MasukJantung Kalandra berdetak kencang ketika seorang petugas polisi melihat padanya lalu berjalan mendekatinya.
Buru-buru dia mengambil ponsel di saku jaketnya. Pria itu menempelkan benda pipih persegi tersebut ke telinganya. Berpura-pura sedang menjawab panggilan. “Ya, kamu di mana?” suara Kalandra sengaja dibuat sedikit kencang agar pembicaraannya terdengar oleh polisi. “Aku ke sana sekarang.” Sebelum sempat polisi mendekatinya, Kalandra langsung menjalankan kendaraannya. Tanpa menoleh ke belakang, pria itu terus menjalankan kendaraannya. Dia menambah kecepatan motornya agar cepat menjauh dari tempat tersebut. Setelah menjauh dari apartemen yang hendak didatanginya, Kalandra sedikit memperlambat laju motornya. Perlahan dia menepikan kendaraannya. Untuk sesaat pria itu hanya terdiam di atas motorya tanpa tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Tak berapa lama kemudian Kalandra melajukan motornya kembali. Kali ini dia menuju kontrakan di mana Heri tinggal. Pria itu memilih mengembalikan paket yang tersisa. Tidak apa kalau hanya dibayar setengahnya. Kalandra terlalu takut melanjutkan pekerjaan ini. Kalau sampai dirinya tertangkap polisi, bagaimana dengan nasib anaknya. Dua puluh menit kemudian pria itu sudah sampai di kontrakan Heri. Kalandra segera turun dari motornya kemudian mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu terbuka. “Hei, sudah selesai?” “Ini uang bayaran Joshua. Kalau paket untuk Daniel aku kembalikan. Aku takut.” “Takut kenapa?” “Banyak polisi di apartemen. Aku takut ketahuan, makanya aku langsung ke sini.” “Sebentar aku hubungi Daniel dulu.” Heri mengambil ponselnya lalu menghubungi Daniel. Untuk beberapa saat dia berbicara dengan Daniel. Matanya terus melihat pada Kalandra ketika berbicara. Tak berselang lama panggilannya berakhir. “Bagaimana?” “Polisi memang ada di sana, tapi aman. Katanya di salah satu unit ada pemilik apartemen yang kerampokan. Makanya polisi sedang berada di sana. Kamu antarkan saja barangnya sekarang.” “Tapi, Bang.” “Tolong Ndra, antarkan barangnya. Kalau ngga, aku yang bakalan dikejar sama mereka.” “Kalau begitu Abang aja yang antarkan.” Kalandra mengeluarkan dus kecil dari saku jaketnya kemudian memberikannya pada Heri. Tapi pria itu mendorong dus kecil tersebut. “Aku ada janji malam ini. Kamu harus mengantarkan paketnya. Ingat Ndra, aku sudah berbaik hati memberikan jatah ku selama beberapa hari ini. Jadi selesaikan tugasnya!” suara Heri terdengar penuh penekanan. “Tapi, Bang.” “Tenang aja, Ndra. Semuanya aman. Kamu cuma antar paket terus pulang, beres.” Kalandra menelan ludahnya kelat. Dibujuk seperti apapun Heri tak mau menerima paket itu lagi karena sekarang nama Kalandra sudah terdaftar sebagai kurir. Akhirnya Kalandra meninggalkan kediaman Heri. Perasaannya jadi tak tenang. Dengan kecepatan sedang pria itu memacu kedaraannya kembali ke gedung apartemen tadi. Pria itu membelokkan motornya memasuki salah satu fas food yang menjual makanan khas Italia. Dia memesan satu box pizza ukuran family. Sambil menunggu pesanan Kalandra memasuki toilet. Dia membuka dus kecil yang dibawanya. Sebuah plastic bening berisikan serbuk putih dikeluarkan dari dalamnya. Kalandra memasukkan plastic bening itu ke dalam segitiga pengamannya. Setelah membuang dus pembungkus, pria itu keluar dari toilet. Kalandra kembali melajukan kendaraan roda duanya. Masih banyak petugas polisi di pelataran parkir gedung apartemen ketika pria itu membelokkan motornya ke sana. Sebisa mungkin Kalandra tetap bersikap tenang. Dia berjalan memasuki lobi apartemen dengan kotak pizza di tangannya. “Tunggu, mau kemana?” tanya salah satu petugas. “Ke unit 820, Pak. Antar Pizza.” Kalandra mengangkat dus pizza di tangannya. Untung saja pria itu sudah mengganti jaketnya dengan jaket ojek online miliknya