LOGINSudah hampir 2 minggu John menjadi OB di Cullen, dia sudah mengetahui bagaimana pekerjaan OB dan juga karyawan lainnya. John sendiri adalah nama samaran yang Shayne gunakan agar identitas aslinya tidak diketahui oleh orang-orang di Cullen.
Shayne Rafan Cullen dia adalah pewaris tunggal Cullen Corp. Pria tampan dengan tinggi 182cm ini baru saja menyelesaikan studinya di London. Sebelum dirinya mewarisi kursi CEO, dia ingin mengetahui secara langsung bagaimana para karyawannya bekerja, dia ingin turun langsung untuk memastikan kinerja karyawannya. Karena jika dia langsung menjabat sebagai CEO, maka semuanya akan bersikap manis padanya, semuanya akan terlihat normal dan patuh. Seperti saat ini, dia dan Dion akan menuju lantai 15 dan kali keduanya bukan hanya membawa pembersih kaca dan meja saja, tetapi alat pel beserta ember dan juga beberapa peralatan lainnya yang jika menaiki tangga akan terasa repot membawanya. "Ngapain kita berdiri di sini, John. Kalau ketahuan Ibu Monika bisa habis kita" panik Dion yang menjadi rekannya hari ini. "Bu Monika? Siapa dia?" Tanya John. "Aduh, dia Manager di perusahaan ini, dia orang yang sering bertemu dengan para petinggi terutama Tuan Cullen, jangan sampai dia mengadukan kita langsung pada president direktur. Bisa habis kita!" Jawabnya. "Dan satu lagi gue dengar-dengar anak dari Tuan Harist yang baru saja kembali ke Indonesia akan menjabat sebagai CEO baru di sini. Lo harus tahu dari info yang gue dapet Tuan muda Cullen itu sangat tegas, kejam, tidak bersahabat sama sekali. Pokoknya kita harus disiplin" sambung Dion. Shayne sendiri merasa terkejut mendengar penilaian orang-orang terhadap dirinya, apalagi ketika dia dipandang sebagai orang yang kejam, sungguh itu tidak benar. "Lo tahu dari siapa?" Tanya John. "Dari karyawan di dalamlah. Asal lo tahu, mereka suka bergosip kalau jam istirahat" "Terus lo nguping? Apa lo ikut gosip bareng mereka?" "Gak ada waktu buat gosip OB kaya kita tuh!" "Terus sekarang ini kita lagi ngapain kalau bukan gosip?" Kata John. "Ini mah kita ngobrol. Eh, ayok kelamaan ngobrol nanti ketauan Pak Rian kena omel lagi" Baru saja pintu lift terbuka dan John mengajak Dion untuk masuk, suara seseorang lebih dahulu mengintrupsi kedua pria ini yang membuat tak jadi melangkah. "Hei!! Mau kemana kalian?" Teriak seseorang dari arah belakang. Dion dan John menolehkan kepala mereka. Dion yang sudah mengenal wanita itu pun seketika membulatkan kedua matanya sempurna dengan perasaannya yang gugup. Kepalanya pun dia tundukan lalu menoleh ke arah temannya yang bersikap santai, tangan kanannya pun menepuk punggung John dan memberikan isyarat agar memberi hormat seperti yang Dion lakukan. John pun menundukan kepalanya seperti yang Dion lakukan. "Kamu OB baru?" Tanya Bu Monika pada John. Dion menyenggol lengan John kembali karna pria itu diam saja. "Iya!" "Pantas. Beritahu temanmu ini, bagaimana memberi hormat pada atasan dan teruntuk OB tidak diperbolehkan menaiki lift, apalagi membawa barang-barang seperti ini, membuat tidak nyaman karyawan yang lain!" Ketus Monika. Dion yang melihat John akan melakukan protes kembali langsung menarik lengannya. "Baik, Bu. Nanti saya akan beritahu teman saya ini" ucapnya seraya menundukan kepala. Tanpa merespon, Monika langsung masuk ke dalam lift meninggalkan dua pria ini. Dion melepaskan nafasnya kasar selepas kepergian Monika. "Lu benar-benar ya, John. Sudah ayok!" Gerutunya seraya menarik lengan John dan mengajaknya menuju tangga darurat. "Alana" panggil Clara seraya menarik kursinya mendekat pada Alana. Alana menatap Clara untuk merespon panggilan temannya itu. "Siap-siap kita akan kedatangan CEO baru yang muda, lebih fresh, tentunya tampan" ucap Clara. Alana mengkerutkan keningnya. "CEO baru?" Tanyanya kembali. "Duh, lo belum tahu info apa, Al?" Gemas Clara. Alana pun menggelengkan kepalanya. Clara semakin merapatkan kursinya. "Anak tunggal Tuan Harist yang baru saja kembali dari studynya di London akan menjadi CEO Cullen Corp dan membuat wajah baru pada perusahaan kita" jelasnya. "Tuan Harist hanya memiliki satu putra?" "Yes, dia hanya memiliki putra satu-satunya. Kabarnya, setelah mendiang istrinya meninggal Tuan Harist tidak pernah mau menikah lagi dia sudah menutup hatinya rapat-rapat dan fokus