Share

LMD Bab 04

Author: NesalHappy
last update publish date: 2025-01-10 21:00:48

"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu.

"Ah apa?" Tanyaku.

"Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah namun juga sulit dalam wakti yang bersamaan.

"Nggak kenapa-kenapa kok cuman keinget pelajarannya pak Marwan aja, aku belum ngerti sepenuhnya." Jawabku berbohong, aku tidak ingin dia tahu apa yang aku pikirkan sesungguhnya dan menjadi khawatir tentang ku.

"Oh kirain." Dia tersenyum lembut padaku. "Habis ini mau kemana lagi? Dufan seru dech kayaknya."

"Udah jam segini. Waktunya pulang." Tolak ku.

Leon mengangguk mengerti karena seperti itulah kami. Jam sembilan malam adalah waktunya untuk berpisah. Keluargaku sebenarnya tidak memberlakukan jam malam. Tapi, aku sendiri yang memasang jam malam tersebut. Karena apa? Karena hanya ingin saja dan Leon menghargai itu. Leon selalu menghargai ku, itu yang aku suka dari Leon. Perhatian dan menghargai, sikap yang utama yang membuat perempuan manapun akan memilih menetap dan setia tentu saja.

"Mau aku anter sampai rumah?" Tawarnya, aku menggeleng. "Turun di tempat biasanya?" Tanyanya sekali lagi dan aku mengangguk.

Seperti yang aku katakan diawal, Leon hanya tahu aku sebagai aku, gadis SMA biasa yang berprestasi. Leon tidak tahu dimana rumahku, siapa orang tuaku. Begitupun teman satu sekolahku. Dan bersyukurnya aku Leon mengerti ketertutupan ku. Aku dan Leon sekolah di SMA Bunga Bangsa, sekolah favorit, bukan favoritnya karena sokongan wali murid jenset, sekolah kami termasuk sekolah sederhana awalnya namun selalu berhasil mencetak murid-murid berprestasi. Yang sogokan tidak berlaku di sini. Memang ada sponsor tapi sponsor dari perusahaan dan di pastikan tidak ada KKN di sini.

* * *

"Sayang... Bangun yuk!" Mataku masih terasa berat untuk terbuka karena ini adalah hari minggu, hangat matahari terasa dari jendela kamarku yang telah terbuka. Mungkin mama yang membuka jendelanya.

"Hm..." Aku merenggangkan tubuhku, "Mama... Inikan hari Minggu." Protes ku.

"Selamat ulang tahun anak mama.” Ucap Mama sambil memelukku dengan riang. Yah mungkin karena aku anak tunggal. Jadi perhatian mama sepenuhnya hanya di tumpahkan padaku, terlebih papa sering kerja luar kota atau ke Singapore mengingat anak perusahan papa yang di sana semakin maju.

"Hah emang ini tanggal berapa Ma?" Tanyaku linglung.

"Tiga belas." Mama yang duduk di pinggir ranjang dekat pahaku, tersenyum begitu memukau, wajah anggun nan ayunya tidak menampakkan bahwa beliau sudah kepala empat. Senyum mama selalu bisa membuat hatiku tenang. Entah bagaimana bisa mama mendapatkan senyum seperti itu. Mungkin dari eyang, eyang putri juga memiliki senyum seperti mama. Apakah aku juga memiliki senyum seperti itu? Kurasa tidak.

"Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas gadis kesayangannya mama." Mama membelai rambutku yang masih berantakan.

"Terimakasih mama."

"Sayang..." Suara mama begitu lembut. "Mama ingin memberikan sesuatu untuk mu sebagai hadiah." Mama mengeluarkan sebuah kalung berliontin sebuah batu berwarna merah yang menggoda.

"Kalung?" Tanyaku heran. Karena baru kali ini aku melihat kalung itu.

"Ini kalung turun temurun dari keluarga kita sayang." Jelas Mama. "Dulu mama mendapat kan kalung ini ketika mama lulus SMA. Tapi, mama rasa ini adalah saat yang tepat untuk memberikan kalung ini pada kamu sayang."

"Wah, cantik sekali ma. Masak ini kalung turun temurun. Designnya tidak ketinggalan jaman sama sekali. " Aku meraih kalung itu dan mengamatinya.

"Kalung ini bentuknya bisa menyesuaikan dengan keinginan pemakai sayang."

