LOGINKirana Ardiani, seorang gadis SMA yang mandiri dan cuek, tiba-tiba terjebak dalam sebuah program perjodohan sekolah bernama Love Contract. Program ini mempertemukan beberapa siswa secara acak untuk menjalani tantangan bersama selama satu semester. Yang lebih mengejutkan, Kirana dipasangkan dengan Revan Pradipta, kapten tim basket yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara. Awalnya, Kirana sangat menentang perjodohan ini, apalagi Revan tampak tidak tertarik sama sekali. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai tantangan yang mereka hadapi bersama mulai mengubah pandangan mereka satu sama lain. Di tengah kebingungan perasaan, konflik persahabatan, dan rahasia masa lalu yang mulai terungkap, akankah Kirana dan Revan tetap bertahan dalam Love Contract ini? Atau justru menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar perjodohan sekolah?
View More"Sign it."
Roman slid the folder across the table without looking up from his phone.
Sera looked at it. Thirty-two pages. Three years. Two words.
She pulled it toward her.
He glanced up then. Just for a second. She recognized the look , he was waiting for something. Tears, maybe. Or her voice going high and thin the way it used to when they argued. He wanted the version of this where she fell apart and he stayed calm and walked away clean.
She picked up the pen.
"You're not going to say anything?" he asked.
"You already said everything." She flipped to the last page. "Two days ago. When you told Isabella you'd handled the situation." She looked at him. "I was the situation."
His jaw moved. Nothing came out.
She signed. Not slowly, not with any kind of performance. She signed the way she did everything ,like she'd decided long before the moment arrived. Then she capped the pen, slid it back across the marble, and stood.
"The penthouse is yours. I cleared my side of the closet." She picked up her bag , the old brown leather one, the one she'd had before him. "Your housekeeper Mrs. Park prefers green tea in the mornings. Not the black coffee Isabella used to send up. She won't say anything, but she won't drink it either."
Roman watched her.
"Your Thursday meetings make you skip breakfast. That's why you get migraines by eleven." She adjusted the strap on her shoulder. "I left your medication in the top left desk drawer. The prescription one. The generic doesn't work for you."
"Sera…"
"Goodbye, Roman."
She walked out.
No slammed door. No tears in the hallway. Just the soft click of her heels on marble, then the quiet sound of the front door, and then nothing.
Roman stayed at the table.
He looked down at the folder. At her signature on the last line.
*Seraphina Montague Ashford.*
He'd seen her sign things before , documents, cards, the odd form he'd pushed her way. He'd never paid attention. But she always used her full name. Every single time. Three names, written out completely, like she was making sure someone remembered she'd been there.
His phone buzzed.
Isabella.
*Is it done?*
He picked up the phone. Read the message. Then looked at the door Sera had just walked through.
He typed: *Yes.*
He set the phone down.
The penthouse was quiet in a way that felt different from usual. He couldn't explain the difference. It was the same rooms, the same furniture, the same view he'd woken up to for three years. But something about the quiet had weight to it now.
He reached over and closed the folder.
---
The elevator was empty.
Sera watched the numbers above the door. Forty-two. Forty-one. Forty.
She breathed in through her nose, out slow. An old trick. It didn't fix anything, but it gave her something to follow.
Thirty. Twenty-nine.
She was not going to cry in this elevator. She'd made herself that promise two weeks ago, when she first called the lawyer. She'd cried then , once, alone in her car, in a parking garage , and she'd told herself that was the only time. That was all he got.
Twenty. Nineteen.
The doors opened.
She stepped into the lobby and nearly walked straight into the man leaning against the far pillar with his arms crossed, watching the elevator like he'd been there a while.
Dark-haired. Tall. A jacket that probably cost more than most people's monthly rent. The kind of face that security cameras instinctively tracked.
"Took you long enough," Dante said.
Sera exhaled slowly. "I signed it."
He looked at her face for one second. Just one. "And?"
"And nothing." She walked past him toward the glass doors. "Drive me home. I have work in the morning."
