Masuk"Hai nona, butuh supir untuk antar pulang?" Tanya seorang pria yang sudah berdiri disamping Alana.
Alana menolehkan kepalanya melihat si pemilik suara, namun wanita ini sama sekali tidak terkejut, nampaknya dia sudah mengetahui siapa pemilik suara ini. "Dengan senang hati tuan Ezra!" Jawabnya. Saat ini Alana tengah berada di halte bus dekat kantornya. Dia sedang menunggu bus untuk mengantarkannya pulang. Ezra mengembuskan nafasnya kasar, dia merasa kesal karena tidak bisa mengejutkan sahabatnya ini. "Ayolah, Al, susah sekali membuatmu terkejut" protesnya. Alana hanya tersenyum manis mendengarnya. Bagaimana tidak kesal, setiap kali Ezra ingin membuat kejutan untuk Alana, wanita itu akan selalu mengetahuinya. Hanya dari suara Ezra saja Alana sudah bisa mengenalinya. "Lain kali aku akan berpura-pura terkejut, tuan" candanya. "Ah, sudahlah. Ayo, masuk mobil" ajak Ezra. Tanpa basa basi Alana segera berjalan dan membuka pintu mobil, dia pun segera masuk ke dalam disusul oleh Ezra. Mobil hitam milik Ezra pun sudah melaju membelah jalanan ibukota yang sudah ramai, karena ini jamnya para pekerja kantoran pulang. Jadi, tidak heran jika di jam-jam ini jalanan akan ramai dan membuat kemacetan yang amat panjang. "Habis shooting di dekat sini?" Tanya Alana. "Sebenarnya hari ini aku break shooting" jawab Ezra. "Lalu?" "Tadi aku ke toko bunga Ayra, aku kira kamu di sana, tapi Ayra bilang kamu sudah bekerja jadilah aku kesini sekalian jemput kamu, lumayan kan irit ongkos" jawab Ezra. "Tapi, kenapa kamu tidak bercerita jika sudah diterima di Cullen?" Sambung Ezra yang kembali protes karena Alana tak menceritakan perihal dirinya sudah bekerja. "Aku sudah mengirimkan pesan dan tak mendapatkan balasan, aku pikir kamu sedang sibuk shooting" jawabnya. Memang benar Alana mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi w******p pada sahabatnya itu, tapi tak ada balasan apapun dan pesan yang Alana kirim sudah dibaca. Ezra mengkerutkan keningnya merasa bingung, karena dia merasa tidak membaca pesan dari Alana dan tidak ada pesan masuk darinya pula. "Kapan kamu kirim pesan?" Tanyanya yang merasa bingung. "Em, dua hari lalu tepat dimana aku diterima bekerja. Jangan bilang kamu tidak membaca pesanku, karena pesan yang aku kirim sudah terbaca" Dan Ezra pun menggelengkan kepalanya. "Biar nanti aku tanya pada managerku" kata Ezra, dia pun merasa penasaran siapa yang membuka pesan di ponselnya, sangat tidak sopan. "Aku ingin mengajakmu makan malam, untuk merayakan diterimanya Alana Zahira Malik di Cullen Corp" serunya. "Ok, dan Ezra Horace yang akan mentraktir makan malam ini" sambung Alana dengan tawanya. "Everthing for you!" Ucap Ezra seraya tersenyum. Tepat pukul 20.30 Alana baru saja tiba di rumah, cukup lama dia menghabiskan waktu bersama Ezra tadi. "Thank's ya, Zra. Hati-hati di jalan" kata Alana ketika dia sudah keluar dari mobil. Ezra mengacungkan ibu jarinya, mobil Ezra pun melaju meniggalkan rumah mewah Alana seraya menutup jendela mobil. "Malam nona Alana" sapa security seraya membukakan pagar. "Malam pak" jawabnya ramah. Alana tidak pernah membedakan antara dirinya dengan para pekerja di rumah ini. "Anak gadis baru sampai rumah jam segini, apa-apaan!" Omel Erika ketika Alana