LOGINDi atas kasur berukuran king size, sepasang pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan apapun tengah bergelut dengan intimnya. Keringat sudah membasahi tubuh mereka, namun keduanya masih asik memacu hasrat menuju puncak nirwana tertinggi. Selesai syuting, Yulia mewujudkan keinginannya tadi. Dia mengajak Kalandra melakukan pemanasan di dapur, persis seperti adegan saat mereka syuting. Jika saat syuting, pemeran menggunakan minuman keras, untuk percintaan mereka, Kalandra memilih menggunakan es krim. Sensasi dingin yang disertai dengan kuluman dan jilatan dari Kalandra sukses membangkitkan hasrat Yulia. Usai bermain satu ronde di dapur, Yulia mengajak Kalandra melanjutkan permainan ke kamar. Dan di sinilah mereka sekarang sejak satu jam lalu. Yulia terkapar lemas di atas kasur. Dadanya terlihat naik turun, wanita itu mencoba mengatur nafasnya yang terengah. Dia benar-benar puas dibuat lemas oleh Kalandra. Hal itu semakin membuat Yulia tak bisa lepas dari Kalandra dan ingin memiliki
Sepanjang acara makan, Kalandra merasa sedikit canggung. Bukan saja karena makan berdua di satu meja bersama Yulia, tapi juga karena wanita selalu melayaninya. Mengambilkan makanan untuknya atau menyuapi makanan miliknya. Apa yang Yulia lakukan sudah seperti perlakuan istri pada suaminya. Apa yang dilakukan Yulia, tak ayal membuat mata semua anggota rombongan selalu tertuju padanya juga Kalandra. Ersa hanya bisa melihat dengan pandangan iri. Inginnya dia mendekati Kalandra, namun resikonya terlalu besar. Selesai makan, Yulia berdiri untuk memberi pengumaman. “Hari ini kalian bebas mau aktivitas apa saja. pemotretan dimulai besok lanjut syuting film. Saya sudah menyiapkan bonus untuk kalian berbelanja atau jalan-jalan.” “Asik. Terima kasih, Bu.” Apa yang dikatakan Yulia tentu saja menjadi kabar gembira untuk semua anggota rombongan. Yulia memang terkenal royal dan tidak pelit. Hanya saja jangan ada yang coba-coba membantah atau menyentuh miliknya. Dia bisa menjelma menjadi singa k
Pukul lima shubuh Kalandra sudah sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Hari ini dia akan menuju Jakarta. Sudah waktunya pria itu melakukan pemotretan lagi. Dan kali ini pemotretan akan dilakukan di dua tempat, Batam dan Singapore. Alya masuk ke dalam kamar. Dia membawa beberapa potong pakaian untuk suaminya. Tak butuh waktu lama, tas berisi pakaian dan ransel berisi peralatan memotret sudah selesai disiapkan. Kalandra menarik Alya hingga wanita itu duduk di atas pangkuannya. “Nabil masih tidur?” “Iya, Mas. Mas berangkat jam berapa?” “Setengah tujuh.” “Pemotretan di mana, Mas? Batam?” “Iya. Selesai di Batam, kita lanjut ke Singapura. Kamu mau dibeliin apa, sayang?” “Ngga usah. Uangnya kan dipakai buat nyicil pinjaman ke kantor.” “Tapi kan ngga semuanya aku setor. Seperti kemarin, masih kebagian lima juta. Lagian nanti aku bukan cuma motret aja, tapi syuting juga.” Sambil berbicara, Kalandra membuka daster yang dikenakan istrinya. Sebelum perg, dia ingin melakukan
Ciuman dalam dan penuh hasrat langsung terjadi di antara mereka. Didera perasaan bersalah, Kalandra ingin menebus kesalahannya pada sang istri. Dia juga ingin memberikan kepuasan pada istrinya yang sempat tertunda karena Yulia. Kalandra mengangkat tubuh Alya kemudian mendudukkan di atas bak cuci piring. Bunyi decapan bibir mereka terdengar memenuhi seisi dapur. Tangan Kalandra kini sudah berada di gunung kembar istrinya yang masih tertutup rapih. Rematan pelan di sana membuat Alya mendesah pelan. “Assalamu’alaikum.” Di saat hasrat keduanya semakin naik, tiba-tiba saja terdengar suara wanita mengucapkan salam disusul teriakan Nabila memanggil nama Aruna. Rupanya adik Alya yang datang berkunjung. Keduanya segera mengakhiri aktivitas intim yang baru saja dimulai. Alya merapihkan dulu pakaiannya sebelum menyambut sang adik. “Run, ke sini sama siapa?” tegur Alya. “Sama Ricky.” Dari arah luar muncul Ricky, kekasih Aruna sambil menenteng helm. Tak lama berselang Kalandra datang da
“Yulia, apa yang kamu lakukan?” tanya Kalandra dengan suara seraknya. “Maaf, sayang. Milik mu sudah membuat ku candu.” Yulia melanjutkan kegiatannya mengulum senjata pusaka milik Kalandra. Pria itu kembali membaringkan tubuhnya lagi. Service oral Yulia memang luar biasa nikmat, walau enggan mengakui, namun Kalandra menyukainya. Ditambah lagi sekarang dirinya masih menjadi budak seks Yulia. Mana bisa pria itu menolak apa yang dilakukan Yulia. Walau tidak ada perjanjian tertulis, tapi tetap saja akan ada konsekuensinya jika Kalandra menolak. Wanita kaya dan berkuasa seperti Yulia bisa melakukan apa saja untuk mempersulit hidupnya. Tanpa dapat ditahan, erangan Kalandra keluar juga. Kuluman dan pijatan tangan Yulia dia senjata andalannya langsung dapat membangkitkan gairah pria itu. Melihat Kalandra yang begitu menikmati service oralnya, membuat Yulia tak tahan lagi. Wanita itu menghentikan apa yang dilakukannya lalu naik ke atas Kalandra. Pelan-pelan dia memasukkan batangan ke
Dengan langkah perlahan, Kalandra berjalan mendekati Yulia yang masih berbaring di sofa. Ketika Kalandra semakin mendekat, Yulia menegakkan tubuhnya. Wanita itu duduk menunggu pria di depannya sampai di dekatnya. Begitu Kalandra berdiri tegak di depannya, Yulia langsung menurunkan segitiga pengaman milik Kalandra. Mata laparnya langsung melalap batangan kenyal milik Kalandra yang sudah menegang dan mengeras. Efek obat perangsang yang dikonsumsinya tadi sudah mulai bekerja. Terdengar lenguhan Kalandra ketika Yulia mulai mengulum senjata pusakanya. Kalandra mendongakkan kepalanya seraya memejamkan mata. Tidak dapat dipungkiri kalau pria itu sangat menikmati apa yang dilakukan Yulia. Service oral wanita itu benar-benar baik. Alya kalah jauh dibandingnya. Tangan Kalandra bergerak merah kepala Yulia, meremat pelan rambut wanita itu kemudian mendorong kepala Yulia untuk memperdalam kulumannya. Setelah beberapa menit, permainan berubah. Yulia sekarang berbaring di atas sofa dan Kalandra







