แชร์

Bab 19. Rutinitas Bersama

ผู้เขียน: SassyKawai90
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-04 21:39:05

Malam kembali tenang setelah Malvin pulang.

Sekar mengira ia akan lega. Nyatanya, ada ruang yang terasa lebih kosong dari sebelumnya. Rumah ini kembali hanya berisi dirinya dan Gara, seperti biasa. Tapi keheningan kali ini berbeda—terlalu rapi, terlalu sadar.

Gara terbangun menjelang tengah malam. Rengekannya kecil, nyaris seperti gumaman. Tangannya bergerak ke udara, lalu berhenti di dada Sekar saat ia menggendongnya.

“Sudah… Mama di sini,” bisiknya.

Anak itu tenang kembali, cepat. Terlalu cep
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 36. Jarak Yang Dipilih

    Pagi di apartemen terasa asing.Tidak ada suara panci dari dapur. Tidak ada langkah kecil Gara yang berlarian di ruang tamu.Sepi.Malvin berdiri di ambang kamar. Kosong.Lemari yang semalam masih setengah terbuka kini sudah rapi. Tidak ada lagi tas kecil milik Sekar. Tidak ada baju anak-anak yang tergantung sembarangan.Hanya tersisa… ruang.Di atas meja, secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal.Vin,Aku pergi. Jangan cari aku dulu.Aku butuh tenang. Bukan cuma untuk aku… tapi juga untuk Gara.—SekarTangan Malvin gemetar saat membacanya.Dada yang semalam sudah berat… kini terasa benar-benar kosong.Ia duduk perlahan di sofa. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia harus kehilangan lagi. Tapi kali ini… bukan karena papanya. Melainkan karena dirinya sendiri.***Hari itu juga, Malvin berdiri di depan gedung yayasan keluarga.Bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Rapi. Dingin. Dan penuh tuntutan.Ia menarik napas panjang, lalu melangkah

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 35. Syarat Yang Mengikat

    Malam turun perlahan di balik jendela apartemen.Lampu kota berpendar, tapi suasana di dalam justru terasa lebih gelap.Sekar sudah berada di dalam kamar, menemani Gara yang masih tertidur.Malvin berdiri sendiri di balkon. Siku bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam membawa bau kota—aspal, asap, dan sesuatu yang tak bernama. Ia menatap kosong ke arah jalanan di bawah, tapi tidak benar-benar melihat apa-apa.Yang ada di kepalanya hanya satu suara.Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh.Ponselnya kembali bergetar.Papa.Dulu, getaran ini selalu membuatnya cemas. Membuatnya mencari alasan, membuatnya menunda, membuatnya tunduk.Tapi kali ini—Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.Kali ini… Malvin tidak ragu.Ia langsung mengangkat.“Aku mau ketemu, Pa.”Tidak ada basa-basi.Di seberang sana, terdengar suara napas berat yang kemudian berubah menjadi tawa tipis.“Akhirnya kamu sadar juga.”“Besok. Kita ketemu.”***Keesokan harinya.Pagi datang dengan langit kelabu.

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 34. Luka Yang Belum Selesai

    Bau apek khas basement apartemen menyambut begitu mesin mati. Senyap. Mobil berhenti di basement apartemen.Mesin dimatikan, tapi tidak ada yang langsung turun.Hening.Hanya suara napas yang masih belum benar-benar stabil setelah perjalanan tadi.Sekar memeluk Gara yang sudah tertidur di pangkuannya. Wajah kecil itu tenang, seolah dunia tidak sedang mengancamnya.“Sudah sampai,” ucap Malvin pelan.Sekar mengangguk, tapi tidak bergerak.Matanya justru menatap ke depan kosong.Tempat ini…Bukan sekadar apartemen.Ini adalah tempat yang dulu hampir menjadi rumah mereka.Lift bergerak naik perlahan.Setiap angka yang berubah seperti menarik satu kenangan lama ke permukaan.Sekar berdiri diam, memeluk Gara. Sementara Malvin sesekali melirik ke arahnya, tapi tidak berani berkata apa-apa.Ting.Pintu lif terbuka.Langkah Sekar terhenti tepat di ambang pintu.Unit apartmen itu masih sama.Tidak banyak berubah.Aroma ruangan, tata letak, bahkan sofa abu-abu di sudut ruang tamu… semuanya teras

