แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Yuni
Siaran langsung baru saja dimulai, penonton langsung membludak masuk.

Begitu melihat diriku, seketika kolom komentar langsung meledak. Mereka ramai-ramai memakiku sebagai pelakor.

Kelly berpura-pura lapang dada dan berkata,

“Semuanya, tolong jaga kata-katanya. Hari ini dia datang untuk meminta maaf.”

Di hadapan begitu banyak orang, aku menajamkan sudut bibirku.

“Aku Irene, hari ini datang untuk meminta maaf kepada semuanya.”

“Aku seharusnya membiarkan Kelly, si pelakor merebut pacarku yang sudah tujuh tahun bersamaku, memutarbalikkan fakta dan menghujatku di internet. Aku tak seharusnya membesar-besarkan masalah!”

“Aku minta maaf atas tindakanku yang tidak diam saja dan tidak bisa menjadi orang sabar yang terus-menerus ditindas!”

Steve langsung mematikan siaran langsung, tapi semuanya sudah terlanjur viral.

[#Kelly Si Pelakor] langsung menjadi topik viral.

Steve tertawa sangking marahnya.

“Irene, kamu jangan menyesal!”

“Toni, hentikan semua pembayaran untuk panti jompo sekarang juga!”

Mataku langsung terbelalak.

Menghentikan biaya pengobatan itu sama saja dengan membunuh ibuku!

Steve mencengkeram tanganku dan menyeretku paksa ke dalam mobil.

“Ke rumah sakit! Aku mau kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana ibumu harus menanggung akibat dari keras kepalamu!”

Di rumah sakit, aku menangis memohon agar Steve melepaskan ibuku.

Melihat air mataku, sempat terlintas keraguan di mata Steve.

Namun, dia tetap memalingkan wajah dan berkata,

“Kamu sudah sangat menyakiti Kelly! Kamu harus membayar harganya!”

Dia terdiam sejenak, suaranya terdengar dingin dan kaku,

“Berlutut dan sujud minta maaf pada Kelly. Begitu dia memaafkanmu, aku akan langsung lunasi biaya perawatannya.”

“Kalau nggak, siap-siap urus jenazah ibumu!”

Seluruh tubuhku gemetar, aku menggigit bibir sampai berdarah.

Di bawah tatapan sinis Kelly, aku menekuk lututku dan berlutut dengan berat di hadapannya.

“Maaf, aku yang salah.”

Aku bersujud dengan hampa, seperti seekor anjing yang tak punya harga diri.

Satu kali… dua kali… hingga keningku berdarah.

Wajah Steve agak melunak. Dia keluar kamar rawat untuk mengangkat telepon, hanya meninggalkan diriku berdua dengan Kelly.

Melihat Steve pergi, wajah Kelly langsung berubah jadi mengerikan.

“Berani-beraninya merebut Steve dariku?! Rasakan akibatnya!”

Belum sempat aku bereaksi, Kelly menerjang ke ranjang ibuku dan langsung mencabut tabung oksigen, serta selang infus yang menopang hidup ibuku!

“Jangan….!”

Aku menerjang maju, tapi pengawal menahanku kuat-kuat di lantai.

Mesin monitor berbunyi nyaring, wajah ibuku langsung membiru.

Sampai akhirnya sisa nyawa terakhirnya hilang dan kepalanya terkulai ke samping.

Ibuku meninggal.

Aku tersungkur lemas di lantai, rasanya ingin menangis darah.

Kelly segera mengacak-acak rambutnya sendiri dan berlari keluar.

Dia berpapasan dengan Steve yang baru kembali.

Dia menangis tersedu-sedu,

“Kak Steve, tadi niatku baik mau bantu menyelimuti tante, tapi Irene mendorongku dan bilang aku nggak pantas bersamamu….”

Wajah Steve langsung memuram dan berkata,

“Irene, sebegitu mahalkah harga dirimu? Demi nggak mau minta maaf, kamu bahkan nggak memedulikan nyawa ibumu?!”

Aku tertawa getir,

“Nyawa? Ibuku sudah meninggal, dibunuh oleh Kelly!”

Kelly langsung membantah dan Steve yakin kalau aku hanya mencari alasan. Dia pun tertawa sinis,

“Bahkan nyawa ibu kandung pun bisa dipakai untuk berbohong. Karena kamu nggak mau minta maaf, jangan menyesal!”

Steve pun merangkul Kelly dan pergi.

Setengah jam kemudian, aku resmi Grup Rosel merilis pernyataan,

[Status hubungan Pak Steve sudah diumumkan sejak lama, kekasihnya hanyalah Nona Kelly seorang.]

[Nona Irene mengalami trauma di masa sekolahnya, sehingga kondisi mentalnya tidak stabil dan mengalami gangguan jiwa. Semua yang dikatakannya adalah informasi bohong.]

Bersamaan dengan itu, sebuah video dirilis.

Di dalamnya terlihat seorang gadis berdiri di kantor dengan tangan seorang pria tua di pinggangnya.

Otakku langsung berdengung.