He fell into step beside her. That was the thing about Dante , he never pushed. He showed up and he waited. He'd been doing it since she was nineteen and didn't know how to ask for what she needed.
"Your father's going to want to see you," he said.
The cold hit her face when they pushed through the doors.
"He can wait one day," she said.
The car was at the curb. Dante opened the door. She got in.
She didn't look back at the building. She had told herself she wouldn't, and she was much better at keeping her own promises than other people's.
The car pulled into traffic.
---
Upstairs, Roman was still at the table.
He didn't know how long he'd been sitting there. Long enough for the light through the windows to shift into something softer, the city settling into its evening version of itself.
His phone had buzzed three more times. All Isabella. He hadn't answered.
He picked up the folder again. Turned to the signature page.
*Seraphina Montague Ashford.*
He thought, for a moment, about saying her name out loud. Just to see if it felt like anything in this empty room. He didn't.
He set the folder down and walked to the window. Stood with his hands in his pockets, looking at the city below.
He had everything he wanted. The thought arrived flat and factless, with nothing attached to it.
Isabella's name lit up his phone again on the table behind him. He didn't move.
He told himself what was sitting in his chest was just tiredness. The end of something long and complicated. Normal, probably. The kind of feeling that would be gone by morning.
He was a man who trusted his own instincts. He'd built his company on them. He'd walked away from bad deals before the numbers confirmed it, and he'd been right every single time.
So he couldn't explain , standing at that window, with a signed divorce folder on his table and Isabella's name glowing on his screen , why every instinct he had was saying the same thing.
*You just made a mistake.*
He picked up his phone. Typed back to Isabella.
*It's done.*
He hit send. Stood there waiting to feel like himself again.
He was still waiting.
…
Hari ini Revan dan Kirana datang berbarengan lagi. Tapi kali ini, bukan cuma Nadine yang memperhatikan—beberapa teman lain mulai berbisik-bisik pelan sambil melempar senyum penuh arti.“Eh, lo liat nggak? Mereka makin nempel aja sekarang.”“Kayak udah jadian beneran, ya?”“Emang bukan settingan dari awal?”Revan dan Kirana pura-pura nggak denger, tapi mereka saling lirik dan senyum kecil.Di kelas Saat guru sedang menulis soal di papan, Nadine menyenggol Kirana dari samping.“Lo nggak mau jujur ke gue, Kir?”Kirana melirik. “Soal apa?”“Soal lo sama Revan. Ngaku, lo beneran udah suka, kan?”Kirana pura-pura fokus ke soal. “Udah ngerjain no. 2, Din?”“Kiranaa… jangan ngeles. Gue sahabat lo. Masa gue yang terakhir tahu?”Kirana menahan tawa. Lalu dengan suara pelan dia jawab, “Iya, Din… kita beneran sekarang.”Nadine menutup mulutnya, setengah terkejut dan setengah bahagia. “Oke… akhirnya! Gue seneng banget sumpah! Lo tuh pantas dapet orang yang bisa bikin lo senyum tiap hari.”Kirana
Sudah seminggu sejak Kirana dan Revan memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa pura-pura. Tidak ada yang berubah secara drastis dari luar—mereka masih duduk di tempat biasa, masih berdebat kecil soal hal-hal receh, dan masih suka saling lempar sindiran. Tapi bagi mereka, semuanya terasa berbeda.Kini, setiap tatapan memiliki makna. Setiap senyuman terasa lebih hangat.“Gue jemput lo nanti sore. Jangan pulang cepet-cepet,” bisik Revan sambil menyerahkan roti coklat ke Kirana.Kirana menatapnya heran. “Ngapain lagi?”“Surprise.”Kirana pura-pura mendengus, tapi pipinya memerah. “Ya udah. Tapi jangan yang aneh-aneh.”Revan mengangkat alis. “Gue? Aneh? Nggak mungkin.”Kirana sudah menunggu di gerbang sekolah ketika Revan datang dengan motornya. Ia mengulurkan helm.“Siap?”Kirana mengangguk. “Siap.”Mereka kembali ke bukit tempat pertama kali Revan mengungkapkan perasaannya. Tapi kali ini, Revan membawa tikar kecil, makanan ringan, dan termos teh hangat.“Seriusan lo bawa beginian semua?”