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 33. Bayang Yang Kembali

    Ponsel itu masih berdering di tangan Malvin.Malvin terdiam. Matanya beralih ke luar, menangkap sosok yang dimaksud Sekar. Dadanya berdegup kencang."Kita pergi bareng. Sekarang."Sekar terkejut. "Tapi kamu bilang cuma mau ajak Gara main—""Rencana berubah." Malvin menatapnya serius. "Mereka sudah tahu tempat ini. Nggak aman."Sekar ragu. Ia menunduk, menatap Gara yang masih asyik dengan mobilan hijau di tangannya. Anak itu sama sekali tak tahu apa-apa. Tak tahu bahwa di luar sana, ada orang-orang yang siap merenggutnya kapan saja.Ponsel Malvin kembali berdering.Layarnya menampilkan satu nama yang langsung membuat mereka berdua membeku.Papa.Ruangan kecil itu mendadak terasa sempit. Udara seperti tertahan. Sekar menatap Malvin tanpa berkedip, sementara Gara mulai merengek minta turun.Malvin menelan ludah. Jarinya sempat ragu, namun akhirnya ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, Pa."Suara di seberang sana tidak perlu keras untuk terasa menekan."Kamu di mana?"Malvin melirik Sekar

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 32. Yang Tak Sempat Tumbuh

    Cahaya matahari menyapa hangat melalui celah jendela kamar, membentuk garis-garis tipis di lantai. Debu-debu kecil menari-nari dalam sorot cahaya itu, seolah ikut merayakan pagi yang cerah. Gara sudah asyik bermain mobilan yang rodanya tinggal satu—bukan masalah baginya, ia tetap bersenandung kecil sambil mendorongnya maju mundur di atas tikar. Sekar terus memantau dari dapur, tangannya cekatan mengaduk bubur di atas kompor sambil sesekali melirik ke arah Gara. Senyumnya merekah melihat anak laki-laki itu begitu tenggelam dalam dunianya sendiri."Mama..."Suara kecil itu memanggilnya. Sekar segera menuang bubur ke mangkuk, memastikan hangatnya pas di lidah Gara. Ia menghampiri dengan langkah hati-hati, membawa semangkuk bubur ayam yang wangi."Sayang, kamu sudah lapar ya? Sini duduk dulu, Nak."Sekar mendudukkan Gara di meja makannya—meja kecil berwarna biru yang dulu ia beli saat Gara mulai bisa duduk sendiri. Ia mengambil paper bag warna putih dari atas lemari, mengeluarkan mobil-mo

  • Luka Itu Bernama Kamu   Bab 31. Masih Mengawasi

    Di sebuah ruangan kerja luas dengan dinding kaca tinggi, seorang pria paruh baya berdiri menghadap pemandangan kota.Tangannya memegang ponsel yang baru saja terputus.Morgan CalebNama yang cukup membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum menentangnya.Ia memutar gelas berisi minuman di tangannya, matanya menyipit sedikit."Akhirnya ditemukan juga," gumamnya pelan.Delapan tahun.Delapan tahun wanita itu menghilang begitu saja.Padahal dulu ia sudah memperingatkan anaknya dengan jelas."Perempuan seperti dia tidak cocok untuk keluarga kita."Namun Malvin keras kepala. Anak itu bahkan hampir meninggalkan semuanya demi seorang wanita biasa.Caleb berjalan menuju meja kerjanya.Ia duduk perlahan, jemarinya mengetuk meja kayu mahal itu dengan ritme pelan."Dan sekarang..." gumamnya."Ada anak kecil."Tatapannya menjadi lebih tajam.Bukan Sekar yang membuatnya tertarik.Tapi anak itu.Jika benar anak itu adalah darah keluarga mereka…Maka keadaan bisa menjadi sangat rumit.Caleb menga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status