini benar-benar mengambil bentuk naga raksasa. Dengan panjang hingga dua lie.

Pembawaan dari rune petir itu seolah-olah dapat menelan matahari dan menghisap bintang-bintang. Mendatangkan perasaan rendah diri bagi setiap makhluk di bawahnya.

Fang Han merasakan dingin di tengkuk. “Jika tidak dapat bertahan, aku benar-benar akan mati.” Dia menghadapi petir itu dengan raut wajah hitam membesi. Ada kekerasan tekad dalam diri si Pemuda. “Datanglah!”

Segel tangan dengan cepat dibentuk. Fang Han berteriak dengan keras. “Teknik Jari Menekan Bintang!”

Ini adalah teknik luar biasa yang sering diandalkan Fang Han untuk menghadapi kekuatan yang lebih kuat dari dirinya. Teknik ini juga akan menciptakan anomali di langit, seolah-olah langit terbelah.

Namun, hari ini pembawaan dan penindasan yang muncul dari Teknik Satu Jari Menekan Bintang kali ini tidak muncul. Itu seperti telah kalah dan tunduk kepada kesengsaraan surgawi. 

“Sial! Bahkan teknik ini juga tidak dapat digerakkan dengan sempurna.” Fang Han hanya dapat menggerutu di dalam hati, dan semakin putus asa dengan kondisinya saat ini. “Lalu, kenapa jika tidak bisa? Aku tidak akan menyerah!”

Bisakah si Pemuda selamat dari kesengsaraan surgawi yang ganas ini? Apakah dia memiliki kesempatan untuk terus hidup?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 117. Masalah Bersama

    Di area inti … angin panas berhembus pelan, namun cukup untuk membuat ujung jubah para kultivator berkibar tak beraturan. Udara terasa berat, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung bara halus yang menggores paru-paru. Di hadapan mereka, tiga lapisan penghalang berdiri seperti tiga ujian yang memisahkan dunia luar dari misteri yang tersembunyi di dalam area inti.Dan kini, masalah yang dihadapi oleh semua orang di tempat itu, juga menjadi masalah yang harus dihadapi Fang Han—bagaimana cara memecah tiga lapisan penghalang tersebut dan masuk ke dalam area inti?Tidak ada jalan memutar. Tidak ada celah yang terlihat.Hanya ada penghalang yang harus dihancurkan. Lapisan pertama saja sudah sangat sulit untuk dipecahkan. Itu tidak hanya membutuhkan kerja sama, juga menguras Qi Sejati.Fang Han memandang dengan tenang, tetapi tatapannya tajam.Ia tidak hanya melihat api. Tapi merasakan struktur di baliknya.Energi roh yang menyelimuti kobaran itu bergerak dalam pola teratur—bukan kacau

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 116. Area Inti Tanah Salju Kuno

    Setelah menembus ke Ranah Yayasan Inti, Fang Han tidak langsung menghentikan kultivasinya melainkan masih terus duduk di tempat semula dan menstabilkan ranah kultivasi. Aura di sekeliling tubuhnya masih bergetar halus, Qi sejati di dalam dantiannya berputar dalam siklus yang lebih dalam dan lebih padat dibandingkan sebelumnya. Jika Fang Han menghentikan proses itu secara mendadak, fondasi yang baru saja terbentuk bisa menjadi tidak stabil.Fang Han menarik napas perlahan. Setiap helaannya terasa berbeda.Qi Sejati yang ia serap kini seperti memiliki saluran yang lebih luas, aliran meridian terasa lebih lancar dan kuat. Namun justru karena lonjakan itulah, ia tidak berani ceroboh.“Stabilkan dulu … jangan terburu-buru.” Fang Han berkata-kata di dalam.Ia terus memutar Qi, menghaluskan sisa-sisa gejolak energi yang masih bergema akibat penembusan ranah. Inti Yayasan di dalam dantiannya berdenyut lembut, memancarkan cahaya redup namun mantap.Proses itu tanpa disadari Fang Han telah m