Pagi itu, Kirana datang ke sekolah dengan kepala penuh pikiran. Ucapan Revan semalam masih terngiang di telinganya:“Kalau lo butuh satu alasan buat nggak nerima dia, mungkin gue bisa kasih.”Apa maksudnya? Apakah Revan juga mulai merasa hal yang sama kayak gue?Nadine mendekat sambil menyenggol bahu Kirana.“Lo kelihatan kayak orang kurang tidur. Jangan-jangan mikirin Revan?”Kirana langsung menatap Nadine dengan mata melebar.“Bukan! Maksudnya… ya nggak juga sih.”Nadine terkekeh. “Berarti iya.”Kirana menghela napas panjang. “Nad, gue beneran bingung. Revan berubah. Dia nggak kayak dulu yang nyebelin. Sekarang dia… perhatian. Tapi gue takut ini semua cuma bagian dari kontrak.”“Terus kalau bukan?” tanya Nadine serius.Kirana terdiam. Ia tidak punya jawaban.Saat Kirana berjalan menuju kantin, tiba-tiba Rian muncul dan berjalan di sampingnya.“Kir, lo ada waktu nanti sepulang sekolah?”“Ngapain?” tanya Kirana pelan.“Ada yang mau gue omongin. Penting.”Kirana menatap Rian. Tatapan c
Sejak percakapannya dengan Revan di koridor, Kirana tidak bisa lagi mengabaikan perasaan aneh yang mulai tumbuh dalam hatinya.Revan tidak main-main. Dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya, tapi satu hal yang pasti—dia berubah.Dan perubahan itu terjadi karena Kirana.Namun, Kirana masih belum siap menghadapi kenyataan itu.Pagi Hari – KelasHari ini, Kirana kembali mencoba menjaga jarak dari Revan. Ia fokus pada buku catatannya, berharap bisa mengabaikan semua kebingungan dalam kepalanya.Tapi harapannya sia-sia.“Kir, lo masih marah sama gue?”Kirana tersentak. Ia mendongak dan melihat Revan berdiri di samping mejanya, tatapannya serius.Kirana buru-buru menggeleng. “Gue nggak marah.”Revan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Oke.”Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan kembali ke tempat duduknya.Kirana menghela napas. Kenapa dia harus sesantai itu? Kenapa dia nggak kelihatan bingung kayak gue?Nadine, yang sejak tadi mengamati mereka, langsung menyenggol Kirana.
Sejak obrolannya dengan Rian di taman belakang sekolah, Kirana jadi makin ragu. Apa benar gue nggak boleh terlalu berharap? Tapi kenapa Revan tiba-tiba peduli?Hari-hari berlalu, tapi suasana di sekolah masih ramai dengan gosip soal dirinya dan Revan. Kirana berusaha tidak peduli, tapi dalam hati,
Sejak percakapan aneh dengan Revan di kantin kemarin, Kirana jadi kepikiran terus. Kenapa dia tiba-tiba nanya soal Rian? Emangnya dia peduli?“Gue nggak ngerti jalan pikiran cowok itu,” gumamnya saat duduk di bangkunya pagi ini.Nadine yang baru datang langsung nyenggol lengannya. “Ngomongin siapa?
Kirana berjalan ke kantin dengan langkah ragu. Sejujurnya, ia ingin segera menyelesaikan tantangan ini dan kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Tapi sayangnya, dengan Revan Pradipta di sampingnya, itu terasa mustahil.Sementara itu, kantin sudah mulai ramai. Begitu mereka masuk, semua mata lan
Langit cerah di atas SMA Grahadi, menandakan hari yang cukup menyenangkan bagi para siswa yang baru memulai tahun ajaran baru. Aula sekolah penuh dengan suara riuh rendah para murid yang sedang berbincang. Beberapa asyik bercanda, sementara yang lain sibuk mencari tempat duduk untuk acara pembukaan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.