Home / Rumah Tangga / Lelaki Plus-Plus / Bab 6 : Ketahuan

Share

Bab 6 : Ketahuan

Author: Ichageul
last update publish date: 2025-11-13 08:46:42

“Papa.”

Suara si kecil Nabila langsung terdengar ketika Kalandra memasuki ruang rawat inap di mana anaknya berada. Ruang kelas dua ini dihuni oleh empat pasien dan semua bed sudah terisi. Kalandra mendekati ranjang putrinya kemudian mendudukkan diri di samping ranjang. Sebelumnya dia mencium dulu kening anaknya.

“Mama mana, sayang?”

Hanya gelengan kepala yang diberikan Nabila. Kalandra meraih tangan kecil putrinya. Hatinya miris melihat jarum suntik yang menancap di kedua lengan anaknya. Satu jarum infusan dan satu lag jarum trasfusi darah. Diraihnya tangan Nabila kemudian mengecup punggung tangannya.

“Pa, kapan Nabil pulang?”

“Nanti kalau Nabil sudah sembuh. Nabil yang sabar ya.”

“Nabil kangen sama Puput.”

Puput adalah teman main Nabila. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah saja dari kediaman Kalandra. Hampir setiap hari Puput juga menanyakan tentang Nabila.

“Puput juga kangen sama Nabil. Kalau keadaan Nabil sudah sehat, Nabil bisa pulang dan bermain dengan Puput lagi.”

Sebuah senyuman terbit di wajah Nabila. Senyuman penuh harapan kalau dirinya akan secepatnya sembuh dan pulang ke rumah. Bermain bersama temannya lagi.

Perbincangan keduanya terhenti ketika dokter yang menangani Nabila masuk bersama dengan seorang perawat mendekati ranjang Nabila.

“Halo sayang, bagaimana keadaannya?” sapa dokter Natasha ramah.

“Baik, dokter.”

Dokter wanita itu memeriksa dulu keadaan Nabila. Kemudian dia melihat catatan medis yang dibawa oleh sang suster.

“Teruskan pemberian Hidroksiurea untuknya.”

“Baik, dokter.”

Selesai memeriksa Nabila, dokter Natasha segera meninggalkan ruangan. Dengan cepat Kalandra menyusul keluar.

“Dokter, sampai kapan Nabil harus dirawat?”

“Sejauh ini terapi oksigen, cairan dan terapi sel punca berjalan baik. Kita lihat setelah dua kali terapi lagi. Jika kondisinya semakin membaik, dia bisa pulang ke rumah.”

“Terima kasih, dokter.”

Kelegaan nampak di wajah Kalandra mendengar kondisi anaknya yang semakin membaik. Rasa letihnya bekerja membanting tulang demi kesembuhan sang putri seolah menghilang begitu saja. Pria itu segera kembali ke ruangan untuk menemani anaknya.

“Nabil mau makan buah?”

“Tadi udah makan puding disuapin Mama.”

“Mas.”

Kepala Kalandra menoleh ketika mendengar suara sang istri. Pria itu merangkul bahu Alya. Membawanya ke dekat Nabila.

“Dokter Natasha sudah ke sini?”

“Sudah. Dokter bilang, Nabil harus menjalani dua kali terapi lagi. Kalau kondisinya stabil, sudah boleh pulang.”

“Alhamdulillah. Nabil yang semangat ya, sayang. Sebentar lagi Nabil bisa pulang ke rumah.”

“Iya, Ma.”

“Mas, bisa kita bicara di luar.”

Wajah Alya nampak serius ketika mengatakan itu. Pria itu melihat sebentar pada putrinya, seolah tengah meminta ijin, baru kemudian mengikuti langkah Alya. Istrinya itu terus berjalan menuju sudut yang sepi kemudian berhenti.

“Mas, dari mana Mas dapat uang untuk pengobatan Nabil.”

“Kamu tahu pekerjaan ku, sayang.”

“Aku tahu kalau sudah lima hari ini Mas selalu mendepositokan uang sebesar dua juta. Dari mana mas dapat uang itu?”

“Aku hanya membantu Bang Heri mengantarkan paket.”

“Paket apa, Mas? Narkoba?”