Waktu SMA, aku terkenal sebagai siswi miskin.

Ada seorang guru pria yang merasa aku tak punya kuasa, lalu melecehkanku di ruang guru.

Aku tak berani lapor, karena tak akan ada orang yang melindungiku.

Hingga kuliah pun aku mengalami gangguan mental berat dan berkali-kali mencoba bunuh diri.

Dulu, Steve yang telah menyelamatkanku.

Dia memelukku erat dan menenangkanku berulang kali,

“Irene, jangan biarkan sampah itu merusak hidupmu. Itu bukan salahmu.”

“Aku akan selalu menemanimu.”

Itu adalah masa laluku yang paling kelam dan aku hanya pernah menceritakannya pada Steve.

Namun sekarang, dia sendiri yang mengoyak luka itu, menggunakan darah dan air mataku demi membersihkan nama Kelly.

Ternyata demi Kelly, dia sanggup bertindak sekejam ini.

Dalam keputusasaan yang mendalam, aku tersenyum getir dan melemparkan pemantik api yang menyala ke arah tirai ranjang.

Melihat kobaran api di depan mata, aku membuka jendela dan melompat turun.

Steve, mulai sekarang, sudah tidak ada lagi masa depan di antara kita.

Di sisi lain, Steve yang sedang menemani Kelly belanja, tiba-tiba melihat kepulan asap tebal dari kejauhan!

Seketika, firasat buruk menyeruak di hatinya. Dia segera menghentikan seorang petugas mal dan bertanya apa yang terjadi.

“Rumah sakit kebakaran. Katanya ada satu orang yang terbakar sampai meninggal, dari ruang rawat VIP!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 10

    “Apa kamu bilang? Anak apa?”Steve terkejut.“Tentu saja kamu nggak akan tahu. Waktu itu kamu sedang menenangkan Kelly, bahkan menyuruhku jangan mengambek!”“Aku meneleponmu, memohon kamu untuk menyelamatkan anak kita, tapi kamu malah memilih Kelly!”“Steve, dengan kepercayaan diri seperti apa kamu masih berani memintaku memaafkanmu?”Melihat raut wajah tak percaya di wajahnya, entah kenapa ada rasa puas yang aneh di hatiku.“Aku nggak tahu… maaf, Irene. Aku benar-benar nggak tahu!”Sekalipun dia tahu, lalu kenapa emangnya?Sejak awal Steve memandang rendah diriku. Sekalipun aku mengandung anaknya, emangnya dia akan langsung memberitahuku identitasnya dan membawaku pulang ke Keluarga Rosel?Atau mungkin malah skenario yang lebih buruk, terus berpura-pura miskin dan membuatku menjadi orang bodoh seumur hidup?Melihat wajahnya yang pucat, aku mengucapkan kata demi kaca,“Steve, kamu sendiri yang memadamkan semua harapanku, membunuh anakku, memaksa ibuku hingga kehilangan nyawa. Hutangmu

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 9

    Saat melihat Steve muncul di halaman kecil rumah Aldo, aku benar-benar membeku.Karena aku tak pernah memberitahunya alamat kampung halamanku secara detail, paling jauh hanya menyebut nama provinsi.Bisa dibayangkan, betapa besar usaha yang Steve lakukan untuk menemukanku.Begitu melihatku, mata Steve langsung berbinar.“Irene, akhirnya aku menemukanmu!”Dia melangkah maju dengan penuh emosi dan hendak memelukku.Namun detik berikutnya, sebuah tangan menghalanginya.Aldo berdiri di depan untuk melindungiku.“Ini rumahku, silakan pergi.”Steve langsung merasa terancam, sorot matanya menajam.“Kamu siapa? Irene itu pacarku! Apa hakmu ikut campur?”Aku tertawa sinis dan menjawab, “Steve, sudah nggak ada kemungkinan di antara kita.”Melihat aku mau berbicara dengannya, Steve seperti mendapat harapan. Dia buru-buru menjelaskan, “Bukan begitu, Irene. Bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali nggak mencintai Kelly! Semua itu kulakukan demi kamu.”Di bawah tatapanku yang penuh ejekan

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 8

    Aku duduk di pantai, memandangi lautan biru di kejauhan, tapi hatiku terasa sangat kosong.Aldo berjalan mendekat dan menyerahkan segelas jus padaku.“Lagi mikirin apa?”Suaranya lembut. Aku menoleh dan tersenyum, sambil menerimanya.Aldo itu teman masa kecilku. Waktu itu, ayahku belum meninggal dan keluargaku juga belum terlilit hutang.Kami melewati masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama, tapi tak lama kemudian, dia pindah keluar negeri.Yang kuingat tentang dirinya hanyalah kenangan saat SD, setelah itu sudah tidak ada lagi.Saat melompat dari lantai tiga rumah sakit, untungnya aku tidak mati.Dengan kaki patah, aku berjalan selangkah demi selangkah, hingga akhirnya pingsan di pinggir jalan karena rasa sakit. Dialah yang membawaku pulang.Aku tak menyangka, di dunia ini bisa ada kebetulan seperti itu. Di saat paling putus asa, justru dia yang datang menyelamatkanku.Aldo tak pernah memaksaku menceritakan apa yang kualami. Dia hanya tahu bahwa aku tak ingin terlalu lama berada d

