Share

Bab 3

Author: Yuni
Saat membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.

Seluruh tubuhku rasanya seperti baru digilas truk.

Aku memaksakan diri untuk duduk tegak.

“Bayinya… baik-baik saja?”

Perawat menatapku dengan penuh rasa iba.

“Kalau bukan karena tetanggamu lihat pintu nggak dikunci, nyawamu mungkin sudah nggak tertolong.”

“Kalau memang nggak menginginkan anak ini, harusnya datang ke rumah sakit untuk operasi. Kenapa harus sengaja membentur perut untuk keguguran?”

Otakku langsung berdengung.

Steve, dia yang membunuh anak kami.

Tiba-tiba, ponselku bergetar tanpa henti.

[Irene, bisa-bisanya kamu jadi pelakor di keluarga orang lain?! Kamu dipecat!]

[Dasar perebut pacar anak kuliahan, jalang nggak tahu malu seperti kamu mending mati saja!]

[Kalau memang kesepian, lebih baik jual diri saja. Jangan merusak hubungan orang!]

Pesan makian membanjir, ada yang dari kantor, ada juga dari nomor asing.

Ternyata Kelly mengunggah postingan di internet, menuduhku sebagai pelakor!

Kondisiku yang baru keguguran sangat lemah, ditambah rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk ke seluruh tubuh.

Aku meremas dadaku, merintih kesakitan.

Tepat saat itu, Steve meneleponku.

Suaraku terdengar gemetar,

“Steve, kita sudah bersama sejak tujuh tahun lalu!”

Kondisi ekonomiku dulu memang kurang baik, sejak kuliah aku sering kerja sampingan.

Di hari Steve menyatakan cinta, dia membawakan seikat bunga dengan wajah serius.

“Irene, meski sangat miskin, aku akan berusaha keras kasih kamu kehidupan yang lebih baik. Aku nggak akan membiarkan kamu menderita.”

Setelah jadian, biarpun hanya bisa makan mi instan, Steve selalu memberikan satu-satunya telur rebus untukku.

Namun sekarang, dia terdiam sejenak dan menjawab,

“Kelly masih muda, dia kurang rasa aman. Dia buat postingan itu hanya untuk buang kekesalan saja, kamu jangan membesar-besarkan masalah.”

“Kamu nggak di rumah? Kamu ke mana?”

Seketika, semua rasa sesak yang kupendam akhirnya meluap. Dengan suara tercekat, aku berkata,

“Aku di rumah sakit, bayi kita….”

“Irene, umurmu sudah nggak muda lagi. Jangan pakai gaya gadis kecil yang kabur dari rumah, itu nggak lucu.”

Belum sempat aku selesai bicara, Steve sudah memotong dengan nada kesal.

Suaranya terdengar acuh tak acuh,

“Badanmu selalu begitu sehat, bahkan sehari bisa kerja tiga tempat, mana mungkin gampang sakit? Jangan pura-pura.”

“Emosi Kelly lagi nggak stabil, cepat datang minta maaf padanya.”

Aku tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Kelly memutarbalikkan fakta sampai aku kena hujat dan kamu malah menyuruhku minta maaf?”

“Terus kamu mau aku diam saja sampai Kelly dihujat orang dan bunuh diri?!”

Suara Steve tiba-tiba meninggi. Melihatku terdiam, suaranya kembali merendah.

“Irene, aku yang bayar biaya ibumu di panti.”

Jantungku menegang.

Ibuku sakit-sakitan, dalam setahun sudah masuk ICU tiga kali.

Waktu itu, Steve melihatku sangat tertekan, dia berinisiatif memindahkan ibuku ke kamar VIP dan menanggung semua biayanya.

Selama ini aku bekerja mati-matian menabung uang hanya untuk melunasi utang itu.

Dengan begitu, hubungan kami akan tetap setara.

Dan sekarang, dia memakai ibu untuk mengancamku.

Rasa lelah yang luar biasa menyerangku. Aku merasa tak ada gunanya lagi berdebat.

Sambil menahan tangis, aku mengangguk. Aku pergi ke area perumahan elit sesuai alamat yang diberikan Steve.

Karena keguguran, kedua kakiku terasa lemas.

Aku menyeret langkahku, tapi satpam malah mencegatku.

“Aku pacarnya Steve.”

Satpam itu menatapku dengan curiga.

Setelah menelepon Steve untuk konfirmasi, barulah dia mengizinkan aku masuk dengan wajah menghina.

“Siapa yang nggak tahu kalau pacar Pak Steve itu Nona Kelly? Dasar aneh, zaman sekarang pelakor pun berani datang terang-terangan ke rumah pacar sah!”

Begitu melihatku, Steve langsung tersenyum penuh kemenangan.