Alya mengecilkan suaranya di akhir kalimat sambil menengok ke sekelilingnya. Memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapannya.

“Mas tidak tahu apa paketnya. Mas tidak pernah membukanya.”

“Bohong! Ngga mungkin Mas ngga tahu isi paketnya. Ngga mungkin Mas dibayar mahal hanya untuk mengantar paket. Pasti narkoba kan?” desak Alya.

Tak bisa mengelak lagi, Kalandra menganggukkan kepalanya pelan. Walau sudah bisa menebak, namun tak ayal wanita itu terkejut juga. Dia memegangi keningnya sambil berjalan mondar-mandir.

“Kamu tenang aja, sayang. Semuanya aman.”

“Aman? Apa Mas sadar barang apa itu? Bagaimana bisa Mas dengan entengnya mengatakan aman. Bagaimana kalau sampai tertangkap polisi? Bagaimana kalau Mas sampai di penjara? Apa yang akan terjadi pada Nabil, Mas?”

“Sayang, kamu tenang dulu. Pekerjaan ku sejauh ini aman. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Aku mau Mas berhenti.”

“Maaf, sayang. Untuk saat ini aku ngga bisa. Kamu tahu sendiri berapa biaya yang dibutuhkan untuk perawatan Nabil setiap harinya. Ditambah sudah dua kali dia harus mendapatkan sel terapi punca. Dan dokter akan menambah terapi dua kali lagi. Sebelum terpai punca, kita harus mengeluarkan uang satu juta lebih setiap harinya. Ditambah dengan terapi sel punca, bisa sampai empat juta. Dari mana uangnya kalau aku tidak mengambil pekerjaan ini.”

“Tapi itu terlalu beresiko, Mas.”

“Aku janji, aku akan berhati-hati dan setelah Nabil keluar rumah sakit, aku akan berhenti.”

“Berhenti sekarang, Mas.”

“Ngga bisa, sayang. Perawatan Nabil masih dua kali lagi. Tolong mengertilah.”

Alya hanya diam memandangi suaminya. Kemudian dia meninggalkan Kalandra begitu saja. Memang benar kalau mereka membutuhkan banyak uang. Tapi dengan Kalandra melakukan pekerjaan haram dan berbahaya, tentu saja membuat wanita itu tidak tenang.

“Sayang, tunggu.”

Kalandra bergegas mengejar Alya. Namun langkahnya terhenti ketika merasakan getaran ponselnya. Dengan cepat pria itu mengambil ponsel di saku celananya. Sebuah pesan dari Heri masuk.

[Dua paket lagi harus dikirimkan sekarang. Aku tunggu di rumah ku.]

[Oke.]

Setelah membalas pesan dari Heri, dengan langkah panjang Kalandra kembali ke ruang rawat anaknya.

“Nabil sayang, Papa kerja dulu ya. Nanti Papa ke sini lagi.”

“Iya, Pa.”

“Mas..”

“Aku pergi, sayang. Doakan aku.”

Sebuah kecupan diberikan Kalandra di puncak kepala istrinya. kemudian pria itu bergegas meninggalkan ruang rawat inap tersebut. Semakin cepat dia mengantarkan paket, maka semakin cepat dia mendapatkan bayaran.

***

Kalandra menghentikan motornya di dekat sebuah taman. Di sinilah dia akan bertemu dengan penerima paket. Heri mengatakan kalau pelanggannya menunggu di dekat Taman Maluku. Kondisi taman ini memang sangat sepi di malam hari.

Mata Kalandra memandang sekeliling, mencoba mencari mobil yang dimaksud. Lima menit berselang nampak sebuah mobil sport pabrikan ternama mendekati taman kemudian berhenti tak jauh dari motor Kalandra. Pria itu turun dari motornya kemudian mendekati mobil tersebut.

TOK

TOK

TOK

Kalandra mengetuk kaca mobil. Perlahan kaca mobil turun sedikit.

“Masuk!”

Tepat ketika pria itu berbicara, kaca kembali menutup. Kalandra membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Tanpa banyak bicara Kalandra langsung memberikan paket pada pria di sebelahnya. Sang pria memberikan amplop coklat yang cukup tebal pada Kalandra. Setelah memasukkan amplop ke saku dalam jaketnya, Kalandra segera keluar dari mobil.