baru saja membuka pintu. Alana terdiam melihat ternyata sang ibu sedang terduduk di atas sofa ruang tamu. "Em, Alana habis makan malam sama Ezra, Bu" jawabnya benar. "Saya tidak peduli kamu keluar dengan siapa, pria mana, yang harus kamu ingat jangan sampai membuat nama saya jelek di mata orang-orang hanya karena ulah kamu!" Lanjut Erika. Alana menundukkan kepalanya dengan kedua mata yang terpejam, embusan nafas lelah pun dia keluarkan. "Alana tidak akan membuat nama Ibu jelek di mata siapa pun, Bu" ucapnya. Erika beranjak dari duduknya seraya menatap Alana, lalu berjalan mendekatinya. "Tepati saja janjimu!" Ketusnya lalu berlalu meninggalkan Alana yang masih berdiri mematung di tempatnya. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Alana tidak tahu harus bagaimana lagi agar membuat sang ibu bisa memperhatikan dan melihat dirinya ada di sini. Ntah kapan waktu itu tiba, Alana hanya bisa berusaha dan menunggu. Pagi hari seperti biasa Alana, Ayra dan Erika akan sarapan bersama, namun kehangatan di meja makan hanya Ayra yang merasakan tidak dengan Alana. Erika akan menanyakan apa yang ingin Ayra makan untuk sarapan dan Alana hanya bisa menyaksikan itu sebagai rasa iri. Tapi beruntungnya Alana memiliki kakak yang sangat peka dan perhatian padanya. Ayra akan menanyakan hal yang Erika tanyakan padanya kembali pada Alana, sehingga sang adik merasakan hal yang sama dengannya, meskipun memang beda rasanya. "Bu, untuk tender yang akan datang dengan Cullen, kenapa Ibu tidak meminta bantuan Alana untuk mendapatkannya" ucap Ayra membuat seketika Erika menatap tajam Alana. "Maksudnya Ayra" lanjutnya seraya menatap wajah sang ibu lalu beralih pada Alana seraya menepuk punggung tangan adiknya itu, "Alana kan pasti tahu poin apa saja menjadi hal terpenting untuk mendapatkan perhatian dari Cullen. Jadi, ibu bisa menambahkan poin-poin itu di proposal juga pada acara pertemuan nanti" sambungnya. Erika pernah membahas perihal tender yang sedang dia kerjakan saat ini di meja makan ini, jadi tak heran jika Ayra mengetahuinya, hanya saja waktu itu bertepatan saat Alana tidak ikut makan bersama mereka jadi hanya dia yang tidak mengetahui soal hal ini. "Proyek besar yang akan Cullen Corp kerjakan bulan besok?" Tanya Alana dan diangguki oleh Ayra tentunya. "Ya dan perusahaan ibu ikut dalam merebutkan tender ini. Kamu bisa kan, bertanya tentang hal ini?" "Tidak perlu melibatkan siapapun dalam tender ini. Ibu masih bisa melakukannya sendiri, ibu bisa memenangkannya sendiri tanpa bantuan siapapun" sahutnya tegas. "Tapi, Bu" sela Ayra. "Stop Ayra!" Ucapnya seraya menatap tajam sang putri. "Jangan pernah membahas masalah ini lagi dan satu hal lagi, ibu tidak membutuhkan bantuan dari siapapun, kamu mengerti!" Tegasnya menekankan setiap kata dengan tatapan tajamnya. Erika beranjak dari duduknya meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan. Ayra tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menghelakan nafasnya lemas. Menatap wajah sang adik yang terlihat tegar seperti biasanya. Niat Ayra adalah agar sang ibu bisa sedikit meluluh dan bisa lebih banyak berbincang dengan Alana, bertukar pikiran dengannya. Tetapi niat baik Ayra justru membuat hati Alana semakin sakit