Home / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta Bagian 2 / Bab 8 Kekuatan Sejati Lintang

Share

Bab 8 Kekuatan Sejati Lintang

Author: Pujangga
last update Last Updated: 2026-02-27 14:12:16

“Apa yang sedang dia lakukan?” gumam Lintang mengerutkan kening.

“Makhluk ini sepertinya sedang menggunakan jurus terlarang tuan, aku merasakan ada energi lain pada pedangnya,” ungkap Jagat menerangkan.

“Begitu rupanya, hahaha, ternyata hanya sampai di sini batas kekuatan pembunuh itu,” Lintang tertawa.

“Bagaimana sekarang?” tanya Jagat.

“Bagaimana lagi, kita ikuti saja permainannya. Setelah itu habisi dia,” jawab Lintang sembari menyeringai.

Di kejauhan, pedang si tangan kilat tiba-tiba berubah bentuk menjadi lebih besar.

Selain itu, dari dalam tubuhnya juga muncul tulang-tulang putih seperti duri yang memanjang.

Selanjutnya tulang-tulang tersebut berubah pipih membentuk pedang. Bukan pedang untuk dipegang, tetapi pedang yang menempel pada kedua lengan, kaki, punggung, pundak, dan setiap sikutnya.

Membuat sang pria berkumis tebal menjelma menjadi manusia bertubuh pedang.

“Tubuh pedang, jurus pedang dewa tingkat akhir!” serunya lantang.

Ternyata benar, jurus tersebut memang jurus tubuh pedang. Lintang tidak tahu menahu tentang jurus para dewa. Yang pasti, sekarang dia akan kesulitan menyentuh lawan.

Selain tubuh dan senjatanya yang berubah, energi si tangan kilat juga meningkat bahkan sampai beberapa kali lipat. Sehingga satu serangannya saja sudah cukup untuk membunuh ratusan peserta ujian.

“Kita sepertinya tidak bisa berlama-lama menghadapinya tuan, dia terlalu berbahaya untuk anda,” ucap tongkat semesta.

“Tapi jika kupakai energi kegelapan, semua dewa akan tahu identitasku Jagat,” ujar Lintang masih mempertimbangkan.

“Bukankah di sini tidak ada siapa-siapa lagi selain kedua dewa muda di sana! Tuan,” tunjuk Jagat pada Palwa dan Indrayan.

“Jika anda mau, aku bisa membunuh mereka untuk menghilangkan jejak, bagaimana?” tutur Jagat meyakinkan.

“Dasar gila! Bukankah sudah kukatakan beberapa kali kau tidak boleh membunuh seenaknya, mereka sudah menjadi temanku. Kau tidak kuizinkan menyentuhnya,” tegas Lintang sembari menggeleng.

“Baiklah, terserah tuan saja,” Jagat kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu lagi entah bagaimana cara membujuk tuannya.

“Aku mengerti kekhawatiranmu,” ujar Lintang.

Selanjutnya pemuda itu membuka satu segel energinya membuat energi gelap seketika menyeruak menggetarkan daratan.

“Ini …? Bukankah tuan tidak mau menggunakan energi gelap?” tanya Jagat tidak mengerti.

“Sudahlah! Palwa dan Indrayan tidak akan tahu energi ini, ayo kita lakukan dengan cepat,” tutur Lintang.

Lintang yakin, andai pun kedua dewa muda itu tahu, mereka pasti tidak akan berani bercerita kepada dewa lain.

Sementara si tangan kilat yang menyaksikan ada perubahan signifikan pada energi Lintang langsung mengerutkan kening.

Dia terkejut bukan buatan di mana energi gelap dari tubuh Lintang mampu menekan dirinya. Padahal saat ini dia sedang menggunakan jurus pedang terkutuk yang seharusnya tidak ada satu pun energi yang bisa menyentuhnya.

“A-anak ini …? Apa mungkin …? Sial! Ternyata aku sedang berurusan dengan orang yang salah,” umpatnya dalam hati.

Ingin rasanya dia kabur dari pertarungan. Tetapi tidak mungkin karena dirinya sudah terikat kontrak dengan beberapa anak bangsawan.

Jika dia lari dari tugas, maka sama saja dengan bunuh diri. Sehingga mau tidak mau, Si Tangan Kilat harus menyelesaikan tugasnya.