Hanya tersisa satu paket lagi yang harus diantarkan. Pria itu melajukan motornya menuju daerah Sukajadi. Kendaraan roda dua Kalandra terus berjalan menembus udara dingin malam. Dia berbelok memasuki jalan Hegarmanah. Hanya tinggal dua ratus meter lagi pria itu akan sampai ke tujuan.

Kalandra menghentikan motornya ketika melihat beberapa mobil polisi terparkir di pelataran gedung apartemen. Petugas polisi pun nampak hilir mudik di depan lobi. Beberapa juga ada di trotoar dekat pintu masuk apartemen. Seketika nyali Kalandra menjadi ciut melihat banyak polisi. Apalagi sekarang dia tengah memegang barang haram.

Jantung Kalandra berdetak kencang ketika seorang petugas polisi melihat padanya lalu berjalan mendekatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 75 : Masih Ada Rindu

    “Ini dua pegawai baru yang saya bilang kemarin, Pak,” ujar Tomi membuyarkan lamunan Kalandra. Kalandra segera memalingkan pandangannya dari Alya. Dia berdeham pelan untuk menghilangkan kegugupannya. Pria itu mencoba bersikap seperti biasa dan langsung mengarahkan pandangannya pada Tomi. “Ini Tiara Imelda, dia masuk sebagai HR staf. Dan ini Alya Kamaratih, dia masuk sebagai sales admin.” “Baiklah. Untuk Tiara, silakan ikuti Pak Tomi. Beliau yang akan langsung mengatakan apa saja tugasmu. Sementara untuk Alya, bisa tinggal sebentar. Ada hal yang harus saya bicarakan dengannya.” “Baik, Pak.” Tomi segera mengajak Tiara keluar. Begitu pintu tertutup, Kalandra hanya menatap Alya beberapa detik. “Boleh aku memelukmu sekali saja?” tanya Kalandra pelan. Melihat Alya yang hanya diam saja, Kalandra langsung mendekat lalu memeluknya. “Alya,” panggilnya pelan. “Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu dengan cara seperti ini.” Kalandra tak juga melepaskan pelukannya. Kerinduan

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 74 : Encounter

    Alya mengangguk pelan. Tak enak rasanya kalau harus menolak lagi keinginan Bayu kali ini. Senyum Bayu merekah melihat anggukan Alya. Pria itu menarik Alya ke dalam pelukannya sambil mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu. “Sudah malam, Mas. Aku pulang dulu. Apalagi besok hari pertamaku kerja. Aku tidak mau datang terlambat.” “Baiklah.” Bayu bangkit dari duduknya disusul Alya. Keduanya segera keluar dari rumah. Setelah membukakan pintu untuk Alya, barulah Bayu duduk di belakang kemudinya. Perlahan roda kendaraan itu bergerak meninggalkan kediaman Bayu. Selama dalam perjalanan, Alya lebih banyak diam. Wanita itu tengah memikirkan pembicaraan terakhirnya dengan Bayu tadi. Sejujurnya dia masih takut untuk memulai komitmen baru dengan Bayu. Wanita itu takut, kondisinya sebagai pembawa gen sel sabit akan dipermasalahkan oleh keluarga Bayu. Dahulu, keluarga Kalandra memang tidak pernah menyalahkan dirinya. Mereka menganggap penyakit yang diderita Nabila adalah suratan yang sud

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 73 : Lamaran yang Tertunda

    Untuk beberapa saat Alya masih menangis dalam pelukan Bayu. Begitu jam prakteknya selesai, Bayu bergegas menuju kontrakan lama Alya. Dokter spesialis anak itu masih bekerja di rumah sakit yang sama. Jadi tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Setelah keadaannya sedikit tenang, Alya melepaskan diri dari pelukan Bayu. Pria itu mengusap sisa air mata di wajah Alya dengan jarinya. “Kalau berada di sini begitu menyakitkan untukmu, kenapa harus datang?” tanya Bayu lembut. “Aku … hanya merindukan Nabil.” “Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ajak Bayu. Alya mengangguk singkat. Wanita itu mengusap dulu wajahnya, memastikan tidak ada sisa air mata yang tertinggal di sana. Kemudian barulah dia keluar dari rumah itu. Dia mengembalikan kunci pada Endang sambil berpamitan. “Sering-sering main ke sini ya, Al.” “Iya, Mbak. Aku pergi dulu. Salam buat Cici.” “Iya.” Alya segera meninggalkan rumah kontrakan itu. Bayu merangkul bahu Alya sambil yang ber

