LOGINSemua calon peserta mengira Lintang mampu mengalahkan lawan tanpa menyentuh. Padahal kenyataannya, mata mereka yang tidak mampu melihat gerakan Lintang.
Menyaksikan bagaimana pendekar wanita tumbang, semua calon peserta mulai ragu untuk menghadapi Lintang di mana gagal dalam ujian masuk bagi mereka sama saja dengan kematian.
Rasa malu serta aib kalah dalam pertarungan di sana akan terbawa seumur hidup.
Selain itu, mereka juga akan di usir oleh perguruan sebelumnya karena telah mencoreng nama besar perguruan.
Di mana jauh sebelum mengikuti ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan, semua calon peserta telah memiliki perguruan masing-masing.
Mereka ditempa sedemikian rupa oleh perguruannya agar bisa masuk ke sana, karena memiliki murid yang berada di Sekte Pedang Kahuripan adalah sebuah kebanggaan besar.
Selain itu, perguruan yang memiliki murid di Sekte Pedang Kahuripan akan mendapat pengakuan lebih dari kerajaan. Dan ada sumbangan besar pada perguruan tersebut.
Tetapi jika murid-murid mereka gagal atau salah satu dari mereka tidak ada yang masuk, maka itu akan menjadi aib hina bagi perguruan.
“Apa lagi yang kalian tunggu? Dasar penakut, bukankah dia hanya sendiri, ayo cepat kita habisi pemuda itu,” teriak si mata satu geram.
“Di-dia benar, sial! Hampir saja kita terkecoh oleh pemuda lelembut itu. Ayo semua kita serang dia secara bersamaan,” seru pendekar kekar.
“Ayo!” teriak semua kompak.
Kini sekitar 200 orang belesatan menyerang Lintang secara bersamaan membuat calon peserta lain langsung berlompatan menjauh. Mereka tidak ingin memiliki urusan dengan Lintang atau kelompok pendekar brandalan di mana tujuannya hanya ingin lolos seleksi.
“Kukira para dewa itu makhluk pintar, ternyata mereka sama bodohnya dengan iblis,” Lintang menggeleng.
“Ayo Jagat!” seru Lintang.
Kayu lusuh berwarna hitam tiba-tiba saja melayang sendiri ke tangan Lintang. Tidak hanya itu, dia juga berubah wujud menjadi tongkat mengerikan yang memancarkan cahaya bara.
Saat 200 musuh datang dengan pedang, Lintang segera bergerak menangkis semua pedang menggunakan tongkat.
Trang! Trang! Trang! … Trang!
Pertarungan tidak berimbang pun terjadi di sana di mana satu orang melawan 200 orang.
Namun ada yang aneh pada pertarungan tersebut di mana jumlah yang banyak ternyata tidak menjamin kemenangan.
Satu persatu pedang milik kelompok pendekar brandalan patah di tangan Lintang. Membuat semua guru, ketua, dan sesepuh perguruan yang menyaksikan itu kembali membelalakkan mata.
Hanya satu pukulan kecil dari Lintang, lawan di sana tumbang tidak sadarkan diri.
Lintang memang tidak berniat membunuh karena bukan itu tujuannya, dia datang ke alam para dewa tiada lain hanya untuk belajar dan meningkatkan kanuragan.
“Bangsat! Pakai ilmu sihir apa kau pemuda sialan! Mengapa gerakanmu sulit sekali diikuti!” teriak calon peserta bermata satu.
Beberapa kali dia menyerang Lintang tetapi selalu saja gagal karena pemuda itu sudah tidak berada di tempatnya.
Mendengar teriakan pendekar tersebut, Lintang hanya menyeringai tipis. Dia sengaja menyimpan pendekar satu mata untuk penutup pertarungannya.
Trang! Trang! Buck! Geug! Aaaaaa!
Dua pendekar dewa melayang sejauh puluhan meter, mereka langsung terkapar kehilangan kesadarannya.
Satu demi satu para pendekar brandalan tumbang oleh Lintang, bahkan pendekar berbadan kekar yang tadi jumawa pun sudah tidak terlihat lagi.
Dia adalah calon peserta pertama yang Lintang pukul menggunakan Tongkat Semesta membuat pendekar itu langsung tergeletak bersimbah darah dengan luka dalam yang sangat parah.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Lintang membereskan 200 pendekar dewa. Kini yang tersisa hanyalah tinggal si mata satu.
Merasa jiwanya sedang terancam, pendekar mata satu berniat melarikan diri dengan kabur menyerang peserta lain.
Namun baru saja dia bergerak, Lintang sudah muncul di hadapannya membuat pendekar itu langsung kembali mundur menjauh.