hingga sang petugas tidak merasa curiga. Namun begitu petugas tersebut memeriksa dulu isi di dalam dus, kemudian menggeledah jaket, baju dan celana Kalandra. Setelah dirasa aman, barulah pria itu diperbolehkan lewat. Sesampainya di dalam lift, Kalandra baru bisa menghembuskan nafas lega. Pria itu mengusap dadanya yang berdebar kencang. Bahkan tangannya juga sedikit bergetar. Begitu sampai di lantai 8, Kalandra melihat ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang atau kamera cctv di koridor lantai tersebut. Pelan-pelan Kalandra mengeluarkan plastik bening dari segitiga pengamannya kemudian menaruhnya di bawah kotak pizza. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju unit 820. Setelah memijit bel, pintu unit pun terbuka. Seorang pria keturunan Chinese keluar menyambutnya. “Paket untuk Daniel.” “Saya ngga pesan pizza.” “Yang di bawah kotak.” Mata Daniel langsung tertuju ke bagian kotak pizza. Di sana tersembul plastik bening. Pria itu segera mengambil dus pizza beserta barang di bawahnya. “Uangnya sudah.” “Iya. Permisi.” Tanpa membuang waktu, Kalandra langsung pergi dari sana. Perasaannya sedikit tenang setelah mengirimkan barang dengan selamat. Namun pria itu belum benar-benar tenang sebelum meninggalkan gedung apartemen ini. Kalandra berjalan tenang melewati sekumpulan polisi yang ada di lobi apartemen. Pria itu sebisa mungkin tidak bersikap yang membuat petugas itu curiga. Dengan cepat dia memakai helm kemudian menjalankan kendaraannya keluar dari pelataran parkir gedung apartemen tersebut. *** Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam ketika Kalandra sampai di kontrakannya. Pria itu memilih pulang lebih dulu sebelum aplus berjaga di rumah sakit dengan istrinya. Pria itu langsung meminum air putih begitu masuk ke dalam rumah. Sisa ketegangan masih dirasakan olehnya. Kalau tadi dia tidak berhati-hati, bisa jadi dirinya teratngkap oleh polisi. Kalandra mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Heri. [Paketnya sudah aku kirim.] Pesan yang dikirimkan langsung berubah menjadi centang biru, tanda pesan sudah terbaca. Beberapa menit kemudian sebuah pesan dari Heri masuk. Pria itu mengirimkan screen shoot bukti transferan bayaran Kalandra hari ini. Kalandra bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sebelum menuju rumah sakit, dia ingin membersihkan diri lebih dulu. Sambil mengusak rambutnya, Kalandra berjalan memasuki kamarnya. Melihat kasur di depannya, ingin rasanya dia merebahkan tubuh sejenak. Pria itu melangkah mendekati kasur kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Kalandra mengambil ponselnya kemudian menghubungi Alya. Dia ingin memberitahu istrinya kalau datang terlambat. Takut Alya mencemaskannya. Apalagi tadi mereka sempat bertengkar di rumah sakit. “Halo.” “Sayang, Mas sudah di rumah. Tapi Mas mau tidur sebentar, ngga apa-apa? Sekitar satu jam. Mas ngantuk banget.” “Iya, Mas. Mas sudah makan belum.” “Sudah. Kamu sudah makan?” “Belum.” “Kamu makan aja. Jangan sampai ngga makan. Nanti kamu sakit juga.” “Iya, Mas.” Panggilan singkat dengan Alya berakhir sudah. Kecemasan yang tadi rasakan Kalandra menghilang setelah mendengar suara sang istri yang begitu menenangkan. Kalandra langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Rasa letih di tubuhnya sedikit berkurang setelah punggungnya rebah di kasur empuk itu. Hanya dalam waktu singkat rasa kantuk melandanya. Mata Kalandra langsung memberat dan terpejam tak lama setelahnya. Kalandra membuka matanya ketika telinganya mendengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan. Pria itu terbangun dari tidurnya, kemudian terduduk dengan perasaan cemas. Tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan ketukan di pintu. Awalnya dia masih diam, namun karena ketukan terus berlanjut, mau tak