“Kalau kamu patuh, nanti biaya pengobatan ibumu bakal kutanggung.”

Dia membawaku ke depan ponsel yang sudah terpasang di atas tripod.

“Sebentar lagi akan siaran langsung. Kasih tahu semua orang kalau kamu itu pelakor dan minta maaf pada Kelly.”

Aku mendongak kaget dan menatapnya lekat-lekat.

“Kamu bilang aku pelakor?”

Kelly tertawa pelan dan berkata,

“Steve bahkan sudah mengumumkan hubungan kami. Kalau kamu bukan pelakor, terus siapa? Aku?”

Steve tak menjawab pertanyaanku.

Dia malah mengerutkan kening ke arahku, sambil menyodorkan selembar kertas.

“Irene, ayolah.”

“Nanti baca ini saja. Jangan merasa tertekan, sebentar saja sudah selesai.”

Kertas itu berisi narasi kalau aku iri pada Kelly, jadi sengaja menggodanya dan merusak hubungan mereka.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 10

    “Apa kamu bilang? Anak apa?”Steve terkejut.“Tentu saja kamu nggak akan tahu. Waktu itu kamu sedang menenangkan Kelly, bahkan menyuruhku jangan mengambek!”“Aku meneleponmu, memohon kamu untuk menyelamatkan anak kita, tapi kamu malah memilih Kelly!”“Steve, dengan kepercayaan diri seperti apa kamu masih berani memintaku memaafkanmu?”Melihat raut wajah tak percaya di wajahnya, entah kenapa ada rasa puas yang aneh di hatiku.“Aku nggak tahu… maaf, Irene. Aku benar-benar nggak tahu!”Sekalipun dia tahu, lalu kenapa emangnya?Sejak awal Steve memandang rendah diriku. Sekalipun aku mengandung anaknya, emangnya dia akan langsung memberitahuku identitasnya dan membawaku pulang ke Keluarga Rosel?Atau mungkin malah skenario yang lebih buruk, terus berpura-pura miskin dan membuatku menjadi orang bodoh seumur hidup?Melihat wajahnya yang pucat, aku mengucapkan kata demi kaca,“Steve, kamu sendiri yang memadamkan semua harapanku, membunuh anakku, memaksa ibuku hingga kehilangan nyawa. Hutangmu

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 9

    Saat melihat Steve muncul di halaman kecil rumah Aldo, aku benar-benar membeku.Karena aku tak pernah memberitahunya alamat kampung halamanku secara detail, paling jauh hanya menyebut nama provinsi.Bisa dibayangkan, betapa besar usaha yang Steve lakukan untuk menemukanku.Begitu melihatku, mata Steve langsung berbinar.“Irene, akhirnya aku menemukanmu!”Dia melangkah maju dengan penuh emosi dan hendak memelukku.Namun detik berikutnya, sebuah tangan menghalanginya.Aldo berdiri di depan untuk melindungiku.“Ini rumahku, silakan pergi.”Steve langsung merasa terancam, sorot matanya menajam.“Kamu siapa? Irene itu pacarku! Apa hakmu ikut campur?”Aku tertawa sinis dan menjawab, “Steve, sudah nggak ada kemungkinan di antara kita.”Melihat aku mau berbicara dengannya, Steve seperti mendapat harapan. Dia buru-buru menjelaskan, “Bukan begitu, Irene. Bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali nggak mencintai Kelly! Semua itu kulakukan demi kamu.”Di bawah tatapanku yang penuh ejekan

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 8

    Aku duduk di pantai, memandangi lautan biru di kejauhan, tapi hatiku terasa sangat kosong.Aldo berjalan mendekat dan menyerahkan segelas jus padaku.“Lagi mikirin apa?”Suaranya lembut. Aku menoleh dan tersenyum, sambil menerimanya.Aldo itu teman masa kecilku. Waktu itu, ayahku belum meninggal dan keluargaku juga belum terlilit hutang.Kami melewati masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama, tapi tak lama kemudian, dia pindah keluar negeri.Yang kuingat tentang dirinya hanyalah kenangan saat SD, setelah itu sudah tidak ada lagi.Saat melompat dari lantai tiga rumah sakit, untungnya aku tidak mati.Dengan kaki patah, aku berjalan selangkah demi selangkah, hingga akhirnya pingsan di pinggir jalan karena rasa sakit. Dialah yang membawaku pulang.Aku tak menyangka, di dunia ini bisa ada kebetulan seperti itu. Di saat paling putus asa, justru dia yang datang menyelamatkanku.Aldo tak pernah memaksaku menceritakan apa yang kualami. Dia hanya tahu bahwa aku tak ingin terlalu lama berada d