"Hah?" Otakku serasa loading karena menemukan ketidak sinkronan antara informasi yang aku dengar dan dengna logika yang ada di dalam kepalaku.

"Ini bukan kalung sembarang. Hanya keluarga kita yang berjenis kelamin perempuan yang dapat melihatnya dan jodoh sejati kita."

"Dilla, kalung ini akan membantumu dalam menemukan cinta sejati kamu. Dan akan melindungi kamu. Selama ini kalung ini telah melindungi keluarga kita."

"Jadi kalung ini, kalung ajaib?" Mama mengangguk.

"Sangat sakti?" Mama mengangguk lagi.

"Berarti kekayaan keluarga kita..."

"Jangan sembarangan!" Hardik mama "keluarga kita memang sudah kaya turun temurun di tambah papa dan mama juga anak tunggal dan lagi papa itu pekerja keras."

"Kalau kalau bukan untuk kekayaan, apa gunanya ma?" Tanyaku heran.

"Kalung ini akan melindungi kita dari hal berbahaya..."

"Berarti Dilla bakalan tahan bacok dong ma?" Potongku semangat dan sedikit excited, membayangkan diriku yang tiba-tiba menjadi sekuar sri asih atapun gundala.

"Emang kamu mau tawuran?"

"Enggak juga sich ma." Cengirku.

"Dari semua manfaat kalung ini, yang paling penting adalah kalung ini ah tepat nya liontin ini akan membantu kita dalam menemukan cinta sejati kita."

"Caranya ma?"

"Cinta sejati kita dapat melihat kalung ini ketika sedang bercinta dengan kita."

"Berarti untuk tahu dia cinta sejati kita apa bukan berarti harus ML dulu dong ma." Mama mengangguk.

"Berarti saat menikah nanti, Dilla udah..."

"Kamu akan tetap perawan dan tetap bersih."

"Kok bisa ma?"

"Liontin ini akan mengembalikan keperawanan kamu, setiap kamu ML sama lelaki lain, lelaki itu akan mendapatkan keperawanan kamu."

"Jadi misal Dilla ML sama si Anak yang mendapatkan keperawanan Dilla dan kemudian Dilla ML sama si B, si B juga bakalan ngerasain keperawanan Dilla?" Mama mengangguk. Gila, keperawanan bisa balik padahal operasi perawan kan puluhan juta.

"Lalu bagaimana kalau Dilla ML sama si C si D, E, F secara bersamaan?"

"Maka siapa lebih dulu yang masukin kamu." Jelas mama yang membuatku mengerti dan mengangguk.

"Tapi juga bisa menghilangkan keperawananmu sementara ketika ML. Kalung ini akan membantu disetiap kesulitan, mencegah penyakit kelamin dan menghapus memory."  Jelas Mama. " Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui, hanya cinta sejati kita yang benihnya dapat membuahi kita Dilla."

"Sesakti itu ma?" Mama mengangguk atas pertanyaanku yang spontan itu.

"Masak?" Aku masih meragukan ucapan mama itu.

"Mama sudah buktikan." Aku melotot ‘tak percaya, mamaku yang begitu anggun sopan dan wanita rumahan tidur selain dengan papa.

"Be...beneran ma?" Mama mengangguk sekali lagi untuk menjawab pertanyaanku atas keraguan karena tidak memenuhi logika dalam diriku.

"Bukan hanya mama, eyang putri  dan eyang putri terdahulu. Reaksi mama sama seperti kamu ketika mendengar cerita eyang putri." Kata mama.

"Sejauh mana mama..."

"Sejauh-jauhnya. Kamu tak akan menyangka."

"Gangbang?" Tanyaku meragu kepada mamaku yanbg penuh keanggunan ini.

"Cobalah sendiri."

"Nggak ah, Dilla nggak mau ambil resiko."

"Kamu tinggal menghapus memori mereka tentang kamu tanpa menghilangkan nikmatnya tubuh kamu dalam otak mereka."

"Memang bisa begitu ma?"

"Pak Bejo buktinya. Dia tidak ingat pernah ML sama mama tapi mengingat nikmatnya ML sama mama sampai ketagihan."

Mungkin ini yang dinamakan syok terapi. Mengetahu mama pernah ML sama sopir pribadi keluarga kami. Jangan berpikir pak Bejo adalah supir mesum yang kalian baca di cerita-cerita dewasa di luaran sana. Pak Bejo telah lama ikut dengan kami. Orang satun, tidak sangar sama sekali, aura kebapak’annya sangat kuat dan bahkan aku sangat dekat dengan beliau.

