LOGINSelesai memulihkan semua pasukan yang terluka, Nayaka dan semua orang segera berlesatan ke medan perang.Mereka dipimpin oleh Dewi Rembulan di bawah strategi Raden Buana. Bahkan semua pendekar medis pun sekarang ikut berperang.Hingga yang tersisa di atas gunung hanya tinggal Lintang, putri Asmara, dan Raden Buana saja.Musuh boleh bertambah kuat setiap saat, dan jumlah mereka 3 kali lipat lebih banyak dari pasukan Lintang.Namun dengan adanya Nayaka dan Dewi Rembulan, alur perang mulai berbalik.Dua kekuatan wanita itu bukanlah kekuatan biasa karena sekali mereka mengeluarkan serangan, maka siapa pun tidak akan bisa bertahan.Terlebih Kelenting Sari, Anantari, dan Atmarani bersatu bersama Mutiara Sendayu dan Larasati.Kekuatan air dan es dapat menahan pergerakan lawan, sementara kemampuan api dan energi penghancur dari Mutiara Sendayu dan Larasati menyelapkan sisanya.Alhasil, pasukan musuh kini kelabakan menghadapi pihak Lintang. Membuat mereka perlahan mundur menuju ke kaki gunung.
"Ka-kak Lintang?” gumam Nayaka siuman.Dia disambut senyuman hangat dari Lintang dengan wajah berderai air mata.“Be-benar adik kecil, kakak adalah kak Lintang,” jawab Lintang.“Kakak!” teriak Nayaka lirih sembari bangkit bersimpu di dalam pelukan Lintang.Gadis kecil itu menangis pilu, meluapkan semua kesedihan dan rasa sakit yang tadi pernah menyiksanya.“Paman itu sangat jahat sekali kak, Yaka benci,” tunjuk Nayaka ke atas langit.Begitulah anak kecil, segala sesuatu terkadang selalu diadukan kepada orang yang dia percaya.“Kakak mengerti sayang. Yaka jangan menangis ya, kak Lintang tidak akan memaafkannya,” ucap Lintang menenangkan.Dengan lembut Lintang menyeka air mata di pipi Nayaka. Membuat gadis itu kembali ceria seperti semula.“Horee, kakak memang baik. Kak Lintang harus menyiksanya dulu ya sebelum di bunuh. Yaka ingin sekali melihat paman anjing itu menderita,” Nayaka sembari berlompatan kegirangan.“Tentu kakak akan memberikan siksaan penuh kepadanya,” angguk Lintang semb
“Kakak turunlah lebih dulu, pulihkan Nayaka dan pasukan yang terluka. Jumlah musuh di bawah masih 12 juta pasukan, terlebih kanuragan mereka tidak masuk akal. Untuk sementara serahkan dia padaku,” ucap Arga sembari menunjuk ke arah Kenaka yang sudah kembali berniat memberikan serangan.“Aku mengerti, berhati-hatilah adik kecil,” angguk Lintang.Selanjutnya dengan membawa Nayaka, Lintang seketika lenyap dari pandangan dan kembali muncul setelah berada di daratan.“Yaka!” teriak Raden Buana langsung menyambut Lintang.Dia tidak ikut berperang karena masih melanjutkan tugas pertamanya yaitu menilai alur kekuatan musuh agar strategi perang bisa tetap berjalan.Sama seperti Lintang, Raden Buana juga menitikkan air mata tidak tega menyaksikan cucu tercintanya dalam keadaan yang mengenaskan.“Tubuh Nayaka sedang di ambang batas kek, mohon berikan aku waktu untuk memulihkannya,” ucap Lintang.“Te-tentu anak prabu, kakek mengerti,” angguk Raden Buana, sementara air matanya terus berjatuhan mer
Nayaka melesat dengan tertatih karena kondisi tubuhnya semakin melemah.Dia bahkan bisa mendengar suara keretak tulang belulangnya sendiri yang remuk akibat tertekan energi.Kali ini Nayaka berniat menggunakan jurus penghancur yang belum sempurna. Yakni Pukulan Tapak Braja Geni tingkat Nirwana.Sebuah teknik pukulan maha sakti yang juga merupakan jurus andalan Galuh Wardana.Benar, sebagian besar kemampuan Galuh diturunkan kepada Nayaka melalui kitab dan tulisan tangannya sendiri.Namun karena Nayaka masih sangat kecil, jurus-jurus itu tentu belum dirinya kuasai.Karena untuk dapat menguasai semua jurus milik Galuh, setidaknya diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi Nayaka.Sehingga saat ini, semua yang digunakan Nayaka hanya baru dasarnya saja.Tapi meski begitu, setiap jurus pamungkas milik Galuh mengandung energi penghancur sangat tinggi.“Hihihi, Yaka tahu ini tidak akan bisa membunuhmu paman. Tapi setidaknya kau akan mengalami siksaan pedih dari Yaka,” gadis kecil itu terkekeh.D
