"Ibu kan tau, kalau saya ini biasa nggambar dan melukis pake cat semprot bukan cat air seperti ini. Mana ada duit Bu saya buat beli cat air ini," bela Gaffar.
"Kamu fikir saya percaya?!" Seru Bu Diah yang kini sudah terpancing emosi.
"Males ah kalo disuruh mikir!" Jawab Gaffar seolah tak peduli dengan amarah Bu Diah yang sudah di ubun-ubun.
"Gaffar!"
"Apa sih?"
Bu Diah terlihat mengelus dada meladani manusia setengah waras seperti Gaffar.
"Bicara dengan nada sopan dan nggak boleh ngegas. Inget?!" Bu Diah memperingatkan Gaffar untuk berperilaku santun.
"Iya iya iya, Bu."
"Jadi ini mau gimana? Masalahnya, kepala sekolah mengancam pelaku pembuat mural ini akan dikeluarkan dari sekolah, Gaffar!" Bu Diah pun ikut pusing meladeni masalah ini.
"Hanya karena sebuah lukisan mural dia mau ngeluarin si pelaku? Gila! Nggak punya otak! Meskipun ini bukan saya yang gambar, tapi saya tetap nggak setuju! Menggambar itu seni. Sebuah kreatifitas yang harus diasah. Jadi, bukan menjadi patokan untuk menjadi aturan!" Seru Gaffar dengan bijaknya.
"Ini bukan tentang nilai seni Gaffar. Ini tentang penempatan dan caranya yang salah. Kamu menggambar di arena sekolah yang belum mendapat izin dari pihak yang bersangkutan," ujar Bu Diah membela diri.
"Berapa kali saya harus bilang kalau ini bukan karya saya bu?!"
"Apa ada suatu hal yang membuat saya percaya dengan omongan kamu?" Tanya Bu Diah seolah meremehkan.
Gaffar nampak berfikir sejebak dan memandangi lukisan pad tembok itu. Berkat ketelitiannya, Gaffar menemukan titimangsa pada gambar tersebut.
-Ky
"Ibu bisa lihat, disini terdapat tulisan ky yang mungkin inisial nama si pembuat lukisan. Dan Ibu tau kan nama saya Gaffar Adi Pratama yang nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan huruf k dan y?!"
Bu diah nampak memandangi kode ky itu.
"Oke, saya beri kamu tantangan. Buktikan jika ini bukan kamu yang menggambar, saya tunggu selama 1 minggu."
"Hah? Seminggu?! Gila! Terlalu sebentar bu!"
"Oke, 5 hari."
"Nggak jadi deh bu, satu minggu aja udah nggak apa-apa."
"Bagus, saya suka semangat kamu. Karena saya juga yakin, ini bukan karya kamu." Setelah mengatakan hal tersebut, Bu Diah langsung pergi meninggalkan Gaffar.
"I love you Bu .... " Teriak Gaffar saat Bu Diah sudah melangkah pergi.
Setelah kepergian Bu Diah, Gaffar memandangi lukisan huruf kecil yang berada pada pojok kanan atas yang sangat kecil.
"Siapa K Y?" Tanya Gaffar dengan dirinya sendiri.
"Apa mungkin, Komisi Yudisial?" Gumam Gaffar.
Gaffar kebali memandangi lukisan mural tersebut dan berjanji akan menemukan pelaku yang sebenarnya.
----
"Muka lo kenapa? Kusam banget kaya cucian belum kering."
Saat Gaffat pulang ke rumahnya, justru bukan sambutan baik yang didapatkan. Melainkan ejekan dari sang Kakak yang biasa ribut dengannya.
"Berisik banget sih, lo. Mending diem kalo nggak bisa bantu."
"Kenapa jadi marah, dih? Dasar, aneh." Perempuan yang kini menggunakan setelan daster khas rumahan tersebut mendengus dan langsung meninggalkan Gaffar yang kini sedang termenung di ruang tamu.
"Lo nggak kerja, Mba?" Teriak Gaffar yang melihat sang Kakak menuju dapur.