karena ucapan sang ibu yang pedas tadi. "Maafkan kakak, kakak tidak bermaksud untuk membuat ibu semakin kesal padamu, Al" ucap sendu Ayra yang merasa bersalah. Alana tersenyum tipis. "Aku tahu, Kak. Lain kali tidak perlu memaksakan kehendak ibu, aku tidak mau melihat ibu marah seperti tadi lagi" jawabnya. Ayra tidak bisa lagi menahan bendungan air matanya, dia pun memeluk tubuh sang adik dengan mata yang terpejam. "Ibu, sampai kapan ibu seperti ini terus pada Alana, bu" batin Ayra.Hari Alana kembali normal, dia menjalankan rutinitas seperti biasa. Seperti hari ini, dia sedang bersiap untuk ke kantor. Berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama dengan ibu dan kakaknya, seperti biasa. "Pagi, sayang" sapa Erika begitu Alana tiba di ruang makan. Alana pun tersenyum. "Pagi, Bu" dia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi, "kakak mana, Bu?" Tanyanya kala tak melihat sosok Ayra di meja makan. Erika terlihat berpikir menjawab pertanyaan Alana. "Dia sedang di dapur" Kerutan di kening Alana menandakan akan adanya pertanyaan lain. "Tumben. Sedang buat apa, Kakak?" "Biarkan saja, kamu lanjut lagi sarapan. Bukankah hari ini kamu persiapan untuk lounching produk baru dari Cullen?" Alana pun patuh, dia kembali melanjutkan sarapannya, dan tak lagi menanyakan perihal sang kakak. Bukan maksud Erika untuk tidak memberitahu Alana, alasan Ayra berada di dapur. Hanya saja, Erika tidak mau membuat Alana merasa canggung, karena Ayra sedang m
Hari pertunangan tiba. Ballroom hotel sudah disulap menjadi sebuah ruangan yang indah. Dekorasi modern yang membuat semuanya begitu fresh. Karangan bunga sudah memenuhi pintu masuk. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan satu persatu. Ayra masih bersiap di kamarnya, begitu pula dengan Erika dan Alana yang sudah selesai dengan riasannya. Semuanya sudah selesai, kini mereka pun berjalan keluar ruangan menuju Ballroom. Erika terus menatap sendu Alana, dia masih saja terus menyalahkan dirinya, karena semua ini ulah dirinya. Erika memeluk Alana dengan mata yang berembun, menangkup kedua pipi putrinya itu, tersenyum getir. Begitu pula dengan Alana yang merasakan hal yang sama, dia tersenyum manis dengan mata yang juga berembun. Erika tak tahan lagi, dia pun memeluk erat tubuh Alana, dengan terus mengatakan maaf pada putrinya itu. "Bu, jangan menangis, nanti Kakak lihat" ucap Alana mengingatkan. "Kenapa kalian menangis?" Tanya Ayra yang benar saja dia melihatnya. Erika m
Alana baru tiba di rumah menjelang malam. Tentu dia diantar oleh Ezra. "Mampir dulu, Zra. Sekalian makan malam di rumah, udah lama kan?" Ezra terdiam sesaat, hingga kelalanya dia anggukkan. "Ok, lagi pula Ibu Erika sudah jinak, kan" goda Ezra. Ya, Ezra tahu cerita Erika yang sudah mulai menerima Alana, semua itu Alana ceritakan saat perjalanan mereka menuju Kota Lama. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan masuk, keduanya baru menyadari ada mobil Shayne terparkir di depan sana. Namun, Alana mengabaikannya, toh dia harus terbiasa dengan ini. Nanti pun dia akan sering bertemu, karena nanti Shayne akan menjadi Kakak iparnya. "Alana, dari mana saja kamu? Ibu khawatir" cerca Erika begitu melihat Alana tiba. "Dari tadi Ibu mondar mandir, karena kamu susah dihubungi, dan Om Reno bilang kamu sudah kembali dari Kota Lama siang tadi" Ayra menimpali. Sungguh senang sekali rasanya di khawatirkan oleh sang ibu. Itulah yang selama ini Alana inginkan. Diam-diam Alana tersenyum. "Aku hab