Semua ekor milik Madu Lanang membesar, selanjutnya menjalar membentuk wujud tangan raksasa menahan serangan Kenaka seperti sedang menggenggam sebuah bola.Brak! BUMMMMMM!Ledakan dahsyat terjadi dari benturan energi keduanya, menciptakan gelombang energi besar yang menyeruak di ketinggian.Madu Lanang terkejut karena mendapati serangan musuh ternyata begitu sangat kuat membuat dia harus menggunakan 100% energinya agar bisa bertahan.Sementara Kenaka mengumpat kesal karena lagi-lagi datang pengganggu yang mengusik pertarungannya.“Kakak, kakak, kakak, kak Asamara dan kak Atmarani pergilah! Ini kesempatan Yaka untuk mengalahkan paman itu,” ungkap Nayaka yang mendapati Kenaka sedang lengah.“Ti-tidak Yaka, Yaka tidak boleh Melakukan itu. Tubuh Yaka bisa terluka parah. Kakak mohon jangan,” sergah Atmarani.“Benar! Yaka tidak boleh melakukannya,” tegas putri Asmara.Keduanya sadar, seandainya Nayaka melakukan jurus yang sangat kuat, maka tubuhnya bisa meledak.“Kakak berdua jangan khawati
Putri Asmara dan Atmarani terbaring lama tidak sadarkan diri akibat tidak bisa menahan tekanan batin saat menyaksikan Lintang dibedah.Tapi karena terkena energi regenerasi dari tubuh Lintang dan Arga, kedua gadis itu seketika terbangun.“Kanda?” mata putri Asmara berkaca-kaca.“Kakang,” gumam Atmarani bahagia.Keduanya sama-sama terharu mendapati tubuh Lintang dan Arga sedang mengalami proses pemulihan.“A-apa yang terjadi?” tanya Atmarani melebarkan mata menemukan semua orang tengah terbaring tidak berdaya di atas permukaan tanah.“Itu efek dari jurus Caruk Manunggal, Mbayu,” jelas putri Asmara.“Mereka kehilangan energi, kita tidak akan bisa membantunya,” sambung putri Asmara sembari menggeleng.“Tapi mengapa tubuh kita tidak apa-apa?” tanya Atmarani.“Sepertinya Nayaka telah melindungi kita dengan energinya,” jawab putri Asmara.“Begitu ternyata, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan, putri?” Atmarani kembali bertanya.“Kita bantu Mbayu Tari dan Sari di atas sana, lihatl
“Si-siapa kau pak tua?” suara Atmarani bergetar karena kesedihan.Air mata berderai lirih membasahi wajah cantiknya yang kian memucat. Rasa sakit kehilangan Lintang sungguh membuat Atmarani tidak lagi semangat melanjutkan kehidupan.Dia memukul-mukul kubah energi menggunakan tangannya sampai tulang
“Mengapa? Me-mengapa selalu seperti ini? Me-mengapa setiap orang yang aku sukai selalu saja tewas? Mengapa dunia ini selalu tidak adil?” Atmarani meracau tidak karuan.Jiwa gadis itu benar-benar terpukul saat menyaksikan Lintang tersiksa. Dan ketika Lintang tidak lagi bergerak, hati Atmarani terasa
Trang! Trang! Bummmm!Wush! Buk! Aaaa! Trang! BUMM!Lintang dan Kuradala terus bergerak saling menyerang, tetapi gerakan mereka sangat cepat hingga Atmarani tidak bisa melihatnya.Yang terlihat dari pertarungan keduanya hanyalah percikan api dan muntahan gelombang energi yang meledak di ketinggian.
“Akhirnya kau tiba juga anak lelembut, hahaha,” Kuradala tertawa terbahak-bahak.“Namun sayang dirimu sudah terlambat bocah. Sekarang tidak akan ada lagi pendekar yang mampu menandingi kesaktianku, hahaha, termasuk dirimu!” sambung Kuradala sembari memberikan tatapan membunuh ke arah Lintang.“Bena