"Kerja dong, kalo gue nggak kerja, mau makan apa lo nanti? Shift malem gue," sahutnya yang kini masih belum nampak di hadapan Gaffar.
"Sial, kenapa gue mikirin kaya gini, sih?!" Seru Gaffar seraya mengacak rambutnya dengan penuh emosi dan frustasi.
Akhirnya, Gaffar bangkit dari ruang tamu dan masuk menuju ruang tengah hendak menyusul sang Kakak. Barangkali ada makanan yang bisa ia makan sedikit bisa meredakan pusingnya.
Perlu diketahui, Gaffar hanya tinggal bersama sang kakak. Kedua orang tuanya sudah berpisah sejak Gaffar berusia 5 tahun. Ia sudah terbiasa hidup dengan sang Kakak. Dari dulu, Gaffar selalu mengikuti kemana pun Mei-- sang kakak main. Untuk itulah, ia selalu berusaha baik-baik saja. Karena sang kakak jauh lebih besar menanghung bebannya.
Brakk
Lemparan kardus dengan ukuran sedang mengenai tubuh Gaffar yang kini sedang berjalan mendekat ke meja makan.
"Apa-apaan nih," seru Gaffar dan menatap emosi kepada si pelaku yang kini tangganya bersilah dada dan siap menyidak sang adik.
"Apaan sih, Mba?!" Lanjutnya.
"Yang sopan kalo ngomong sama orang tua! Tuh pesenan lo, kan? Bagus, terus aja. Disini cari duit hampir gila, lo malah seenaknya hambur-hamburin." Dengan sorot mata tajam dan tangan yang menunjuk alat-alat lukis yang kini sudah berhamburan, Mei marah besar karena kelakuan Gaffar yang memesan sebuah paket untuk melukis.
"Ini gue beli dari uang gue sendiri mba, dari hadiah event mural bulan kemarin," bela Gaffar yang merapihkan barang-barangnya tersebut yang kini berhamburan.
"Iya gue tau itu uang lo, tapi mikir dong! Itu masih banyak, Gaff!" Mei menunjuk cat semprot milik Gaffar yang sudah sangat banyak. Bahkan rak untuk tempat menyimpannya pun terlihat sudah tidak muat.
"Belum yang dikamar lo. Terus di ruang belakang. Mau lo apa sih sebenernya? Cape gue lama-lama nanggepin lo. Lama-lama makin seenaknya."
Mei langsung meninggalkan Gaffar dan menutup pintu dengan keras sehingga membuat Gaffar tersentak.
Gaffar memandangi pintu yang tertutup dengan raut wajah bersalah.
"Bener juga ya yang dibilang mba Mei. Tapi udah terlanjur dibeli. Nggak papa deh."
Tidak ada sahutan sama sekali dari Gaffar saat Bu Diah selesai mengatakan hal tersebut. Padahal Bu Diah merasakan jelas deru napas Gaffar yang tidak beraturan menandakan emosinya sedang tidak stabil.Bu Diah memegang bahu Gaffar dan ia mengelus dengan penuh cinta. Tanpa disadari, air mata Gaffar sudah lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Bu Diah yang menyadari hal tersebut dan langsung memeluk Gaffar dengan erat. Untungnya susasana sekolah sudah sepi, jadi tidak ada yang melihat kejadian ini selain terpantau kamera cctv.Gaffar tidak membalas pelukan Bu Diah. Tangisnya pecah begitu saja saat Bu Diah mengelus bahunya dan beberapa kali mengelus kepalanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendapat perlakuan seperti ini. Ia merindukan dekap hangat seseorang yang menenangkannya saat dunia sedang tidak ramah. Ia juga perlu rumah untuk mengistirahatkan beban yang sudah lama ia tanggung sendiri dan tidak tau harus ia luapkan kemana. "Saya nggak t
