Home / Romansa / Lembah Awan Berkabut / Bab 6.1 Melihat Jaring Takdir

Share

Bab 6.1 Melihat Jaring Takdir

Author: Shana13
last update Last Updated: 2025-10-30 14:30:12

Kegelapan yang menyambut Ling Yue bukanlah kegelapan biasa. Itu adalah ketiadaan yang absolut. Saat ia mulai jatuh, sensasi pertama yang hilang adalah penglihatannya, ditelan oleh hitam pekat yang tak berujung. Lalu pendengarannya lenyap, digantikan oleh keheningan total yang begitu menekan hingga terasa seperti sebuah suara. Angin yang seharusnya menderu di telinganya tidak ada. Ia jatuh dalam kehampaan yang hampa.

Kemudian, Illusory Yin mulai bekerja. Ia merasakan kekuatannya, fondasi kultivasi yang telah ia bangun dengan darah dan keringat selama dua puluh tahun, mulai runtuh dari dalam dirinya. Rasanya seperti kulit yang dikupas lapis demi lapis, bukan dengan rasa sakit, melainkan dengan ketidakberdayaan yang dingin. Tahap Ascendant-nya menguap. Nascent Soul-nya memudar. Core Formation-nya retak dan menjadi debu dalam kehampaan.

Lepaskan, sebuah gema dari suara Wang Yue berbisik di sisa-sisa kesadarannya.

Panik mulai merayap. Melepaskan kekuatannya terasa seperti melepaskan nyawanya sendiri. Nalurinya untuk melawan, untuk berpegangan pada apa yang membuatnya menjadi “dirinya”, begitu kuat. Tapi ia teringat pada peringatan gurunya. Jika dia ragu… Yin akan melahap jiwanya.

Dengan susah payah, ia memaksa dirinya untuk menyerah. Ia membiarkan kekuatannya pergi. Selanjutnya, ingatannya mulai memudar sedikit demi sedikit. Wajah ibunya, tawa ayahnya, kehangatan desa mereka… semuanya menjadi kabur, lalu hilang. Ia berjuang untuk mengingat wajah Ling Er, tetapi bahkan gambaran adiknya yang paling ia cintai mulai terkikis oleh kehampaan.

Tidak! Sebagian dari dirinya menjerit. Aku tidak boleh melupakannya!

Kamu harus melepaskannya, bisik gema kebijaksanaan Wang Yue. Identitasmu adalah sangkar. Lepaskan sangkarnya untuk membebaskan jiwamu.

Ini adalah ujian terberat. Ia harus melepaskan alasan ia melakukan semua ini. Dengan isak tangis jiwa yang tak bersuara, ia melepaskan ingatan akan Ling Er. Kini yang tersisa hanyalah kesadaran murni, sebuah “aku” yang telanjang tanpa nama, tanpa masa lalu, tanpa kekuatan. Dan kemudian, kehampaan itu datang untuk merenggut hal terakhir itu juga.

Di tepi jurang, jeritan Ling Er memecah kesunyian yang mencekam. “KAKAK!”

Ia berlari ke depan, matanya liar karena panik, berniat untuk melompat menyusul kakaknya. Namun, sebelum ia bisa mencapai tepi, sebuah dinding Qi yang tak terlihat namun kokoh menghentikannya. Ia menabraknya dan terpental ke tanah.

“Jangan!” Suara Wang Yue terdengar di belakangnya, dingin dan tanpa kompromi. “Jangan pernah mengganggu seorang kultivator di tengah-tengah terobosannya! Kmau hanya akan membunuh kalian berdua di dalamnya.”

Ling Er berbalik, air mata mengalir deras di pipinya, wajahnya dipenuhi amarah dan ketakutan. “Dia akan mati! Saya tahu dia akan mati! Anda mengirimnya ke kematiannya!” Ia memukul-mukul perisai Qi itu dengan sia-sia.

Wang Yue tidak bergerak dari posisinya, matanya terpaku pada kegelapan di bawah, seolah ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. “Dia tidak akan mati,” katanya, suaranya lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada pada gadis itu. “Jika dia mati, itu berarti dia tidak layak. Jalan kultivasi tidak memiliki ruang untuk mereka yang tidak layak.”

“Omong kosong apa yang kamu bicarakan itu!” isak Ling Er, kini jatuh terduduk di tanah yang dingin, kehabisan tenaga. “Dia kakakku! Bukan hanya seorang kultivator!”

Wang Yue tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, sosok putihnya yang kesepian tampak seperti penjaga abadi di gerbang neraka.

Satu minggu berlalu. Lalu dua. Ling Er menolak untuk pergi. Ia duduk meringkuk tak jauh dari tepi jurang, matanya yang merah dan bengkak tidak pernah lepas dari kegelapan itu. Wang Yue juga tidak pergi. Ia berdiri di posisi yang sama, tak bergerak seperti patung selama berhari-hari. Bagi pengamat biasa, ia tampak tenang dan acuh tak acuh.

Namun, di dalam dirinya, Wang Yue tidak setenang itu. Ia bisa merasakan tanda spiritual Ling Yue di dalam jurang itu, sebuah benang tipis dari cahaya jiwa. Dan benang itu berkedip-kedip dengan berbahaya, nyaris padam beberapa kali. Setiap kali itu terjadi, Qi di sekitar Wang Yue tanpa sadar akan berfluktuasi sedikit, sebuah tanda kecil dari ketegangan batin yang ia sembunyikan dengan sempurna.

Bertahanlah, bocah, pikirnya, genggaman tangannya di dalam lengan jubahnya mengencang. Kau sudah sejauh ini. Jangan menyerah sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.2 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    “Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.

  • Lembah Awan Berkabut   Epilog 1.1 Fajar Penjaga yang Bijaksana

    Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.2 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 6.1 Api Penyembuh Melawan Racun Kuno

    Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.2 Api di Perbatasan Jiwa

    An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben

  • Lembah Awan Berkabut   Bab Tambahan 5.1 Api di Perbatasan Jiwa

    Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status