membesarkan anaknya" jawab Clara. "Emm, setia banget ya. Sudah tajir, setia pula, panutan banget sih. Pasti sifatnya itu akan menurun pada anaknya ini. Sudah tampan, mapan, pintar pula aah ideal banget kan" lanjutnya memuji Shayne. "Lo pernah ketemu sama anaknya Tuan Harist?" Tanya Alana penasaran karena sedaritadi temannya ini terus memuji pewaris Cullen itu. Dengan polosnya Clara tersenyum seraya menggelengkan kepala. Alana memutar bola matanya, dia benar-benar heran dengan temannya ini, bagaimana bisa dia memuji seseorang namun dia sendiri belum pernah melihat orang tersebut. "Eiiits, tapi ini info valid banget dan pastinya pewaris Cullen ini tampan dan pintar. Gue mau baris paling depan kalau dia buka pendaftaran untuk jadi istrinya. Lo tahu kan dia anak tunggal itu bearti gue gak ada saingan karena gue jadi satu-satunya menantu kesayangan keluarga Cullen" khayalan Clara yang indah. Lagi-lagi Alana hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Gue doain biar khayalan lo terkabul!" Sahutnya, "tapi, jangan terlalu tinggi ngekhayalnya nanti kalau jatoh sakit banget!" Lanjutnya. "Jahat banget lo!" Rajuk Clara lalu menarik kembali kursinya menuju kubikelnya. Alana hanya tersenyum melihat tingkah temannya ini. Dalam pikiran Alana berpikir bagaimana caranya dia untuk membantu perusahaan sang ibu agar memenangkan tender ini. Tetapi dia tidak memiliki koneksi apa pun di Cullen karena dia karyawan baru di sini. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 dan ini waktunya mereka untuk beristirahat. "Siang semuanya. Ada yang mau titip makan siang?" Tanya John di ruangan departemen marketing. "John, sini!" Panggil salah seorang tim marketing. "Iya, mba Gladis" jawabnya seraya berjalan menghampiri Gladis. "Belikan makanan biasa ya untuk saya dan teman-teman saya ini, jangan sampai ada kesalahan!" Tegasnya. "Baik, Mba" "Mas John" kali ini Alana yang memanggil. "Siap, mba Alana" karena Alana yang sopan membuat John pun senang jika Alana menitip makan padanya. "Saya dan Clara mau soto yang kemarin ya, nanti tolong antar di pantry saja, kita tuggu di sana" kata Alana dan tak lupa mengucapkan kata tolong. John tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. "Siap, mba Alana" John pun keluar dengan selembar kertas yang dia bawa, itu tertulis pesanan para keryawan hari ini. "Senyum-senyum lo, pasti karena mba Alana ni?" Goda Dion. Keduanya bertemu di loby dan memiliki tujuan yang sama untuk membelikan pesanan para karyawan. "Berisik banget Dion!" "Selamat siang!" Ucap seseorang membuat langkah John dan Dion terhenti.Hari Alana kembali normal, dia menjalankan rutinitas seperti biasa. Seperti hari ini, dia sedang bersiap untuk ke kantor. Berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama dengan ibu dan kakaknya, seperti biasa. "Pagi, sayang" sapa Erika begitu Alana tiba di ruang makan. Alana pun tersenyum. "Pagi, Bu" dia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi, "kakak mana, Bu?" Tanyanya kala tak melihat sosok Ayra di meja makan. Erika terlihat berpikir menjawab pertanyaan Alana. "Dia sedang di dapur" Kerutan di kening Alana menandakan akan adanya pertanyaan lain. "Tumben. Sedang buat apa, Kakak?" "Biarkan saja, kamu lanjut lagi sarapan. Bukankah hari ini kamu persiapan untuk lounching produk baru dari Cullen?" Alana pun patuh, dia kembali melanjutkan sarapannya, dan tak lagi menanyakan perihal sang kakak. Bukan maksud Erika untuk tidak memberitahu Alana, alasan Ayra berada di dapur. Hanya saja, Erika tidak mau membuat Alana merasa canggung, karena Ayra sedang m
Hari pertunangan tiba. Ballroom hotel sudah disulap menjadi sebuah ruangan yang indah. Dekorasi modern yang membuat semuanya begitu fresh. Karangan bunga sudah memenuhi pintu masuk. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan satu persatu. Ayra masih bersiap di kamarnya, begitu pula dengan Erika dan Alana yang sudah selesai dengan riasannya. Semuanya sudah selesai, kini mereka pun berjalan keluar ruangan menuju Ballroom. Erika terus menatap sendu Alana, dia masih saja terus menyalahkan dirinya, karena semua ini ulah dirinya. Erika memeluk Alana dengan mata yang berembun, menangkup kedua pipi putrinya itu, tersenyum getir. Begitu pula dengan Alana yang merasakan hal yang sama, dia tersenyum manis dengan mata yang juga berembun. Erika tak tahan lagi, dia pun memeluk erat tubuh Alana, dengan terus mengatakan maaf pada putrinya itu. "Bu, jangan menangis, nanti Kakak lihat" ucap Alana mengingatkan. "Kenapa kalian menangis?" Tanya Ayra yang benar saja dia melihatnya. Erika m
