LOGIN“Bapak, memanggil saya?” tanya Selina saat dipersilakan masuk ke dalam ruangan Sony.“Iya, Selina, ada yang aku katakan,” jawab Sony yang sedang duduk di sofa menikmati secangkir kopi.“A-ada apa ya, Pak?”“Apa kamu bisa membantuku memijat sedikit punggungku ini, terasa nyeri sekali,” jawab Sony sambil menunjukkan area pundaknya yang katanya terasa pegal-pegal.Mendengar jawaban Sony, Selina merasa lega, karena apa yang dicemaskannya tidak terbukti. Namun, ia merasa heran pada wakil presdir yang sudah berumur itu, tanpa segan-segan menyuruh Selina melakukan pekerjaan di luar tugasnya. Apalagi ini hari pertamanya bekerja.Selina pun mendekati Sony, “Bagian mana yang sakit, Pak?” tanya Selina berusaha untuk tetap tenang dan melayani Sony sebaik mungkin.“Bagian pundakku sebelah kanan,” jelas Sony.Jari-jemari Selina pun mendarat di tubuh Sony, lalu mulai memijit punggungnya dari belakang. Sony tampak menikmati yang dilakukan Selina, walaupun tanpa teknik terapis yang sebenarnya, “Enak
Di ruang kerjanya, Aizar memperkenalkan Satrio pada Selina, “Kalian berdua adalah orang yang aku andalkan, jangan lupa untuk selalu melaporkan kalau ada operasional atau staf yang bekerja dengan tidak baik di sini,” ucap Aizar pada kedua orang yang sudah dianggap sebagai teman dekatnya itu. “Terutama Pak Sony, aku ingin kalian mengawasi setiap gerak-geriknya, karena aku perlu beberapa informasi yang berkenaan dengan aktivitasnya di luar rumah,” tambah Aizar. Selina dan Satrio tentu saja menjadikan ucapan Aizar sebagai perintah untuk dilaksanakan.Hari itu juga, di hari pertamanya bekerja di Shine Group, Selina ditemani seorang petugas kebersihan memasuki ruangan wakil presdir. Ketika petugas kebersihan sedang membersihkan kamar mandi, Selina coba mencari-cari sesuatu di laci kerja Sony sambil berpura-pura mengelap meja yang terbuat dari kayu jati itu dengan kemoceng. Sret! saat laci pertama dibuka, tidak ada sesuatu yang berguna untuk dijadikan laporan pada Aizar. Sret! demikian pul
Kehadiran Selina pagi ini banyak mencuri perhatian staf di kantor Shine Grup, terutama bagi para lelaki yang bekerja di sana. Beberapa hari lalu, saat Selina untuk pertama kalinya datang ke tempat itu tak seorang pun memandang dirinya bahkan ia menerima hinaan lantaran penampilannya terlalu apa adanya dan terkesan lusuh, tapi hari ini hampir semua orang mengagumi kecantikannya. Rambutnya yang dulu hitam dan lurus, kini tampak bergelombang dan diberi hair light kebiruan, bentuk wajahnya yang oval dan putih tampak glowing dengan make up yang tak terlalu tebal. Warna bibirnya disapu gincu merah gelap, membuat kesan sensual pada penampilannya. “Kamu beneran Selina yang waktu itu datang interview?” tanya Adirah memastikan.“Iya Bu, aku Selina, aku datang untuk mulai bekerja hari ini,” jawab Selina sambil membungkukkan sedikit badannya.“Wah, pasti kamu pergi ke salon mahal ya? Berubah sekali penampilanmu hari ini?” tanya Adirah penasaran.“Kebetulan temanku pandai make up, karena sekarang
Keesokan pagi Aizar memberitahu mamanya bermaksud menelepon Kek Pram di Singapore, “Semalam Mama sudah menelepon kakek dan nenekmu, mereka baik-baik saja di sana,” ucap Cempaka. “Apa kamu ingin membicarakan urusan pekerjaan dengan kakekmu, Nak?” tanyanya.“Tidak sih, Mah, aku hanya ingin memastikan berapa lama Kakek di sana, untuk menyesuaikan dengan pekerjaanku,” jelas Aizar.“Semalam Kek Pram bilang ingin menambah waktu cutinya, tapi tidak tahu berapa hari. Mungkin sebulan mereka di sana. Biarlah, Nak, jangan ganggu kakekmu dengan urusan pekerjaan, biarkan kakek dan nenekmu menikmati liburannya.”Mendengar ucapan Cempaka, Aizar mengurungkan niat menelepon Kek Pram, ia memang harus fokus pada tugas yang sudah diberikan padanya, agar saat kakeknya pulang ia sudah berhasil menyelesaikan semuanya, terutama proyek penggantian prototype barang elektronik yang sedang dalam proses, ia akan memastikan proyek itu selesai saat Kek Pram kembali dari liburannya.Ketika Aizar sarapan ditemani mam
“Hmm…, boleh nonton bareng, Rio?” ucap Aizar yang baru saja bangkit dari tempat duduknya.“Oh, shit…!” gumam Satrio amat terkejut menyadari Aizar sudah berdiri mendekatinya. “Maaf ya, Pak…” ucapnya sambil menutup bagian bawahnya dengan kedua telapak tangan. “Santai saja, Rio… aku juga bisa merasakan gimana tersiksanya kalau hasrat kita pada wanita tidak kesampaian. Daripada pusing mending dikeluarkan sendiri,” ungkap Aizar sambil tersenyum..“I-iya, Pak… ini semua gara-gara Mirah yang tadi tidak jadi aku ajak bersenang-senang.”“Sama aku juga, Rio, rencananya kita mau bersenang-senang di club malah ada Om Sony di sana, jadi gagal semua yang sudah kita rencanakan. Tapi tidak apa-apa, Rio, gantinya kita nonton film dewasa saja.” “Silakan, Pak, Bapak saja yang menonton,” ucap Satrio coba bangun dari tempat duduknya yang berada tepat di depan komputer.“Eh, jangan, Rio… duduk saja, kita nikmati bersama-sama film bagus ini, ini film yang tadi aku tonton juga kan?” Aizar pun mengambil kur
“Ayo sini…” panggil Mirah pada Satrio yang masih berdiri dengan bagian bawahnya sudah menegang sempurna. Satrio sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, ia berjalan perlahan mendekati Mirah sambil mengarahkan bagian bawah tubuhnya pada pangkal paha wanita yang terbaring dengan pasrah itu. “Bersiaplah…” batinnya saat akan menusuk tubuh Mirah.Tok…tok… tok…! tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Mirah dan Satrio refleks menghentikan aksinya yang baru saja akan dimulai, keduanya bergegas mengenakan pakaian yang tergeletak di lantai. “Kamu tunggu di sini saja,” ucap Mirah pada Satrio saat ia akan menemui orang yang datang. “Ada apa ya?” tanya Mirah pada kedua lelaki berpakaian seragam yang datang.“Mana lelaki yang tadi bikin kekacauan itu?” tanya salah satu lelaki bertubuh tinggi dan kekar itu. “Dia sudah pergi, memangnya kenapa?” “Jangan lindungi dia. Perlu kamu tahu ya, baru saja dia mengganggu salah satu pengunjung PIV,” jelas si petugas.Mendengar masalah yang sedang terjadi pa







