Share

Bab 2

Author: Yuni
Di postingan instagramnya, aku melihat Steve menemani perempuan itu melihat aurora, bahkan sampai menyewa satu pulau pribadi demi merayakan hari jadian mereka.

Di berbagai tempat yang mustahil bisa kukunjungi, mereka berdua tertawa begitu bahagia.

Leherku rasanya seperti dicekik, bahkan untuk bernapas saja terasa sesak.

Hingga tengah malam, terdengar suara gerakan di depan pintu.

Begitu masuk, Steve langsung mengerutkan kening.

“Kok dingin sekali?”

Meskipun komplek ini ada di pusat kota, tapi ini bangunan lama, sistem pemanasnya pun tidak begitu baik.

Semua penyewa sudah pindah karena tidak tahan dingin, hanya aku yang bertahan karena dapat potongan uang sewa setengah tahun.

Pintu kamar terbuka sedikit, aku tak bicara, hanya menghembuskan napas yang membentuk uap putih.

Steve pergi ke kamar mengambil selimut, lalu tanpa permisi menyelimutiku.

Suaranya terdengar kesal,

“Jadi begini caramu menjaga diri saat aku nggak ada? Irene, bagaimana aku bisa tenang kalau kamu seperti ini?”

Aku langsung menghempaskan tangannya.

“Nggak perlu akting lagi di depanku, menipuku seru sekali, ya?!”

Tubuhku yang sedang hamil terasa berat, aku sempat terhuyung beberapa langkah baru bisa berdiri tegak.

Dulu, kalau aku marah pada Steve, dia akan tersenyum pasrah sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

“Aku yang salah, sudah buat Irene nggak senang. Kamu boleh hukum aku apa saja.”

Namun, Steve yang sekarang wajahnya sangat dingin.

“Sampai kapan kamu mau membesar-besarkan masalah sepele begini?”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan,

“Kelly masih muda, banyak hal yang belum bisa dia urus sendiri….”

Emosiku langsung meledak.

“Dia masih muda, lalu kamu jadi pacarnya untuk menjaganya?”

“Lalu aku? Serendah apa diriku sampai kamu harus berpura-pura miskin untuk mempermainkanku!”

Mata Steve memancarkan rasa sakit, dia memelukku erat dari belakang.

“Irene, tenanglah sedikit!”

Aku mengerahkan seluruh tenaga, tapi tak bisa lepas dari pelukannya.

“Jangan sentuh aku!”

Terdengar suara pelan, pintu yang tak terkunci rapat itu terdorong terbuka.

Kelly muncul tiba-tiba dan melihat kami dengan tatapan tidak percaya.

“Kalian….”

“Kelly? Kok kamu bisa di sini?”

Seolah menyadari sesuatu, wajah Steve langsung memuram, suaranya terdengar ketus,

“Kok kamu ke sini?”

Wajah Kelly dibanjiri air mata.

“Bukannya kamu sendiri yang pasang pelacak di ponselmu, biar aku bisa mencarimu kapan saja?”

“Apa maksudmu sekarang? Kamu mau aku pura-pura nggak lihat kamu lagi mesra-mesraan dengan Wanita tua ini?!”

Dia mendorongku dengan keras.

“Aku begitu percaya padamu, bisa-bisanya kamu begitu nggak tahu malu, malah menggoda pacarku!”

Aku hampir jatuh, tapi Steve langsung melindungiku dan menatap Kelly dengan marah.

“Hentikan!”

Kelly semakin terpuruk.

“Steve, kamu penipu! Kamu bilang mau menikahi aku?!”

Kelly berbalik sambil menangis dan lari keluar.

Steve hendak mengejarnya, tapi aku menahan tangannya.

“Ada hal yang harus kukasih tahu padamu….”

Namun, tanganku ditepis dengan kasar.

“Lepaskan! Sudah begitu malam, bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Kelly di jalan?”

Steve pergi tanpa menoleh sedikitpun. Aku terlempar ke lantai dan perutku menghantam sudut meja dengan keras.

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa melilit perutku dan bagian bawah tubuhku terasa basah.

Aku menyentuhnya, ternyata darah!

Rasa sakit yang tajam membuat kesadaranku kabur. Aku langsung reflek menelepon Steve,

“Tolong aku, perutku sakit sekali….”

