INICIAR SESIÓN“Oalah, kamu marah dan cemburu sama istriku to? Kamu itu cantik, nggak jelek. Jadi kalau Mas mu kepincut sama Yuyun mungkin pelayanan kamu di ranjang kurang hot!” Ujar Devan asal saja. Selama ini Devan hanya lulusan SMA, dia tidak pernah kerja dan tidak pernah main bersama teman-temannya. Sekali nongkrong juga di perempatan jalan godain wanita lewat di di jalan. Dari segi pengalaman Devan nol.
“Mas, kamu itu nggak ngerti ya? Padahal aku ngomongnya sudah jelas banget sama kamu. Aku b"Marah? Kenapa harus marah?" Tanya Devan seraya terus menyendok sarapan dari atas piringnya. Sisi cuek bebek yang ditunjukkan Devan di depan Amina membuat Amina gemas dan mengambil tindakan lebih berani, Amina mengeluarkan tongkat Devan dari dalam celana pendek Devan lalu melumatnya tanpa peduli mereka sedang berada di ruang makan. Devan kaget sekali, sontak dia langsung meletakkan sendoknya dan meremas tengkuk Amina yang sibuk membungkuk melumat batang miliknya. "Aakhhh, Mi, oowhhh, akhhh, akhh, Mami nekat, oowh," desah Devan sambil menatap ke sekitar lantaran cemas kepergok orang. "Enak Dev, aku puas sekali semalam sayang," akunya sambil terus menjilati tongkat Devan lalu mengulumnya kembali. "Mi, oohhh, sudah, ada Wati di rumah, Sarinten juga, oohhh, nanti ketahuan," ucap Devan pada Amina, Devan tidak ingin ketahuan sedang bermesraan dengan Amina. "Dev, aku pengen lagi, ayo ke ruang kerjaku sebentar," ajak Amina sambil
Yuyun diam ketika pinggangnya digenggam Anto, Anto menoleh ke arah Yuyun lalu menyodorkan kunci dalam genggaman tangan kanannya, sementara tangan kirinya sudah berpindah pada sisi selangkangan Yuyun dan menyentuh tipis biji kacang kecil yang tadi terlihat menonjol saat dilihat Anto dari kejauhan."Awh," rintih Yuyun dan tubuhnya hampir terjatuh, untungnya Anto dengan gesit langsung duduk di kursi kayu dalam garasi seraya menarik pinggang Yuyun hingga Yuyun jatuh duduk di pangkuan Anto dengan posisi memunggungi Anto."Ini Neng kunci motornya," ujar Anto pada Yuyun. Rupanya Anto sengaja mencuri kesempatan lagi, melihat kedua paha mulus milik Yuyun mengangkang di atas pangkuannya, Anto dengan santai mengelus-elus bagian selangkangan Yuyun dari sisi samping pinggang Yuyun. "Awh, Anto, nakal kamu," bisik Yuyun seraya menatap lengan Anto yang kini bergerak di dalam selangkangannya. Anto menatap wajah cantik Yuyun yang kini tetap tinggal di atas pangkuannya. Keusilan Anto tida
Yuyun melihat gorden yang belum ditutup, dia segera berjalan menuju ke jendela dan menutupnya. Tontonan menyenangkan dan menggairahkan sudah berakhir, Anto dengan malas merebahkan tubuhnya di atas kursi rotan panjang. Dalam benak Anto, Anto membayangkan Yuyun telanjang sedang tengkurap di atas tubuhnya yang terlentang seperti sekarang, liang intim Yuyun Anto masuki tongkat miliknya lalu bokong Yuyun bergerak turun naik dengan seksi sambil melumat bibir satu sama lain. Buah dada Yuyun yang bulat dan kencang menggesek lembut dada bidang Anto. Rintihan nikmat Yuyun menjadi alunan merdu dari aktivitas panas itu. Anto menatap ke arah langit-langit beranda sambil terus mengkhayal. *** Di dalam kamar, Yuyun sudah terlelap karena merasa lelah. Devan masuk ke dalam kamar setelah mematikan ponselnya. Melihat Yuyun tidur dengan pulas, Devan enggan mengganggu, Devan hanya rebah di sebelah Yuyun tanpa melakukan apa-apa. Sekitar pu
Devan mendapati Yuyun sedang membantu Anto bangun dari atas lantai. Devan mendekati mereka berdua lalu menatap Yuyun yang sibuk memegang lengan Anto sementara Anto menatap wajah Devan tanpa rasa bersalah. "Kenapa ini?" Tanya Devan pada mereka berdua. Darto dan Amina hanya berdiri di ambang pintu ruang makan melihat Yuyun, Devan, dan Anto. Yuyun menoleh ke arah Devan. "Anto tergelincir pas mau kembali ke beranda," jawab Yuyun seraya melepaskan genggaman tangan kanannya dari lengan Anto. Devan melihat hidung Anto mengeluarkan darah, Anto hanya mengusapnya menggunakan punggung lengan kanannya tanpa mengatakan apa-apa pada Devan. Mana mungkin Anto menunjukkan kekagumannya pada Yuyun di depan Devan, bisa-bisa Devan marah dan langsung memukulinya. "Parah?" Tanya Devan sambil berkacak pinggang menatap darah di lubang hidung Anto. Yuyun hanya mengangkat bahu lalu berjalan ke dapur. "Nggak papa Den, nanti jug
Tidak ada tanda-tanda Darto dan Amina akan menyudahi permainan panas yang terus berlanjut. Yuyun sampai selesai menyantap makan malamnya terdengar suara langkah kaki dua orang dari arah ruang depan. Ternyata Anto dan Sarinten sedang berjalan menuju ke belakang."Permisi Neng, saya mau numpang ke kamar mandi sebentar," sapa Anto pada Yuyun. Yuyun sedang berdiri di dekat jendela dapur sambil menggenggam cangkir di tangan kanannya, dia hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan Anto. Anto masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam dapur. Sarinten membereskan piring kotor yang tadi dipakai Yuyun lalu melihat makanan masih banyak yang belum disentuh. Ketika mencuci piring di dapur Sarinten menoleh ke arah Yuyun yang kini berdiri memunggungi menghadap ke luar jendela dapur. Sarinten ingin mengobrol dengan Yuyun menanyakan tentang Amina dan Darto apa mereka berdua sudah makan malam tapi niat tersebut segera dia urungkan lantaran merasa kondisi dan situasi saat ini sa
"Aku belum ingin melakukannya, Pak," balas Amina sembari berusaha untuk menghindar dari serangan Darto. Darto sudah berhasil menekan ujung batang miliknya ke dalam dan juga meremasi kedua bukit kembar Amina. Sesekali Darto memilin-milin kedua puting Amina yang kencang. Darto melihat kedua kaki Amina mulai gemetaran, bibir Amina juga tampak sedang menahan desahan akibat ulahnya. "Eemhh, engh, mmh," desah Amina lirih seraya meremas handuk yang tadi digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Kedua tangan Amina memegangi sisi meja rias di depannya. "Basah Bu," bisik Darto sambil menatap reaksi Amina dari pantulan cermin di depan mereka berdua. Darto terus mendorong kejantanannya memasuki liang intim Amina, bokong Amina dipaksa menungging olehnya hingga seluruh tongkatnya bisa masuk ke dalam. "Akhh, Pak, ah, awh, aku belum ingin," tolak Amina lagi pada Darto. Amina yang tadinya menanggapi Darto dengan sikap dingin mulai mendesah nikmat.Darto tidak menyahu
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