"Sampai sekarang mama masih sama pak Bejo?"

"Kadang kalau papa nggak pulang-pulang dan mama merasa kesepian."

"Enak ma?" Tanyaku penasaran.

"Kamu bisa mencobanya sendiri sayang " kata mama sambil mengedipkan matanya.

Pantas saja, selama ini aku merasa sedikit heran ketika assisten rumah tangga kami tidak mendapatkan kamar, maksudku mereka datang jam 6 pagi dan pulang jam 5 sore  tapi untuk sopir malah di kasih kamar di rumah ini dengan alasan bahwa mungkin papa butuh sewaktu-waktu.

"Jangan-jangan pak Ujang juga pernah jadi korban mama."

Mama tersenyum kecil, kalau sopir dan satpam rumah ini pun pernah jadi korban mama, berarti mama telah banyak memakan korban di masa mudanya. Walau para lelaki itu mendapatkan kenikmatan dari mama tapi tetap saja mereka korban, karena tidak bisa mengingat siapa wanita yang telah memberi mereka kenikmatan itu. Kalua-kalau mereka sampai ketagihan dan ingin mencari wanita itu namun tidak bisa, karena ingatan mereka samar akan wanita itu, hanya kenikmatan saja yang mereka ingat.

"Jangan menghakimi mama, nak." Kata mama yang meraih kalung itu dan mengalungkan di leherku. "Kamu akan memahami mama ketika kamu menjalaninya. Kamu akan tahu terkadang kita butuh sedikit kegilaan dalam hidup kita."

Mama benar. Toh, aku juga menyukai segala sesuatu tentang sex. Walau belum pernah ML aku sangat menyukai yang namanya kegiatan reproduksi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 19

    Sejujurnya aku sedang menghindari Reno, sejujurnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Reno. Antara kecewa karena ia begitu saja menyerahkanku pada cowok lain, ah bahkan melemparkanku pada banyak cowok tapi, di sisi lain ini adalah hal yang telah aku putuskan sendiri. Ini adalah keputusanku. Memiliki pengalaman dengan banyak cowok sekaligus.Tapi, setidaknya ia bisakan bertanya padaku sebagai basa-basi terlebih dulu? Tapi walaupun ia berbicara padaku pun, mana mungkin aku mengiyakan secara gamblang, sebagai cewek gengsi ku terlalu tinggi untuk itu. Lalu, yang paling membuatku ilfeel dengannya adalah, permainannya dalam proses kami bersenggama. Dia benar-benar buruk. Terlebih, bagaimana bisa ia menyudahi permainan tanpa memperdulikan kepuasanku?Ah lupakan, toh sebentar lagi aku akan memutuskannya. Tapi, seingatku hubungan kami tidak bisa di sebut hubungan pacaran. Kami tidak memiliki status itu.Hingga mat

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 18

    "Kalau kakak nanti malam tidak ikut, bolehkah..." Aku langsung duduk di pangkuan nya. Mengalungkan tanganku pada lehernya yang kokoh, menciumnya dengan ganas. Dan syukurnya adalah kak Roby menyambut semua perbuatan ku itu dengan antusias.Kami berciuman dengan sangat buas, lidah saking melilit. Kaos yang tadinya bisa menutupi setengah pahaku kini tersingkap. Membuat bibir vaginaku terbelai oleh angin padang berbunga. "Eghhmmm..." Desahan tertahan kami menggema diantara ladang bunga lavender ini.Kami terus melumat dan meraba, berhenti hanya untuk mengisi ulang oksigen di paru-paru kami lalu melumat dan menghisap kembali. Dengan tubuh tegapnya kak Roby menggendongku, tanganku semakin erat berkalung padanya. Aku di sandarkan nya pada sebuah pohon dekat bangku, kakiku pun masih terkait pada pinggangnya.Karena beban tubuhku yang digendongnya kini terbagi pada pohon, tangan kirinya yang bebas mulai menyapa gund