Energi Lintang memang besar dan mengerikan, tetapi dia sangat yakin dengan jurus pedang terkutuknya, tidak ada satu pun dewa yang bisa bertahan.

Dengan penuh percaya diri, si tangan kilat langsung lenyap dari pandangan. Dia melesat cepat menggunakan seluruh energi berniat mengakhiri pertarungan dalam satu serangan.

Pedang merah miliknya menderu menciptakan badai panas yang sangat besar.

Bahkan langit sampai bergemuruh karena tekanannya. Tetapi Lintang yang melihat itu masih tenang di tempatnya. Dia tidak peduli dengan energi musuh.

Alih-alih takut, Lintang malah sengaja menunggunya datang. Begitu juga dengan Jagat, tongkat semesta sudah sedari tadi berubah warna.

Jagat yang tadinya mengeluarkan cahaya merah bara, kini memancarkan cahaya hitam dari energi kegelapan.

Lintang tidak menggunakan energi penuh karena khawatir akan terdeteksi oleh pengawas ujian.

Dia hanya membuka satu segel dari 18 penghalang inti energinya.

Bagi energi kegelapan. Satu segel pun sudah lebih dari cukup untuk membunuh Si Tangan Kilat.

Dan benar saja, saat Si Tangan Kilat datang menebaskan pedang. Lintang langsung mengayunkan tongkat semesta untuk menahan serangan itu.

Hasilnya, pedang si tangan kilat seketika hancur terkena benturan energi kegelapan.

Sementara tongkat semesta terus melaju dan berhenti tepat ketika mencapai tubuh lawan.

Brak! Krek! Krek! Krek!

“Ini …?” si tangan kilat membelalakkan mata mendapati jurus tubuh pedangnya mengalami keretakan.

Krek! Krek! … Krek!

Satu persatu pedang di tubuhnya tanggal berjatuhan ke daratan. Tidak lama dari itu, si tangan kilat menjerit kesakitan seperti akan meregang nyawa.

“Ti-ti-tidak! Ti-tidak mungkin! Aaaaaaaaaaa!”

BUMMMMMM!

Ledakan maha besar terjadi tidak dapat terelakkan. Gelombang energi gelap menyeruak ke segala arah melenyapkan apa pun yang di lewatinya. Termasuk awan dan udara.

Langit di angkasa berguncang hebat karena tekanannya, bahkan daratan di bawah juga mengalami keretakan membuat Palwa dan Indrayan memucat ketakutan.

Mereka tidak mengerti entah apa yang terjadi di cakrawala, namun mendengar dari teriakan musuh, Lintang sepertinya keluar sebagai pemenang.

Dan benar seperti dugaan mereka, teriakan si tangan kilat saat itu bersenandung mengiringi kematiannya

Tubuhnya hancur menjadi serpihan terkena ledakan dari hantaman tongkat semesta. Sementara Lintang masih berdiri di sana bahkan tanpa luka sedikit pun.

Kekuatan pemuda berambut putih itu benar-benar mengerikan. Andai ada ketua Sekte Pedang Kahuripan yang melihatnya, sudah pasti dia akan langsung muntah darah di sana.

Ternyata selama ini Lintang memang menyembunyikan kekuatan sejatinya. Dia menyegel energi kegelapan jauh di dalam tubuh.

Lintang tidak bisa sembarangan menggunakan energi itu karena akan memancing perhatian seluruh alam.

Itu juga alasan mengapa Lintang harus mengakhiri Si Tangan Kilat dengan cepat. Dia khawatir kekuatan sejatinya akan terdeteksi oleh dewa lain.

Setelah berhasil membunuh musuh, Lintang segera menyimpan kembali energinya.

Dia sempat menggeleng berdecak kesal karena terpaksa harus menggunakan energi terkutuk seperti itu.

Tetapi Si Tangan Kilat memang benar-benar kuat, andai Lintang tidak menggunakannya, maka dia bisa saja berakhir terluka parah. Tentu saja itu akan sangat merugikan karena dirinya saat ini sedang dalam ujian.

“Tuan, mereka melihat kita. Apa aku bunuh saja?” tanya Jagat yang melihat Palwa dan Indrayan memandang ke arah Lintang.

“Kau masih saja tidak mengerti Jagat. Mereka temanku. Sudahlah, kembali ke tempatmu,” ketus Lintang sedikit kesal.