Setelah memakan ketoprak selesai, Kayla pun membayar dengan uang pas. Sebelum beranjak dari tempat tersebut, ia meneguk habis segelas air putih yang disediakan sang penjual.Ia benar-benar bingung harus pulang kemana. Pencarian tentang Panti Asuhan Kasih Bunda di internet tidak membuahkan hasil sama sekali. Bertanya pada orang-orang pun tidak ada yang mengerti. Terlebih, Bi Asri, Pak Joko, Pak Felix dan beberapa nomor yang tidak dikenal terus menghubunginya tanpa henti.Hal tersebut membuat Kayla semakin risih. Hingga ia memilih untuk mematikan saja handphone miliknya. Biarkan saja semua orang gempar akan kepergiannya. Ia sudah tidak peduli.Hingga malam yang terus larut, suasana kota yang mulai senyap membuat Kayla benar-benar merasa seperti orang hilang. Langkah kakinya membawa ke sebuah bawah jembatan yang kumuh. Ia memilih untuk duduk disana dan menyenderkan tubuhnya pada salah satu tembok yang menjulang. Biarkan saja
Karena akal cerdas dari Bi Asri, ia memiliki sebuah ide. Bahwa ia akan membantu Kayla untuk keluar dari kamar mandi. Tentunya, secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari sang tuan.Naluri keibuannya tidak bisa dibantah, bahwa melihat seorang anak yang tersiksa. Hatinya ikut teriris ketika mendengar jeritan rasa sakit dari Kayla yang sudah ia anggap sebagai anak.BrakkDobrakan pintu dari Pak Joko membuat Bi Asri histeris karena melihat kondisi Kayla yang begitu mengenaskan. Mereka pun membopong tubuh Kayla untuk keluar dari kamar mandi."Nyonya, bangun. Aduh, iki piye? Tolong, kamu ambil miyak kayu putih di meja," suruh Bi Asri kepada Pak Joko.Sambil menunggu Pak Joko mengambil minyak kayu putih dan menyiapkan alat-alat yang sekiranya bisa membantu Kayla untuk bangun, Bi Asri memilih membantu mengganti pakaian Kayla yang sudah basah dan ada beberapa bercak darah disana.Uh
Di sebuah kota di Negara Swedia terlihat seorang perempuan dengan rambut panjang tengah menatap dunia luar melalui kaca jendela yang berada di kamarnya. Ia iri melihat tawa teman-temannya yang begitu bahagia menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan. Bukan seperti dirinya yang hidup penuh dengan aturan dan tuntutan."Permisi, nyonya. Ini makan siangnya saya letakkan di meja, ya. Saya permisi."Suara asisten rumah tangga itu membuat perempuan itu mengaluhkan pandangannya dan menatap makanan itu. Selera makannya tidak ada. Bahkan makanan pagi tadi pun masih tersisa di meja makan. Tergeletak begitu saja tanpa berniat untuk dibereskan.Ia memilih untuk mengambil air putihnya dan meminum hingga tersisa separuh.Inilah kehidupannya, penuh dengan tuntutan.Tok tok tok"Permisi, Kayla. Boleh Ayah masuk?""Masuk aja, pintunya nggak dikunci!"Dari balik pintu menampilkan
Perjalanan Gaffar menuntun pada tempat pembuangan gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai kemarin. Ini hanya satu-satunya tempat yang bisa dijadikan untuk meluapkan emosinya.Gaffar berbaring diatas gerbong kereta dengan air mata yang mulai menetes begitu saja. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan yang dialami sang Kakak akibat perbuatan bejat manusia bernama Bagas.DorrSatu suara tembakan yang dilayangkan ke udara membuat Gaffar tersentak. Sehingga membuatnya bangun dan mencari dimana sumber suara tembakan tersebut.DorrTembakan kedua kembali berbunyi dan sukses membuat Gaffar sedikit bingung akan situasi dan kondisi yang terjadi. Ada apa ini sebenarnya? Terlebih saat ia melihat kearah bawah dan menemukan laki-laki bertubuh kekar yang membawa senjata api."KELUAR ATAU SAYA BAKAR TEMPAT INI!" Teriak salah satu diantara mereka dengan lantangnya.Melihat keadaan yang cukup menegangkan, Gaffa