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 7

    Saat ini, Steve seperti kehilangan akal sehat.Seolah selama dia tak mengakuinya, maka yang mati bukanlah Irene dan masih ada kesempatan di antara mereka.Kelly tak menyangka Steve akan memperlakukannya seperti itu, demi Irene.Sekilas rasa tak puas melintas di matanya, tapi wajahnya tetap berpura-pura menyedihkan.“Maaf… Kak Steve, aku sudah tahu salah. Aku nggak akan mengatakan hal seperti itu lagi!”Asisten di sampingnya buru-buru menenangkan,“Pak Steve, kita tunggu hasil penyelidikan polisi dulu. Siapa tahu nggak terjadi sesuatu pada Nona Irene?”Steve perlahan mendapatkan kembali kewarasannya dan melepaskan cekikannya pada Kelly.Namun di dalam hati, Steve tahu kemungkinan besar sudah terjadi sesuatu pada Irene.Steve memegangi dadanya, tiba-tiba terasa nyeri yang kuat.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, dia langsung pingsan.Saat Steve sadar kembali, dia sudah terbaring di rumah Keluarga Rosel.Kakek Steve melihatnya bangun dan mendengus dingin, “Hanya karena seorang perempuan sa

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 6

    “Apa kamu bilang?!”Begitu mendengar laporan asistennya, mata Steve langsung memerah. Seluruh darah di tubuhnya seperti naik ke kepala.Dia berlari keluar seperti orang gila dan langsung menginjak pegal gas dalam-dalam.Kelly masih berteriak di belakangnya, “Kak Steve, tunggu! Tunggu aku!”Namun, Steve sudah tidak peduli. Dia benar-benar melupakan Kelly. Pikirannya hanya satu, dirinya harus kembali dan menyelamatkan Irene!Sialnya, area mal itu lagi macet parah. Mobil bentley miliknya sama sekali tak bisa bergerak di tengah arus kendaraan.Steve merasa waktu berjalan sangat lambat dan menyiksa. Karena kesal, dia memukul setir dengan keras, lalu membuka pintu mobil dan nekat lari sekencang mungkin.Saat dia sampai di rumah sakit, api sudah berhasil di padamkan.Steve menatap jendela yang masih mengeluarkan asap hitam, hatinya terasa sesak luar biasa.Dia menerjang ke arah petugas yang sedang sibuk, lalu mencengkeram tangan mereka dengan suara gemetar, “Ada korban jiwa?”Saat menanyaka

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 5

    Ternyata Steve tak pergi jauh.Demi menenangkan Kelly, dia membawanya ke mal besar yang ada di dekat sana untuk belanja.Kelly tidak sungkan sama sekali. Dia memegang kartu hitam milik Steve dan menghamburkannya.Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Steve terasa gelisah.Seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.Kelly tak sadar dengan perubahan sikap Steve. Dia sibuk mencocokkan beberapa baju ke badannya.“Kak Steve, menurutmu aku lebih cantik pakai yang mana?”Steve yang lagi gelisah hanya melirik sekilas dengan malas.Baru saja dia mau menjawab, langsung mendengar Kelly bergumam sendiri, “Sudahlah, beli saja semuanya. Kalau nanti nggak dipakai, tinggal dibuang saja. Kak Steve juga bakal belikan yang baru lagi untukku, ‘kan?”Meskipun mulutnya bilang mau belajar mandiri, tapi cara Kelly menghabiskan uang benar-benar boros.Dulu, Steve tak pernah keberatan dan sudah terbiasa memanjakannya dengan uang.Namun sekarang, tiba-tiba muncul rasa muak yang tak jelas dari dalam hat

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 3

    Saat membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.Seluruh tubuhku rasanya seperti baru digilas truk. Aku memaksakan diri untuk duduk tegak.“Bayinya… baik-baik saja?”Perawat menatapku dengan penuh rasa iba.“Kalau bukan karena tetanggamu lihat pintu nggak dikunci, nyawamu mungkin sudah nggak ter

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 2

    Di postingan instagramnya, aku melihat Steve menemani perempuan itu melihat aurora, bahkan sampai menyewa satu pulau pribadi demi merayakan hari jadian mereka.Di berbagai tempat yang mustahil bisa kukunjungi, mereka berdua tertawa begitu bahagia.Leherku rasanya seperti dicekik, bahkan untuk bernap

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 1

    Suasana mendadak sunyi. Aku bisa melihat dengan jelas raut panik dan terkejut di wajah Steve.Baru saja aku membuka mulut mau bicara, tapi Steve langsung memberiku tatapan peringatan.Sementara itu, Kelly sama sekali tak menyadari ada yang aneh. Dia malah memanyunkan bibirnya dengan manja, “Aku ng

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status