“Baiklah,” tongkat semesta langsung melesat masuk ke sabuk kain milik Lintang.

Seperti biasa, tempat favoritnya adalah di bagian belakang pinggang.

Jika tidak digunakan, Jagat akan tidur seharian. Namun bukan tidur biasa, tetapi dia tengah bertapa mengasah energinya agar semakin kuat.

Setelah merapikan pakaian yang compang-camping akibat pertarungan, Lintang melesat turun ke daratan.

Dia mendarat mulus di tepi sungai dekat Indrayan dan Palwa. Dalam sekali kibasan tangan, kubah energi yang mengurung mereka lenyap menjadi butiran cahaya membuat kedua dewa tersebut kembali bisa bergerak bebas dan keluar dari dalam sungai.

“A-apa anda baik-baik saja tuan?” tanya Palwa.

Palwa langsung melesat menghampiri Lintang karena khawatir.

“Tidak apa Palwa, ayo kita lanjutkan perjalanan. Jarak kita dengan menara di ujung utara masih ratusan kilo meter. Jadi kita harus cepat,” jawab Lintang.

“Maaf tuan, aku tadi merasakan energi yang mengerikan. Apa itu energi anda?” tanya Indrayan.

“Hahaha, itu mungkin hanya perasaanmu Indrayan. Tapi entahlah,” Lintang menggeleng.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 17 Naga Cahaya

    Banyak pengguna sihir di alam dewa, tetapi membuat pakaian sihir seindah ciptaan Lintang tidak pernah di temukan di mana pun membuat Atmarani begitu terpana mendapatkannya.Saat ini di dalam hati gadis itu berkecamuk berbagai rasa terhadap Lintang, marah, benci, geram, takjub, terpesona, dan bahagia bercampur menjadi satu sehingga Atmarani tidak bisa berkata-kata.Dia sangat ingin membunuh Lintang, tetapi juga tidak kuasa berada di dekatnya. Tubuh Atmarani entah mengapa seakan lemas di hadapan Lintang.Baru kali ini Atmarani merasakan hal seperti itu sehingga membuatnya bertanya-tanya, sihir apa yang telah Lintang tanamkan kepadanya.“Ini, ambil pakaianmu. Maafkan aku karena tidak sengaja masuk ke mari,” Lintang tiba-tiba muncul di sisi Atmarani dengan telah menyodorkan tumpukan pakaian beserta topeng kayu miliknya.Namun alih-alih senang, Atmarani entah mengapa malah seperti ketakutan sehingga dia langsung mundur beberapa langkah.“Be-berhenti di sana pe-pemuda ca-cabul,” Atmarani te

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 16 Dewi Atmarani Pratista

    KyAaaaaaaaaa!Lintang langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara tubuhnya masih telanjang bulat di sisi kolam.Begitu pula sang gadis cantik yang tidak sengaja dirinya lihat. Dia langsung menutupi semua bagian penting dari tubuhnya.Tangan kiri menyilang menutupi dua gundukan kembar di antara dadanya, sementara tangan kanan menjuntai menutupi sesuatu di antara dua kakinya.Wajah tirus dengan bibir bergelombang membuat Lintang tidak bisa berkata-kata. Dia memiliki hidung bangir dengan bulu mata lentik bagaikan haluan kapal yang sangat indah.Memiliki dua bola mata berwarna hijau cerah, dan rambut hitam panjang terurai.Sementara tubuhnya benar-benar sangat elok dengan kulit putih mulus tanpa noda.Lengkungan pinggul violin membuat pikiran Lintang mengembara pada sesuatu yang tidak semestinya. “Aaaaa! Aaaaa! Aaaaaaaa! Berengsek! Sialan! Cabul! Tidak tahu diri! Enyah kau dari sini!” maki sang gadis cantik kepada Lintang.Wajah mulusnya seketika merona karena dia juga t

