Home / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta Bagian 2 / Bab 6 Pembunuh Si Tangan Kilat

Share

Bab 6 Pembunuh Si Tangan Kilat

Author: Pujangga
last update Last Updated: 2026-02-27 14:11:31

Sieng! Sieng! Sieng!

Tiga anak panah energi menderu dengan cepat, mengeluarkan suara bising layaknya sekawanan lebah.

Semua anak panah itu memancarkan cahaya merah bara yang berarti mengandung energi penghancur bertekanan tinggi.

Andai ketiganya tiba di tempat Lintang, maka bukan hanya dia yang tewas. Tetapi Palwa dan Indrayan juga akan ikut lenyap terkikis gelombang ledakannya.

“Sudah kuduga,” gumam Lintang.

Wajah lembut pemuda itu tiba-tiba berubah dingin entah mengapa, sementara bibirnya melengkung membentuk seringai yang mengerikan membuat Palwa dan Indrayan langsung merinding melihatnya.

“Ada apa tuan Lintang?” tanya Indrayan panik.

Sementara Palwa sudah tidak bisa berkata-kata, tubuhnya bergetar merasa ngeri oleh sorot mata Lintang.

Tanpa menjawab apa pun, Lintang segera membentuk segel tangan menciptakan kubah energi berukuran cukup besar.

Dalam sekali hentakkan kaki, cahaya putih tiba-tiba muncul dari tubuh Lintang menyeruak membentuk sebuah kubah transparan yang mengurung pemuda itu beserta Palwa dan Indrayan di dalamnya.

Gerakan Lintang begitu cepat sampai-sampai tidak bisa dilihat oleh mereka, sehingga saat kubah energi muncul, Indrayan dan Palwa hampir saja berlompatan mundur dibuatnya.

Namun sesaat kemudian, BUMMMMM! ledakan besar terjadi di sana membuat kedua murid perguruan Talaga langsung berjongkok sembari menutup mata dan telinganya.

Palwa dan Indrayan benar-benar panik karena tidak mengerti entah apa yang terjadi.

Sementara Lintang masih berdiri tenang seraya mengedarkan pandangan menatap langit.

“Ada yang ingin membunuh kita, kalian tetaplah di sini,” ungkap Lintang menjelaskan, membuat Indrayan dan Palwa mulai bisa mencerna situasi.

“Me-membunuh? Si-siapa tuan …?” Indrayan terbata.

“Entahlah! Yang pasti dia adalah orang sakti,” jawab Lintang masih menatap langit.

“Bi-Biarkan ka-kami ikut bertarung bersamamu tuan,” ungkap Palwa.

“Tidak Palwa, kekuatannya bukan tandingan kalian. Tunggu di sini bersama Indrayan,” sergah Lintang.

Setelah mengatakan itu, sosok Lintang seketika lenyap dari pandangan, membuat Palwa dan Indrayan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permintaannya.

Lintang melesat tinggi ke cakrawala menghampiri sumber energi dari pemilik serangan.

Dan benar saja, pelakunya ternyata berada di atas sana sedang bersembunyi di balik awan.

Dia merupakan sosok pria bertubuh besar yang terlihat mengenakan pakaian serba merah dengan ikat kepala berwarna hitam.

Wajahnya begitu garang dengan kumis tebal meliuk ke bawah hampir menutupi bibir.

Sementara di punggungnya terselip busur panah berwarna hitam, dan di pinggangnya membawa pedang panjang tanpa sarung.

Dari tubuh pria itu menyeruak energi membunuh yang begitu pekat menunjukkan bahwa dia bukanlah pendekar sembarangan.

Dengan energi membunuh sepekat itu, Lintang bisa menebak pria tersebut sepertinya sudah mengalami banyak pertarungan antara hidup dan mati.

“Hahaha, tidak kusangka kau dapat mengetahui keberadaanku siluman,” teriak sang pria berkumis tertawa.

Mendapati lokasinya ditemukan musuh, dia akhirnya keluar dari persembunyian, menatap Lintang lekat seperti sedang merendahkan.

“Kau bukan peserta ujian, ada urusan apa denganku?” ujar Lintang dingin.

“Urusan apa? Hahaha, tentu saja membunuhmu sialan! Mahluk sepertimu tidak layak berada di negeri para dewa, bukankah itu sudah jelas?” jawab pria berkumis tebal berterus terang.

Tetapi Lintang bukanlah anak kecil yang mudah dipermainkan, dia tahu pendekar itu merupakan pembunuh bayaran. Namun yang membuat Lintang penasaran adalah kepada orang yang mengutusnya. Siapa? Dan mengapa?

Melihat pria berkumis tidak mungkin membocorkan informasi tersebut, Lintang memutuskan tidak lagi bertanya

“Baiklah, mari kita selesaikan,” ucap Lintang.