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 7

    Saat ini, Steve seperti kehilangan akal sehat.Seolah selama dia tak mengakuinya, maka yang mati bukanlah Irene dan masih ada kesempatan di antara mereka.Kelly tak menyangka Steve akan memperlakukannya seperti itu, demi Irene.Sekilas rasa tak puas melintas di matanya, tapi wajahnya tetap berpura-pura menyedihkan.“Maaf… Kak Steve, aku sudah tahu salah. Aku nggak akan mengatakan hal seperti itu lagi!”Asisten di sampingnya buru-buru menenangkan,“Pak Steve, kita tunggu hasil penyelidikan polisi dulu. Siapa tahu nggak terjadi sesuatu pada Nona Irene?”Steve perlahan mendapatkan kembali kewarasannya dan melepaskan cekikannya pada Kelly.Namun di dalam hati, Steve tahu kemungkinan besar sudah terjadi sesuatu pada Irene.Steve memegangi dadanya, tiba-tiba terasa nyeri yang kuat.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, dia langsung pingsan.Saat Steve sadar kembali, dia sudah terbaring di rumah Keluarga Rosel.Kakek Steve melihatnya bangun dan mendengus dingin, “Hanya karena seorang perempuan sa

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 6

    “Apa kamu bilang?!”Begitu mendengar laporan asistennya, mata Steve langsung memerah. Seluruh darah di tubuhnya seperti naik ke kepala.Dia berlari keluar seperti orang gila dan langsung menginjak pegal gas dalam-dalam.Kelly masih berteriak di belakangnya, “Kak Steve, tunggu! Tunggu aku!”Namun, Steve sudah tidak peduli. Dia benar-benar melupakan Kelly. Pikirannya hanya satu, dirinya harus kembali dan menyelamatkan Irene!Sialnya, area mal itu lagi macet parah. Mobil bentley miliknya sama sekali tak bisa bergerak di tengah arus kendaraan.Steve merasa waktu berjalan sangat lambat dan menyiksa. Karena kesal, dia memukul setir dengan keras, lalu membuka pintu mobil dan nekat lari sekencang mungkin.Saat dia sampai di rumah sakit, api sudah berhasil di padamkan.Steve menatap jendela yang masih mengeluarkan asap hitam, hatinya terasa sesak luar biasa.Dia menerjang ke arah petugas yang sedang sibuk, lalu mencengkeram tangan mereka dengan suara gemetar, “Ada korban jiwa?”Saat menanyaka

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 5

    Ternyata Steve tak pergi jauh.Demi menenangkan Kelly, dia membawanya ke mal besar yang ada di dekat sana untuk belanja.Kelly tidak sungkan sama sekali. Dia memegang kartu hitam milik Steve dan menghamburkannya.Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Steve terasa gelisah.Seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.Kelly tak sadar dengan perubahan sikap Steve. Dia sibuk mencocokkan beberapa baju ke badannya.“Kak Steve, menurutmu aku lebih cantik pakai yang mana?”Steve yang lagi gelisah hanya melirik sekilas dengan malas.Baru saja dia mau menjawab, langsung mendengar Kelly bergumam sendiri, “Sudahlah, beli saja semuanya. Kalau nanti nggak dipakai, tinggal dibuang saja. Kak Steve juga bakal belikan yang baru lagi untukku, ‘kan?”Meskipun mulutnya bilang mau belajar mandiri, tapi cara Kelly menghabiskan uang benar-benar boros.Dulu, Steve tak pernah keberatan dan sudah terbiasa memanjakannya dengan uang.Namun sekarang, tiba-tiba muncul rasa muak yang tak jelas dari dalam hat

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 4

    Siaran langsung baru saja dimulai, penonton langsung membludak masuk.Begitu melihat diriku, seketika kolom komentar langsung meledak. Mereka ramai-ramai memakiku sebagai pelakor.Kelly berpura-pura lapang dada dan berkata, “Semuanya, tolong jaga kata-katanya. Hari ini dia datang untuk meminta maaf

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 2

    Di postingan instagramnya, aku melihat Steve menemani perempuan itu melihat aurora, bahkan sampai menyewa satu pulau pribadi demi merayakan hari jadian mereka.Di berbagai tempat yang mustahil bisa kukunjungi, mereka berdua tertawa begitu bahagia.Leherku rasanya seperti dicekik, bahkan untuk bernap

  • Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu   Bab 1

    Suasana mendadak sunyi. Aku bisa melihat dengan jelas raut panik dan terkejut di wajah Steve.Baru saja aku membuka mulut mau bicara, tapi Steve langsung memberiku tatapan peringatan.Sementara itu, Kelly sama sekali tak menyadari ada yang aneh. Dia malah memanyunkan bibirnya dengan manja, “Aku ng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status