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 72 : Pulang

    “Alya,” panggil Kumala. Wanita itu langsung memeluk anaknya. Setelah kepergian Nabila, Alya memutuskan meninggalkan Bandung. Wanita itu mendapat pekerjaan di luar kota kembang itu dan tinggal di Tangerang. Setelah mengasingkan diri selama dua tahun, akhirnya Alya memutuskan kembali. Bersama teman barunya di sana, dia memutuskan pulang ke Bandung. Wanita itu juga sudah mendapatkan pekerjaan baru. Sama seperti tempat bekerja sebelumnya di Tangerang, Alya akan bekerja di dealer yang khusus menjual mobil mewah. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Kumala. “Baik, Ma.” “Kamu benar akan tinggal di sini lagi, kan?” “Iya, Ma. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan baru.” “Di mana?” “Regent Motors. Sebelumnya aku melamar ke kantor pusat di Jakarta. Tapi saat aku tahu ada cabang di Bandung, aku meminta ditempatkan di cabang Bandung dan disetujui oleh pimpinan. Kebetulan cabang di sini memang membutuhkan karyawan.” “Syukurlah.” Kumala mengusap punggung anaknya. Tubuh Alya lebih kurus dibanding se

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 71 : Hampir Lepas Kontrol

    Dengan cepat Kalandra memalingkan wajahnya. Pria itu benar-benar takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Sofia sepertinya memang berniat menggoda Kalandra. Wanita itu menangkup wajah Kalandra lalu mengarahkan padanya. Sebisa mungkin Kalandra memandang ke arah lain. Namun matanya berkhianat. Arah pandangnya kembali tertuju pada Sofia dan berhenti tepat di belahan dada wanita itu. “Aku menginginkanmu, Kala,” lirih Sofia. Suara wanita itu semakin membuat bulu di tubuh Kalandra berdiri. Tanpa dapat ditahan hasratnya mulai terpancing. “Tolong jangan seperti ini, Sofia.” “Aku menginginkanmu. Aku tidak peduli kita melakukannya hanya karena nafsumu atau perasaanmu padaku. Ayo kita lakukan.” Sebisa mungkin Kalandra bertahan. Pria itu masih berusaha menjaga akal sehatnya. Menahan diri melakukan hal di luar batas dengan Sofia. Sofia semakin mendekatkan diri. Sebuah gigitan kecil diberikan wanita itu di telinga Kalandra. Belum lagi tangannya yang terus meraba tubuh pria itu. Harum aroma par

  • Lelaki Plus-Plus   Bab 70 : Dua Tahun Setelah Badai

    Dua tahun kemudian Sudah dua tahun lamanya Kalandra dipercaya mengelola dealer independen milik Ronald. Regent Motors merupakan dealer mewah yang menjual berbagai merk premium seperti Mercedes-Benz, BMW, Porsche dan Lexus. Di bawah kepemimpinan Kalandra, dealer ini berkembang pesat. Dealer ini baru berdiri empat tahun lalu, tetapi penjualannya kurang memuaskan bahkan sempat akan ditutup. Namun lewat rekomendasi Mukhlis, Ronald mengangkat Kalandra sebagai kepala cabang Regent Motors cabang Bandung. Kehidupan Kalandra pun semakin membaik. Dia sudah tidak tinggal di kontrakannya lamanya. Pria itu sudah memiliki rumah sendiri. Selama dua tahun terakhir, gaji dan bonusnya ditabung hingga akhirnya mampu membeli sebuah rumah. Pria itu masih berharap bisa menempati rumah itu bersama Alya. Selama dua tahun ini Kalandra juga tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Meski dia tahu jika Sofia menaruh hati padanya, tetapi pria itu tetap bersikap sewajarnya. Sebisa mungkin Kalandra t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status