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 17

    Mataku terbuka, perlahan retina ku menangkap cahaya. Rasa lelah dan puas ku rasakan disaat bersamaan. Masih malas untuk bergerak, terlebih hanya menemukan satu kaos besar yang menutupi hingga pahaku. Hanya itu, hanya itu yang melekat ditubuh ku. Udara dingin berhembus, menyapa vagina ku yang tak tertutup apa-apa."Sudah bangun?" Kak Roby masuk ke dalam tenda."Untung saja tubuhmu mungil." Katanya melihatku, mungkin lebih tepatnya melihat kaos besar yang sedang melekat pada diriku. Mungkin miliknya. Tapi, bagaimana bisa ia menyebutku mungil dengan dada ukuran 36B dan pantat ku yang membulat?"Terimakasih." Kataku, -terimakasih atas nikmat yang telah ia berikan dan terimakasih atas kaosnya-. Aku berusaha untuk bangun."Mmm..." Gumannya sambil membantuku untuk duduk. Ah, bukan guman, tapi itu jawaban atas kata terimakasihku."Mau mandi?" Tawarnya singkat. Aku mengangguk, bagaimanapu

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 16

    "Diamlah!" Aku mencengkram kerahnya. Kepalaku yang pusing karena klimaksku yang tertunda semakin pusing karena ocehannya itu. "Kak... Ahh... Kak Roby.. Hmm.. Benar hh... Benar... Mauhhh membantu hh... Dilla?" Tanyaku dan dia mengangguk, masih dengan menatap lurus mataku. Membuatku bingung apakah cowok ini baik ataukah sama saja dengan yang lain? Aku akan mengetahuinya setelah ini."Lepasss... Hh.. Pakaianmuhh... " Rasa ingin segera tertuntaskan itu membuatku sulit berkata."Tapi..." Aku segera menubruk tubuhnya hingga terjengkang kebelakang. Aku benar-benar menginginkan kak Roby sekarang. Aku menindihnya dengan tubuh telanjangku dan menciumnya secara brutal. Bibirnya kenyal dan caranya memagut bibitku terasa menyenangkan, lembut namun penuh hasrat kelelakian. Tubuh tegapnya yang aku grayangi semakin membuatku bergairah.Pagutan kami terpisah karena aku meloloskan kaos yang ia kenakan. Sama seperti Reno, tubuh kak Roby be

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 15

    Suara jangkrik mengisi kesunyian malam ini, selepas maghrib kami membuat api unggun, tidak besar hanya sebagai penghangat kami di luar. Oh sebenarnya yang ku sebut kami itu, aku tak termasuk ke dalamnya, karena aku hanya ongkang-ongkang kaki. Seperti ratu lebah yang dilayani oleh para pekerjanya. Layaknya ratu lebah, selayaknya Reno selalu memanggilku. Sedikit banyak kami saling mengobrol, kecuali kak Roby yang sedari diam. Hingga jam tujuh, aku memutuskan untuk masuk ke dalam tenda."Kamu nggak sakit kan queen bee?" Tanya Reno yang menyusulku masuk ke dalam tenda."Aku sehat kok." Jawabku."Eh ini, minum biar anget." Katanya memberiku segelas air yang berwarna putih keruh. Seperti legen."Apa ini Ren?" Tanyaku yang menerima gelas itu."Legen, kak Yona yang bawa. Katanya buat anget-anget, dari pada minuman keras mending legen. Lebih enak, apalagi legen tuban." Jelas Reno&

  • Liontin Merah Delima   LMD Bab 14

    "Bee...!!!" Reno berseru dan menghampiriku, lihatlah wajah gantengnya dan senyuman ramahnya, siapa yang menyangka bahwa dia memiliki niat terselubung padaku. Sedang Zee dan Fina mendengus di sampingku. Saat ini kami sedang berkumpul di halaman yang cukup luas di sebuah bumi perkemahan, bis antar fakultas berangkat secara terpisah, fakultas teknik sepertinya berangkat setengah jam lebih lambat dari fakultasku."Semoga kita nanti satu kelompok ya bee." Ucapnya yang menunjukkan senyum ramahnya. Kalau orang lain yang melihat, aku yakin mereka pasti mengira bahwa perasaannya tulus padaku, sayangnya itu semua hanyalah topeng kamuflase. Tentu saja aku hanya memberikan senyumku, senyum terbaikku. Memang hanya dia yang bisa berkamuflase.'NGIIINNGGG..' Suarana dengungan sirene dari pengeras suara terdengar di telinga kami, membuat kamii mahasiswa baru yang berjumlah sekitat 100 mahasiswa langsung berkumpul pada sumber suara. Kak Mayo, ket

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status