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 15 Gadis Bertopeng

    Lintang merasakan ada energi dari pengikut dewa kegelapan, namun energi tersebut terlalu jauh sehingga Lintang tidak bisa memastikan di mana dan siapa pemilik energi itu.Tetapi dari sana Lintang bisa tahu bahwa pasukan raja kegelapan memang sudah berada di kota Ganestaloka.Itu membuat dia semakin waspada dalam bertindak karena salah sedikit saja, nyawanya dan seluruh penduduk kerajaan Dashaloka akan binasa di tangan mereka.Setelah menyantap berbagai hidangan di rumah makan tersebut, Lintang mengajak Palwa dan Indrayan segera kembali ke kamar penginapan. Namun waktu itu Indrayan mengatakan bahwa di pasar kota ada pemandian air hangat terbesar.Tempatnya sangat aman dan tertutup karena berada di dalam gedung yang dijaga ketat oleh para pendekar.Mendengar hal tersebut, Lintang tentu saja penasaran karena air hangat bagus untuk memperkuat susunan tulang. Terlebih air hangat yang langsung berasal dari gunung Merapi karena air tersebut mengandung zat belerang.Selain itu Lintang juga me

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 14 Bahaya Mendekat

    Sore hari di kota Ganestaloka, Lintang, Indrayan dan Palwa sudah mendapat penginapan.Secara tidak sengaja mereka memilih penginapan paling mewah dengan uang milik Lintang. Tentu saja bagi Lintang itu tidak masalah karena di dalam dimensi penyimpanannya, dia memiliki batu energi yang tidak terbatas.Sebagai seorang putra penguasa besar yang menguasai 4 alam, Lintang memiliki banyak harta kekayaan yang bangsa dewa sekalipun sulit menandinginya.Palwa sengaja memilih kamar paling besar di penginapan itu agar dapat ditempati oleh tiga orang.Namun siapa sangka, ukuran kamar tersebut bahkan mampu menampung 100 orang di dalamnya.Palwa dan Indrayan memang diberi tugas untuk memesan kamar, sementara Lintang bersembunyi di dunia dimensi.Lintang kembali muncul saat sudah di dalam kamar, dan alangkah terkejutnya pemuda itu kala mendapati kamar yang disewa Palwa ternyata begitu besar.“Apa kau ingin membuatku bangkrut Palwa?” tanya Lintang menaikkan satu alisnya.“A-a—anu tuan, maaf aku tidak

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 13 Batu Energi

    Ujian masuk Sekte Pedang Kahuripan dihentikan satu hari di mana para ketua penyelenggara harus mengadakan pertemuan penting terkait kekacauan yang diciptakan Lintang.Hal itu membuat ketua perguruan lain kecewa termasuk semua peserta.Dengan dihentikannya ujian, maka semua orang yang berasal dari luar wilayah Sekte Pedang Kahuripan harus mencari tempat penginapan di kota terdekat.“Sial! Jauh-jauh aku datang ke sini hanya untuk menyaksikan para muridku lolos ujian, dan sekarang ujian dihentikan! Bukankah ini kerugian besar karena kita harus menyewa penginapan?” umpat salah satu ketua perguruan Banyu Diva.“Kau benar Bantara, sial! Mana perbekalanku sudah hampir habis lagi,” umpat salah satu ketua dari perguruan Talaga Sukma.Kedua perguruan mereka memang merupakan perguruan termiskin di kerajaan Dashaloka. Sehingga saat mendengar ujian dihentikan, keduanya begitu kalangkabut memikirkan penginapan untuk para muridnya.Sementara ketua perguruan lain kesal karena tidak sabar ingin segera

  • Legenda Tongkat Semesta Bagian 2   Bab 12 Pengacau

    Menjelang tengah hari, Lintang, Palwa, dan Indrayan berlesatan kembali melanjutkan perjalanan.Tetapi kali ini ada yang berbeda di mana di belakang mereka terdapat ratusan peserta lain yang mengikuti.Benar, Lintang menolong semua peserta yang menghinanya sehingga secara suka rela mereka berlutut meminta maaf.Palwa dan Indrayan tentu kesal melihat itu, keduanya bahkan sempat memaki semua peserta karena mereka sungguh tidak tahu malu.Tetapi Lintang tidak demikian, sifat bijak dan welas asihnya membuat semua peserta yang ada di sana mendapatkan pengampunan.Dia tidak peduli meski beberapa di antara mereka masih memendam kebencian terhadapnya di mana menurut Lintang, membantu makhluk yang membutuhkan tidak akan membuat dirinya lemah.Bahkan dengan memberi, Lintang merasa dirinya lebih berguna. Dia tidak mengharapkan pembalasan maupun pengakuan, karena yang Lintang inginkan hanyalah membuka hati para generasi dewa agar mereka bisa menjadi makhluk yang lebih baik.Perbuatannya mungkin ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status