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 115. Ranah Yayasan Inti

    Karena telah bersama Su Li Xiu kembali, Fang Han tidak langsung mengajak gadis itu ke area yang paling berbahaya, melainkan terlebih dahulu mempersiapkan segalanya dengan cermat. Fang Han memahami bahwa perjalanan mereka ke depan tidak akan mudah. Bahaya bisa muncul kapan saja, dan jika fondasinya sendiri belum benar-benar kokoh, maka bukan hanya dirinya yang akan terancam, tetapi juga Su Li Xiu.Fang Han menoleh sekilas ke arah gadis itu. Su Li Xiu berdiri tidak jauh darinya, pakaian birunya berkibar pelan tertiup angin lembah, wajahnya tampak tenang namun sorot matanya menyimpan kepercayaan penuh padanya. Justru karena kepercayaan itulah Fang Han semakin tidak ingin bertindak gegabah.“Li Xiu’er, Aku tidak akan masuk terlalu dalam dulu,” ujar Fang Han pelan.Su Li Xiu mengangkat alisnya sedikit. “Fang Han Gege, memiliki rencana lain?” tanyanya ringan, nada suaranya terdengar menggoda.Fang Han tersenyum tipis. “Iya, aku tidak ingin ceroboh.”Dia kemudian menambahkan dengan nada s

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 114. Tidak Akan Kenal Jika Tidak Bertarung

    Namun, mesti Fang Han telah mengerahkan segenap kemampuan istimewanya itu. Guo Tiandu tetap unggul banyak. Niat pedang yang dikuasai Guo Tiandu walaupun belum mencapai ranah penyatuan manusia dan pedang. Namun, itu hanya satu level di bawah Fang Han. Guo Tiandu diuntungkan oleh kultivasinya yang tinggi. Lagipula, ia juga seorang praktisi yang sanggup bertarung melawan lintas ranah.Di medan es yang telah porak-poranda itu, perbedaan satu level tersebut meski terasa seperti jurang yang dalam. Namun, Guo Tiandu memiliki fondasi kultivasi yang lebih tinggi.Setiap kali pedang mereka beradu, Fang Han dapat merasakan tekanan berat yang bukan hanya berasal dari kekuatan fisik, melainkan dari kedalaman pemahaman. Niat pedang Guo Tiandu stabil, padat, dan bersih. Tidak liar, tidak berlebihan. Justru karena kestabilan itulah, ia menjadi menakutkan.Fang Han mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aura hitam bergetar mengikuti gerakan bilah, memecah udara dan memadatkan tekanan di sekitarnya. S

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 113. Niat Pedang Vs Niat Pedang

    Fang Han yang terdesak hebat akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan potensi terbaik yang ia miliki. Di bawah tekanan serangan Guo Tiandu yang semakin menggila, ia memforsir kedalaman Qi Sejati miliknya dengan cara yang hampir tak masuk akal. Aliran energi di dalam tubuh Fang Han berputar cepat, menghantam dinding meridian satu demi satu, menimbulkan rasa nyeri yang tajam seperti jarum menusuk dari dalam. Namun Fang Han tidak peduli. Dalam situasi seperti ini, sedikit kelengahan saja sudah cukup untuk membuatnya terjungkal.Teknik Langkah Dewa Seribu Tapak pun ia kembangkan secara ekstrem.Setiap langkah yang diambil Fang Han hampir tidak lagi meninggalkan jejak. Tubuh Fang Han bergerak dengan kecepatan tinggi, berpindah posisi dalam jarak pendek dengan ritme yang tidak beraturan, seolah-olah ruang di sekitarnya terlipat dan dibuka kembali sesuai kehendaknya. Di mata orang luar, bayangan Fang Han tampak berlapis, sulit ditangkap dengan penglihatan biasa.Untuk terus

  • Legenda Sang Immortal   Bab. 112. Guo Tiandu Mengambil Tindakan

    Fang Han tersenyum santai. Senyum itu tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertekan oleh tudingan maupun sikap Guo Tiandu. Tatapan Fang Han tenang, jernih, seolah ia sedang berbincang ringan, bukan berdiri di hadapan dua orang yang jelas-jelas menghalangi jalannya.Dengan nada lugas dan tidak berbelit, Fang Han pun berbicara.“Sebagai seorang Kultivator,” ujar Fang Han dengan perlahan dan santai. “Harusnya Saudara Guo paham, bahwa kita tidak banyak berbicara dan langsung bekerja dengan tindakan.”Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Fang Han tidak meninggikan suara, tidak pula menunjukkan emosi berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat ucapannya terasa lebih tajam.“Karena yang terlalu banyak berbicara,” lanjut Fang Han tanpa ragu dan menyindir. “Hanyalah seorang pengecut. Tidak memiliki kemampuan, lalu sibuk memprovokasi sana dan sini.”Chu Yang yang berdiri di samping Guo Tiandu langsung menegang.Meski F

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status