Saat dirasa kondisinya sudah membaik dan kini sang Kakak sudah terlelap dalam tidurnya setelah meminum obat yang diberikan Gaffar kini ia sedikit menarik napas lega.Gaffar tidak pernah menyangka jika kondisi sang kakak akan separah ini karena tekanan dari keadaan yang teramat sulit. Terlebih kondisi ekonomi benar-benar membuat situasi menjadi semakin rumit.Kini Gaffar duduk di teras rumah sambil memandang langit malam yang begitu damai. Pikirannya kalut, matanya membara dipenuhi api. Ia benar-benar marah kepada Bagas, kekasih Mei yang sangat kurang ajar. Meskipun ia belum mengetahui pasti permasalahan apa yang tengah mereka hadapi. Tapi, ia bersumpah akan menghabisi Bagas sampai ia bertekuk lutut dihadapannya.Dengan tarikan napas panjang, Gaffar bangkit dari kursi kayu yang ia duduki dan langsung bangkit untuk mengendarai motornya menuju ke suatu tempat.Saat tengah melajukan motornya di jalan Merpati 04 seorang perempuan dengan
Mei menangis karena kebodohannya sendiri. Memang, terlihat fana jika menangisi uang. Bahkan terdengar sangat lebay. Namun, ia hanyalah manusia biasa yang jika merasa kehilangan pasti akan bersedih.Hingga waktu sudah menjelang sore, ia tidak berani pulang ke rumah. Ia harus mengatakan apa kepada Gaffar perihal kondisi ekonominya yang begitu sulit. Ia tidak punya jawaban untuk menjawab tiap pertanyan yang pasti akan dilontarkan Gaffar kepadnya.Sebuah ide muncul di kepala Mei. Ia harus bertemu dengan Bagas. Manusia bajingan itu hanya satu-satunya cahaya semu yang belum tentu mampu diharapkan.Mei berjalan dengan separuh tenaganya yang tersisa. Penampilan yang sudah tidak karuan, rambut yang berantakan dan mata yang sembab membuatnya seperti orang yang tidak terurus.Saat tiba di rumah sederhana milik Bagas, terdapat sebuah sepeda motor yang terparkir disana pertanda sang pemilik rumah ada di dalamnya. Pintunya juga terbuka, tidak seperti
Terkadang, semesta hanya memihak kepada mereka yang memiliki kekuasan terlalu banyak. Bahkan, beberapa diantaranya tak pernah merasa cukup atas nikmat yang telah didapat. Tanpa mereka ketahui, bahwa diluar sana banyak yang membutuhkan uluran tangan untuk meminta bantuan. Menjadi anak perempuan pertama memang sangat sulit bagi Mei. Terlebih, ia harus bekerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarga. Disaat banyak perempuan seusianya sibuk nongkrong dan menikmati masa muda, ia disibukkan dengan tangungjawab yang begitu besar. Harusnya, Mei kini tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah. Menjadi seorang perawat yang ia cita-citakan sedari kecil. Namun, realita menamparnya untuk tidak berkhayal terlalu tinggi. Disinlah sekarang, duduk sendirian di halte bus dengan amplop coklat berisi surat lamaran pekerjaan yang sedaritadi berada pada tangannya. Ia menyeka ker
Saat Gaffar berjalan menuju kelasnya dengan memegang satu bukunya. Ia menabrak seorang perempuan yang sedari tadi berjalan menunduk. Beberapa bukunya yang tadi berada di tangan perempuan tersebut terjatuh."M-maaf, Kak.""Kalo jalan itu matanya dipake," seru Gaffar. Dengan kebaikan hatinya, Gaffar pun membantu perempuan tersebut memungut bukunya yang berceceran di lantai."T-terima kasih, Kak," ujar perempuan tersebut.Gaffat tersentak saat mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah perempuan yang ia labrak kemarin."Lo lagi lo lagi. Males banget gue lihat muka lo." Gaffar langsung beranjak darisana meninggalkan Kiara yang kini memaku di tempat dengan wajah tegangnya.Saat Gaffar memasuki kelas, ia disambut oleh Sandra yang sedari tadi sudah berada di depan ruang kelasnya dengan tangan yang bersilah dada."Dateng juga lo akhirnya," seru Sandra menyambut ke