"Bagaimana, Dok. Kondisi adik saya?" Tanya Ata.l Ya.. sedari tadi ada Ata juga disini, Alana tidak menyadarinya. "Kakaknya Asla?" Bisik Alana bertanya. Clara mengangguk. "Daritadi dia ada disana, Al. Gue kesini sama dia" Alana mengkerutkan keningnya. Seakan paham dengan ekspresi Alana, Clara pun menjelaskan bagaimana dia bisa tahu jika Asla pinsan dan berakhir di rumah sakit. Clara yang baru tiba di kontrakan Asla mendapati pemandangan yang tidak mengenakan. Disana Ata akan menggendong Asla, dengan cepat Clara menghampiri dan bertanya. Ternyata, Asla tak sadarkan diri. "Asla pingsan" kagetnya. "Bawa masuk ke mobil saya, kita bawa Asla ke rumah sakit" dengan sigap Clara pun meminta Ata untuk membawa Asla. Clara membantu membuka pintu bagian belakang, mempersilakan Ata masuk yang sedang menggendong Asla. Sungguh berantakan sekali wajah Ata, pria itu terus memanggil nama sang adik. Memang bukan waktu yang tepat, tetapi rasa penasaran Clara semakin menggebu, dia pun bert
Alana baru saja tiba di TPU Kota Lama, dia meminta alamat dimana Lena dikebumikan kepada Reno. Kakinys menyusuri jalan setapak diantara gundukan tanah yang terbalut rumput hijau, lengkap dengan batu nisan di atasnya. Ada beberapa yang tertabur bunga, menandakan bahwa ada sanak saudara yang baru saja berkunjung. Alana tetap melangkah menuju tempat tujuan, hingga dia tiba disebuah gundukan tanah dengan nisan bernamakan Lena Presticia. Ntah mengapa, ketika membaca nama nisan tersebut, kedua mata dan hidung Alana memanas, pandangannya pun mulai buram, dagunya pun sudah bergetar. "Ma-mama" cicitnya. Dia pun terduduk di dekat pusaran Lena. Badannya seperti tidak bertulang, lemas rasanya. "Kenapa, Mama tega ninggalin Alana disini sendiri, Ma" ucapnya, seolah dia sedang berbicara dengan seseorang yang nyata. Air matanya menetes membasahi pipinya. "Awalnya, Alana berfikir, kalau Alana anak yang tidak diinginkan terlahir ke dunia ini. Alana pikir, orang-orang tidak menginginkan Alan
Kini mereka sudah terduduk di ruang tamu. Erika, Alana, Shayne, Reno, dan Arlo. "Ada apa, Bu?" Tanya Alana yang sudah penasaran sedari tadi. Erika menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum dia menjelaskan semuanya pada Alana. "Kamu, sebenarnya bukanlah putri kandung ibu" Deg.. satu kalimat itu membuat hati Alana sakit, meskipun dia sudah menyadarinya, tetapi jika mendengarnya langsung rasanya berbeda. "Tapi, kamu tetaplah putri ibu, apa pun kenyataannya, kamu adalah putri ibu!" Lanjut Erika menyakinkan. Alana hanya tersenyum getir. "Kami mengatakan ini, bukan untuk membuat kamu sedih. Kami hanya ingin kamu mengetahui kebenarannya, Nak" kali ini Reno yang berbicara. "Kamu adalah putri dari sahabat ibu, sahabat dekat ibu. Dan, Ibu minta maaf, atas semua perbuatan Ibu padamu selama ini. Pikiran ibu terlalu sempit kala itu, membuat ibu menjadi membenci dirimu, maafkan Ibu" lirihnya dengan penuh penyesalan. "Nak, jangan pernah tinggalkan Ibu. Ibu, ingin terus mendampingimu,