mau pria itu bangun kemudian keluar dari kamar. Dia mengintip orang di depan rumahnya. jantungnya berdegup kencang saat melihat dua pria berdseragam coklat berdiri di depan rumahnya. DUG DUG DUG “Saudara Kalandra, buka pintunya!” Kembali suara gedoran terdengar di daun pintu rumahnya. Dengan tangan bergetar, Kalandra membuka pintu. “Saudara Kalandra, anda ditangkap karena sudah menjadi pengedar narkoba.”Tak butuh waktu lama, keduanya langsung terlibat dalam situasi panas. Ciuman keduanya sekarang sudah semakin panas saja. Lidah mereka sudah saling membelit, menarik dan bertukar saliva. Nafas keduanya nampak terengah ketika ciuman itu berakhir. Dapat Mega rasakan ada yang menusuknya dari bawah. Kalandra sudah benar-benar terpancing hasratnya. “Kita ke kamar ku saja,” bisik Mega. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Kalandra menuruti apa yang dikatakan Mega. Pria itu sekarang tengah dikuasai oleh gairah. Sebagai pria normal, dia butuh pelampiasan. Sambil menggendong Mega, Kalandra bangun dari duduknya. Pria itu melangkah masuk ke dalam vila yang sepi, kemudian menuju kamar Mega. Sesampainya di kamar, Kalandra langsung membaringkan tubuh Mega di kasur dan melanjutkan ciuman mereka. Suara decapan terdengar memenuhi seisi kamar. Mega melepaskan dress yang dikenakannya, berikut penutup bukit kembarnya. Dia membiarkan Kalandra melahap bukit kembarnya. Kepalanya mendongak ketika merasakan
Semua barang-barang di rumah kontrakan Kalandra sudah dibereskan. Sesuai janjinya, semua peralatan elekteronik diberikan pada Alya berikut motor yang dulu sering digunakan. Sementara barang yang lain sudah dikirimkan ke rumah orang tua Kalandra. Untuk sementara dia akan tinggal di sana. Para tetangga cukup terkejut mengetahui pernikahan Kalandra dan Alya berakhir pasca meninggalnya Nabila. Padahal dulu keluarga itu terlihat begitu harmonis. Kalandra yang pekerja keras, rela melakukan apa pun demi kesembuhan anaknya. Sedangkan Alya adalah istri dan ibu yang baik dan setia. Dia selalu mendampingi putrinya yang sakit-sakitan dan juga senantiasa memberikan semangat pada suaminya. Tapi sekarang, itu semua hanyalah tinggal kenangan. Setelah kepergian Nabila, rumah itu terasa sunyi dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Satu per satu penghuninya pergi meninggalkan rumah. “Bu, saya titip kunci buat Pak Tatang ya. Saya sudah bilang. Karena Pak Tatang lagi di Tasik, minta kunci
“Apa Al? Kamu bercanda kan? Tolong jangan seperti ini, Al. Aku mencintai mu. Aku tidak bisa hidup tanpa mu.” “Tapi Mas bisa tidur tanpa ku dan bisa melakukannya dengan perempuan lain.” Seketika Kalandra terdiam. Perkataan Alya mengingatkannya pada dosa tak termaafkan yang sudah dilakukannya. Pria itu seakan lupa, bertahannya Alya di sisinya selama ini karena Nabila. Tapi setelah anaknya pergi, tidak ada lagi yang bisa membuat wanita itu bertahan. Luka yang dibuat Kalandra masih menganga dan belum sepenuhnya kering. Wanita yang telah dikhianati, akan sulit untuk pulih seperti semula. “Kalau pun pernikahan ini diteruskan, aku tidak yakin ke depannya akan seperti apa.” “Maafkan aku, Al. Aku tahu yang ku lakukan salah. Dan aku juga sudah mengatakan alasannya pada mu. Katakan Al, bagaimana cara ku mendapatkan maaf mu. Tapi tolong jangan pergi. Aku sudah kehilangan Nabil. Jangan buat aku kehilangan diri mu juga.” Kalandra memegangi tangan Alya. Tatapan matanya penuh dengan permohonan