Sesaat sebelum kesadaranku hilang total, yang terdengar hanyalah suara Steve yang kesal,

“Kamu di rumah, emangnya ada bahaya apa? Aku baru saja berhasil membujuk Kelly, kamu jangan mengambek terus.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 10

    “Apa kamu bilang? Anak apa?”Steve terkejut.“Tentu saja kamu nggak akan tahu. Waktu itu kamu sedang menenangkan Kelly, bahkan menyuruhku jangan mengambek!”“Aku meneleponmu, memohon kamu untuk menyelamatkan anak kita, tapi kamu malah memilih Kelly!”“Steve, dengan kepercayaan diri seperti apa kamu masih berani memintaku memaafkanmu?”Melihat raut wajah tak percaya di wajahnya, entah kenapa ada rasa puas yang aneh di hatiku.“Aku nggak tahu… maaf, Irene. Aku benar-benar nggak tahu!”Sekalipun dia tahu, lalu kenapa emangnya?Sejak awal Steve memandang rendah diriku. Sekalipun aku mengandung anaknya, emangnya dia akan langsung memberitahuku identitasnya dan membawaku pulang ke Keluarga Rosel?Atau mungkin malah skenario yang lebih buruk, terus berpura-pura miskin dan membuatku menjadi orang bodoh seumur hidup?Melihat wajahnya yang pucat, aku mengucapkan kata demi kaca,“Steve, kamu sendiri yang memadamkan semua harapanku, membunuh anakku, memaksa ibuku hingga kehilangan nyawa. Hutangmu

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 9

    Saat melihat Steve muncul di halaman kecil rumah Aldo, aku benar-benar membeku.Karena aku tak pernah memberitahunya alamat kampung halamanku secara detail, paling jauh hanya menyebut nama provinsi.Bisa dibayangkan, betapa besar usaha yang Steve lakukan untuk menemukanku.Begitu melihatku, mata Steve langsung berbinar.“Irene, akhirnya aku menemukanmu!”Dia melangkah maju dengan penuh emosi dan hendak memelukku.Namun detik berikutnya, sebuah tangan menghalanginya.Aldo berdiri di depan untuk melindungiku.“Ini rumahku, silakan pergi.”Steve langsung merasa terancam, sorot matanya menajam.“Kamu siapa? Irene itu pacarku! Apa hakmu ikut campur?”Aku tertawa sinis dan menjawab, “Steve, sudah nggak ada kemungkinan di antara kita.”Melihat aku mau berbicara dengannya, Steve seperti mendapat harapan. Dia buru-buru menjelaskan, “Bukan begitu, Irene. Bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali nggak mencintai Kelly! Semua itu kulakukan demi kamu.”Di bawah tatapanku yang penuh ejekan

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 8

    Aku duduk di pantai, memandangi lautan biru di kejauhan, tapi hatiku terasa sangat kosong.Aldo berjalan mendekat dan menyerahkan segelas jus padaku.“Lagi mikirin apa?”Suaranya lembut. Aku menoleh dan tersenyum, sambil menerimanya.Aldo itu teman masa kecilku. Waktu itu, ayahku belum meninggal dan keluargaku juga belum terlilit hutang.Kami melewati masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama, tapi tak lama kemudian, dia pindah keluar negeri.Yang kuingat tentang dirinya hanyalah kenangan saat SD, setelah itu sudah tidak ada lagi.Saat melompat dari lantai tiga rumah sakit, untungnya aku tidak mati.Dengan kaki patah, aku berjalan selangkah demi selangkah, hingga akhirnya pingsan di pinggir jalan karena rasa sakit. Dialah yang membawaku pulang.Aku tak menyangka, di dunia ini bisa ada kebetulan seperti itu. Di saat paling putus asa, justru dia yang datang menyelamatkanku.Aldo tak pernah memaksaku menceritakan apa yang kualami. Dia hanya tahu bahwa aku tak ingin terlalu lama berada d