“Cih! Jumawa, kau akan menyesal anak siluman,” bentak pria berkumis tebal mencoba memprovokasi.

Tetapi Lintang tidak peduli dengan hinaan, alih-alih marah. Lintang malah menanggapinya dengan senyuman membuat sang pria berkumis semakin kesal.

“Bangsat!”

Dia kembali menarik busur panahnya, melesatkan 10 anak panah ke arah Lintang.

Wush! Wush! Sieng! Sieng! …Sien!

Anak panah energi berlesatan cepat menderu menuju Lintang.

“Jagat!” panggil pemuda itu.

Tongkat kayu lusuh di pinggang Lintang langsung melesat ke genggaman tangannya membuat pria berkumis tebal yang menjadi lawannya seketika menyipitkan mata.

Sesaat sebelum 10 anak panah energi mengenai sasaran, Lintang melesat lebih dulu menghampiri mereka.

Dengan jurus tarian pedang es, Lintang menangkis semua serangan menggunakan tongkatnya.

Wusssh! Trang! Trang! Trang! …Trang!

Satu persatu anak panah energi terpental ke berbagai arah menciptakan banyak ledakan di ketinggian.

Bum! Bum! …. Bum!

Suaranya menggema memekakkan telinga, sementara gelombang energi ledakan itu menyeruak menciptakan cahaya terang.

Palwa dan Indrayan sampai melebarkan mata di atas sungai. Mereka sangat terpana menyaksikan Lintang bisa mengatasi semua serangan dengan begitu mudah.

“Apa benar tuan Lintang hanya seorang murid? Kekuatan dan kecepatannya sangat jauh melampaui kita,” gumam Indrayan tidak percaya.

“Aku juga tidak tahu,” ujar Palwa yang masih mematung memandangi langit.

Kedua pendekar Talaga itu tidak bisa ke mana-mana karena masih terkurung kubah energi milik Lintang.

Baru kali ini mereka mendapati ada pendekar muda sesakti Lintang. Melihat bagaimana Lintang bertarung, keduanya sangat yakin bahwa pemuda itu pasti akan menjadi salah satu murid terbaik di perguruan Sekte Pedang Kahuripan.

Sebetulnya tidak hanya Palwa dan Indrayan saja yang terkejut, tetapi sang pria berkumis juga sempat melebarkan mata menyaksikan Lintang.

Sulit baginya percaya mendapati ada pendekar muda yang mampu menangkis serangan anak panah pusaka di jarak sedekat itu.

Terlebih menurutnya Lintang hanyalah seorang sampah dari dunia bawah. Tetapi melihat bagaimana cara Lintang bergerak, sang pria berkumis mulai ragu apakah Lintang benar seorang bangsa lelembut atau malah dewa sakti yang sedang menyamar.

Sebagai pendekar, dia mengakui kekuatan Lintang memang cukup besar, namun karena Lintang adalah musuh, pengakuannya tidak bertahan lama sebelum akhirnya berganti rasa marah yang memuncak.

“Sekuat apa pun dirimu, kau tetap tidak akan bisa menandingi jurus pedangku makhluk hina,” teriak pria berkumis seraya memberikan tatapan membunuh.

“Jangan hanya berkata kosong pak tua, cepat majulah!” ujar Lintang tidak peduli.

“Bedebah! Tidak ada yang bisa melawan kecepatan pedang si tangan kilat, matilah kau berengsek!” pendekar berkumis menghilang dari pandangan.

Ternyata benar, kecepatan gerakannya sungguh seperti kilat. Dalam sekejap mata pria berkumis itu tiba-tiba muncul di belakang Lintang dengan telah menebaskan pedang.

Trang!

Dua senjata tingkat tinggi beradu di cakrawala menciptakan percikan api yang sangat terang.

Si tangan kilat memang cepat, tetapi Lintang juga tidak kalah cepat. Pengalaman bertarung dalam berbagai peperangan membuat tubuh pemuda itu memiliki refleks yang baik.

Meski tanpa melihat, Lintang bisa mengetahui arah serangan lawan melalui perubahan udara.

Merasakan ada udara dingin di belakangnya, dia segera berbalik sembari menyilangkan tongkat.

Dan benar saja, musuh ternyata telah menebaskan pedang. Sehingga saat pedang si tangan kilat datang, tongkat semesta langsung menahannya.

BUMM!

Setelah percikan api, benturan energi dari senjata mereka menciptakan ledakan besar membuat Lintang dan si tangan kilat sama-sama terpental jauh ke belakang.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 17 Naga Cahaya

    Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 16 Dewi Atmarani Pratista

    KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 15 Gadis Bertopeng

    Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 14 Bahaya Mendekat

    Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 13 Batu Energi

    Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 12 Pengacau

    Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status