Alana baru tiba di rumah menjelang malam. Tentu dia diantar oleh Ezra. "Mampir dulu, Zra. Sekalian makan malam di rumah, udah lama kan?" Ezra terdiam sesaat, hingga kelalanya dia anggukkan. "Ok, lagi pula Ibu Erika sudah jinak, kan" goda Ezra. Ya, Ezra tahu cerita Erika yang sudah mulai menerima Alana, semua itu Alana ceritakan saat perjalanan mereka menuju Kota Lama. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan masuk, keduanya baru menyadari ada mobil Shayne terparkir di depan sana. Namun, Alana mengabaikannya, toh dia harus terbiasa dengan ini. Nanti pun dia akan sering bertemu, karena nanti Shayne akan menjadi Kakak iparnya. "Alana, dari mana saja kamu? Ibu khawatir" cerca Erika begitu melihat Alana tiba. "Dari tadi Ibu mondar mandir, karena kamu susah dihubungi, dan Om Reno bilang kamu sudah kembali dari Kota Lama siang tadi" Ayra menimpali. Sungguh senang sekali rasanya di khawatirkan oleh sang ibu. Itulah yang selama ini Alana inginkan. Diam-diam Alana tersenyum. "Aku hab
"Bagaimana, Dok. Kondisi adik saya?" Tanya Ata.l Ya.. sedari tadi ada Ata juga disini, Alana tidak menyadarinya. "Kakaknya Asla?" Bisik Alana bertanya. Clara mengangguk. "Daritadi dia ada disana, Al. Gue kesini sama dia" Alana mengkerutkan keningnya. Seakan paham dengan ekspresi Alana, Clara pun menjelaskan bagaimana dia bisa tahu jika Asla pinsan dan berakhir di rumah sakit. Clara yang baru tiba di kontrakan Asla mendapati pemandangan yang tidak mengenakan. Disana Ata akan menggendong Asla, dengan cepat Clara menghampiri dan bertanya. Ternyata, Asla tak sadarkan diri. "Asla pingsan" kagetnya. "Bawa masuk ke mobil saya, kita bawa Asla ke rumah sakit" dengan sigap Clara pun meminta Ata untuk membawa Asla. Clara membantu membuka pintu bagian belakang, mempersilakan Ata masuk yang sedang menggendong Asla. Sungguh berantakan sekali wajah Ata, pria itu terus memanggil nama sang adik. Memang bukan waktu yang tepat, tetapi rasa penasaran Clara semakin menggebu, dia pun bert
Alana baru saja tiba di TPU Kota Lama, dia meminta alamat dimana Lena dikebumikan kepada Reno. Kakinys menyusuri jalan setapak diantara gundukan tanah yang terbalut rumput hijau, lengkap dengan batu nisan di atasnya. Ada beberapa yang tertabur bunga, menandakan bahwa ada sanak saudara yang baru saja berkunjung. Alana tetap melangkah menuju tempat tujuan, hingga dia tiba disebuah gundukan tanah dengan nisan bernamakan Lena Presticia. Ntah mengapa, ketika membaca nama nisan tersebut, kedua mata dan hidung Alana memanas, pandangannya pun mulai buram, dagunya pun sudah bergetar. "Ma-mama" cicitnya. Dia pun terduduk di dekat pusaran Lena. Badannya seperti tidak bertulang, lemas rasanya. "Kenapa, Mama tega ninggalin Alana disini sendiri, Ma" ucapnya, seolah dia sedang berbicara dengan seseorang yang nyata. Air matanya menetes membasahi pipinya. "Awalnya, Alana berfikir, kalau Alana anak yang tidak diinginkan terlahir ke dunia ini. Alana pikir, orang-orang tidak menginginkan Alan
Kini mereka sudah terduduk di ruang tamu. Erika, Alana, Shayne, Reno, dan Arlo. "Ada apa, Bu?" Tanya Alana yang sudah penasaran sedari tadi. Erika menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum dia menjelaskan semuanya pada Alana. "Kamu, sebenarnya bukanlah putri kandung ibu" Deg.. satu kalimat itu membuat hati Alana sakit, meskipun dia sudah menyadarinya, tetapi jika mendengarnya langsung rasanya berbeda. "Tapi, kamu tetaplah putri ibu, apa pun kenyataannya, kamu adalah putri ibu!" Lanjut Erika menyakinkan. Alana hanya tersenyum getir. "Kami mengatakan ini, bukan untuk membuat kamu sedih. Kami hanya ingin kamu mengetahui kebenarannya, Nak" kali ini Reno yang berbicara. "Kamu adalah putri dari sahabat ibu, sahabat dekat ibu. Dan, Ibu minta maaf, atas semua perbuatan Ibu padamu selama ini. Pikiran ibu terlalu sempit kala itu, membuat ibu menjadi membenci dirimu, maafkan Ibu" lirihnya dengan penuh penyesalan. "Nak, jangan pernah tinggalkan Ibu. Ibu, ingin terus mendampingimu,