Wajahnya pucat pasi seperti orang sakit yang kehilangan banyak darah, sementara lututnya bergetar tidak kuasa menahan ketakutan.
“Mau ke mana kau? Bukankah tadi dirimu yang paling keras berteriak? Ayo cepat! Kita bertarung,” Lintang menyeringai lebar.
Dia tidak peduli dengan semua mata yang sedang menatapnya. Yang Lintang inginkan sekarang adalah menyelesaikan pertarungan dengan cepat.
“A-a-ampun pendekar, a-aku hanya bercanda tadi,” ungkap pendekar satu mata terbata.
“Hmmm, seperti itu rupanya. Baiklah! Kau boleh pergi,” Lintang menggeleng.
Dia tidak tega memukul pendekar yang telah meminta ampun membuatnya langsung melepaskan pendekar satu mata.
Terlebih bagi Lintang ini bukanlah pertarungan penting karena hanya berupa seleksi masuk perguruan.
Namun beda lagi dengan para peserta lain, menurut mereka pertarungan ini adalah perjuangan kehidupan sehingga banyak dari mereka yang telah tewas meregang nyawa.
Lintang segera berbalik meninggalkan pendekar satu mata yang masih berlutut. Dia berniat duduk di sisi lapangan menunggu ujian seleksi masuk selesai.
Tetapi siapa sangka, mengira Lintang sedang lengah. Pendekar satu mata kembali bangkit dan langsung melesat berniat menusuk punggung Lintang dari belakang.
Hanya saja Lintang sudah menebak itu sehingga saat satu meter lagi pedang musuh akan mengenai tubuhnya, dia berbalik dengan telah melayangkan tendangan.
Wuhhsss! Djak! Aaaaaaaa!
Pangkal kaki Lintang tepat mengenai wajah pendekar satu mata, membuat dia melayang sejauh 100 meter dan terkapar tidak sadarkan diri.
Jika dilihat dari kerasnya tendangan Lintang, maka sudah pasti tulang wajah serta leher pendekar itu remuk seketika. Tetapi Lintang tidak peduli, dia hanya menggeleng mengumpati musuh panjang pendek.
“Sudah bagus kuampuni, dia malah mengantar nyawa sendiri. Dasar dewa,” ucap Lintang. Dia melenggang meninggalkan lapangan pertarungan.
Lintang duduk di sisi lapangan sembari menyaksikan para pendekar lain yang masih bertarung. Tidak ada lagi yang berani mengusik dirinya setelah itu.
Namun karena aksinya tersebut, banyak calon peserta bahkan para ketua perguruan yang menaruh dendam terhadapnya.
Membuat ribuan tatapan membunuh kini mengarah kepada Lintang. Hanya saja Lintang menanggapinya dengan senyuman.
Tidak lama setelah Lintang beristirahat, datang seorang dewa tua yang melesat menuju tengah lapangan. Dia datang ternyata untuk menghentikan pertarungan di mana calon peserta yang tersisa di sana tepat tinggal seribu orang.
“Baiklah! Bagi calon peserta yang masih berdiri, maka kalian dinyatakan lolos menjadi peserta ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan. Oleh karena itu, silakan ikuti aku dan berbaris di depan arena besar” suara dewa tersebut lantang membuat semua calon peserta yang masih bertarung segera menghentikan pertarungan.
Mendengar itu, Lintang kembali berdiri dan berjalan tenang mengikuti dewa tua tersebut.
Dari ratusan ribu calon peserta, dia ternyata masuk menjadi salah satu peserta yang layak meneruskan ujian.
Sementara para penonton yang tadi meneriaki Lintang, kini mereka terdiam seribu bahasa di mana ada aturan tidak boleh mengusik peserta.
“Dengarkan aku baik-baik!” dewa tua yang tadi kembali berbicara.
Semua peserta telah berbaris rapi di depan arena besar. Arena besar adalah panggung aula kokoh yang sengaja dibangun untuk keperluan ujian.
Lantainya terbuat dari batuan hitam, sementara pinggirannya di batasi oleh rantai berduri.
Lintang mengira arena itu pasti akan digunakan untuk adu tanding satu lawan satu bagi peserta ujian.
“Ada 4 tahap ujian yang akan dijalani oleh kalian, siapa pun yang berhasil melewati tahap itu, maka kalian sah menjadi anggota Sekte Pedang Kahuripan,” ungkap dewa tua. Dia berdiri gagah di atas panggung arena.
“Tahap pertama adalah ujian mental, kalian akan memasuki hutan ilusi yang penuh siluman. Bagi siapa saja yang bisa melewati hutan tersebut, maka dia berhak melanjutkan ujian pada tahap berikutnya,” tutur sang dewa tua menjelaskan.
**
Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te
KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t
Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me
Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak
Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera
Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak







