Home / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta Bagian 2 / Bab 85 Ras Iblis Api Hitam

Share

Bab 85 Ras Iblis Api Hitam

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-03-24 19:27:45

Atmarani tahu akan maksud dari perkataan Lintang, tapi entah mengapa dia seperti tidak rela membiarkan Lintang pergi.

Padahal antara dirinya dan Lintang tidak ada ikatan apa-apa. Bahkan Lintang hanyalah seorang peserta ujian yang tidak disukai banyak orang.

Atmarani sendiri tidak mengerti dengan perasaannya, namun sebisa mungkin dia menginginkan Lintang mundur dari pertarungan.

Tetapi mendengar penuturan pemuda itu, Atmarani sadar dia tidak akan mampu menghalanginya.

“Ba-baiklah, aku ikut denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 237 Wujud Sejati Kenaka

    Ledakan maha dahsyat terjadi tidak dapat terelakkan, menciptakan gelombang energi raksasa yang memenuhi angkasa, membuat Kelenting Sari, dan Anantari kembali terlempar sejauh ribuan meter.Beruntung keduanya segera diselamatkan oleh Nayaka sehingga masih bisa bernapas.Andai tidak ada Nayaka di sana, maka sudah pasti kedua istri Lintang akan tewas tanpa jasad.Namun Nayaka dengan cepat mengibaskan tangan, menciptakan kubah energi hitam untuk melindungi keduanya.Bruuuuuuuussss!Badai energi melewati mereka membuat pandangan menjadi gelap dalam sesaat. Udara seketika memanas hingga jika ada besi di sana, maka besi itu akan meleleh dalam hitungan detik.Tapi di dalam kubah energi, Kelenting Sari dan Anantari tidak merasakan apa-apa karena kekuatan Nayaka masih cukup mampu menahan energi ledakan tersebut.Hanya saja sebagai gantinya, Nayaka harus mengalami muntah darah pertanda tubuhnya semakin melemah. Hal itu tentu akibat terlalu memaksakan diri menggunakan energi secara berlebihan.Se

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 236 Pusaka Roda Waktu

    Saat tiba di daratan, tubuh Dewi Rembulan langsung tersungkur di atas permukaan tanah membuat Bawana, Yuyukangkang, dan Larasati sangat terkejut mendapatinya.Tidak disangka, ternyata selain energinya terserap. Sang dewi juga terkena racun energi dari senjata Kenaka.“Dewi!” teriak Bawana khawatir. Dia ingin menolong Dewi rembulan, tapi tubuhnya juga tidak bisa bergerak akibat kehilangan banyak energi.“Sial! Jurus terkutuk makhluk itu sungguh sebuah bencana,” umpat Yuyukangkang.Sementara Larasati mulai kehilangan kesadaran. Tubuhnya semakin melemah seiring energi tenaga dalam dan jiwanya lenyap terserap oleh jurus Caruk Manunggal.Karena tidak mampu bergerak, Bawana dan Yuyukangkang hanya bisa terbaring tanpa daya.Mereka memandang ke atas langit dengan tatapan lirih menyaksikan Nayaka yang masih berjuang.“Senior, cepatlah bangkit, kami dan alam ini sangat membutuhkanmu,” gumam Bawana.Meski tidak bisa membaca tingkat kanuragan Nayaka, Bawana tahu bahwa gadis itu saat ini tengah ke

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 235 Sumber Segala Kekacauan

    Setelah cukup lama beristirahat, kelompok sang Hyang Sambu akhirnya kembali ikut berperang.Mereka tahu, masuk ke dalam pertempuran kali ini sama saja dengan bunuh diri. Tidak ada jaminan untuk hidup di mana jumlah pasukan musuh masih sekitar 12 juta pasukan.Sementara sang Hyang Sambu hanya membawa beberapa orang saja dengan jumlahnya tidak lebih dari 300 ribu pasukan.Selain bangsa Mamata, Monster Burung Batu, pasukan nagari Angleng, prajurit pangeran Mossa dan para kesatria semesta. Tak ada lagi yang bisa bertarung karena tubuh mereka melemah secara cepat termakan jurus terkutuk Caruk Manunggal.Sebetulnya sang Hyang Sambu dan yang lain juga merasakan hal yang sama. Energi mereka menghilang sedikit demi sedikit, yang lama kelamaan energi itu pasti akan habis.Tapi setidaknya mereka masih memiliki cukup waktu untuk memberikan perlawanan.Hal itu terjadi karena perbedaan tingkat kanuragan, di mana semakin tinggi kanuragan seseorang, maka efek Caruk Manunggal akan semakin lambat.Nam

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 234 Jurus Terkutuk Caruk Manunggal

    Dan benar saja, dengan kemampuan Bawana. Proses penyatuan jantung dapat selesai hanya dalam beberapa tarikan napas saja.Bahkan Bawana juga menjahit dada keduanya, membuat luka menganga di tubuh Arga dan Lintang kembali rapat seperti semula.“Mundurlah paman, biarkan serpihan batu mustika bekerja dengan sendirinya,” ucap Nayaka.Meski tidak mengerti, Bawana segera melompat mundur mengikuti apa kata Nayaka.“Berapa lama serpihan batu itu akan bereaksi adik?” tanya Anantari lembut.“Cukup lama kak, tapi kak Lintang dan kak Arga pasti sembuh,” jawab Nayaka.“Terima kasih ya, Yaka memang adik yang baik,” ucap Kelenting Sari.“Hihihi, tentu saja. Yaka kan sayang kak Lintang dan kak Arga,” Nayaka terkekeh.Selanjutnya gadis kecil itu melirik ke arah Raden Buana seperti sedang meminta persetujuan.“Tidak! Kakek tidak mengizinkan kamu bertempur,” sergah Raden Buana tegas.“Huft kakek jahat, Yaka benci kakek,” rajuk Nayaka kesal.Gadis kecil itu langsung berbalik sembari mengembungkan kedua pi

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 233 Serpihan Mustika Jantung Samudra

    Jauh di bagian lain alam dewa, seekor anak ayam bersama sesosok pemuda berwajah datar tengah berdebat panjang karena jatuh di tempat yang salah.Hal itu diakibatkan oleh bocah kecil yang membawa mereka menggunakan teknik perpindahan dimensi yang belum sempurna.“Dasar bodoh! Tidak berguna! Payah! Mengapa memegangi bocah kecil saja kau tidak bisa, sialan, jelek!” umpat si Cepot kesal.“Mengapa tuan Batara menyalahkanku, bukankah tuan tahu sendiri bahwa di batas ruang dan waktu kita terombang-ambing badai semesta,” teriak Madu Lanang membela diri.“Tentu saja aku tahu tengik! Tapi waktu itu aku menyuruhmu memegangi tangannya. Mengapa malah kau lepaskan? Dasar tidak bisa diandalkan, kau yang salah,” maki Si Cepot.“Mana bisa aku mendengar, suara badai terlalu kencang. Kukira dia bersamamu tuan. Kau yang salah,” sergah Madu Lanang.“Dasar ngeyel, kau yang salah!” bentak si Cepot.“Aku? Tidak! Tidak! Dirimu tuan,” teriak Madu Lanang.Keduanya terus berdebat di tengah sebuah hutan jauh di b

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 232 Monster Kecil Penguasa Kegelapan

    Trang! Wushh! BUMMMMMM!Larik energi hitam melesat jauh ke ketinggian sebelum akhirnya meledak menggetarkan batas semesta.Batara Guru sang raja dari semua raja melebarkan mata tidak percaya, begitu juga dengan Kenaka.Bahkan semua pasukan dari kedua belah pihak menganga, menatap ketinggian dengan bibir bergetar tidak kuasa menahan keterkejutan.Bagaimana tidak, sebuah serangan maha kuat yang mampu membunuh raja dari segala dewa dibelokkan begitu saja oleh seorang gadis kecil berusia tidak lebih dari 8 tahun.Terlebih senjata yang gadis itu gunakan bukanlah senjata pusaka, melainkan hanya sebongkah pedang mainan tumpul yang tidak lebih dari besi biasa.Membuat Kenaka sang pemilik jurus hampir terbatuk darah menyaksikannya.Sementara si gadis kecil hanya menyeringai polos seakan serangan tersebut bukan apa-apa baginya.“Si-si—siapa dia?” gumam Kenaka terbata.“Mo-monster kecil,” Batara Guru juga ikut terbata.Tidak ada yang mengenali gadis itu selain Raden Buana, Mutiara Sendayu, Asgar

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 53 Iblis Perak

    Semua penonton berdebar melihat rombongan Lintang di serang ratusan monster iblis.Hal itu karena para monster yang menyerang mereka jauh lebih banyak dari pada monster yang menyerang kelompok Samosir.Entah apa yang terjadi di sana, yang pasti semua iblis di hutan perak seperti telah dikendalikan

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 52 Bantuan Lintang

    Di dalam kubah penghalang, Lintang menciptakan banyak serangga kecil dari energi sihirnya.Kemudian serangga-serangga tersebut dilepaskan agar masuk ke lantai pertama untuk mencari semua peserta.Dalam waktu singkat, Lintang bisa menemukan mereka. Dengan kehendaknya, satu serangga masuk dalam kepal

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 50 Pertemuan Dua Sahabat

    “Hahaha, tentu saja Tari, bangunlah! Selama ratusan ribu tahun, selain aku hanya dirimu yang mampu menyelesaikan tahap akhir dari jurus pedang kita. Aku sangat senang,” Dewi Betari tertawa.“Ini berkat bimbingan guru,” ucap Anantari.“Kau selalu saja merendah, ini semua tentu berkat kerja kerasmu,”

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 48 Kawah Candradimuka

    Berbeda dengan wilayah kerajaan Salaka Tungga yang terang benderang.Di Alam Para Dewa terdapat sebuah tempat yang selalu diliputi kegelapan seakan tempat itu adalah wilayah kutukan yang tidak boleh dimasuki.Penerangan di sana hanya berupa bias cahaya bara dari kawah luas yang selalu bergejolak se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status