LOGIN“Yulia, apa yang kamu lakukan?” tanya Kalandra dengan suara seraknya. “Maaf, sayang. Milik mu sudah membuat ku candu.” Yulia melanjutkan kegiatannya mengulum senjata pusaka milik Kalandra. Pria itu kembali membaringkan tubuhnya lagi. Service oral Yulia memang luar biasa nikmat, walau enggan mengakui, namun Kalandra menyukainya. Ditambah lagi sekarang dirinya masih menjadi budak seks Yulia. Mana bisa pria itu menolak apa yang dilakukan Yulia. Walau tidak ada perjanjian tertulis, tapi tetap saja akan ada konsekuensinya jika Kalandra menolak. Wanita kaya dan berkuasa seperti Yulia bisa melakukan apa saja untuk mempersulit hidupnya. Tanpa dapat ditahan erangan Kalandra keluar juga. Kuluman dan pijatan tangan Yulia dia senjata andalannya langsung dapat membangkitkan gairah pria itu. Melihat Kalandra yang begitu menikmati service oralnya, membuat Yulia tak tahan lagi. wanita itu menghentikan apa yang dilakukannya lalu naik ke atas Kalandra. Pelan-pelan dia memasukkan batangan kenyal
Dengan langkah perlahan, Kalandra berjalan mendekati Yulia yang masih berbaring di sofa. Ketika Kalandra semakin mendekat, Yulia menegakkan tubuhnya. Wanita itu duduk menunggu pria di depannya sampai di dekatnya. Begitu Kalandra berdiri tegak di depannya, Yulia langsung menurunkan segitiga pengaman milik Kalandra. Mata laparnya langsung melalap batangan kenyal milik Kalandra yang sudah menegang dan mengeras. Efek obat perangsang yang dikonsumsinya tadi sudah mulai bekerja. Terdengar lenguhan Kalandar ketika Yulia mulai mengulum senjata pusakanya. Kalandra mendongakkan kepalanya seraya memejamkan mata. Tidak dapat dipungkiri kalau pria itu sangat menikmati apa yang dilakukan Yulia. Service oral wanita itu benar-benar baik. Alya kalah jauh dibandingnya. Tangan Kalandra bergerak merah kepala Yulia, meremat pelan rambut wanita itu kemudian mendorong kepala Yulia untuk memperdalam kulumannya. Setelah beberapa menit, permainan berubah. Yulia sekarang berbaring di atas sofa dan Kalandra b
Diliriknya Alya yang masih menunggunya di kasur. Kalandra menarik nafas panjang sebelum menggeser ikon hijau. “Halo.” “Halo, Kala. Bagaimana keadaan anak mu?” “Sudah baikan, Bu.” “Tapi aku yang tidak baik-baik saja. Aku mau kamu menemui ku sekarang. Aku akan mengirimkan lokasi apartemen ku. Aku tunggu secepatnya. Aku di unit 1807.” Panggilan langsung berakhir setelah Yulia menyelesaikan kalimatnya. Kalandra masih termangu di tempatnya. Perasaan tak tenang langsung merayapi hatinya. Akhirnya waktu yang ditakutinya tiba juga. Sudah saatnya dia menjual diri pada Yulia. “Siapa yang telepon, Mas?” suara Alya membuyarkan lamunan Kalandra. “Telepon dari kantor, sayang. Mas ada pekerjaan.” “Harus pergi sekarang?” “Iya.” Kalandra berjalan pelan menuju ranjang. Pria itu mencium bibir Alya dengan mesra. Inginnya dia menghabiskan waktu bersama Alya lebih dulu, namun Yulia sudah memberinya ultimatusm. Pria itu harus segera sampai di apartemen wanita itu. Suara dentingan ponsel membuat
“Benarkah? Tapi dari mana Mas dapat uangnya?” “Aku dapat pinjaman dari kantor atas rekomendasi Bu Yulia.” “Bu Yulia?” “Dia komisaris utama di kantor ku. Yang waktu itu aku temui.” “Ooh..” Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Alya. Setiap mendengar nama Yulia, entah mengapa hatinya resah. Perasaannya selalu tidak enak jika menyangkut wanita itu atau pun Mega. “Tapi jumlahnya besar, Mas. Bagaimana membayarnya?” “Ya memang ada konsekuensinya. Aku harus rela kerja lebih keras lagi. Jadwal pemotretan akan ditambah. Aku juga diminta menjadi kameramen film pendek produksi mereka. Bayaran jadi kameramen lebih besar dan aku bisa cepat melunasi hutang ke kantor.” Dengan lancar Kalandra mengatakan kebohongan yang sudah tersusun rapih di kepalanya. Dia tahu benar kalau sang istri pasti akan menanyakan dari mana uang yang didapatnya berasal. Tidak mungkin juga Kalandra mengatakan kebenarannya. Alya pasti akan mengamuk dan memintanya mengembalikan uang tersebut. “Setelah Nabil men
Seketika Kalandra membeku. Yang diinginkannya mencari uang untuk biaya operasi putrinya, bukan menjual diri. Tapi Yulia justru memanfaat situasi demi keuntungannya sendiri. “Apa saya tidak bisa membayar dengan cara lain? saya bersedia bekerja lebih lama sebagai ganti uang yang dipinjam.” Akhirnya Kalandra membuka suaranya juga. Pria itu masih berusaha untuk bernegosiasi. Semoga saja Yulia luluh dan mau mengabulkan permintaannya. “Aku meminjami uang dari uang pribadi ku, bukan uang perusahaan. Jadi yang harus kamu kerjakan sebagai bayaran, tidak ada hubungannya dengan urusan kantor. Kalau kamu setuju, aku bisa langsung mentransfer ke rekening mu sekarang juga.” “A.. apa yang harus saya lakukan?” “Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Kita ini sama-sama sudah dewasa. Kamu pasti tahu apa yang ku inginkan. Kalau kamu bisa membuat ku puas dan senang, aku bisa menambahkan bayaran untuk mu. Berapa yang kamu butuhkan?” Yulia mengambil ponselnya. Wanita itu hendak mentransfer uang melalui i
Waktu syuting memakan waktu lebih lama dari perkiraan Kalandra. Disangkanya proses syuting ini sama ketika pria itu merekam adegan percintaan Irving dan Davina. Ternyata proses pembuatan blue film lebih rumit. Mereka harus berganti beberapa pose dan tempat. Tidak terbayang bagaimana peningnya kedua orang itu ketika harus selalu berhenti di tengah percintaan mereka. Selain kru yang bertugas, Mega dan Yulia juga menyaksikan jalannya syuting. Keduanya terlihat tenang, seperti sudah biasa melihat pemandangan seperti ini. “Oke take terakhir ya. Andrei, klimaksnya harus oke!” seru sang sutradara. Tidak ada jawaban dari Andrei, pria itu hanya mengangkat jempolnya saja. Sekarang keduanya kembali berada di kasur. Vivian berada di bawah, dan Andrei berada di atasnya. Keduanya kembali melakukan percintaan sesuai arahan sang sutradara. Kalandra terus bergerak mengarahkan kameranya. Pria itu semakin panas dingin saja. Apalagi ketika mendengar lenguhan panjang Vivian ketika wanita itu mencapai