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 7

    Saat ini, Steve seperti kehilangan akal sehat.Seolah selama dia tak mengakuinya, maka yang mati bukanlah Irene dan masih ada kesempatan di antara mereka.Kelly tak menyangka Steve akan memperlakukannya seperti itu, demi Irene.Sekilas rasa tak puas melintas di matanya, tapi wajahnya tetap berpura-pura menyedihkan.“Maaf… Kak Steve, aku sudah tahu salah. Aku nggak akan mengatakan hal seperti itu lagi!”Asisten di sampingnya buru-buru menenangkan,“Pak Steve, kita tunggu hasil penyelidikan polisi dulu. Siapa tahu nggak terjadi sesuatu pada Nona Irene?”Steve perlahan mendapatkan kembali kewarasannya dan melepaskan cekikannya pada Kelly.Namun di dalam hati, Steve tahu kemungkinan besar sudah terjadi sesuatu pada Irene.Steve memegangi dadanya, tiba-tiba terasa nyeri yang kuat.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, dia langsung pingsan.Saat Steve sadar kembali, dia sudah terbaring di rumah Keluarga Rosel.Kakek Steve melihatnya bangun dan mendengus dingin, “Hanya karena seorang perempuan sa

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 6

    “Apa kamu bilang?!”Begitu mendengar laporan asistennya, mata Steve langsung memerah. Seluruh darah di tubuhnya seperti naik ke kepala.Dia berlari keluar seperti orang gila dan langsung menginjak pegal gas dalam-dalam.Kelly masih berteriak di belakangnya, “Kak Steve, tunggu! Tunggu aku!”Namun, Steve sudah tidak peduli. Dia benar-benar melupakan Kelly. Pikirannya hanya satu, dirinya harus kembali dan menyelamatkan Irene!Sialnya, area mal itu lagi macet parah. Mobil bentley miliknya sama sekali tak bisa bergerak di tengah arus kendaraan.Steve merasa waktu berjalan sangat lambat dan menyiksa. Karena kesal, dia memukul setir dengan keras, lalu membuka pintu mobil dan nekat lari sekencang mungkin.Saat dia sampai di rumah sakit, api sudah berhasil di padamkan.Steve menatap jendela yang masih mengeluarkan asap hitam, hatinya terasa sesak luar biasa.Dia menerjang ke arah petugas yang sedang sibuk, lalu mencengkeram tangan mereka dengan suara gemetar, “Ada korban jiwa?”Saat menanyaka

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 5

    Ternyata Steve tak pergi jauh.Demi menenangkan Kelly, dia membawanya ke mal besar yang ada di dekat sana untuk belanja.Kelly tidak sungkan sama sekali. Dia memegang kartu hitam milik Steve dan menghamburkannya.Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Steve terasa gelisah.Seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.Kelly tak sadar dengan perubahan sikap Steve. Dia sibuk mencocokkan beberapa baju ke badannya.“Kak Steve, menurutmu aku lebih cantik pakai yang mana?”Steve yang lagi gelisah hanya melirik sekilas dengan malas.Baru saja dia mau menjawab, langsung mendengar Kelly bergumam sendiri, “Sudahlah, beli saja semuanya. Kalau nanti nggak dipakai, tinggal dibuang saja. Kak Steve juga bakal belikan yang baru lagi untukku, ‘kan?”Meskipun mulutnya bilang mau belajar mandiri, tapi cara Kelly menghabiskan uang benar-benar boros.Dulu, Steve tak pernah keberatan dan sudah terbiasa memanjakannya dengan uang.Namun sekarang, tiba-tiba muncul rasa muak yang tak jelas dari dalam hat

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 4

    Siaran langsung baru saja dimulai, penonton langsung membludak masuk.Begitu melihat diriku, seketika kolom komentar langsung meledak. Mereka ramai-ramai memakiku sebagai pelakor.Kelly berpura-pura lapang dada dan berkata, “Semuanya, tolong jaga kata-katanya. Hari ini dia datang untuk meminta maaf

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 3

    Saat membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.Seluruh tubuhku rasanya seperti baru digilas truk. Aku memaksakan diri untuk duduk tegak.“Bayinya… baik-baik saja?”Perawat menatapku dengan penuh rasa iba.“Kalau bukan karena tetanggamu lihat pintu nggak dikunci, nyawamu mungkin sudah nggak ter

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 1

    Suasana mendadak sunyi. Aku bisa melihat dengan jelas raut panik dan terkejut di wajah Steve.Baru saja aku membuka mulut mau bicara, tapi Steve langsung memberiku tatapan peringatan.Sementara itu, Kelly sama sekali tak menyadari ada yang aneh. Dia malah memanyunkan bibirnya dengan manja, “Aku ng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status