Sejak meninggalkan rumah, komunikasi antara Alya dan Kalandra benar-benar terputus. Setiap pesan yang dikirimkan Kalandra tidak pernah dibaca apalagi dibalas. Tak mau menyerah, Kalandra terus mengirimkan pesan. Semua untuk menunjukkan kalau pria itu masih peduli akan kelangsungan hubungan mereka. Alya terus tinggal di rumah kedua orang tuanya. Sudah beberapa kali orang tuanya membujuk, namun wanita itu bergeming. Dia tidak mau kembali ke rumah apalagi bertemu dengan Kalandra. Sampai akhirnya tiba di hari ke-40 kepergian putrinya. Dengan sangat terpaksa Alya kembali ke rumah untuk mempersiapkan tahlilan empat puluh hari Nabila. Wanita itu datang sehari sebelum acara diselenggarakan. Begitu tiba di rumah, keadaan nampak sepi. Kalandra tidak berada di rumah. Seperti biasa, dia pergi bekerja di dealer milik Mukhlis. Keadaan rumah nampak bersih dan rapih. Bahkan Alya tidak menemukan sampah secuil pun. Lantai rumah nampak bersih dan kinclong. Jelas sekali kalau pria itu benar-benar men
Tangis Alya semakin kencang setelah Bayu menyebutkan waktu kematian anaknya. Tangis bercampur ratapan keluar dari mulut wanita itu. Kedua tangannya terus memeluk tubuh Nabila yang sudah terbujur kaku. Kalandra juga tidak bisa menahan tangisnya. Setelah banyak hal yang dia lakukan demi kesembuhan putrinya, nyatanya sang anak pergi juga meninggalkan dirinya. Sambil mengusap airmatanya, Kalandra mencoba menenangkan istrinya. “Alya… tolong jangan seperti ini, sayang. Kasihan Nabil.” “LEPAS!!” Dengan kasar Alya menepis tangan Kalandra. Kali ini wanita itu menatap tajam suaminya sambil terus berderaian airmata. “Kalau Mas tidak memindahkannya ke sini, Nabil pasti baik-baik saja! Kamu yang sudah membunuhnya, kamu, Mas!!” Alya tengah melampiaskan kemarahan dan kesedihan yang dirasakan akibat kehilangan anaknya. Dia melampiakan semuanya pada sang suami. Apalagi tadi mereka sudah bersitegang soal pemindahan Nabila dari ruang ICU. Teriakan Alya yang cukup kencang, menarik perhatian orang-
“Nabil akan tetap berada di ICU.” Alya mengambil lembaran kertas tersebut kemudian merobeknya. Kalandra yang merasa kesal, meminta formulir lain pada sang perawat. Melihat perdebatan pasangan suami istri itu, membuat perawat tersebut bingung. Di tengah perdebatan Kalandra dan Ayla, Bayu mendekat. Pria itu mengatakan kalau Nabila sudah bisa ditengok. Setelah mengenakan pakaian steril, pasangan tersebut segera masuk ke dalam ruang ICU. Alya hampir saja menangis melihat anaknya terbaring lemah dengan banyak peralatan medis menepel di tubuhnya. Kalandra langsung mendekat lalu memegang tangan anaknya. “Nabil..” “Papa..” suara Nabil terdengar pelan dan lemah. “Sayang,” Alya mendekati anaknya kemudian mencium kening Nabila. “Sehat-sehat ya, sayang. Nabil anak yang kuat,” suara Alya bergetar menahan tangis yang hendak meledak. Nabila memandangi kedua orang tuanya bergantian. Wajah keduanya nampak sedih dan cemas. Sebisa mungkin anak itu mencoba tersenyum agar kedua orang tuanya tidak
Keterkejutan nampak di wajah Kalandra. Hanya satu yang ada di pikirannya, pasti Yulia yang sudah melakukannya. Wajah pria itu mengeras menahan amarah. Rupanya Yulia berusaha mengguncang rumah tangganya dengan trik murahan seperti ini. “Aku cuma bercanda, sayang. Memang aku yang menyuruh mu ke sini
Suami Yulia yang bernama Ronald itu menyalami orang-orang yang dikenalkan oleh istrinya. Pria itu berbasa-basi sebentar sebelum pamit kembali menemui rekan kerjanya. Dari arah panggung terdengar suara pembaca acara membuka acara malam ini. Bergantian Yulia dan rekan bisnisnya memberikan sambutan s
“Alya.” Panggilan Mega menghentikan Alya yang hendak memasuki resort. Wanita itu menunggu sampai ke dekatnya. “Kamu cari Kala?” “Iya. Nabil udah ngantuk, mau pulang. Tadi aku lihat Mas Adam dan Denis sudah pulanh. Mas Andra mana?” “Kala masih bersama Beben dan Guruh. Mereka berkeliling mencari
Bukannya berhenti, Yulia malah meneruskan usapannya. Bahkan tangannya sampai menyentuh senjata pusaka Kalandra. Dengan cepat pria itu berdiri, membuat tangan Yulia terlepas begitu saja. “Maaf, aku ke toilet dulu.” Kalandra bergegas meninggalkan meja. Yulia memandangi kepergian pria itu tanpa berk







